Celine butuh 200 juta untuk operasi ibunya. Dengan sisa harga diri, ia datang untuk memohon pada kekasihnya, Jason. Namun yang ia temukan justru Jason sedang meniduri wanita lain di atas meja kerjanya.
Saat dunia Celine runtuh, Damian Salvatore datang. Raja mafia yang satu tatapannya bisa membuat orang lumpuh ketakutan.
"Jadilah milikku. Teman ranjangku. Dan aku akan memberikan ibumu dokter terbaik." ~ Damian.
Celine mengira itu neraka. Padahal itu baru awal. Karena bagi Damian Salvatore, apa yang sudah ia klaim, tidak akan pernah ia lepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15 : Dua wajah kesetiaan.
Mobil hitam itu melaju pelan membelah jalanan pagi yang masih basah, roda-roda membelah genangan dengan halus. Suasana di dalam kabin sunyi, hanya terdengar suara halus mesin dan bunyi wiper yang sesekali menyapu tetesan air di kaca depan.
"Ke mana?" tanya Damian tiba-tiba, matanya tetap fokus ke jalan, tak menoleh sedikit pun.
"Ke kafe tempat aku bekerja," jawab Celine singkat, nada suaranya tegas.
Damian mengerem halus, mobil itu berhenti mulus di lampu merah. Baru saat itu ia menoleh sekilas ke arah wanita di sampingnya.
"Kau tidak perlu bekerja lagi, Celine." Ucapnya rendah, namun di balik nada itu terselip perintah yang tak bisa dibantah. "Kau Nyonya Salvatore sekarang. Kau tidak perlu mengangkat nampan untuk orang lain. Itu bukan tempatmu lagi."
Celine menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras. "Aku tetap mau bekerja."
"Alasan?" tanya Damian singkat.
Celine menarik napas panjang, "Aku ingin mengembalikan semua uang yang Jason berikan selama ini. Semua yang dipakainya untuk Ibu, untuk hidupku... Aku tidak mau berutang pada siapa pun. Termasuk padamu, Damian."
Keheningan kembali menyelimuti kabin. Hanya wiper yang bergerak pelan, menyapu tetesan air satu per satu.
"Maaf," ucap Damian tiba-tiba, memecah kesunyian itu.
Celine langsung menoleh, matanya membelalak bingung. "Hah?"
"Untuk Valen tadi." Rahang Damian mengeras, tatapannya kembali tertuju ke jalan. "Dia... manja. Dan kurang ajar. Sejak kecil aku terlalu memanjakannya."
Ia terdiam sejenak, jari-jarinya mengetuk pelan setir seolah sedang menimbang kata yang akan diucapkan.
"Kedua orang tua kami dibunuh," katanya datar, terlalu datar, seolah membacakan fakta yang sudah hafal di luar kepala. "Dieksekusi di rumah kami sendiri. 23 tahun yang lalu."
Celine tercekat, napasnya tertahan di kerongkongan. Ia tak menyangka akan mendengar hal seberat itu begitu saja.
"Saat itu aku masih berusia 12 tahun dan Valen baru 4 tahun." Damian tertawa pendek, kering dan hampa, tanpa ada sedikit pun kebahagiaan di dalamnya. "Sejak itu aku yang jadi ayahnya. Aku yang jadi ibunya. Aku yang mengurus semuanya. Mungkin karena itu... aku terlalu memanjakannya. Hingga dia lupa dunia ini tidak berputar untuknya saja."
Jari-jari Celine perlahan mengepal di atas pangkuan. Dadanya terasa nyeri, perih mendadak. Dia membenci Damian, dia membenci pernikahan ini... tapi di saat yang sama, hatinya terasa tertarik untuk mengerti.
Lampu berubah hijau dan mobil kembali melaju pelan.
"Baik," kata Damian akhirnya, suaranya kembali tenang namun tegas. "Kau boleh bekerja. Tapi dengan dua syarat."
Celine menegakkan tubuh, siap menawar. "Apa?"
"Pertama, aku yang akan mengantar jemput setiap hari. Tidak boleh pulang sendiri." Ia melirik sekilas. "Kedua, akan ada pengawal yang mengawasimu dari jarak yang tetap aman, tidak mengganggu, cukup agar kau merasa aman dan nyaman."
Celine terdiam, merasa keberatan di satu sisi. Tapi melihat tatapan pria itu yang tak bisa ditawar, ia akhirnya mengangguk pelan.
"Deal."
Damian tidak menjawab lagi, hanya sudut bibirnya yang sedikit terangkat. Lampu berubah hijau dan mobil kembali melaju pelan. Lalu mesin meraung pelan, membawa mereka ke arah kafe yang Celine sebutkan.
"Berhenti di sini saja, Damian."
Suara Celine terdengar pelan namun tegas, tepat saat kafe itu mulai terlihat di ujung jalan. Damian menoleh sekilas, alisnya sedikit terangkat.
"Masih jauh."
"Aku tahu." Celine menatapnya lekat, tangannya meremas tali tas di pangkuan. "Tapi tolong... berhenti di sini. Jangan sampai di depan kafe."
