Di mata publik, Rania hanyalah anak bungsu Keluarga Baskara yang manja, dan menjadi beban keluarga. Semua orang lebih memuja kakaknya, Resti, yang merupakan model sukses. Padahal di balik layar, Rania adalah gadis mandiri yang membangun toko rotinya sendiri dari nol tanpa bantuan siapa pun.Malam pernikahan megah tiba, namun Resti justru kabur ke Prancis demi karier modelnya. Demi menyelamatkan nama baik Keluarga Baskara, Rania dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Rangga, CEO dingin pewaris Pratama Group.
Rangga murka karena merasa ditipu. Dia mengira Rania adalah gadis manja yang sengaja menjebak kakaknya demi harta. Namun, saat Rangga mulai tahu kemandirian Rania—dan aroma roti buatan Rania justru menyembuhkan penyakit mag kronisnya—sang CEO mulai cemburu buta dan gengsi untuk mengaku bucin.Sanggupkah Rania membungkam mulut semua orang yang dulu meremehkannya?
UP SETIAP HARI JAM 06.00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Suasana di dalam kamar tidur minimalis milik Rania masih menyisakan sisa-sisa ketegangan akibat insiden di depan cermin bersama Rangga beberapa menit yang lalu. Rania duduk bersandar di tepi tempat tidur, sebelah tangannya memegang segelas air putih dingin untuk meredakan debar jantungnya yang belum sepenuhnya normal.
Pipi wanita itu masih terasa hangat. Bayangan wajah tegas Rangga yang begitu dekat, sorot mata tajam yang menghujam bibirnya, serta cengkraman hangat di pinggangnya tadi terus berputar-putar di dalam kepalanya bagaikan kaset rusak.
"Sialan..." gumam Rania pelan sambil menepuk pelan pipinya sendiri. "Pria es batu itu benar-benar tahu caranya membuat orang jantungan. Fokus, Rania! Jangan sampai pertahananmu runtuh!"
Sebelum ia sempat menenangkan diri lebih jauh, suara getaran bernada dering dari ponsel pintarnya yang tergeletak di atas nakas mendadak berbunyi nyaring. Rania menoleh sekilas. Layar ponselnya menyala terang, menampilkan sebuah nama kontak yang membuat keningnya langsung berkerut dalam.
Ibu.
Rania tertegun sejenak. Sejak insiden makan malam keluarga beberapa hari lalu—di mana Rangga membela Rania secara telak dan mempermalukan orang tuanya di meja makan—Sarah sama sekali tidak pernah menghubunginya lagi. Biasanya, jika sang ibu menelepon, isinya tidak jauh dari rentetan omelan tajam, keluhan mengenai sikap Rania, atau perbandingan tidak adil antara dirinya dan Resti.
Dengan rasa curiga yang menggelayut di benaknya, Rania menggeser tombol hijau di layar ponselnya, lalu mendekatkan benda pipih itu ke telinganya.
"Halo, Bu?" sapa Rania datar, bersiap memasang mental untuk mendengarkan omelan pedas.
Namun, reaksi yang datang dari ujung sambungan telepon justru membuat seluruh bulu kuduk Rania merinding seketika.
"Halo, Rania sayang... anakku tersayang!" suara Sarah di ujung sana menyapa dengan nada yang begitu lembut, manis, bahkan terdengar dibuat-buat sangat ramah hingga rasanya amat asing di telinga Rania. "Bagaimana kabarmu, nak? Duh, ibu sungguh merindukanmu. Kamu sehat kan di sana bersama suamimu tercinta, Rangga?"
Rania menarik ponselnya sedetik, menatap layar untuk memastikan apakah ia tidak salah melihat kontak. Ia kembali mendekatkan ponsel itu ke telinganya dengan alis bertaut bingung.
"Bu? Ibu tidak salah minum obat kan?" tanya Rania blak-blakan dengan nada curiga. "Kenapa tiba-tiba bicara manis begini? Biasanya juga langsung menceramahiku atau membandingkan aku dengan Kak Resti."
Di ujung sana, Sarah tertawa kecil—sebuah tawa renyah yang terdengar sangat dipaksakan dan dibuat-buat manis. "Ah, kamu ini ada-ada saja, Rania! Mana mungkin ibu bersikap ketus pada anak kandung sendiri. Bagaimanapun juga, kamu sekarang adalah permata kebanggaan keluarga kita. Oh ya, nak... apa ibu dan ayah boleh berkunjung ke penthouse suamimu malam ini? Ibu ingin membawakan makanan kesukaanmu."
