NovelToon NovelToon
Fake Lines

Fake Lines

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Angst
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah pendar lampu Los Angeles, hidup Lux Victoria hancur dalam semalam. Maksud hati hanya memeriksa kesehatan, hasil tes justru menyatakan dirinya hamil. Padahal, Lux bersumpah belum pernah tersentuh pria mana pun.

Demi membuktikan kebenarannya, Lux Nekat membeli tes Kehamilan di larut malam.

Takdir konyol justru mempertemukannya dengan Braxton Valerio Desmon, putra kedua dari pengusaha kaya keluarga Desmon.

Demi memenangkan taruhan konyol bersama teman-temannya, Braxton nekat mencium Lux di depan apotek.

Sial bagi mereka, keluarga Lux yang menguntitnya mendapati situasi tersebut dan salah paham.

Kejadian beruntun itu menyeret Lux dan Braxton ke dalam jerat kesalahpahaman, di mana pernikahan paksa menjadi satu-satunya jalan keluar yang disiapkan kedua orang tua Lux.

Happy reading 🌷🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

##10

Lampu gantung utama di ruang keluarga Penthouse sengaja dimatikan, menyisakan pendar temaram dari strip light LED bernuansa keemasan di balik plafon dan pantulan cahaya dari layar televisi berukuran delapan puluh inci.

Pemandangan malam kota Los Angeles meliuk indah di balik dinding kaca besar, namun fokus dua insan di dalam ruangan itu tertuju pada layar lebar yang sedang menayangkan sebuah film drama dokumenter.

Untuk pertama kalinya dalam dua bulan lebih hidup di bawah satu atap yang sama, Lux dan Braxton duduk berdampingan di atas sofa kulit hitam yang luas.

Sisa-sisa ketegangan dan percakapan jujur di area dapur tadi masih menyisakan hawa hangat yang memikat di antara mereka.

Lux duduk melipat kedua kakinya di atas sofa, masih dalam balutan silk slip dress merah marunnya.

Di sampingnya, dengan jarak yang tidak lagi membentangkan sekat permusuhan, Braxton duduk bersandar santai, menyanggah kepalanya dengan satu tangan seraya menatap layar TV.

Sebuah mangkuk berisi popcorn mentega tergeletak di antara mereka. Sesekali, jari-jemari mereka secara tak sengaja bersentuhan saat sama-sama merengkuh camilan tersebut—sebuah sentuhan kecil yang selalu sukses membuat dada Lux berdesir aneh, meski ia berusaha keras menyembunyikannya dengan memiringkan wajah.

Film di layar TV bergulir menuju adegan emosional, memperlihatkan sepasang kekasih yang harus mengikhlaskan perpisahan di bawah guyuran hujan. Suasana di ruang keluarga mendadak menjadi begitu hening dan intim.

Braxton perlahan memutar pandangannya dari layar TV, mengalihkan fokus sepenuhnya pada profil samping wajah Lux.

Dalam temaram cahaya layar, lekuk wajah istrinya terlihat begitu tegas namun menawan—mata abu-abu yang redup menatap layar, serta ukiran tato di bahunya yang berkilau halus diterpa pendar lampu.

"Lux," panggil Braxton pelan, suaranya mengalun lembut memecah keheningan.

Lux tidak menoleh, namun kelopak matanya berkedip pelan. "Hmm?"

"Aku menyukaimu."

Dua kata sederhana itu terlontar begitu tenang, begitu pas, tanpa ada sedikit pun kepura-puraan atau nada bercanda yang biasa digunakannya.

Lux membeku seketika. Jari tangannya yang baru saja hendak menyambar popcorn menggantung kaku di udara. Jantungnya berdetak menghentak keras, memukul dadanya dengan ketukan yang menyakitkan.

Perlahan, Lux memutar kepalanya, menatap Braxton dengan pandangan bergetar yang sarat akan rasa syok.

