NovelToon NovelToon
Aversion To You

Aversion To You

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Dark Romance / Cintapertama
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan Aurora dengan Jonathan Carser—menjadi neraka saat ia menjadi korban pengkhianatan dan manipulasi.

Puncaknya, ia dipaksa menghadapi keraguan sang suami atas bayi laki-laki nya yang terlahir dengan paras begitu mirip dengan mantan kekasih masa lalunya, Braxley Valerio-Desmon.

Ketika kebenaran mulai terkuak dan Jonathan semakin brutal meluapkan amarahnya, Siapkah Aurora menghadapi kenyataan pahit, menerima kebenaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

010

Hening kembali merayap dan menguasai ruang perawatan VIP St. Jude Private Medical Center.

Suara dengung halus mesin pendingin udara beradu pelan dengan detak konstan alat pemantau tanda vital Draco yang kini tertidur jauh lebih tenang. Suhu tubuh bayi kecil itu sudah berangsur normal, meninggalkan warna merah hangat yang sehat di kedua pipinya.

Sepuluh menit yang lalu, Austin Jaxon dan Zephyr baru saja meninggalkan ruangan setelah memastikan tim dokter terbaik mengawal pemulihan cucu mereka.

Baxeena ikut menyulut langkah kedua orang tuanya, memberi ruang bagi dua insan yang masih terjerat dalam benang-benang rumit masa lalu.

Di atas sofa kulit berwarna hitam di sudut ruangan, Braxley duduk bersandar. Kemeja hitamnya yang kini terbuka dua kancing teratas memperlihatkan garis leher dan dada bidangnya yang tegap. Di sudut bibirnya yang pecah akibat pukulan sang ayah, jejak darah mengering membentuk garis kemerahan.

Aurora berdiri tepat di hadapan Braxley, memegang sebotol antiseptik kecil dan gulungan kapas tipis.

Jemari jemarinya bergerak cekatan, meresap cairan pembersih ke kapas sebelum perlahan menempelkannya ke sudut bibir pria itu.

"Ugh..." meringis pelan Braxley, suaranya terdengar begitu dramatis.

Aurora mendengus pelan, menahan dorongan untuk menekan kapas itu lebih keras. "Jangan berlebihan, Axley. Ini hanya luka gores kecil. Bibir merahmu ini tidak ada apa-apanya."

"Pukulan Dad itu berat, Aurora," gumam Braxley, matanya menatap Aurora dari bawah, meneliti setiap lekuk wajah wanita itu yang terpapar cahaya lampu temaram. "Setidaknya kau harus sedikit bersimpati pada pria yang baru saja mempertaruhkan nyawanya demi membela hakmu."

"Pertaruhan nyawa?" Aurora menggelengkan kepalanya, jemarinya tetap bergeming lembut mengusap luka di bibir Braxley. "Kau yang mencari penyakit itu sendiri. Tapi... aku harus mengakui, kau sangat lihai bersandiwara di depan orang tuamu."

Braxley menyunggingkan senyum tipis, membuat luka di bibirnya kembali tertarik tegang. "Itu bukan sandiwara. Aku bersungguh-sungguh dengan setiap kata yang kuucapkan."

Aurora tidak menjawab. Ia mencelupkan kapas baru ke cairan antiseptik, berniat menyelesaikan pengobatan darurat ini agar bisa kembali berada di sisi ranjang Draco.

Namun, sebelum jemarinya sempat menyentuh bibir Braxley lagi, pergelangan tangan Aurora ditangkap halus oleh jemari tegap pria itu.

Braxley menarik tangan Aurora sedikit ke bawah, menatapnya dengan tatapan yang mendadak berubah—tidak lagi penuh dominasi yang mengerikan, melainkan kilatan nakal yang sudah sangat dihafal oleh Aurora dari masa lalu mereka.

Braxley menarik-turunkan kedua alisnya dengan nada tengil yang sangat khas.

"Kau paling tahu luka-luka seperti ini akan sembuh total hanya dengan satu hal, Aurora..." bisik Braxley, nada suaranya berubah menjadi teramat rendah dan penuh godaan.

