NovelToon NovelToon
Putri Mawar Yang Dirindukan

Putri Mawar Yang Dirindukan

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:832
Nilai: 5
Nama Author: Only'Rra

Gadis kecil Ella yang hidup di sebuah panti asuhan pinggiran kota yang berada di ujung kekaisaran Reis yang megah, hanya bermimpi untuk lepas dari segala kesakitan dan perundungan yang ia alami di panti.

Kehidupan yang dihantui ketakutan, kelaparan, membuatnya terus bermimpi akan sebuah kangatan keluarga yang sangat terasa nyata.
Mimpi kecil itu yang membuatnya membulatkan tekad untuk lepas dari bangunan yang seolah terus memeluknya jauh ke dasar. Dengan kaki kecilnya yang penuh akan luka, ia melangkah menjauh dari panti menuju gelapnya malam yang terasa lebih aman dibanding bangunan tempat ia tinggal.

Akankah keluar dari kegelapan lama menuju kegelapan baru di depannya akan lebih baik? Atau justru, kegelapan di binar yang menyimpan keinginan untuk hidup di mata Ella, justru jauh lebih pekat dibanding yang ia tinggalkan?


♡♡♡♡♡

Jadwal Up:
Senin s/d Sabtu - Jam 20.00
Minggu - Double Up; 08.00 & 20.00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Only'Rra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teman Sebaya

Abellion terdiam bingung. Ia berusaha menyangkal pikiran aneh yang mulai muncul di kepalanya itu dengan bertanya kembali. "Siapa nama teman Ella? Kenapa ia sampai seperti itu?"

Arcangella menggeleng pelan, raut wajah gadis itu yang semakin terlihat kebingungan kembali membuat kerutan halus di wajah Abellona.

"Saat di panti, tidak ada yang ingin bermain dengan Ella," seru Arcangella pelan. "Tapi ... kenapa mimpi Ella akhir-akhir ini seperti itu ya Kakak?" lanjutnya.

Pertanyaan dari sang adik membuat Abellona terdiam beberapa saat.

Namun pemikiran yang terlintas di kepala Abellona justru jauh berbeda konteks dari apa yang tengah gadis kecil itu bingungkan. 'Adikku tidak mempunyai teman seusianya?! Apa ia bermimpi bermain dengan teman sebaya karena kesepian? Tapi, kenapa temaN di mimpinya hancur? Apa karena aslinya Ella tidak memiliki teman?' pikir Abellona yang malah kini  mengkhawatirkan sang adik dari sisi berlawanan.

Meskipun saat ini Arcangella dikelilingi oleh keluarga dan orang-orang yang melimpahkan cinta dan kasih sayang padanya, namun ia tetaplah gadis kecil dan makhluk sosial yang perlu bersosialisasi dengan teman sebaya.

"Kakak ... "

Panggilan pelan dari sang adik membuyarkan lamunan putra mahkota. Abellona lantas mengusap surai adik perempuannya lembut. "Tenang saja Ella, kakak akan mencari jalan keluar untuk mimpi burukmu itu," ucap Abellona dengan penuh keyakinan.

Ella yang sedikit tidak mengerti dari raut antusias sang kakak hanya mengangguk sembari memeluk boneka beruang putih kecil yang lembut dengan pita biru pemberian dari ayahnya.

...****************...

"Asterion."

Pintu menara terbuka. Abellona kini dapat melihat adik keduanya yang menggunakan jubah penyihir kekaisaran, tengah duduk di meja kerjanya dengan dikelilingi oleh dokumen yang berterbangan disekitarnya.

Rambut pirang panjang pangeran kedua Reis itu terikat asal. Penampilannya kini jauh dari kata beribawa sang pangeran dari kekaisaran. Siapa yang peduli penampilan disaat pekerjaan yang menumpuk hampir mengalahkan tingginya gunung?

Abellona mengambil langkah mendekat ka arah Asterion yang tidak menggubrisnya sama sekali. Saat laki-laki itu tiba di depan meja kerjanya pun, Asterion tetap fokus memerika dokumen di sekelilingnya.

"Kurasa Arcangella merasa sedih."

Seluruh dokumen yang berterbangan menutupi sebagian tubuh laki-laki berusia 14 tahun itu lantas terjatuh seketika kala mendengar nama adik perempuannya disebut.

"Apa yang terjadi dengan Ella?"