Braxton tidak mengalihkan pandangannya. Sepasang mata cokelatnya menatap Lux dengan kejujuran murni yang begitu telanjang, memperlihatkan seluruh isi hatinya tanpa ada lagi topeng pria narsis atau gengsi pangeran kampus.

"Aku menyukaimu, Lux Victoria," ulang Braxton, menyunggingkan senyum tipis yang amat tulus. "Mungkin sejak malam pertama saat kau berteriak memaki ayahmu di apotek itu... atau mungkin sejak kau melemparkan garpu padaku di meja makan. Aku menyukai keberanianmu, keliaranmu, ketegasanmu, dan bagaimana kau menjadi satu-satunya wanita yang tidak pernah silau oleh nama besar keluargaku."

Lux menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokannya. Napasnya terengah halus, bingung harus merespons apa menghadapi pengakuan mendadak yang begitu merobohkan dinding pertahanannya.

Namun, alih-alih merengkuh pengakuan manis itu dengan kehangatan, ada gelombang ketakutan raksasa yang mendadak membumbung tinggi di dalam dada Lux.

Rasa hangat yang sempat menjalar di dadanya seketika berubah menjadi hawa dingin yang membekukan. Kenyataan bahwa Braxton benar-benar memiliki perasaan padanya memicu kenangan buruk dan trauma mendalam yang selama ini tersembunyi rapat di balik tato dan pakaian liarnya.

Lux mendadak menarik kakinya turun dari sofa, berdiri secara mendadak hingga mangkuk popcorn di antara mereka terdorong sedikit.

"Hentikan, Braxton," desis Lux, suaranya mendadak berubah menjadi amat dingin dan bergetar menahan gejolak emosi yang membakar dari dalam.

Braxton mengerutkan keningnya, sedikit terkejut dengan perubahan sikap istrinya yang begitu drastis. Ia ikut berdiri dari sofa, menatap Lux dengan raut wajah cemas.

"Lux? Ada apa? Aku hanya bersikap jujur padamu—"

"Aku bilang hentikan!" jerit Lux melengking, memotong ucapan Braxton dengan telak.

Mata abu-abu Lux mendadak berkaca-kaca, memancarkan luka, amarah, dan rasa frustrasi murni yang meluap dari dalam jiwanya. Ia menunjuk dirinya sendiri, lalu menunjuk pakaian tipis dan tatonya dengan gerakan tangan yang gemetar.

"Kau mau tahu kenapa aku berpakaian liar seperti ini?!" sembur Lux dengan suara serak menahan tangis. "Kau mau tahu kenapa aku menutupi seluruh kulitku dengan tato-tato konyol ini, Braxton?!"

Braxton mematung di tempatnya, menatap Lux dengan tatapan bertanya yang dalam, tidak berani menyela emosi yang sedang meledak di hadapannya.

"Ini semua adalah benteng perlindunganku!" teriak Lux, air mata pertamanya akhirnya menetes melintasi pipinya, berkilau di bawah temaram cahaya TV. "Tato ini, pakaian terbuka ini, gaya hidupku... ini semua adalah perisai yang kubuat agar orang-orang seperti dirimu melempar pandangan benci padaku! Agar pria-pria di luar sana menjauh dariku! Agar tidak ada satu orang pun yang berani mendekat dan mencoba mengetuk hatiku!"

Lux mengepalkan kedua tangannya di samping tubuh, dadanya naik-turun memburu napas yang terasa sesak.

"Aku benci percintaan!" seru Lux lantang, suaranya bergema menembus setiap sudut Penthouse yang luas itu.

"Aku benci konsep hubungan, aku benci ikatan manis, dan aku benci ide tentang dua orang yang saling mencintai!"

Lux menatap Braxton dengan mata yang basah oleh air mata, melayangkan tatapan tajam penuh penolakan yang paling keras yang pernah ia berikan.

"...Dan aku masih membencimu, Braxton!" tegas Lux dengan nada penuh keputusasaan murni.

