Lin Mo adalah seorang penjual angkringan dengan bakat tersembunyi yang amat sangat luar biasa, yaitu kendali api tingkat mistik untuk memanggag sate kikil dan usus hingga sempurna. Sayangnya, sebuah ledakan tabung gas nyasar mengakhiri hidupnya dan melempar jiwanya ke dunia fantasi sebagai Dewa Api Pengelana bersama Sistem Angkringan Ilahi. Kini berbekal gerobak terbang dan jurus sate ajaib, Lin Mo harus menjelajahi Kerajaan Aethelgard yang penuh intrik politik demi mengumpulkan Poin Arang, membuka cabang angkringan baru, dan menyelesaikan konflik kuno di negeri tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sugesti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Koki Istana Sombong
Sreeeeeshhh!
Gerobak kayu terbang milik Lin Mo melayang mantai di belakang rombongan kereta kuda mewah milik Utusan Istana Kerajaan Aethelgard.
Pemandangan kota berteng yang megah perlahan berganti menjadi kawasan elit istana dengan jalanan berbatu pualam putih yang mengkilap.
Pohon-pohon bunga es bersalju buatan menghiasi sepanjang kiri dan kanan jalan utama menuju gerbang emas istana.
"Wah, bersih dan megah sekali tempat ini," gumam Lin Mo sambil mengamati sekeliling dari atas gerobaknya.
"Di tempat seperti ini, kalau jualan sate kikil pasti harganya bisa kutingkatkan lima kali lipat," pikir Lin Mo sambil tersenyum lebar.
[Sistem Angkringan Ilahi: Penyesuaian Harga Otomatis di Kawasan Elit Diizinkan]
[Harga Sate Daging Serigala: 50 Koin Tembaga / 5 Koin Perak]
[Harga Sate Usus Ayam Api: 30 Koin Tembaga / 3 Koin Perak]
"Nah, begini baru bisnis namanya!" bisik Lin Mo sangat puas dengan respon cepat dari Sistem.
Kereta kuda istana berhenti tepat di depan tangga pualam putih menuju Aula Utama Perjamuan Agung Kerajaan Aethelgard.
Ratusan bangsawan dengan pakaian jubah sutra bersulam benang emas dan gaun-gaun megah tampak lalu-lalang di sekitar teras istana.
Pengawal berarmor emas tebal yang menjaga pintu gerbang emas langsung berdiri tegap saat Utusan Istana tua itu turun dari keretanya.
Namun mata seluruh bangsawan dan prajurit pengawal di tempat itu mendadak tertuju pada benda yang terbang di belakang kereta kuda.
Sebuah gerobak kayu tua kumal dengan tempat arang yang mengepulkan asap tipis melayang santai di atas tangga pualam.
Di belakang gerobak itu, seorang pemuda berpakaian jubah cokelat yang agak melar duduk santai sambil memegang kipas bambu.
"Benda kotor apa itu?!" jerit seorang wanita bangsawan bergaun merah sambil menutupi hidungnya dengan kipas bulu.
"Kenapa ada gerobak sampah jalanan yang diizinkan masuk ke area suci Istana Kerajaan?!" seru bangsawan pria berbadan gemuk di sebelahnya.
Utusan Istana tua itu berdehem keras untuk menenangkan situasi yang mulai riuh.
"Harap tenang semuanya! Ini adalah Master Lin Mo, juru masak kehormatan yang diundang khusus untuk Pesta Perjamuan Agung malam ini!" seru Utusan Istana itu dengan suara lantang.
Para bangsawan yang mendengar pengumuman tersebut bukannya tenang, justru malah makin heboh dan tertawa terbahak-bahak.
"Juru masak kehormatan?! Pemuda gila dengan gerobak kaki lima ini?!" ejek seorang bangsawan muda bersenjata pedang hias.
"Apakah koki-koki istana kita sudah mati sampai harus mengundang pedagang kaki lima dari pasar kumuh?!" sahut bangsawan lainnya dengan tawa meremehkan.
Lin Mo melompat turun dari gerobak terbangnya dengan santai tanpa merasa tersinggung sedikit pun oleh cemoohan para bangsawan tersebut.