Aurora memutar matanya, berusaha menarik tangannya meskipun cengkeraman Braxley sama sekali tidak melonggar. "Di saat anakmu terbaring di ranjang medis dan orang tuamu baru saja keluar dari ruangan ini, kau masih saja mesum, Axley?"

"Ini bukan mesum, ini terapi medis kuno yang selalu berhasil," sahut Braxley terkekeh pelan.

Momen ini—posisi mereka yang begitu dekat, aroma parfum sandalwood bercampur antiseptik yang menguar di antara mereka, serta tatapan mata Aurora yang galak namun tidak lagi memancarkan kebencian murni—mendadak membawa kesadaran Braxley melompati lorong waktu.

Ingatannya melayang jauh ke beberapa tahun silam, ke masa-masa di mana mereka masih menjadi sepasang kekasih.

Masa di mana Braxley sering pulang dengan wajah memar akibat pertarungan jalanan atau bentrokan antar-kelompok elite, dan Aurora akan duduk di hadapannya seperti ini—mengomel tiada henti sambil menempelkan obat luka dengan jemari lembutnya.

Dan di akhir setiap omelan panjang itu, selalu ada bayaran wajib yang harus dipenuhi: sebuah ciuman panjang yang dalam dan manis yang sanggup melumpuhkan seluruh rasa sakit fisik Braxley.

Rasa rindu yang teramat dalam menyergap dada Braxley bagaikan ombak raksasa.

Ia memajukan tubuhnya, menatap bibir merona Aurora yang berada hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya. Deru napas hangat Braxley kini menyapu permukaan kulit leher Aurora, membuat napas wanita itu menyangkut di tenggorokan.

"Tampar aku jika kau tidak siap..." bisik Braxley parau.

Ia tidak menunggu jawaban. Tanpa memberikan jeda bagi Aurora untuk memikirkan penolakan, Braxley memangkas sisa jarak di antara mereka dan menempelkan bibirnya ke atas bibir Aurora.

Cup.

Sentuhan pertama itu terasa lembut dan hati-hati, sebuah rekaan atas kerinduan yang menggebu selama bertahun-tahun terpisah.

Aurora membeku di tempatnya. Ia tidak menampar Braxley, tidak juga dorongan panik yang melintasi jemarinya. Kehangatan yang familiar itu merayap masuk, melumpuhkan logika dan dinding pertahanan yang sudah dibangunnya bertahun-tahun.

Braxley memperdalam ciuman itu. Ia memiringkan kepalanya, menyesap bibir lembut Aurora dengan kepemilikan yang intens namun sarat akan kelembutan yang memabukkan.

Sentuhan ini membawa ingatan akan masa lalu mereka kembali hidup sempurna—rasa manis yang sama, desahan halus yang sama...

Namun, tepat ketika ciuman itu mulai merambat menjadi lebih dalam dan panas, sebuah gelombang asing secara mendadak meledak di dalam tempurung kepala Braxley.

Deg.

Rasa pusing yang teramat hebat, tajam, dan menusuk mendadak menghantam syaraf otak Braxley bagaikan kilat di malam kelam. Pikiran pria itu terlempar secara brutal dari fantasi indahnya menuju kenyataan pahit yang paling mengerikan.

Bibir ini...

Sebuah pemikiran beracun melintas secepat kilat di dalam benak Braxley.

Bibir yang sedang kucesap ini... pasti pernah dicium oleh Jonathan Carser.

DUARRR!!!

Visualisasi itu meledak di dalam kepalanya bagaikan bom waktu.

Pemandangan membayangkan pria lain—seorang pecundang kejam seperti Jonathan Carser—pernah menyentuh, mencium, dan menikmati bibir wanita miliknya–menghancurkan seluruh syaraf kewarasan Braxley dalam satu detik.

Rasa mual yang teramat hebat melilit lambungnya secara mendadak. Perutnya bergolak dahsyat, menolak realita yang baru saja diproyeksikan oleh imajinasinya sendiri.

"Ugh—!"

Braxley mendorong tubuh Aurora dengan panik, melepaskan ciuman itu secara mendadak. Ia melompat berdiri dari sofa, menutupi mulutnya dengan punggung tangan sambil berlari tergesa-gesa menuju kamar mandi yang berada di dalam ruang VIP tersebut.

Brak!

