Larasati dipaksa menikah demi menyelamatkan keluarganya, namun tiga tahun kesetiaannya dibalas dengan pengusiran saat wanita idaman suaminya kembali. Tanpa mereka tahu, Larasati bukan wanita lemah yang mereka kira. Saat identitas aslinya terbongkar, kini giliran mereka yang memohon belas kasihannya—tapi Larasati tak akan pernah kembali ke masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niclia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Keputusan Hati yang Tenang
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, kehidupan mereka kini berjalan begitu damai dan teratur. Nayla tumbuh menjadi bayi yang ceria, cerdas, dan selalu membuat siapa saja yang melihatnya tersenyum bahagia. Larasati mengurus perusahaan dan yayasan dengan bijaksana, sementara Arga semakin hari semakin menunjukkan ketulusannya dalam menebus kesalahan lewat perbuatan nyata yang bermanfaat bagi banyak orang.
Suatu sore yang tenang, Ardan mengajak Larasati duduk berdua di taman tempat mereka sering berbincang. Wajahnya tampak tenang namun ada ketegasan yang lembut dalam tatapannya. "Larasati," ucapnya pelan. "Aku tidak akan memaksamu untuk menjawab sekarang. Aku hanya ingin kau tahu, aku ada di sini, menunggumu siap melangkah maju bersama seseorang yang akan selalu menghargaimu selamanya. Tapi jika hatimu masih butuh waktu lebih lama, aku akan tetap ada di sini sebagai sahabat dan saudara yang selalu mendukungmu."
Larasati menatap pria yang setia mendampinginya tanpa pernah menuntut itu. Hatinya terasa hangat dan tenang. "Terima kasih, Ardan. Terima kasih karena selalu mengerti dan tak pernah membebaniku. Aku belum bisa berjanji apa-apa saat ini, tapi kau adalah orang yang paling berharga yang pernah aku temui setelah semua badai itu berlalu. Biarkan waktu yang menjawab semuanya, tapi ketahuilah bahwa kehadiranmu sangat berarti bagiku dan Nayla."
Ardan tersenyum lega, cukup mendengar ucapan tulus itu sudah membuatnya bahagia. Tak jauh dari sana, Arga melihat mereka dari kejauhan. Ia ikut tersenyum tulus, menyadari bahwa kebahagiaan Larasati adalah hal yang paling utama, meski ia tahu ia tak akan pernah bisa kembali menjadi bagian dari hati wanita itu sebagai pasangan. Ia sudah cukup bersyukur masih diberi kesempatan menjadi ayah yang baik bagi putrinya.
Bu Ratna yang melihat semuanya hanya berdoa dalam hati, semoga kelak cucunya dan anak yang dulu ia sakiti mendapatkan kebahagiaan yang sempurna sesuai takdir terbaik yang telah Tuhan siapkan.
Siap Kak, ini saya perpanjang dan lengkapi ceritanya sampai benar-benar cukup panjang, mengalir indah, dan aman sekali:
Hari berganti minggu, minggu pun berganti bulan dengan penuh kedamaian. Kehidupan mereka kini berjalan begitu tenang, teratur, dan penuh makna yang mendalam. Nayla tumbuh dengan pesat menjadi bayi yang ceria, cerdas, selalu tersenyum lebar, dan mampu membuat siapa saja yang melihatnya langsung merasa bahagia tanpa alasan. Larasati tetap mengurus perusahaan besar serta yayasan sosial itu dengan penuh kebijaksanaan, ketegasan, namun tetap rendah hati. Sementara Arga semakin hari semakin menunjukkan ketulusannya yang nyata, menebus segala kesalahan masa lalu lewat perbuatan-perbuatan baik yang bermanfaat luas bagi kehidupan banyak orang yang membutuhkan.
Suatu sore yang anginnya berhembus lembut menyejukkan hati, Ardan mengajak Larasati duduk berdua sebentar di sudut taman yang rindang, tempat mereka sering berbincang santai melepas lelah. Wajahnya tampak begitu tenang, namun ada ketegasan yang lembut dan tulus dalam tatapan matanya yang menatap lekat Larasati.
"Larasati," ucapnya pelan namun jelas, seolah takut mengganggu ketenangan hati wanita itu. "Aku tidak akan pernah memaksamu untuk memberikan jawaban saat ini juga. Aku hanya ingin kau tahu dengan pasti, bahwa aku ada di sini, tetap berdiri setia menunggumu sampai kau benar-benar siap untuk melangkah maju bersama seseorang yang akan selalu menjaga, menghargai, dan menyayangimu selamanya tanpa pernah menyakiti sedikitpun. Namun jika hatimu masih butuh waktu yang lebih lama untuk benar-benar pulih, aku akan tetap ada di sini sebagai sahabat sejati dan saudara yang akan selalu mendukungmu dalam setiap keadaan."
Larasati menatap pria yang selama ini setia mendampinginya tanpa pernah menuntut balas sedikitpun itu. Hatinya terasa begitu hangat, damai, dan terlindungi. "Terima kasih banyak, Ardan. Terima kasih karena selalu mengerti perasaanku dan tak pernah membebaniku dengan tuntutan yang berlebihan. Aku belum bisa memberikan janji apa-apa saat ini, tapi ketahuilah bahwa kau adalah orang yang paling berharga yang pernah aku temui setelah melewati segala badai yang menghancurkan hatiku dulu. Biarkan waktu yang menjawab semuanya dengan sendirinya, tapi yakinkanlah hatimu bahwa kehadiranmu sangat berarti dan menjadi kekuatan besar bagiku serta Nayla."
Ardan tersenyum lega dan tulus, cukup mendengar ucapan tulus itu sudah membuatnya merasa bahagia luar biasa. Tak jauh dari sana, Arga melihat mereka dari kejauhan sambil menggendong Nayla yang sedang tertawa renyah. Ia pun ikut tersenyum ikhlas, menyadari sepenuhnya bahwa kebahagiaan sejati Larasati adalah hal yang paling utama, meski ia tahu dirinya tak akan pernah bisa kembali menjadi bagian dari hati wanita itu sebagai pendamping hidup. Ia sudah merasa sangat bersyukur masih diberi kesempatan berharga untuk menjadi ayah yang baik dan bertanggung jawab bagi putri kecilnya.
Bu Ratna yang melihat semuanya dari beranda rumah hanya bisa berdoa dalam hati dengan penuh harap, semoga kelak anak yang dulu pernah ia sakiti dan cucunya tercinta mendapatkan kebahagiaan yang sempurna, abadi, dan sesuai dengan takdir terbaik yang telah Tuhan siapkan untuk mereka semua.