Ruang keluarga itu mendadak hening seketika. Hanya suara dialog samar dari layar TV yang tersisa di udara.

Braxton berdiri kaku. Pengakuan dan makian tajam dari Lux memukul dadanya bagaikan hantaman benda tumpul yang menyakitkan.

Namun, alih-alih membalas dengan emosi atau amarah, Braxton justru terdiam cukup lama. Raut wajah tampannya menampakkan rasa simpatik dan kepedihan mendalam melihat betapa terlukanya wanita di depannya ini.

Braxton menarik napas panjang, menatap Lux dengan tatapan paling lembut yang pernah ada.

"Aku tidak memaksamu untuk mencintaiku, Lux..." ucap Braxton lirih, suaranya bergetar halus oleh rasa prihatin yang amat tulus. "...Aku sama sekali tidak pernah menuntut hal itu darimu."

Kata-kata lirih dan penuh penerimaan dari Braxton itu justru merobohkan sisa-sisa ketahanan mental Lux. Tangisnya pecah perlahan, bahunya tergetar hebat. Rasa sakit yang dipendamnya sendirian selama bertahun-tahun akhirnya menuntut untuk dimuntahkan malam ini.

Lux mengusap air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangannya, menatap Braxton dengan kejujuran luar biasa yang belum pernah ia perlihatkan pada siapa pun di dunia ini.

"Kau mau tahu alasan sebenarnya kenapa aku sangat membenci pernikahan ini, Braxton?!" tanya Lux dengan suara parau yang bergetar hebat. "Kenapa aku terus-menerus meminta perceraian darimu setiap hari?!"

Braxton menatap Lux lurus, mendengarkan dengan seluruh jiwanya. "Katakan padaku, Lux. Aku mendengarkan."

"Karena aku tidak mau kisah orang tuaku terulang padaku!" jerit Lux, air matanya menetes kian deras.

Braxton terkejut. Keningnya berkerut rapat. "Kisah orang tuamu? Dad Marcus dan Mom Eleanor? Tapi... mereka pasangan yang sangat harmonis, Lux. Mereka selalu terlihat mesra dan saling mendukung di setiap acara gala dan bisnis—"

"Itu semua BOHONG!" potong Lux dengan teriakan penuh kepahitan yang merobek heningnya malam.

Lux tertawa hambar di tengah tangisnya—sebuah tawa penuh ironi yang menyayat hati. Rahasia besar keluarga Victoria yang selama ini tersimpan rapat di balik kemewahan akhirnya terbongkar sepenuhnya malam ini.

"Mereka terlihat sempurna hanya di depan matamu, di depan publik, dan di depan media!" ungkap Lux dengan kejujuran yang amat menyakitkan. .

"Di luar dari pada itu... di balik pintu kediaman Victoria yang dingin... mereka hanya dua orang asing yang tidak saling mencintai! Mereka dijodohkan demi ekspansi bisnis dan dinasti kekayaan tanpa ada rasa cinta sedikit pun sejak hari pertama!"

Braxton membelalakkan matanya, terpaku mendengarkan pengakuan mengejutkan itu.

"Sejak aku kecil... aku melihat bagaimana mereka bertengkar hebat di belakang layar," bisik Lux, suaranya melemah dipenuhi trauma masa lalu yang dalam.

"Aku melihat bagaimana ibuku menangis sendirian di kamarnya karena kesepian, dan bagaimana ayahku bersikap dingin seolah pernikahan mereka hanyalah sebuah kontrak bisnis yang harus dijaga demi saham! Tapi saat kamera media menyala, saat acara gala dimulai... mereka mendadak bergandengan tangan, tersenyum mesra, dan berakting seolah-olah mereka adalah pasangan paling bahagia di dunia!"

Lux mengepalkan tangannya di dada, menatap Braxton dengan mata abu-abunya yang hancur.

