Alya Anindita hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarganya. Bekerja sebagai asisten eksekutif di perusahaan besar adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa atasannya sendiri akan menjadi orang yang perlahan mengacaukan batas antara profesional dan perasaan.
Raka Mahendra adalah direktur yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya, apalagi mencoba masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun, bagaimana jika hati tidak pernah mau mengikuti aturan?
Karena terkadang...
cinta datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, tetapi terasa begitu nyata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek_Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JANGAN PULANG DULU
Alya menatap pesan Raka selama hampir satu menit.
Alya, saya perlu bicara denganmu.
Pesan berikutnya membuat dadanya semakin tidak nyaman.
Ada sesuatu yang harus kamu tahu sebelum memutuskan pulang.
Alya langsung menekan tombol panggilan.
Satu kali.
Tidak diangkat.
Dua kali.
Masih tidak diangkat.
Alya mengerutkan kening.
Raka hampir selalu mengangkat teleponnya, terutama jika Alya yang menelepon.
Beberapa menit kemudian ponselnya berdering.
Raka.
Alya langsung mengangkat.
“Halo?”
“Sudah baca pesanku?”
“Sudah. Ada apa?”
Raka diam beberapa detik.
“Besok kamu ada waktu?”
“Untuk apa?”
“Saya ingin kamu pulang sebentar.”
Alya terdiam.
“Pulang ke Bali?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Kita bicara langsung.”
Alya semakin bingung.
“Raka, kamu membuat saya khawatir.”
“Saya tahu.”
“Kalau memang ada masalah, katakan sekarang.”
Raka menarik napas.
“Masalahnya bukan tentang kamu.”
“Lalu?”
“Perusahaan.”
Alya terdiam.
“Perusahaan kenapa?”
“Kamu lebih baik tahu langsung dari saya.”
Alya semakin tidak mengerti.
“Apakah saya masih punya pekerjaan?”
“Bukan itu.”
“Lalu apa?”
Hening.
Raka akhirnya berkata,
“Clara kembali.”
Alya membeku.
“Clara?”
“Iya.”
“Untuk apa?”
“Dia masuk sebagai konsultan eksternal untuk proyek akuisisi.”
Alya terdiam.
Raka melanjutkan,
“Dan ada satu hal lagi.”
“Apa?”
“Dia membawa proposal yang membuat posisi saya di perusahaan bisa berubah.”
Alya menggenggam ponsel lebih erat.
“Berubah bagaimana?”
“Saya belum bisa menjelaskannya lewat telepon.”
“Kenapa?”
“Karena saya sendiri masih mencari tahu.”
Alya menarik napas.
“Jadi saya harus pulang?”
“Tidak harus.”
“Tapi kamu memintanya.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Raka diam.
Kemudian suaranya terdengar lebih rendah.
“Karena saya ingin melihatmu.”
Alya terdiam.
Kalimat itu sederhana.
Tetapi di tengah semua masalah yang baru saja dibicarakan, kalimat itu justru terasa paling nyata.
“Kamu baik-baik saja?”
“Tidak sepenuhnya.”
“Raka…”
“Hm?”
“Saya akan pulang.”
“Besok?”
“Besok.”
Raka terdiam sejenak.
“Baik.”
“Dan satu lagi.”
“Apa?”
“Jangan menghadapi semuanya sendirian.”
Raka tersenyum kecil di ujung telepon.
“Kamu masih suka mengatur saya.”
“Memang.”
“Baik.”
Telepon berakhir.
Alya masih memegang ponselnya.
Kepalanya penuh pertanyaan.
Clara kembali.
Posisi Raka terancam.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengakui perasaan—
Alya merasa jarak di antara mereka bukan lagi sekadar masalah hati.
Ada sesuatu yang lebih besar.
BALI
Keesokan harinya, Alya tiba menjelang sore.
Dia tidak memberi tahu banyak orang bahwa dirinya pulang.
Hanya keluarganya yang tahu.
Begitu keluar dari bandara, sebuah mobil sudah menunggunya.
Bukan mobil perusahaan.
Raka sendiri yang datang.
Alya berhenti.
Raka keluar dari mobil.
Mereka saling menatap.
Tiga bulan.
Hanya tiga bulan.
Tetapi rasanya jauh lebih lama.
Alya tersenyum.
“Kamu datang sendiri?”
“Iya.”