Rasa merinding di kulit Rania semakin menjadi-jadi. Perubahan sikap 180 derajat yang begitu drastis dari seorang Sarah Santoso bukanlah pertanda baik. Di dunia ini, tidak ada makan siang yang gratis—terutama jika itu menyangkut kebaikan mendadak dari orang tuanya sendiri.
Belum sempat Rania menjawab tawaran mencurigakan tersebut, suara di ujung telepon tiba-tiba berpindah tangan. Terdengar suara deheman berat, disusul oleh suara Andre Santoso—sang ayah—yang mengambil alih ponsel dari tangan istrinya. Nada suara pria paruh baya itu terdengar begitu tegang, lelah, dan menyiratkan keputusasaan yang mendalam.
"Rania... ini Ayah," suara Andre menyapa dengan intonasi yang dihalus-haluskan, sangat kontras dengan bentakan kasarnya di masa lalu.
Rania menegakkan duduknya, merapikan napasnya. "Ya, Ayah. Ada apa ini sebenarnya? Kenapa Ibu tiba-tiba bersikap aneh, dan sekarang Ayah yang menelepon? Kalau mau marah-marah soal kejadian di meja makan kemarin, lebih baik teleponnya kututup sekarang."
"Tunggu, tunggu, jangan dimatikan dulu, Rania!" seru Andre buru-buru di ujung sana, nada suaranya berubah panik. Ia menghela napas panjang dengan berat, sebelum akhirnya melanjutkan dengan suara bergetar. "Ayah... Ayah minta maaf. Ayah minta maaf atas semua perlakukan buruk Ayah dan Ibumu kepadamu selama ini. Ayah baru sadar... kamu adalah anak yang paling berharga bagi keluarga kita."
Rania terdiam kaku di tepi tempat tidur. Jantungnya berdegup bukan karena jatuh cinta, melainkan karena rasa tidak percaya. Mendengar kata-kata penyesalan dan pujian meluncur dari mulut Andre Santoso adalah sebuah keajaiban dunia yang mustahil terjadi kecuali ada badai besar yang sedang melanda.
"Ayah... langsung ke intinya saja," potong Rania dengan suara dingin namun bergetar. "Kalian tidak mungkin menelepon selarut ini dengan gaya bicara selunak kapas kalau tidak ada udang di balik batu. Apa mau kalian sebenarnya?"
Di ujung sana, Andre terdiam sejenak. Terdengar helaan napas berat penuh keputusasaan, sebelum akhirnya sang ayah merendahkan harga dirinya serendah-rendahnya di hadapan putri kandung yang selama ini paling ia abaikan.
"Rania... perusahaan properti keluarga kita... saat ini benar-benar berada di ambang kebangkrutan total," suara Andre parau menahan tangis dan rasa malu. "Proyek pembangunan gedung komersial kita dibatalkan secara sepihak oleh para investor, dan bank mengancam akan menyita seluruh aset perusahaan kita dalam minggu ini jika kita tidak segera melunasi utang operasional."
Rania menahan napasnya. Meskipun hubungan mereka buruk, mendengar kejatuhan bisnis keluarga kandungnya tetap memberikan hantaman psikologis tersendiri.
"Lalu... apa hubungannya denganku?" tanya Rania lirih. "Aku hanya pemilik toko roti kecil, Ayah. Aku tidak punya uang sebanyak itu untuk menyelamatkan perusahaan besar kalian."
"Kamu memang tidak punya, Rania... tapi suamimu punya!" seru Andre dengan nada putus asa yang mulai mendesak. "Rangga Pratama! Suamimu adalah CEO Pratama Group! Bagi dia, suntikan dana modal untuk menyelamatkan perusahaan kita hanyalah sejumlah kecil uang jajan! Kumohon, Rania... Ayah meminta tolong padamu... tolong rayu suamimu malam ini. Memohon lah padanya agar mau memberikan suntikan dana modal untuk menyelamatkan perusahaan ayah!"
Permintaan penuh keputusasaan itu menggema di telinga Rania, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di dalam kamar tidurnya.