Pintu kamar mandi tertutup keras, disusul oleh suara erangan dan muntah hebat yang terdengar memantul dari dalam sana.

Aurora berdiri membeku di tengah ruangan, kapas dan antiseptik di tangannya merosot jatuh ke lantai marmer. Matanya membelalak lebar dalam kebingungan dan syok yang teramat sangat, mendengarkan suara Braxley yang sedang memuntahkan seluruh isi perutnya di dalam sana.

...°°°°...

Aurora berdiri membeku di tengah ruangan, tatapannya terkunci rapat pada pintu kamar mandi yang tertutup rapat.

Bunyi gemericik air keran yang mengalir deras bersahutan dengan erangan tertahan dan suara mual yang begitu hebat dari dalam sana. Rasa terkejut yang tadinya membakar wajah Aurora perlahan memudar, berganti menjadi sengatan kekhawatiran yang asing namun nyata di dalam dadanya.

Ia melangkah perlahan mendekati pintu kayu berlapis HPL tebal itu. Jemari tangannya terangkat, mengetuk permukaannya beberapa kali dengan gerakan ragu.

"Axley...?" panggil Aurora pelan. Suaranya terdengar cemas, menembus deru air di dalam. "Kau baik-baik saja? Kenapa tiba-tiba begini? Apa kau keracunan makanan? Atau... luka di bibirmu infeksi?"

Tidak ada jawaban berupa kata-kata. Hanya desahan napas yang memburu dan berat, disusul suara bilasan air wastafel yang memecah keheningan.

Di dalam kamar mandi berlantai marmer putih yang dingin itu, Braxley bertumpu pada kedua tepi wastafel granit.

Buku-buku jemarinya memutih akibat cengkeraman yang teramat kuat, sampai-sampai pembuluh darah di punggung tangannya mencuat tegang.

Air dingin yang ia usapkan ke wajahnya tidak sanggup memadamkan api gila yang mendadak membakar tempurung kepalanya.

Hoeek—!

Satu dorongan mual hebat kembali melilit lambungnya, memaksa Braxley membungkuk dalam-dalam di atas wastafel. Tidak ada lagi isi perut yang bisa ia keluarkan, yang tersisa hanyalah rasa pahit di tenggorokan dan hantaman psikologis yang meremukkan kewarasannya.

Pikirannya runtuh total. Realita yang selama ini sengaja ia kubur dalam-dalam di bawah tumpukan dominasi dan kekuasaannya kini meledak tanpa ampun.

Aurora...

Imajinasi liar dan beracun merayap liar di dalam kepalanya bagaikan penyakit ganas.

Braxley memejamkan matanya rapat-rapat, namun alih-alih kegelapan, yang terbayang di pelupuk matanya justru proyeksi mengerikan tentang Satu tahun Terakhir.

Bagaimana jika Jonathan Carser pernah menyentuh bibir lembut itu?

Bagaimana jika pria pecundang itu pernah memeluk tubuh Aurora?

Bagaimana jika setiap senti dari kulit halus wanita yang begitu dipujanya pernah disentuh, dicium, dan dimiliki oleh pria lain selain dirinya?

Imajinasi itu terasa begitu riil, begitu kotor, dan sangat merendahkan hingga membuat perut Braxley terbalik.

Sebagai seorang pria berdarah Desmon yang memiliki sifat kepemilikan mutlak—seorang possessive monster yang tidak pernah berbagi apa pun milik mereka—pikiran bahwa wanita yang menjadi pusat dunianya pernah disentuh oleh pria lain adalah bentuk siksaan mental paling brutal yang pernah ia rasakan.

Bukan cuma bibirnya... tapi semuanya, bisik iblis di dalam kepalanya, menembus syaraf-syaraf jiwanya yang rapuh.

Berbulan-bulan kau meninggalkannya... dia adalah istri sah pria lain.

"Ngh—!" Braxley mengerang parau, memukul tepi wastafel keras-keras hingga bunyi gema logam memenuhi ruangan.

Dada tegapnya naik turun memburu, napasnya tersedak oleh rasa cemburu yang gila, kejijikan pada situasi, dan rasa sakit yang tak tertahankan.

"Axley! Buka pintunya!" suara Aurora di luar terdengar semakin mendesak. Gagang pintu digerakkan berkali-kali dari luar dengan panik. "Jangan membuatku takut! Kau kenapa?!"