“Tidak ada sopir?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Saya ingin.”
Alya mengangguk.
Raka mengambil koper Alya.
“Biar saya.”
“Saya bisa.”
“Saya tahu.”
Raka tetap membawanya.
Alya tersenyum.
“Kamu tidak berubah.”
“Begitu juga kamu.”
Mereka masuk mobil.
Namun kali ini suasananya berbeda.
Tidak seperti dulu ketika mereka masih bos dan asisten.
Sekarang ada sesuatu yang sudah diakui.
Tetapi juga ada sesuatu yang belum memiliki nama.
DI MOBIL
Raka tidak langsung menuju rumah Alya.
Alya menyadarinya.
“Kita mau ke mana?”
“Ke kantor.”
“Sekarang?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Saya ingin menunjukkan sesuatu.”
Alya menatapnya.
“Bukan tentang pekerjaan?”
“Sebagian.”
“Dan sebagian lagi?”
Raka tidak menjawab.
Alya akhirnya membiarkan.
Sekitar dua puluh menit kemudian, mereka tiba di gedung perusahaan.
Alya turun.
Gedung itu terlihat sama.
Namun ketika memasuki lantai Executive Office, Alya merasakan sesuatu yang berbeda.
Beberapa orang menoleh.
Beberapa tersenyum.
Mereka sepertinya terkejut melihat Alya.
Raka berjalan di sampingnya.
Mereka masuk ke ruangannya.
Pintu tertutup.
Alya meletakkan tas.
“Sekarang jelaskan.”
Raka membuka laptop.
“Clara datang tiga minggu lalu.”
Alya duduk.
“Untuk proyek akuisisi?”
“Iya.”
“Lalu?”
“Perusahaan tempat dia bekerja sekarang sedang bekerja sama dengan salah satu investor terbesar kita.”
Alya mengangguk.
“Masalahnya?”
“Dia meminta restrukturisasi posisi direksi.”
Alya mengerutkan kening.
“Termasuk posisi kamu?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Karena investor ingin memasukkan orang mereka ke jajaran manajemen.”
Alya terdiam.
“Dan orang itu?”
Raka menatapnya.
“Clara.”
Alya membeku.
“Clara mau mengambil posisi direktur?”
“Bukan tepatnya.”
“Lalu?”
“Dia ingin menjadi bagian dari jajaran strategis perusahaan.”
Alya menghela napas.
“Berarti dia akan sering berada di sini.”
“Iya.”
“Dan kamu?”
“Saya belum tahu.”
Alya menatapnya.
“Kenapa kamu tidak melawan?”
“Saya sedang mengumpulkan dukungan.”
“Dari siapa?”
“Dewan direksi.”
Alya mengangguk.
“Lalu kenapa saya harus pulang?”
Raka menatapnya.
“Karena ada satu hal yang membuat saya khawatir.”
“Apa?”
“Namamu.”
Alya membeku.
“Nama saya?”
Raka mengangguk.
“Clara mengetahui hubungan kita.”
Alya langsung diam.
“Hubungan?”
Raka menatapnya.
“Perasaan kita.”
Alya menahan napas.
“Bagaimana dia tahu?”
“Saya tidak tahu.”
“Lalu?”
“Dia mengatakan kepada salah satu anggota dewan bahwa ada konflik kepentingan antara saya dan kamu.”
Alya berdiri.
“Konflik kepentingan?”
“Karena kamu pernah bekerja langsung dengan saya.”
Alya mulai memahami.
“Dia bisa menggunakan itu untuk menyerang kamu.”
“Ya.”
“Dan kalau itu terjadi?”
Raka diam.
“Posisi saya bisa dipertanyakan.”
Alya menatapnya.
“Karena saya?”
“Bukan karena kamu.”
Raka berdiri.
“Karena keputusan saya.”
Alya menunduk.
“Kalau begitu saya harus pergi.”
Raka langsung menggeleng.
“Tidak.”
“Raka…”
“Tidak.”
“Kalau keberadaan saya membuat masalah…”
“Kamu bukan masalah.”
Alya menatapnya.
“Lalu apa?”
Raka mendekat.
“Kamu adalah alasan saya harus menyelesaikan masalah ini dengan benar.”
MALAM
Mereka duduk di sebuah kafe yang cukup sepi.
Tidak ada pembicaraan pekerjaan.
