Seorang Ceo yang merahasiakan pernikahannya dengan wanita yang di cintainya. Semua itu di lakukan karena keinginan sang istri. Sang istri ingin membuktikan diri ke keluarganya jika ia mampu berdiri sendiri. Bukan tanpa alasan, semua itu terjadi karena selama ini. Sang istri selalu mendapatkan perlakuan tidak adil dari keluarganya sendiri.Sang istri juga tahu jika pernikahan mereka berdua tidak akan di restui oleh keluarga suaminya karena latar belakangnya sangat berbeda jauh. Bagaimana kisah cinta mereka jika tahta dan sosial menjadi penghalang utama hubungan mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Armelia Melmel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.12 Ana merasa di kalahkan
Tok..
Mamah Ana melangkah masuk.
"Sayang, nyonya Morley ingin bertemu besok malam. Kamu harus tampil cantik."Ujar mamah Ana.
Wanita paruh baya itu belum menyadari apa yang baru saja terjadi kepada putrinya.
"Aku mengerti mah. Bisa mamah keluar? Aku ingin beristirahat dengan tenang."
"Baiklah sayang."Wanita paruh baya itu berjalan keluar tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi.
Dia juga tidak menaruh curiga sedikit pun. Jika putrinya saat ini sedang kesal.
Melihat kepergian mamahnya. Ana menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.
Tangannya mengepal kuat. Dia merasa di kalahkan oleh Lily.
"Dari mana dia mendapatkan uang sebanyak itu? Apa dia bermain-main dengan seorang laki-laki tua?"Gumam Ana menghembuskan nafas kasar.
"Besok malam. Aku akan mendapatkan Eldrick. Bagaimana pum caranya. Aku pasti akan membuatnya jadi milik ku."Batin Ana.
Hatinya benar-benar tidak tenang saat ini. Dia sama sekali tidak menyangka jika sepupunya itu benar-benar sanggup membayarnya.
Sementara itu, Lily sedang berbaring di atas tempat tidurnya. Wanita itu sedang berselancar di duni maya tanpa beban.
Tadi dia sangat puas melihat wajah kesal Ana.
"Apa seperti ini rasanya memiliki uang? Aku bisa melihat bagaimana kesalnya wajah Ana tadi."
Lily tertawa kecil.
"Apa yang begitu menyenangkan sayang?"
Lily tersenyum menoleh ke arah suaminya yang baru saja masuk.
"Seandainya tadi kamu melihatnya. Kamu juga akan tertawa sayang. Semua orang tadi terkejut ketika aku mampu membayar semua makanan mereka. Terutama Ana. Dia sengaja memilih restoran mewah karena ingin mempermalukan ku dan menjadi pahlawan. Tapi rencanya gagal karena aku mampu membayarnya."
Lily kembali tertawa kecil.
"Kamu tahu, restoran apa yang di pilih mereka. Restoran yang sering kita datangi. Bahkan salah satu pelayan di restoran itu mengenaliku. Untung saja aku gercep."
Lily menceritakan semuanya kepada Eldrick sambil tertawa kecil.
Eldrick yang melihat sang istri begitu antusias bercerita hanya tertawa kecil. Kebahagiaan istrinya adalah segalanya baginya.
Eldrick melangkah masuk ke dalam. Dia duduk di tepi ranjang.
Eldrick tampak ragu.
Lily yang menyadari sikap suaminya mendekat.
"Ada apa?"
Lily tampaknya mulai menyadari sesuatu tapi dia jelas tidak ingin berdebat karena sesuatu hal yang sepele.
Lily mempercayai suaminya.
"Berjanjilah jika kamu tidak akan marah sayang."
"Khmmm. Aku janji sayang. Katakan saja."
Eldrick terdiam sejenak.
"Nenek ingin menjodohkan ku sayang. Kita tidak bisa terus menyembunyikan pernikahan kita.''
Lily berbaring membelakangi suaminya.
Eldrick mendekat dan memeluk Lily dari belakang.
"Maafkan aku sayang. Kita sudah menikah selama tiga tahun lamanya. Kita selalu sembunyi-sembunyi saat kita mau keluar. Aku hanya ingin pernikahan pada umumnya sayang."Lirih Eldrick.
Lily terdiam sejenak.
"Kamu tahu sayang. Keluarga mu tidak akan merestui kita. Keluarga mu memandang rendah aku. "
Mata Lily tampak berkaca-kaca mengatakan semua itu. Lily pernah berbicara dengan nyonya Morley di telepon.
Lily menerima banyak hinaan dan cacian. Hal itu juga yang ingin membuat Lily begitu bertekad ingin berdiri sendiri. Meski dia tidak bisa setara dengan suaminya. Setidaknya dia punya karier yang membuatnya tidak begitu rendah di hadapan suaminya.