Braxley memandangi bayangannya sendiri di cermin wastafel. Matanya merah padam, liar, penuh dengan kilatan kekacauan emosi yang hampir tak terkendali. Ia menyiram wajahnya sekali lagi dengan air dingin, berusaha keras memusnahkan bayangan-bayangan bajingan Carser yang menari-nari di ingatan halusinasinya.

Dengan langkah yang sedikit sempoyongan, Braxley mengeringkan bibirnya secara kasar menggunakan handuk kecil, lalu memutar kunci pintu.

Klek.

Pintu terbuka. Aurora yang sejak tadi berdiri cemas refleks melangkah maju. Matanya membelalak menatap wajah Braxley yang kini memucat pasi, dengan peluh dingin yang membasahi dahi dan kemeja hitam bagian atasnya.

"Axley, kau pucat sekali..." Aurora mengulurkan tangannya, berniat menyentuh dahi pria itu untuk memeriksa suhunya. "Ada apa sebenarnya? Apa kau butuh dokter sekarang? Aku bisa memanggilkan—"

Namun sebelum jemari Aurora sempat menyentuh kulitnya, Braxley secara refleks mundur setengah langkah. Ia menatap tangan Aurora, lalu beralih menatap bibir merona wanita itu dengan tatapan yang teramat rumit—campuran antara kerinduan yang haus, gairah gila, dan rasa sakit yang pekat.

Aurora membeku. Tangan yang terulur di udara mendadak mengambang. Ia menangkap kilatan asing di dalam mata Braxley. Itu bukan tatapan amarah biasa, melainkan tatapan pria yang baru saja dihantam oleh kenyataan pahit yang merobek jiwanya.

"Kau..." suara Aurora tertahan di tenggorokan, matanya menyempit saat menyadari sesuatu yang mengerikan dari ekspresi pria di depannya.

"Apa yang baru saja kau pikirkan, Axley?"

Braxley mengepalkan kedua tangannya di samping tubuh, menarik napas dalam-dalam untuk menekan mual yang masih tersisa di dasar lambungnya. Ia menatap Aurora lurus-lurus, suaranya terdengar begitu parau dan dingin hingga menusuk tulang.

"Selama ini..." bisik Braxley, nadanya bergetar berat. "Berbulan-bulan kau menjadi istrinya, Aurora. Katakan padaku... katakan padaku bahwa pria bajingan itu tidak pernah menyentuhmu seperti yang kubayangkan."

...****************...

Happy reading kak Readers 🫶🏻

1
Astrid Kucrit
lyn,cuma kamu yang draco inginkan
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentar nya kak🙏🏻
total 1 replies
Siti Kamisah Hasnul
Linzy ternyata anak Jonathan...wahhhhh...kacau ini
Rosdianah 🌷: jangan kacau dulu kak🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
gak nyangka udah di tahap baca ceritanya anaknya AJ brarti si braxley ini cucunya vexana sama landon 🤣
Rosdianah 🌷: hehe iya kak, kembarannya Braxton disebelah kak🤭
total 1 replies
Mia Camelia
jonathan harus di kasih pelajaran tambahan nih 🤣🤣🤣tuh orang gak ada takut nya
😔
Rosdianah 🌷: Wajib digoyeng 🤣🤭
total 1 replies
Ainun Mahya
nggk up nih kak?
Rosdianah 🌷: huhu besok author Double Up 🫶🙏🏻
total 1 replies
Ainun Mahya
vote meluncur🤭🤭
Rosdianah 🌷: uhuy ma'aciww kak🫶
total 1 replies
Mia Camelia
widieww....braxley tipe2 blackflag banget gak sih🤔🤣😂
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
Mia Camelia
selamat thor udah meluncur karya baru lagi🥳🥳🥳
makin prokdutif banget thor bulan ini udh baru lgi muncul🥳
Rosdianah 🌷: Huhu🫶 Ma'aciww kak, Dan ma'aciww juga asas setiap Jejak Nya selama ini. semoga cerita nya. happy reading 🥰
total 1 replies
Hennyy exo
wow karya mu emang bagus thor
Rosdianah 🌷: ma'aciw kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!