Untuk pertama kalinya setelah tiga bulan, mereka bisa berbicara tanpa layar ponsel sebagai perantara.
Alya memegang cangkirnya.
“Raka.”
“Hm?”
“Apakah kamu menyesal?”
“Menyesal apa?”
“Memiliki perasaan terhadap saya.”
Raka langsung menjawab,
“Tidak.”
“Bahkan sekarang?”
“Justru sekarang saya semakin yakin.”
Alya tersenyum kecil.
“Saya takut.”
“Kenapa?”
“Karena saya tidak ingin kamu kehilangan pekerjaan karena saya.”
Raka menggeleng.
“Ini bukan soal pekerjaan.”
“Bagi kamu mungkin.”
“Tidak.”
Raka menatapnya.
“Kalau saya kehilangan jabatan, saya bisa mencari pekerjaan lain.”
Alya terdiam.
“Tapi kalau saya kehilangan kamu…”
Raka berhenti.
Alya menatapnya.
“Kamu akan bagaimana?”
Raka tersenyum tipis.
“Saya tidak tahu.”
Hening.
Alya menunduk.
“Jadi sekarang?”
“Kita tidak membuat keputusan karena takut.”
“Lalu?”
“Kita hadapi.”
Alya mengangguk.
KEESOKAN PAGI
Alya kembali ke kantor.
Namun kali ini dia tidak masuk sebagai karyawan.
Dia datang sebagai peserta program pengembangan manajemen yang sedang menjalani cuti sementara.
Beberapa orang menyambutnya.
Maya langsung memeluknya.
“Ya ampun! Kamu pulang!”
Alya tertawa.
“Sebentar.”
“Kenapa?”
“Ada masalah.”
Maya langsung serius.
“Pak Raka?”
Alya mengangguk.
Maya melihat ke arah ruang direktur.
“Clara?”
“Iya.”
Maya menghela napas.
“Aku sudah menduga.”
“Kenapa?”
“Karena dia beberapa kali datang ke sini.”
Alya diam.
“Dan dia sering bicara dengan direksi.”
Alya mengangguk.
“Raka sudah menjelaskan.”
Maya menatapnya.
“Kamu masih mau kembali ke Jakarta?”
Alya terdiam.
“Saya belum tahu.”
“Kalau kamu kembali?”
Alya tersenyum tipis.
“Entahlah.”
PUKUL 11.00
Rapat dewan dimulai.
Raka masuk bersama beberapa direktur.
Alya tidak ikut.
Namun satu jam kemudian, Raka keluar dengan wajah serius.
Dia langsung menuju meja Alya.
“Kita bicara.”
Alya berdiri.
Mereka masuk ke ruangannya.
“Bagaimana?”
Raka meletakkan dokumen di meja.
“Tidak bagus.”
Alya membacanya.
Ada proposal restrukturisasi.
Dan benar.
Nama Clara tercantum sebagai salah satu calon strategis baru.
Namun ada satu bagian yang membuat Alya terkejut.
Posisi Raka sebagai Direktur Utama akan dievaluasi berdasarkan kinerja dan independensi keputusan.
Alya mengangkat wajah.
“Mereka mempertanyakan independensi kamu?”
“Ya.”
“Karena saya?”
“Sebagian.”
Alya menutup dokumen.
“Kalau begitu saya akan bicara dengan mereka.”
Raka langsung menggeleng.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena itu akan membuatnya terlihat lebih buruk.”
Alya terdiam.
Raka duduk.
“Kamu tidak boleh masuk ke dalam konflik ini.”
“Raka…”
“Saya serius.”
“Dan kamu?”
“Saya akan menghadapinya.”
Alya menghela napas.
“Sendiri?”
“Tidak.”
Raka menatapnya.
“Saya punya tim.”
Alya tersenyum kecil.
“Bohong.”
“Apa?”
“Bapak selalu bilang punya tim.”
Raka tersenyum.
“Kamu masih ingat.”
“Selalu.”
SIANG
Clara datang ke ruangan Raka.
Alya kebetulan masih berada di sana.
Clara berhenti ketika melihatnya.
“Jadi kamu pulang.”
Alya mengangguk.
“Ya.”
Clara menatap Raka.
“Kalian masih dekat.”
Raka menjawab dingin,
“Ini urusan kantor.”
Clara tersenyum.
“Justru itu yang ingin saya bicarakan.”