Asterion melepaskan kacamata baca yang dikenakannya dan menatap lurus kakak pertamanya.

Jika menyangkut adik kecilnya. Ia bisa mengabaikan apa saja.

Abellona dengan perlahan menceritakan detail kejadian tadi siang. Mulai dari cerita adik perempuan mereka yang membuat tidur gadis kecil itu terganggu, hingga raut sedih Arcangella yang mungkin hanya dibayangkan dan dilebihkan oleh Abellona  menjadi sangat dramatis saat sang adik kecil mereka yang manis berkata dulu tidak ada yang ingin bermain dengan dirinya di panti.

Asterion terdiam serius. Ia menautkan kedua tangannya di atas meja menjadi tumpuan dan meletakkan dagu di atasnya.

"Kupikir, rasa bermain dengan kita, ayah, ibu, Malla, dan para pelayan lain itu sangat berbeda dengan yang namanya 'teman sebaya'." Abellona berjalan mondar-mandir di depan Asterion. Sang putra mahkota yang juga mewarisi ketegasan sang ayah, kini untuk pertama kalinya kembali merasa bimbang akan sesuatu jika menyangkut adik perempuannya.

"Bukankah sebentar lagi keluarga dari kekaisaran tetangga, dan kerajaan besar di Astra akan datang di Reis?"

Ucapan Asterion yang lama terdiam itu pun membuat langkah Abellion terhenti. Laki-laki itu mengalihkan pandangannya kepada sang adik dan menatapnya bingung. "Maksudmu? Arcangella bisa mendapat teman sebaya dari keluarga bangsawan itu?" tanya Abellion tidak yakin.

Asterion tidak langsung mengangguk, ia kembali berpikir. "Itu tidak bisa dipastikan. Kau dan aku tahu betul lingkup pertemanan seperti apa jika antar bangsawan kelas atas."

Pernyataan Asterion barusan membuat sang putra mahkota menghela napas berat. "Itu dia, aku tidak ingin adik kita yang polos dan tidak tahu apa-apa itu malah dimanfaatkan."

"Tapi kita bisa mengawasinya," saran Asterion.

Abellion kembali menggeleng. "Kedatangan para keluarga bangsawan kelas atas ke Reis bukan hanya untuk perayaan, Aster. Mereka akan membahas terkait masalah internal yang tengah melanda sebagian besar Astra. Aku tentunya akan ikut sibuk mendampingi ayah sebagai putra mahkota. Kau sebagai pangeran sekaligus wakil menara pasti juga akan membantu. Atala juga akan disibukkan dengan pelatihan di barak para ksatria atas perintah ayah."

"Kita memang bisa membantu mengawasi Ella. Tapi waktu senggang yang akan kita miliki mungkin tidak akan sebanyak itu," lanjut Abellona mengakhiri kekhawatirannya.

Asterion mengangguk. Pangeran kedua Reis itu lantas teringat sesuatu dan kembali meluruskan pandangan pada sang kakak. "Keluarga bangsawan dari kerajaan di Astra mungkin akan berbahaya. Tapi, kita sudah cukup mengenal keluarga kekaisaran kak."

Abellona menatap sang adik yang mengangguk kecil. "Kau bisa meminta bantuan putri mahkota Merissa Sorov untuk meminta tolong pada adiknya yang paling kecil. Aku akan menghubungi Kendrick Sorov juga."

Putra mahkota Reis itu sontak mengangguk. "Kau bilang keluarga kekaisaran, lalu bagaimana dengan Ophelia?"

Asterian mengangkat kedua bahunya. "Ophelia hanya memiliki satu orang di generasinya saat ini." Ia kemudian bersiap mengirimkan telegram sihir kepada temannya, Kendrick, yang mungkin tengah dalam perjalanan. "Si dingin itu ... aku saja tidak tahu apa dia masih bernapas atau tidak,"  ujarnya pelan.

Abellona kembali menghela pelan. Ia menyentuh tengah pelipisnya pelan."Kuharap dia segera membaik. Aku tidak tahu apa yang menimpanya sampai-sampai ia seperti menjadi orang yang tengah sekarat."

Netra emas Asterion dalam diam memunculkan sedikit kilatan. "Pasti kau dan putri mahkota Sorov sangat kesulitan saat tidak ada kehadirannya sebagai pewaris Ophelia. Tapi tenang saja, dia yang usianya dibawahku itu namun mampu mengalahkan diriku dan ketua menara, itu artinya dia tidak akan mudah mati."