Eldrick semakin mengeratkan pelukannya.
"Maaf sayang. Jika keluargaku menyakitimu. Aku berjanji tidak akan membiarkan salah satu dari mereka menyakitimu."
Lily tidak menjawabnya.
Dia hanya memejamkan matanya.
Menyadari hal itu. Eldrick juga memejamkan matanya.
Ke esokan paginya.
Rutinitas yang sama. Lily bangun lebih awal. Dia berjalan ke kamar mandi. Meski dia harus melawan rasa kantuknya.
Selesai membersihkan diri. Lily segera mengenakan pakaian kerja.
Lily pamit kepada suaminya dan berangkat ke kantor.
Di tempat lain. Tepatnya di kediaman nyonya Morley. Wanita tua itu duduk di ruang tamu. Di hadapannya ada Mery yang terlihat gugup.
"Pernikahan ini harus terjadi Mery. Lakukan cara agar wanita itu meninggalkan Eldrick."
Tangan Mery sedikit gemetar.
"Jangan lupa siapa kamu. Kamu berada di posisi ini karena izin dari ku. Cucuku tidak boleh mengikuti jejak ayahnya."
"Baik bu."
Mery tidak berani menatap wajah mertuanya. Selama puluhan tahun menikah. Mery sangat tahu bagaimana mertuanya.
Nyonya Morley beranjak dari sofa. Sebelum ia kembali ke kamarnya.
Wanita tua itu kembali menoleh kepada menantunya.
"Malam ini, aku mengundang nyonya Colins. Aku harap putramu tidak mempermalukan kita lagi. Aku tidak ingin mengulang sejarah lagi."
"Baik bu."
Mery menghela nafas panjang. Dia sangat memahami hal itu.
Mery melihat dirinya di masa lalu. Di mana dirinya sama sekali tidak mendapatkan restu dari nyonya Morley karena dia berasal dari kasta yang berbeda.
Mery berjalan masuk ke dalam kamarnya. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
Setelah itu dia kembali meninggalkan kamarnya. Wanita paruh baya itu berjalan keluar mansion.
"Kita ke perusahaan putraku."
"Baik nyonya.
Mobil mereka pun melaju dengan kecepatan sedang. Dia tahu jika tidak seharusnya dia melakukan hal itu tapi dia tidak punya pilihan lain.
Sepanjang perjalan, Mery terlihat khawatir. Dia juga merasakan gugup.
Setibanya di depan perusahaan putranya. Merry duduk di dalam mobil.
Dia menatap gedung yang menjulang tinggi di hadapannya. Tatapannya terlihat sendu.
Merry meraih ponselnya di dalam tasnya. Dia menghubungi seseorang.
"Aku di depan perusahaan. Temui aku di cafe depan. "
Setelah mengatakan hal itu. Mery mematikan teleponnya dan memasukkannya ke dalam tasnya kembali.
Mery duduk di cafe menunggu kedatangan seseorang.
Lima belas menit kemudian.
Netra Mery melihat kehadiran seseorang yang dia tunggu.
"Duduklah."Ujar Mery.
Raut wajah wanita paruh baya itu tampak tenang dan tegas.
"Maaf, membuat anda menunggu."Ujar Lily.
Lily duduk di hadapan Mery.
"Aku tidak ingin berlama-lama di sini."
Mery meletakkan kartu di hadapan Lily.
Lily menatap kartu di hadapannya itu dengan tenang. Dia sudah bisa menebak jika hal ini akan terjadi suatu saat nanti.
"Kartu itu berisi lima triliun. Tinggalkan Eldrick."
Lily tersenyum kecil.
Dia melihat sekeliling. Untung saja cafe itu sedang sepi.
"Aku tidak bisa mah. Aku tidak bisa meninggalkan Eldrick. Kami saling mencintai. Bukankah anda tidak boleh memisahkan kami?"
Lily tampak begitu tenang. Dia sama sekali tidak terusik dengan perlakuan mamah mertuanya.
"Kamu.."
Mery tampak menahan kesalnya. Tangannya mengepal kuat. Wajahnya terlihat memerah. Lily jelas menyadari hal itu.
Mery kembali meraih kartu itu dan memasukkannya kembali ke dalam tasnya.
"Kamu menolaknya. Maka suatu saat kamu akan menyesalinya. Eldrick tidak akan pernah menjadi milik mu seutuhnya."
Lily tersenyum kecil. Dia masih terlihat begitu tenang.
"Kita akan lihat apa hal itu akan terjadi. Jika Eldrick ingin meninggalkan ku atau karena dia tidak mencintaiku lagi. Maka mungkin saja bisa ku terima. Tapi aku tidak akan meninggalkannya karena tekanan dari orang lain."Tegas Lily.