"Aduh Paman dan Bibi sekalian, jangan tertawa keras-keras begitu, nanti bedak tebal di wajah kalian retak loh," gurau Lin Mo polos.
Beberapa wanita bangsawan langsung melotot murka dan menutupi wajah mereka yang memang dipenuhi bedak putih tebal.
"Bocah kurang ajar! Berani-beraninya kamu membual di depan kaum bangsawan Aethelgard!" bentak bangsawan muda itu sambil melangkah maju.
"Ada apa ini riuh-riuh di depan pintu aula?"
Sebuah suara berat dan sangat angkuh terdengar dari balik pintu besar Aula Utama Istana.
Seorang pria paruh baya bertubuh tinggi besar dengan pakaian koki berwarna putih bersih bertabur permata melangkah keluar.
Di dadanya terpasang lima lencana emas bermotif pisau dan garpu—simbol sebagai Koki Kepala Istana Utama Aethelgard.
Pria itu bernama Chef Lu Yan, koki terbaik di seluruh kerajaan yang terkenal sangat sombong dan tidak menyukai persaingan.
Di belakang Chef Lu Yan, berdiri sepuluh koki muda pendamping yang membawa berbagai macam piring perak dan peralatan masak mahal.
"Pengawal Tua Zhao, kenapa kamu membawa pedagang jalanan ini ke tempat pesta istana?" tanya Chef Lu Yan dingin pada Utusan Istana.
"Chef Lu Yan, ini adalah perintah langsung dari Pejabat Dalam Istana untuk menambah variasi hidangan malam ini," jawab Pengawal Tua Zhao tegas.
Chef Lu Yan menatap Lin Mo dan gerobak kayunya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan sangat jijik.
"Variasi hidangan? Dari gerobak kayu busuk yang bau asap arang ini?" cemooh Chef Lu Yan sambil meludah tipis ke samping.
"Dapur Istana Aethelgard hanya menggunakan bahan-bahan tingkat tinggi seperti daging Buaya Es dan Sirip Ikan Naga Mistik!" tegas Chef Lu Yan bangga.
"Makanan apa yang bisa dihasilkan dari tempat panggangan sampah milik pemuda ini?!" tambah koki muda di belakang Chef Lu Yan melayani ketua mereka.
Lin Mo menepuk-nepuk debu di jubah kumalnya lalu menatap Chef Lu Yan dengan senyuman santai.
"Paman Koki Berstempel Lima, makanan enak itu bukan dilihat dari seberapa mahal piring perakmu atau seberapa tinggi pangkat di dadamu," kata Lin Mo santai.
"Tapi dari seberapa lihai jarimu membelai rasa dan membakar selera yang memakannya," lanjut Lin Mo memutar kipas bambunya.
Chef Lu Yan tertawa sinis mendengar perkataan Lin Mo.
"Bicara besar sekali kamu Bocah!" gertak Chef Lu Yan murka.
"Kalau begitu mari kita buktikan di depan seluruh bangsawan malam ini!" tantang Chef Lu Yan sambil menunjuk aula pesta.
"Aku akan memasak hidangan utama Dapur Istana, dan kamu boleh membakar daging sampahmu di sudut ruangan!" lanjut Chef Lu Yan.
"Jika para bangsawan tidak menyukai makananmu, aku sendiri yang akan melemparkanmu dan gerobak sampahmu ini ke jurang luar kota!" tegas Chef Lu Yan memberi ancaman.
Lin Mo menggaruk telinganya yang gatal akibat teriakan kencang Chef Lu Yan.
"Boleh saja Paman Koki," jawab Lin Mo menyetujui.
"Tapi kalau para bangsawan malah ketagihan makanan dari gerobak sampahku ini, bagaimana?" tanya Lin Mo menyipitkan mata.
"Hahaha! Itu tidak mungkin terjadi!" jawab Chef Lu Yan sangat percaya diri.
"Tapi jika hal gila itu benar-benar terjadi, aku akan berlutut dan menyebutmu sebagai Master Kuliner Tertinggi!" janji Chef Lu Yan angkuh.
"Deal! Saksinya para Paman dan Bibi bangsawan di sini ya!" seru Lin Mo gembira sambil menunjuk kerumunan orang di sekitarnya.