Benar, si penyihir jenius Reis - Asterion von Reis, yang digadang-gadang akan menjadi Archmage di masa depan lebih cepat dibanding sang ayah saja dikalahkan oleh putra mahkota Ophelia yang terpaut lebih muda 3 tahun di bawahnya. Bahkan pemimpin menara sihir Reis juga ikut terkalahkan dalam pertandingan sihir 2 tahun lalu.

...****************...

Calliope melirik sekitar ruang kerjanya singkat sebelum ia merapalkan mantra dan membentuk perisai yang mencegah suara apapun bocor dari dalam serta mana dari siapapun menembus masuk.

Pria itu lantas membuka komunikasi dengan dua rekan lamanya. Archmage klan Bintang dari Sorov, serta klan Bulan dari Ophelia. Mereka bertiga dulunya merupakan teman dekat yang bahkan berjuang bersama untuk menduduki puncak tertinggi ilmu sihir.

"Apa yang terjadi, Mabelle?"

Permaisuri kekaisaran Sorov, Mabelle Sorov, salah satu dari 3 Archmage terkuat di Astra saat ini terlihat tengah membantu menggotong beberapa ksatria kerajaannya yang tumbang dengan kekuatannya.

"Wabah penyakit dari air laut huh? Lalu kenapa persediaan minum kami yang murni kami kumpulkan dari embun di hutan Cana ini juga ikut tercemar?!"  serunya sarkas. Wanita dengan rambut cokelat panjang yang bergelombang itu nampak kesal setengah mati kala mendapati para bawahannya mulai tumbang satu-persatu.

Holus menghela napas pelan melihat keadaan sahabatnya yang tetap mendapati kekusahan di perjalanan. "Suruh suamimu, Kallias, untuk beristirahat. Aku yakin itu baru permulaan untuk menguras penuh mana penyembuhan milik suami elf mu."

Netra Mabelle memandang malas. "Aku tahu itu. Makanya Kallias sudah lebih dulu ku kunci di dalam kereta kuda kami di sana."

Sihir yang seperti layar transparan melayang sebagai alat komunikasi 3 Archmage itu beralih pada kereta kuda bewarna biru laut yang megah yang di lilit rantai sihir dengan raut wajah khawatir Kallias Sorov, sang kaisar Sorov, akan para ksatrianya terkapar lewat jendela kereta kuda.

Calliope terkekeh pelan melihat kondisi suami dari sahabatnya yang sedikit beringas itu. "Aku sudah mengirimkan beberapa bola mana  ke arah kalian, pakailah untuk memulihkan para ksatria sementara suami elf mu kau kurung itu. Mungkin kau bisa menerimanya sekitar 2 jam an dari sekarang, titik koordinat sihirmu masih lumayan jauh dari Aster karena kalian baru memasuki pinggiran hutan Cana."

Mabelle menatap sinis sang kaisar Reis yang masih terlihat sombong dari awal mereka kenal. "Aku akan memaafkanmu yang menertawakanku. Tapi aku tidak akan berterima kasih," ujarnya.

Calliope kembali tertawa kala berhasil menjahili sahabatnya. Pandangannya kini beralih kepada Holus di layar satunya yang terlihat tengah mengusap surai wanita yang tertidur di pundaknya dengan lelap di dalam kereta kuda yang masih berjalan.

"Bagaimana denganmu, Holus?"

Pandangan Holus hanya melirik pelan ke arah proyektor sihir yang menampilkan dua sahabatnya.

"Kami baik-baik saja."

"Berhentilah acuh, Pak Tua Dingin." Mabelle yang masih terlihat sibuk membantu para ksatrianya menyempatkan diri untuk mengomeli rekannya yang selalu berbicara menggunakan nada datarnya itu.

Calliope bersidekap dada, netra emasnya menelisik raut wajah sahabatnya. "Benarkah?" tanyanya tidak percaya pada Holus.

Netra Holus sedikit melirik kearah belakang untuk memberikan tanda kecil bagi kedua sahabatnya. "Sepertinya ada yang mengikuti kami masuk ke portal teleportasi menuju Aster."

1
Rey
Apa apaan sistemnya serakah gini
Alia Chans
keren
mary dice
😱😱😱 serem
mary dice
kembali ke tempat tidurmu Ella , Ksatria itu pasti tidak mau kamu jatuh sakit hmmm
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!