Rania memejamkan matanya rapat-rapat. Seluruh potongan teka-teki mengenai sikap manis luar biasa dari ibunya dan nada suara memelas dari ayahnya kini terjawab sudah. Mereka sama sekali tidak merindukannya. Mereka tidak peduli padanya sebagai seorang anak. Mereka hanya melihat Rania sebagai sebuah alat perantara—sebuah jembatan emas untuk mengeruk kekayaan dan kekuasaan dari menantu konglomerat mereka, Rangga Pratama.
Rasa sakit, getir, dan kekecewaan yang sudah tertanam sejak kecil kembali meraja lela di dalam hatinya. Ternyata, di mata orang tuanya sendiri, nilai dirinya hanya sebatas seberapa besar manfaat yang bisa ia berikan untuk kepentingan keluarga besar mereka.
"Ayah..." suara Rania terdengar serak, menahan bongkahan emosi yang mendesak di tenggorokannya. "Selama puluhan tahun hidup di rumah itu, apa pun yang kulakukan selalu salah. Aku dianggap tidak ada dibanding Kak Resti. Dan sekarang, setelah aku dibuang dan dijatuhkan, kalian datang hanya untuk meminta uang?"
"Rania! Jangan membangkang pada orang tua!" suara Sarah tiba-tiba merebut kembali telepon dari tangan suaminya, nada manisnya mendadak hilang berganti dengan nada ketus aslinya yang tidak sabaran. "Ini demi kelangsungan hidup keluarga kita! Kalau perusahaan ayahmu bangkrut, di mana muka kita di hadapan para sosialita elite?! Buktikan kalau kamu memang anak yang berguna bagi keluarga ini!"
Tut... tut... tut.
Sambungan telepon diputus begitu saja secara sepihak oleh Sarah, meninggalkan dengungan sunyi di telinga Rania.
Rania menurunkan ponselnya perlahan dari telinga. Jemarinya yang memegang benda pipih itu bergetar hebat. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh membasahi pipinya. Ia menundukkan kepala, memeluk lututnya sendiri di atas tempat tidur, melepaskan tangisan tertahan yang selama bertahun-tahun ia pendam rapat-rapat di balik topeng garangnya.
Di luar kamar, pintu penghubung ruang kerja darurat dan koridor utama terbuka pelan.
Rangga Pratama, yang baru saja selesai memeriksa dokumen laporan keuangan cabang terakhir di meja kerjanya, berniat berjalan menuju dapur untuk segelas air hangat. Namun, langkah kakinya terhenti ketika telinganya menangkap suara isakan tangis tertahan yang samar-samar berasal dari balik pintu kamar tidur Rania.
Kening Rangga berkerut dalam. Sifat protektif dan insting suaminya langsung terbangun.
Pria itu melangkah mendekati pintu kamar Rania. Ia mendengarkan lebih seksama; isakan itu terdengar begitu menyayat hati, penuh luka batin yang dalam. Tanpa berpikir panjang atau mengetuk pintu terlebih dahulu, Rangga memutar gagang pintu dan mendorongnya perlahan.
Pintu terbuka. Di bawah temaram lampu tidur, ia melihat Rania sedang duduk meringkuk di tepi tempat tidur, menyembunyikan wajahnya di balik kedua lututnya, dengan bahu yang bergetar hebat menahan tangis.
Rangga tertegun di ambang pintu. Pemandangan itu—melihat wanita paling garang, cerewet, dan hobi membentak yang pernah ia kenal kini hancur berkeping-keping dalam kesedihan—menusuk ulu hati Rangga secara telak. Rasa sakit di dadanya jauh lebih tajam ketimbang saat ia melihat Rania direndahkan oleh orang tuanya di meja makan tempo hari.
Dengan langkah pelan namun pasti, Rangga berjalan masuk ke dalam kamar. Ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun omelan atau pertanyaan menyebalkan seperti biasanya. Pria itu berlutut di hadapan Rania, meraih perlahan kedua bahu istrinya yang bergetar, lalu menarik tubuh wanita itu kedalam dekapan pelukannya yang hangat dan kokoh.
Rania terperanjat kaget, namun isakannya justru semakin pecah di dada bidang suaminya. Tanpa sadar, ia mencengkeram erat kemeja Rangga, membiarkan air matanya membasahi pakaian pria itu, sementara tangan kokoh Rangga mengusap lembut punggungnya berulang-ulang dalam keheningan malam yang panjang.
•
•
•
•