"Mereka terlihat mesra, tapi aku tahu itu semua cuma SANDIWARA!" tegas Lux dengan penekanan yang sarat akan rasa benci. "Sembilan belas tahun aku hidup menyaksikan kebohongan dan sandiwara menjijikkan itu! Sejak saat itu, aku bersumpah pada diriku sendiri... aku benci dekat dengan siapa pun! Aku benci pernikahan! Dan aku takut setengah mati jika suatu hari nanti... aku harus terjebak dalam sandiwara pernikahan tanpa cinta yang sama seperti mereka!"

Dua lutut Lux mendadak terasa lemas. Beban emosional yang dimuntahkannya secara bertubi-tubi membuat pertahanan fisiknya runtuh. Gadis yang biasanya selalu tampil garang dan pemberani itu kini berdiri gemetar di tengah ruang keluarga, menangis tergugu dengan tubuh yang ringkih.

Braxton berdiri terpaku, terkejut luar biasa oleh kenyataan pahit yang baru saja didengarnya.

Seluruh teka-teki tentang sikap Lux selama ini mendadak terurai sempurna di dalam kepalanya. Mengapa Lux begitu obsesif menuntut perceraian, mengapa gadis itu begitu benci jika pernikahan mereka dipublikasikan, mengapa ia membalut tubuhnya dengan tato dan pakaian liar—semua itu bukanlah karena Lux berniat menjadi wanita nakal, melainkan karena ia adalah seorang gadis sembilan belas tahun yang ketakutan, yang terluka parah oleh sandiwara pernikahan orang tuanya sendiri.

Rasa kepedihan dan kasih sayang yang amat mendalam menyeruak memenuhi dada Braxton.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Braxton melangkah lebar-lebar memangkas jarak di antara mereka.

"Braxton, jangan mendekat—" cicit Lux lemah, mencoba memundurkan langkahnya.

Namun Braxton tidak peduli lagi. Dengan satu gerakan yang mantap dan penuh kehangatan, Braxton merengkuh tubuh ringkih Lux ke dalam pelukannya.

Tangan kekarnya melingkar erat di punggung Lux, sementara tangan lainnya menahan belakang kepala istrinya, menenggelamkan wajah Lux di dada bidangnya.

Deg.

Lux membeku dalam dekapan hangat itu. Aroma maskulin khas Braxton dan kehangatan tubuh pria itu merengkuhnya secara utuh, menenggelamkan rasa dingin dan ketakutan yang melingkupi jiwanya.

"Lepaskan aku, Braxton..." bisik Lux lirih di dada Braxton, tangannya yang gemetar mencoba mendorong dada pria itu lemah, namun tangisnya justru pecah semakin keras di sana.

"Tidak," bisik Braxton tepat di telinga Lux, suaranya terdengar begitu dalam, lembut, dan sarat akan janji yang tak akan pernah goyah. "Aku tidak akan melepaskanmu, Lux."

Braxton mengusap rambut panjang Lux dengan lembut, membiarkan air mata istrinya membasahi kemejanya.

"Dengarkan aku baik-baik, Lux Victoria Desmon," bisik Braxton dengan nada ketegasan yang begitu menenangkan jiwanya. "Aku bukan ayahmu, dan kau bukan ibumu. Pernikahan kita memang dimulai dari sebuah kesalahan medis dan kesalahpahaman... tapi aku tidak pernah berpura-pura di depanmu. Tidak ada sandiwara di antara kita."

Braxton merenggangkan pelukannya sedikit, memegang kedua bahu Lux agar gadis itu menatap langsung ke dalam matanya. Dengan ibu jarinya, Braxton mengusap jejak air mata di pipi mulus Lux secara lembut.

"Aku tidak menyuruhmu untuk langsung percaya padaku atau menghapus ketakutanmu malam ini," tutur Braxton dengan mata yang berkilat hangat. "Tapi aku berjanji padamu... aku tidak akan pernah menjadikan pernikahan kita sebagai sandiwara bisnis. Jika aku bilang aku menyukaimu, itu karena aku sungguh-sungguh menyukaimu. Bukan demi media, bukan demi orang tua kita, tapi demi dirimu."

