Zora pulang ke kampung halaman Setelah sekian lama tinggal di kota, kepulangan dia kali ini tentu untuk merawat orang tua yang sudah begitu lanjut usia dan hanya Dia anak yang dimiliki oleh keluarga tersebut.
Rumah yang begitu besar dan terkesan begitu menyeramkan sekali bila hanya dilihat dari luar, tapi ternyata bukan hanya di luar dan di dalam telah menyimpan misteri yang begitu mengerikan sekali, bahkan Zora sama sekali tidak menyangka bahwa itu semua bersangkutan dengan dirinya.
Apa yang terjadi dengan rumah itu?
Apa kah Zora bisa bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 09. Kerasukan
''Di lap saja, kalau mandi nanti susah karena harus mengangkat.'' Tante Rika melarang ketika Zora akan membawa Mama Susi masuk ke dalam kamar mandi.
''Tidak, itu sangat jorok dan juga bau sehingga aku tidak mau kalau main lap saja.'' Zora membantah karena menurut dia itu adalah hal yang sangat jorok sekali.
Tante Rika sebenarnya begitu kesal kepada Zora karena terus saja membantah ucapan dia sejak kemarin, terlebih sekarang dia yang memiliki kemampuan untuk mengangkat tubuh Mama Susi masuk ke dalam kamar mandi itu, sebab Mama Susi memang hanya tinggal tulang berbalut kulit sehingga mudah saja untuk Zora mengangkat dia masuk ke dalam kamar mandi.
Namun tangan Zora mendadak saja tertahan ketika dia sudah membuka selimut dan melihat sendiri bagaimana keadaan kaki milik Mama Susi, kemarin dia memang tidak seberapa memperhatikan dan sekarang baru dia menyadari bahwa kaki orang tua Dia telah membusuk dengan berwarna hitam pekat seperti terkena penyakit diabetes.
Namun Kenapa dokter malah mengatakan bahwa tidak ada penyakit di tubuh wanita tua ini sehingga membuat mereka menjadi bingung dengan keadaan Mama Susi, tapi sekarang Zora bisa melihat sendiri bahwa luka itu sudah tidak biasa lagi dan justru nanti akan membuat penyakit bertambah, bila tidak segera di obati maka yang ada nanti kaki itu justru akan di amputasi.
Bau kaki itu juga sudah mulai menusuk hidung sehingga Zora sama sekali tidak bisa menahan emosi yang ada di dalam diri kepada pembantu rumah ini, sebab Selama ini Mama Susi memang tinggal bersama dengan pembantu itu dan mereka sudah mempercayakan segala sesuatu kepada mbak Paini.
''Ini Kenapa bisa luka seperti ini dan tidak ada yang mengatakan kepada aku?!'' Zora menatap mereka semua yang ada di dalam kamar.
''Kenapa kau ingin menyalahkan dia? seharusnya sejak kemarin kau sudah melihat sendiri bagaimana keadaan Ibu kandungmu ini.'' Tante Rika malah membela sang pembantu.
''Luka nya baru beberapa hari ini, Non.'' Mbak Paini berkata dengan suara pelan.
''Bila Baru beberapa hari ini kenapa sudah parah seperti ini?'' tentu saja Zora tidak percaya.
''Saya juga tidak tahu itu karena apa.'' Mbak Paini sampai pucat karena ketakutan.
''Gila, Aku akan segera membawa Mama ke rumah sakit setelah ini.'' Zora bergegas membawa Mama Susi masuk ke dalam kamar mandi.
Sebab dia sudah sangat tidak tahan dengan penyakit yang menurutnya sangat tidak biasa itu, Kenapa juga mama Susi harus bertahan di dalam rumah ini sendirian tanpa ada yang menemani bila malam hari, sebab sebelumnya pembantu rumah mereka selalu saja pulang ketika malam datang.
''Mama mandi ya, duduk sini.'' Zora segera membuka baju Mama Susi.
''Eeeeghh.''
''Pokok nya setelah ini kita harus ke rumah sakit untuk berobat.'' Zora berkata dengan tegas.
''Eeeeghh.'' Mama Susi mengerang sembari menggelengkan kepala berulang kali.
''Kenapa Mama sangat keras kepala dan tidak ingin berobat?'' Zora berteriak sembari menangis.