PING!
[Misi Sampingan Terbuka: Tantangan Kuliner Istana!]
[Kalahkan Koki Kepala Lu Yan di depan para bangsawan Aethelgard]
[Hadiah Misi: 1.000 Poin Arang & Resep Baru: Sate Usus Naga Ilusi]
Lin Mo tersenyum lebar melihat Misi Sampingan dari Sistem yang baru saja aktif.
"Sate Usus Naga Ilusi ya? Kedengarannya sangat mewah dan cocok untuk perjamuan istana," batin Lin Mo antusias.
Gerobak terbang milik Lin Mo akhirnya didorong melayang masuk ke dalam Aula Utama Perjamuan Istana Kerajaan Aethelgard.
Aula perjamuan tersebut sangat luas dan megah, dengan langit-langit tinggi bertabur kristal sihir pencahayaan yang berkilau emas.
Meja-meja panjang bertatap kain sutra putih dipenuhi oleh berbagai macam hidangan mewah buah-buahan es, anggur sihir, serta roti emas.
Chef Lu Yan bersama sepuluh koki pendampingnya langsung mengambil posisi di panggung dapur terbuka bagian depan aula.
Mereka mulai menyalakan kompor sihir berenergi kristal biru dan memotong daging-daging mahal dengan pisu perak yang berkilau.
Sementara itu, Lin Mo justru memarkirkan gerobak kayu terbangnya di sudut teras aula yang dekat dengan jendela terbuka.
"Nah, di sini anginnya pas untuk menyebarkan aroma asap sate," kata Lin Mo puas.
Para bangsawan yang sudah duduk di dalam aula memperhatikan pergerakan Lin Mo dengan pandangan mengejek dan heran.
"Lihat pemuda itu, dia benar-benar mau membakar makanan di dalam aula pesta yang megah ini!" tawa seorang putri bangsawan.
"Asap arangnya pasti akan mengotori gaun-gaun mahal kita!" keluh wanita bangsawan lainnya kesal.
Lin Mo tidak memedulikan tatapan dan bisik-bisik negatif orang-orang di sekitarnya.
Ia meraih tempat penyimpanannya dan mengeluarkan bahan-bahan khusus yang siap dibakar malam ini.
Bahan pertama adalah daging Serigala Taring Besi, bahan kedua adalah usus ayam api garing, dan bahan ketiga adalah bahan baru dari Sistem.
[Sistem Angkringan Ilahi: Konversi Bahan Diterima]
[Bahan Khusus: Daging Kikil Monster Air Mistik (Sisa Ekstraksi Misi)]
Daging kikil monster air itu tampak sangat bening bagaikan kristal biru dengan serat-serat kenyal yang terpancar cahaya murni.
Lin Mo memotong kikil kristal biru itu menjadi bentuk dadu sempurna lalu menusukkannya ke dalam bambu tipis.
Sssttt... Sssttt...
Ia meletakkannya di atas panggangan arang kayu gerobaknya bersama dengan lima puluh tusuk sate usus dan daging serigala.
"Saatnya pertunjukan bakar-bakaran dimulai," bisik Lin Mo menyunggingkan senyum tipis.
Settt!
Lin Mo menjentikkan jarinya, memanggil percikan *Api Murni Pemanggang Arang* dari dalam jiwanya.
Pfffuuushhh!
Arang kayu di dalam gerobak melayang mendadak membara hebat dengan warna keemasan yang menakjubkan.
Lin Mo menggerakkan tangan kanannya yang memegang kipas bambu tua dengan gerakan cepat dan ritmis.
Fwoooshhh! Fwoooshhh!
Api keemasan membelai seluruh permukaan sate kikil kristal, sate usus, dan sate daging serigala secara bersamaan tanpa ada satu pun yang terbakar gosong.
Bumbu racikan khusus Sistem yang berwarna merah karamel mengental dan meresap sempurna ke dalam pori-pori daging.
Minyak gurih bercampur energi mana terpancar keluar, menetes ke atas arang kayu membara.
Cusss! Cusss!