Dia meletakkan sebuah folder.
“Investor meminta penjelasan mengenai hubungan kerja kalian.”
Alya menegang.
Clara melanjutkan,
“Tidak ada yang melarang kalian memiliki hubungan pribadi.”
“Namun selama Raka masih memiliki kewenangan atas keputusan yang berkaitan dengan kamu, itu bisa menjadi masalah.”
Raka menjawab,
“Saya tahu.”
“Bagus.”
Clara menatap Alya.
“Kamu sebaiknya mengerti konsekuensinya.”
Alya tidak menjawab.
Clara berbalik.
Sebelum keluar, dia berkata,
“Kalau kamu benar-benar menyayanginya, jangan menjadi alasan dia kehilangan semuanya.”
Pintu tertutup.
Alya menunduk.
Kalimat itu menusuk tepat ke titik yang paling dia takuti.
Raka mendekat.
“Jangan dengarkan dia.”
Alya menggeleng.
“Mungkin dia benar.”
“Tidak.”
“Kalau saya pergi…”
“Alya.”
“Kalau saya mengundurkan diri dari posisi ini…”
“Tidak.”
“Masalahnya mungkin selesai.”
Raka menatapnya.
“Dan kamu pikir saya akan membiarkan kamu mengorbankan kariermu demi menyelesaikan masalah saya?”
Alya terdiam.
Raka berkata tegas,
“Tidak.”
MALAM
Alya duduk sendirian di rumah.
Di depannya ada laptop.
Dia membuka surat program dari Jakarta.
Ada pilihan untuk memperpanjang masa kerja.
Dia membaca sekali lagi.
Kemudian membuka dokumen lain.
Surat pengunduran diri.
Alya menatap kedua dokumen itu.
Satu untuk masa depannya.
Satu untuk meninggalkan semuanya.
Ponselnya berbunyi.
Raka.
Jangan membuat keputusan malam ini.
Alya terkejut.
Dia mengetik:
Bagaimana kamu tahu?
Raka:
Karena saya mengenal kamu.
Alya tersenyum pahit.
Kalau saya tetap pergi ke Jakarta?
Saya akan mendukung.
Kalau saya tetap di Bali?
Saya juga mendukung.
Kalau saya memilih berhenti bekerja?
Lama.
Kemudian:
Saya tidak akan mendukung kalau alasannya karena saya.
Alya menatap layar.
Kamu tidak takut kehilangan saya?
Balasan datang beberapa detik kemudian.
Sangat takut.
Tapi?
Saya lebih takut kamu kehilangan dirimu sendiri hanya karena mencintai saya.
Alya menutup mulutnya.
Air matanya jatuh.
Bukan karena sedih.
Karena untuk pertama kalinya dia merasa dicintai dengan cara yang tidak mengekangnya.
Dia membalas:
Aku mencintaimu.
Pesan terkirim.
Alya langsung membeku.
Untuk pertama kalinya dia mengatakannya.
Bukan suka.
Bukan punya perasaan.
Tetapi benar-benar—
mencintai.
Ponselnya bergetar.
Raka membalas:
Saya tahu.
Alya mengernyit.
Kemudian pesan kedua masuk.
Dan saya juga mencintaimu.
Alya menangis sambil tersenyum.
Namun beberapa detik kemudian, satu pesan lain masuk.
Besok kita harus mengambil keputusan yang mungkin tidak kamu suka.
Alya mengusap air matanya.
Keputusan apa?
Tidak ada balasan.
Alya menunggu.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Kemudian akhirnya muncul satu kalimat:
Saya akan mengundurkan diri dari posisi yang membuat saya menjadi atasanmu.
Alya membeku.
Jantungnya seakan berhenti.
Raka benar-benar serius.
Dia bersedia melepaskan jabatan itu.
Bukan karena dipaksa.
Bukan karena kalah.
Tetapi karena ingin memastikan hubungan mereka tidak lagi berdiri di atas ketimpangan kekuasaan.
Alya menatap pesan itu lama.
Dan malam itu dia sadar—
cinta mereka mungkin baru benar-benar dimulai ketika salah satu dari mereka berani melepaskan sesuatu yang selama ini dianggap paling penting.
Tetapi Alya belum tahu satu hal.
Keputusan Raka untuk mengundurkan diri akan memicu pertarungan besar di dalam perusahaan.
Dan Clara tidak akan tinggal diam.