Lux menatap Braxton dengan mata abu-abunya yang masih basah. Ketulusan murni di wajah Braxton begitu nyata, tanpa ada sedikit pun kebohongan yang selama ini selalu ia takuti dari sosok pria.

"Kau bisa tetap membenciku jika itu membuatmu merasa lebih aman," lanjut Braxton dengan senyum miringnya yang tipis namun amat tulus. "Kau bisa tetap memakai tato-tatomu, pakaian liarmu, atau melayangkan makian padaku setiap hari. Tapi jangan pernah ragukan satu hal: aku akan tetap berdiri di sini, menjagamu, sampai kau menyadari bahwa tidak semua pernikahan di dunia ini berakhir sebagai kebohongan."

Lux terdiam kaku. Lidahnya kelak, tak sanggup lagi menyusun kalimat penolakan atau makian tajam. Sentuhan lembut jemari Braxton di pipinya terasa begitu hangat, perlahan-lahan mengikis trauma dingin yang telah mengendap di hatinya selama belasan tahun.

Lux akhirnya menundukkan kepalanya, menyandarkan dahi gilanya yang lelah di dada bidang Braxton, membiarkan dirinya dilindungi oleh dekapan hangat sang suami di tengah heningnya malam Los Angeles.

Malam itu, di bawah pendar temaram Penthouse mewah mereka, sebuah rahasia trauma telah terbongkar.

Dan di atas puing-puing pertahanan diri Lux yang runtuh, sebuah ikatan baru yang jauh lebih dalam, tulus, dan tanpa sandiwara perlahan-lahan mulai terbangun di antara Braxton dan Lux Desmon.

🌷🌷🌷

Mohon dukungannya untuk meninggalkan Komentar ya kak kalau suka cerita nya🙏🏻

1
Mita Paramita
😍😍😍😍😍
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentar nya kak 🥰🥰🥰
total 1 replies
Hennyy exo
pengen deh cowok yg kaya braxton🤭
Rosdianah 🌷: hihi🤭
total 1 replies
Hennyy exo
ihh makin suka thor🤭
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Hennyy exo
wow alurnya menarik dan penulisannya bagus
Hennyy exo
ihh greget banget ama braxton🤭
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
nayla tsaqif
Istri AJ / mommy braxy zephir,, knp jd cherry,, 😌??
Rosdianah 🌷: huhuhu author typo 🙏🏻🙏🏻😭😭
total 2 replies
nayla tsaqif
Emg kak, soalnya daddy mommy braxton dulu king dan queen drama,, 😌
Rosdianah 🌷: wkkwk🤣
total 1 replies
Nita Kurniawati
yampun, part ini bikin AQ mewek 😭
semangat ya bang, buat meluluhkan hati Lux
Rosdianah 🌷: huhu ma'aciww komentar nya kak🫶
total 1 replies
Mia Camelia
batu ketemu batu ini mah🤣sama2 keras kepala🤔
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤣
total 1 replies
Feni sang penulis novel
kakak maaf ya tadi aku salah menyebutin novel judul aku maksud aku seperti ini judulnya adalah jalan menuju masa depan itu yang asli judulku
Feni sang penulis novel
assalamualaikum kak maaf ya aku kurang sopan aku izin berkomentar aku sudah membaca semuanya alurnya Saya suka dan saya ingin memberikan bintang 5 kalau boleh kalau kakak mengizinkan saya ingin sekaligus promosi juga di sini Saya mempunyai novel yang berjudul menuju jalan masa depan semoga kakak suka dan babnya juga ada 9 bab terima kasih
Mita Paramita
king drama nih Braxton 🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkwkwk Braxton Sama Braxley anak Daddy AJ ya kak. jangan lupa baca Cerita Braxley dijudul.sebelah🤭
total 1 replies
Mita Paramita
🔥🔥🔥
Rosdianah 🌷: Happy reading kak 🥳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!