Kepulan asap tebal berwarna keemasan membumbung tinggi menembus langit-langit tinggi Aula Perjamuan Istana.
Aroma gurih yang luar biasa dahsyat gabungan dari pedas manis kecap mistik, kelembutan lemak kikil kristal, serta kerenyahan usus bakar meledak menyapu seluruh penjuru aula pesta!
Gelombang aroma itu begitu pekat dan kuat hingga menghentikan aktivitas ratusan bangsawan yang sedang meminum anggur.
Kecring!
Seorang bangsawan tua bahkan tidak sengaja menjatuhkan cangkir emasnya ke lantai karena terperangah menghirup aroma tersebut.
"B-bau apa ini... kenapa aromanya bisa sampai merobek kesadaranku?!" jerit seorang adipati istana sambil memegangi dadanya yang berdebar kencang.
"Wangi sekali! Wangi yang belum pernah ada di seluruh benua ini!" teriak seorang wanita bangsawan yang mendadak berdiri dari kursinya.
Bahkan kompor sihir kristal biru milik Chef Lu Yan di panggung depan sampai meredup karena kalah oleh tekanan aura panas dari arang kayu Lin Mo.
Chef Lu Yan yang sedang mengiris Daging Buaya Es mendadak terhenti, pisau peraknya gemetaran di udara.
"T-tidak mungkin... aroma macam apa ini?!" batin Chef Lu Yan kaget setengah mati dengan peluh dingin menetes di dahinya.
Aroma masakan tingkat tingginya dari Dapur Istana mendadak terasa seperti tumpukan sampah tak berbau di hadapan asap sate Lin Mo.
Gerrr... Kruuukkk~
Suara perut ratusan bangsawan di dalam aula pesta mendadak berbunyi serentak dengan sangat nyaring.
Rasa lapar yang teramat sangat menyapu pikiran para bangsawan yang biasanya selalu bersikap jaim dan sopan itu.
Tanpa memedulikan etika istana lagi, belasan bangsawan berpakaian mewah langsung berlari meninggalkan meja mereka menuju ke sudut teras tempat gerobak Lin Mo berada!
"Pemandangan apa ini?!" seru Pengawal Tua Zhao terperangah melihat para bangsawan tinggi saling sikut demi mendekati gerobak kayu Lin Mo.
"Anak muda! Berikan aku sepuluh tusuk daging bakar itu sekarang juga! Aku bayar seratus koin emas!" teriak seorang adipati kaya raya sambil melambaikan kantong emasnya.
"Aku duluan! Aku bayar dua ratus koin emas untuk sate kikil bening itu!" seru bangsawan muda yang tadi memaki Lin Mo.
Lin Mo mengibaskan kipas bambunya santai untuk menenangkan kerumunan orang-orang kaya yang mendadak beralih jadi anak-anak kelaparan ini.
"Harap antre yang rapi Paman dan Bibi sekalian," kata Lin Mo tersenyum pelayan angkringan.
"Di Angkringan Dewa Mo, tidak peduli kalian raja atau bangsawan, harga tetap sama dan harus antre teratur!" tegas Lin Mo.
align_left: Lin Mo menyerahkan sepuluh tusuk Sate Kikil Mistik Naga Air yang baru matang kepada adipati kaya yang berdiri paling depan.
Adipati tua itu langsung menyambar tusukan sate tersebut dan memasukkan potongan kikil kristal pertama ke dalam mulutnya.
Nyuttt! Krikk!
Sensasi kenyal yang luar biasa gurih meledak di dalam mulut sang adipati.
Kikil kristal itu meleleh di atas lidahnya, melepaskan aliran energi murni beraroma rempah pedas manis yang meresap ke seluruh sel-sel tubuhnya.
"Uoooohhh!" jerit adipati tua itu histeris dengan mata membelalak lebar sampai meneteskan air mata bahagia.
"Rasanya... rasanya seperti jiwaku sedang terbang melintasi samudra surga!" teriak sang adipati sambil mengunyah gila-gilaan.
Rasa lelah, penyakit encok, dan kelemahan fisik akibat usia tua pada tubuh sang adipati mendadak lenyap secara instan!