Damian mengerem halus, mobil itu berhenti mulus di tepi jalan, cukup jauh dari keramaian kafe tempat Celine bekerja. Ia mematikan mesin sebentar, menatap wanita itu dengan tatapan yang menuntut penjelasan.
"Kenapa?"
"Karena aku tidak mau teman-temanku ketakutan." Celine tertawa kecil, getir. "Mereka sudah cukup stres dengan orderan kopi. Kalau melihat kamu, bisa-bisa mereka resign semua."
"Kau malu padaku?" tanya Damian rendah, bukan menuduh, hanya memastikan.
"Bukan malu!" Celine segera membantah cepat, matanya membesar. "Sama sekali bukan malu. Aku hanya... belum siap. Biarkan aku menyelesaikan urusanku dengan tenang dulu. Tolong, Damian. Jangan turun dan segeralah pergi begitu aku masuk kafe."
Damian menatapnya lama, lalu perlahan mengangguk pelan. "Baik. Aku tidak akan turun. Tapi ingat syarat tetap berlaku."
Celine tersenyum lega. "Terima kasih."
Ia membuka pintu, melangkah turun ke trotoar yang masih basah, lalu menutup pintu perlahan. Sebelum berbalik pergi, ia sempat melirik sekilas ke jendela kaca yang gelap itu dan tersenyum. Di balik kaca itu, Damian duduk diam, seperti bayangan yang selalu siap menjaga, namun cukup jauh agar cahayanya tak menutupi siapa pun.
-
-
-
Mobil hitam itu meluncur pelan masuk ke area basement gedung pencakar langit SALVATORE GROUP, menyusuri lorong beton yang dingin dan remang. Meski siang hari, lantai satu hingga lima tetap terjaga gelap, sejuk, sunyi, seolah bagian gedung ini tak tersentuh waktu.
Lift berdenting pelan, pintu tertutup rapat. Sidik jari dipindai, kartu akses ditempel. Angka di layar berputar naik ke lantai 50.
Pintu terbuka perlahan. Ruangan PRIVATE ROOM menyambut dengan cahaya matahari yang deras menembus dinding kaca dari lantai hingga langit-langit, memantul di permukaan meja kayu hitam luas yang masih kosong, bersih, tak tersentuh siapa pun.
Damian duduk di kursi kulit besar itu. Dengan tenang ia melepas jam tangan mewah dari pergelangannya dan meletakkannya di atas meja.
Luca berdiri tegak dua langkah di belakangnya, tak bergerak sedikit pun.
"Don."
"Laporkan." Suaranya datar, tanpa nada, namun memerintah.
"Matteo diam-diam mengerahkan orang untuk menyelidiki latar belakang Nyonya Celine, Don."
Luca melangkah maju sebentar, meletakkan perekam suara di tepi meja dan menekan tombol putar. Suara di dalamnya terdengar jernih, jelas, seakan mereka berdiri tepat di ruangan itu.
"Kau harus membuat Kakakmu mau melepaskannya..."
"Aku mau kau menyelamatkan Kakakmu, amore."
Klik. Rekaman berhenti.
Damian tak bergerak satu menit penuh, ia hanya diam, menatap kota yang terbentang luas di balik kaca, kendaraan dan manusia tampak begitu kecil di bawah sana.
"Jadi dia memanfaatkan adikku." Suaranya rendah, terlalu datar hingga jauh lebih menakutkan daripada teriakan apa pun.
"Tim yang disuruh Matteo di Lantai 22 sudah kami lacak posisinya, Don." Luca menunggu perintah. "Apakah harus saya amankan sekarang?"
Damian memejamkan mata sejenak. Satu kata meluncur pelan, penuh penekanan dingin.
"Khianat." tangannya mengepal di sandaran kursi.
Ia membuka mata. Tatapannya kini berubah, bukan merah padam karena marah melainkan dingin, tajam, mematikan, seolah semua emosi telah dibekukan.
"Jangan."
Luca mengangkat wajah, bingung. "Don?"
"Biarkan." Damian mengulang pelan, namun tegas. "Biarkan mereka terus menggali. Biarkan mereka bergerak sesuka hati."
Ia berdiri, berjalan mendekati dinding kaca raksasa itu. Telapak tangannya menempel di permukaan dinginnya, menatap bayangan dirinya sendiri yang tampak gelap di sana.
"Aku ingin melihat, Luca. Seberapa jauh Matteo Russo berani melangkah. Seberapa kotor ia berani menyeret nama Valen ke dalam permainan kotor ini."
Luca terdiam sesaat, lalu berbicara hati-hati. "Don... soal rekaman di Lantai 35... apakah perlu kita hentikan dulu? Jika Matteo tahu kita menyadapnya—"
"Dia tidak akan pernah tahu." Damian memotong cepat, tegas tanpa ragu. "Sudah enam tahun ia tidak sadar. Dan ia tidak akan tahu... sampai aku yang memutuskan agar ia tahu."
Sudut bibirnya terangkat sedikit, senyum tipis tanpa kehangatan sama sekali.
"Itulah perbedaan antara dia dan aku, Luca. Dia bekerja bersamaku karena ia berpikir aku membutuhkannya. Sedangkan aku mempekerjakannya... karena aku tahu betul, aku tidak pernah mempercayainya."
--
--
--
Bersambung...