NovelToon NovelToon
Diantara Kita

Diantara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dunia Masa Depan
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: MonAmour19

Diantara kita hanya ada kebaikan saja? tidak ada harapan untukku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MonAmour19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

prolog

Di bawah pohon yang rindang, hujan turun pelan, menutupi suara napas yang sama-sama berusaha ditahan. Angin malam berembus lembut, membuat dedaunan bergoyang perlahan. Sesekali tetesan air yang tertahan di ujung daun jatuh satu per satu, seolah ikut menghitung detik-detik yang terasa begitu panjang bagi keduanya.

Awalnya pria itu mengajaknya pergi. "Hujannya makin deras. Kita pulang, ya?" katanya pelan.

Namun perempuan itu hanya menggeleng, lagi dan lagi. Kakinya tetap terpaku di tempat, seakan jika ia melangkah sekarang, maka semua yang selama ini ia pendam akan tetap menjadi rahasia selamanya.

Akhirnya ia maju beberapa langkah hingga berdiri tepat di hadapan laki-laki itu.

Ia terdiam beberapa saat. Matanya memerah bukan karena hujan yang mengenai wajahnya, melainkan karena terlalu lama menahan sesuatu yang akhirnya tak sanggup lagi ia sembunyikan.

"Aku cuma mau tanya satu hal..." suaranya bergetar. "Sebenarnya... kamu maunya apa sih?"

Laki-laki itu membalas tatapannya. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tak satu pun kata berhasil keluar. Ia seperti mencari jawaban yang sebenarnya tidak pernah ia siapkan.

"Kamu selalu punya waktu buat aku. Kamu selalu kirimin aku makanan. Kamu selalu beliin barang yang aku mau. Kita selalu pulang bareng hampir setiap hari. Kamu dengerin semua cerita aku, bahkan hal-hal yang menurut orang lain nggak penting."

Ia berhenti sejenak, menarik napas yang terasa sesak.

"Waktu aku lagi sedih, kamu orang pertama yang nenangin aku. Waktu aku capek, kamu selalu bilang jangan terlalu maksa diri. Kamu bahkan hafal minuman favoritku, makanan yang aku suka, sampai hal-hal kecil yang bahkan aku sendiri sering lupa."

Senyumnya terukir tipis. Senyum yang lebih menyerupai luka daripada kebahagiaan.

"Aku pikir... semua itu berarti. Aku pikir aku akan memiliki kamu dengan aku mencintai kamu bertahun-tahun. Aku pikir aku akan cukup untuk seseorang, ternyata aku masih sekurang itu ya buat kamu." Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh. Sulit membedakan mana air hujan dan mana air mata yang membasahi pipinya karna keduanya sama sama turun dengan beriringan.

laki-laki itu kaget mendengar apa yang baru saja perempuan itu ucapkan, karena dia hanya menganggap semuanya adalah hal terbiasa.

"Aku tahu mungkin aku yang terlalu berharap. Aku tahu mungkin aku yang salah mengartikan semuanya. Tapi coba bilang... gimana caranya aku nggak berharap kalau kamu terus memperlakukan aku seperti orang spesial?"

Hening.

Yang terdengar hanya suara hujan yang memukul tanah dan dedaunan.

Laki-laki itu menunduk. Baru kali itu ia menyadari bahwa perhatian-perhatian kecil yang selama ini ia anggap biasa ternyata telah tumbuh menjadi harapan yang begitu besar di hati seseorang bahkan sebelum itu. Ia tidak pernah berniat memberi harapan, tetapi tanpa sadar ia juga tidak pernah memberi batas.

"Aku nggak pernah bermaksud nyakitin kamu sedikit pun," ucapnya lirih. Suaranya terdengar penuh penyesalan.

Perempuan itu mengangguk pelan. Bukan karena menerima alasan itu, melainkan karena ia sudah lelah mencari penjelasan.

"Tapi kamu tetap nyakitin aku."

Kalimat itu terdengar pelan. Namun rasanya jauh lebih keras daripada suara hujan yang mengguyur malam itu.

"Yang paling menyakitkan bukan ditolak," lanjutnya sambil menghapus air mata yang terus mengalir. "Yang paling menyakitkan adalah ketika aku membangun harapan dari setiap perhatianmu... sementara buat kamu, semua itu cuma hal yang wajar."

Laki-laki itu menggenggam jemarinya sendiri. Ada begitu banyak kata yang ingin ia ucapkan, tetapi semuanya terasa terlambat. Permintaan maaf tidak akan menghapus harapan yang telah tumbuh selama berbulan-bulan. Penjelasan apa pun juga tidak akan membuat luka itu hilang begitu saja.

Malam itu tak ada yang benar-benar menang.

Tak ada yang benar-benar salah.

Hanya ada dua orang yang berdiri di bawah hujan, membawa luka yang berbeda.

Perempuan itu menatap matanya yang selalu menatapnya dengan tatapan kagum. Tatapan yang menyimpan ribuan pertanyaan yang tak lagi membutuhkan jawaban. Perlahan ia berbalik, melangkah menjauh tanpa mengucapkan apa pun lagi.

Laki-laki itu tidak mengejarnya.

Ia hanya berdiri diam di bawah hujan, menyaksikan sosok yang selama ini selalu berjalan di sampingnya kini perlahan menghilang di balik gelapnya malam.

Barulah saat bayangan perempuan itu benar-benar lenyap dari pandangannya, ia menyadari satu hal—kadang, kehilangan bukan terjadi ketika seseorang pergi, melainkan ketika kita terlambat memahami arti kehadirannya.

......................

...soon to bee...

...Author come back guysss........

...Sedihnya terlalu lama ya........

...Tungguin terus yaaaaa kelanjutannya 💔...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!