Pendaran cahaya biru bening terpancar dari tubuh adipati tua itu saat energi vitalitasnya pulih seratus persen.
"Ajaib! Tubuhku terasa muda kembali seperti usia dua puluh tahun!" jerit adipati tua itu melompat-lompat gembira.
Bangsawan lainnya yang melihat keajaiban itu langsung makin histeris dan berdesak-desakan ingin membeli sate Lin Mo.
"Beli! Beli semua yang ada di atas gerobak itu!" teriak kerumunan bangsawan berbutir-butir koin emas dan perak dilemparkan ke atas meja gerobak Lin Mo.
Dalam waktu kurang dari dua puluh menit, seluruh stok sate yang dibawa Lin Mo di atas gerobak melayang ludes tak tersisa sama sekali.
Ratusan koin emas dan perak menumpuk menggunung di atas meja kayu gerobak Lin Mo.
Sementara itu, meja perjamuan mewah buatan Chef Lu Yan dan tim Dapur Istana sama sekali tidak tersentuh oleh satu orang bangsawan pun.
Chef Lu Yan berdiri kaku di panggung dapurnya dengan wajah pucat pasi bagaikan mayat hidup.
Pisau perak di tangannya terlepas dan jatuh berdenting ke atas lantai pualam.
"A-aku kalah... aku kalah total hanya dari seorang penjual sate kaki lima..." bisik Chef Lu Yan gemetaran.
Lin Mo berjalan menghampiri panggung dapur Chef Lu Yan sambil membawa sepiring kecil berisi satu tusuk sate usus yang sengaja ia sisakan.
"Paman Koki Berstempel Lima, ini coba rasakan dulu," tawar Lin Mo ramah menyodorkan tusukan sate usus tersebut.
Chef Lu Yan menatap tusukan sate usus garing itu dengan tangan gemetaran.
Ia memberanikan diri menggigit sedikit usus bakar buatan Lin Mo tersebut.
Krikk! Nyuttt!
Saat rasa lezat luar biasa itu menyentuh lidahnya, Chef Lu Yan langsung berlutut di tanah dengan kedua matanya meneteskan air mata penyesalan.
"Luar biasa... teknik kendali api ini... bumbu racikan ini... sungguh berada di ranah Dewa!" jerit Chef Lu Yan menangis sesenggukan.
"Hamba mengaku kalah Master! Hamba bersedia menjadi murid Master dan membersihkan gerobak Anda setiap hari!" teriak Chef Lu Yan membungkuk dalam-dalam.
PING!
[Misi Sampingan Selesai!]
[Anda berhasil mengalahkan Koki Kepala Istana Lu Yan!]
[Hadiah Diterima: 1.000 Poin Arang & Resep Baru: Sate Usus Naga Ilusi]
[Total Poin Arang Saat Ini: 3.450 Poin]
Lin Mo tersenyum puas melihat hasil kemenangannya.
Namun tiba-tiba, keheningan mencekam menyapu seluruh Aula Utama Perjamuan Istana.
Pintu raksasa di bagian paling atas aula pesta terbuka lebar secara mendadak.
Tekanan aura yang sangat dingin dan membekukan keluar dari dalam ruangan utama kerajaan, membuat seluruh bangsawan langsung berlutut ketakutan di atas lantai.
Seorang pria tinggi besar berpakaian armor perak berukirkan lambang jam pasir dan pedang pelindung melangkah keluar secara perlahan.
Di belakangnya, bayangan energi raksasa berbentuk naga api pelindung terpancar pekat, membuat suhu di dalam aula naik turun secara drastis.
Ia adalah Kaisar Penjaga Lin Fan—sosok pelindung legendaris Kerajaan Aethelgard yang terkenal sangat protektif, kaku, dan memiliki sifat temperamental yang siap mengamuk kapan saja.
Mata merah menyala milik Kaisar Penjaga Lin Fan menyapu seluruh aula pesta lalu tertuju tepat pada Lin Mo dan gerobak kayu terbangnya.
"Siapa yang berani membuat kegaduhan dan menyebarkan bau asap di dalam Istana Aethelgard?!" gertak Kaisar Penjaga Lin Fan dengan suara menggelegar bagaikan petir di siang bolong.