Sebab wanita ini begitu kebingungan setelah menghadapi segala macam masalah yang datang dan sekarang mama Susi juga begitu keras kepala, entah apa yang membuat dia tetap bertahan di dalam rumah ini sehingga dia tidak pernah mau keluar dari rumah tersebut meski kondisi dia saat ini sudah sangat parah sekali.
Zora hanya bisa menangis kebingungan karena tidak tahu lagi harus berkata apa kepada Mama Susi ini, Padahal dia menginginkan yang terbaik agar segera penyakit itu hilang dan mama Susi sehat seperti sedia kala, namun tetap saja dia menolak dan seolah tidak ingin pergi dari rumah yang terlihat begitu seram sekali.
''Zooo... yaaaa
''Zora, Ma! ini aku, Zora.''
''Eeeeeghhh.'' Mama Susi mengerang dengan mata lurus.
''Ya allah kenapa Mama jadi seperti ini?'' isak Zora semakin pilu.
''Zooooooyaaaaa.....
''Zora, ya aku ini Zora yang akan mengurus Mama.'' Zora menangis dan menyiram tubuh Mama Susi yang kurus itu.
Byuuuuur.
''Ini Mama selalu berbaring sehingga ada koreng.'' ujar Zora mengusap punggung.
Memang Bu Susi lebih banyak menghabiskan waktu di atas ranjang Karena dia sudah tidak bisa berjalan lagi dengan normal, itu juga dia harus berbaring telentang dengan pandangan mata lurus ke atas sehingga wajar saja bila bagian punggung saat ini timbul koreng karena mungkin terlalu lelah ia berbaring.
Tangan Zora bergerak dengan lembut karena dia takut nanti akan menyakiti Mama Susi bila terlalu tergesa-gesa, kulit Bu Susi memang begitu putih sehingga ketika sakit seperti ini maka justru akan bertambah pucat saja, hati Sora begitu teriris karena dia harus menerima fakta bahwa Mama Susi sudah tidak sehat seperti dulu lagi.
''Apa itu?'' mata Zora menyipit ketika dia melihat sesuatu yang bergerak di dalam koreng.
''Ya allah!'' Zora kaget Bukan main karena di dalam koreng itu sudah ada ulat yang menggeliat.
''Eeeeeghhh.'' mendadak saja Mama Susi mencengkeram erat tangan Zora sehingga wanita ini menjadi kaget.
''Mama! Mama kenapa?'' Zora panik sendiri melihat tatapan orang tua ini.
Bruuuughh.
''Eeeeghh!'' Zora kaget Bukan main karena Bu Susi turun dari atas kursi dan mencekik leher dia.
Bahkan kekuatan yang dia miliki juga begitu luar biasa sehingga membuat Zora kalang kabut tidak karuan untuk melepaskan diri, yang paling membuat dia takut adalah bola mata milik Bu Susi itu sudah berubah menjadi putih semua dan sedikit saja tidak ada yang berwarna hitam, entah apa yang telah terjadi sehingga mendadak Bu Susi kerasukan seperti ini.
''Mamaaaaa.... Ma ini aku.'' wajah Zora sampai merah karena tidak bisa bernafas.
''Matiiiiii.....
''Mbak!'' mendengar keributan dari luar dan dia segera masuk ke dalam kamar mandi ini juga.
Wanita setengah baya itu kaget Bukan main ketika melihat Zora sudah ada di lantai kamar mandi dengan keadaan ditindih oleh Bu Susi, bukan hanya di tindih saja tapi keponakan dia telah kena cekik sehingga membuat Zora sama sekali tidak bisa bernafas.
''Uhuuuk, Uhuuuk.'' Zora menggeliat sembari terbatuk.
''Minggat lungo teko rogo iki.'' Tante Rika menekan jempol dia tepat pada kening milik Mama Susi.
''Mama?!'' Zora kembali berbalik dan dia kaget ketika tubuh Mama Susi kejang.
''Ilango, omah mu udu neng kene meneh!'' Tante Rita tetap berbicara dalam bahasa Jawa.
Zora memperhatikan dengan seksama dan kali ini dia sudah semakin yakin bahwa mereka memang membutuhkan seorang ustad, keadaan Mama Susi yang semakin parah bisa saja telah terjadi sesuatu di masa lalu dan dia harus mengetahui apa yang telah terjadi, sebab selama ini dirinya juga terus mendapat gangguan bila tetap tinggal di rumah ini.
Selamat sore besti, nulis sekarang enggak semangat karena enggak ada dapat duit besti🥲