Dijadikan keset kaki, diabaikan oleh ayah kandungnya, hingga dikhianati oleh pria yang berjanji akan menikahinya. Hidup Shen Xianle berakhir tragis di dasar tebing dingin setelah tubuhnya dilemparkan tanpa belas kasihan.
Mereka mengira Xianle telah lenyap dan dilupakan. Namun, mereka salah besar. Sebuah kekuatan kuno membangunkannya dari ranjang salju yang berdarah. Kali ini, tidak ada lagi putri teratai yang lemah lembut. Yang ada hanyalah Shen Xianle yang terlahir kembali dengan hati sedingin es dan tekad membalas dendam yang membara.
Bagaimanakah cara Xianle membalas setiap tetes darah yang pernah mereka tumpahkan? Ikuti kisah pembalasan dendam terdahsyat sang putri yang terlupakan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEPULANGAN SANG TERATAI HITAM
Kereta kuda yang membawa Gu Rulan bergerak perlahan membelah gerbang megah Ibu Kota Kekaisaran Han. Kereta itu terbuat dari kayu cendana hitam pilihan dengan ukiran burung foniks perak yang halus di sepanjang sisinya, dilapisi kain sutra tebal berwarna biru tua untuk menghalau sisa angin dingin. Di sekeliling kereta, delapan pengawal bertubuh tegap menunggangi kuda-kuda jantan berbulu hitam legam, memancarkan aura wibawa yang membuat para penduduk kota di sepanjang jalan buru-buru menepi dan berbisik penuh rasa ingin tahu.
Di dalam kereta yang hangat karena aroma dupa esensial, Xianle yang kini sepenuhnya menyandang nama Gu Rulan duduk dengan punggung tegak lurus. Di pangkuannya terletak sebuah kipas lipat dari bulu angsa putih dengan gagang giok. Ia menyibak sedikit tirai sutra jendela kereta dengan ujung jemarinya, menatap jalanan ibu kota yang sudah belasan tahun tidak pernah ia lihat secara langsung.
Jalanan ini masih sama setahun lalu ketika ia diseret keluar. Ramai, berkilau oleh lampion menyambut Festival Pertengahan Musim Gugur, namun di balik kemegahan itu, Rulan tahu betul ada bau busuk konspirasi yang pekat.
"Nona, kita sudah hampir sampai di kediaman yang telah disiapkan oleh Yang Mulia Long Junwei," bisik pelayan setianya, Xiaoyu, yang duduk di sudut kereta. Xiaoyu adalah mata-mata terlatih yang diberikan oleh Kediaman Bayangan untuk mendampinginya.
"Bagaimana dengan undangan perjamuan malam ini di paviliun air milik faksi netral?" Rulan bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari luar. Suaranya terdengar lembut, merdu, namun memiliki ketegasan yang tidak bisa dibantah.
"Semua sudah diatur dengan sempurna, Nona. Surat undangan atas nama keluarga Gu dari barat telah diverifikasi oleh Menteri Upacara. Kabar mengenai kedatangan seorang putri bangsawan kaya raya yang membawa ribuan gulung sutra barat dan batu permata langka sudah menyebar di kalangan pejabat sejak kemarin," jawab Xiaoyu sambil tersenyum tipis. "Seperti dugaan Anda, faksi Perdana Menteri dan kediaman Jenderal Li sudah mulai menggerakkan mata-mata mereka untuk mencari tahu latar belakang Anda."
Rulan menutup tirai kereta dengan gerakan anggun, lalu tersenyum dingin di balik kipasnya. "Bagus. Biarkan mereka menggali tanah yang kosong. Semakin misterius identitas keluarga Gu, semakin besar rasa penasaran dan keserakahan yang akan membakar hati mereka."
Malam harinya, Paviliun Air Danau Teratai berkilau oleh ratusan lentera gantung yang memantulkan cahaya keemasan di atas permukaan air. Perjamuan menyambut musim gugur ini dihadiri oleh para pangeran, putri, serta putra-putri dari keluarga pejabat tinggi kekaisaran. Suara petikan kecapi dan tawa palsu para bangsawan memenuhi udara malam yang sejuk.
Di sudut paviliun yang paling mewah, duduk Shen Meili, sang Putri Ketiga. Ia mengenakan gaun sutra merah menyala bersulam emas, dengan tatanan rambut yang dipenuhi tusuk konde emas bertatahkan batu rubi. Di sampingnya, duduk Li Feng yang mengenakan jubah perang upacara berwarna biru tua, tampak gagah dan berwibawa sebagai calon menantu kekaisaran yang paling diidolakan.
"Feng-ge, mengapa malam ini kau tampak kurang bersemangat?" Shen Meili bertanya sambil menuangkan arak ke cawan Li Feng, suaranya sengaja dimanja-manjakan agar didengar oleh putri bangsawan lain di sekitar mereka.
Li Feng tersenyum tipis, meski matanya terus menatap ke arah pintu masuk paviliun. "Aku hanya sedang memikirkan laporan militer dari perbatasan barat, Meili. Kudengar ada kafilah dagang besar yang dipimpin oleh seorang wanita muda dari keluarga bangsawan tua bernama Gu yang baru tiba di ibu kota. Kekayaan yang mereka bawa kabarnya cukup untuk membiayai lima divisi pasukan selama tiga tahun."
Shen Meili mendengus meremehkan, mengibaskan saputangan suteranya. "Hanya keluarga pedagang dari tanah gersang di barat. Mengapa kau harus begitu peduli? Setelah kita menikah dua bulan lagi, dukungan dari ayahku dan faksi Perdana Menteri sudah lebih dari cukup untuk menempatkanmu di posisi Panglima Tertinggi."
Sebelum Li Feng sempat membalas, suasana di dalam paviliun air tiba-tiba mendadak hening. Suara petikan kecapi dari para pemusik istana melambat, dan perhatian semua orang di ruangan itu seketika tersedot ke arah koridor pintu masuk.
"Nona Gu Rulan dari Keluarga Gu Wilayah Barat, tiba!" seru kasim penyambut tamu dengan suara lantang.
Seorang wanita melangkah masuk dengan keanggunan yang seolah-olah diturunkan langsung dari langit. Rulan mengenakan gaun berlapis-lapis berwarna putih pudar dengan sulaman benang perak berbentuk ranting-ranting pohon plum yang mekar di musim dingin. Jubah luarnya yang tipis berkibar lembut ditiup angin danau, memberikan kesan mistis seolah ia adalah peri yang keluar dari kabut pegunungan.
Wajahnya hanya dirias tipis, namun kecantikannya yang murni, dipadukan dengan aura tenang dan misterius, langsung menenggelamkan riasan tebal dan gaun mewah Shen Meili dalam sekejap.
Banyak putra bangsawan yang menahan napas, terpesona oleh pemandangan di hadapan mereka.
Rulan berjalan dengan langkah kaki yang sangat ringan sebuah kebiasaan dari latihan beladiri bayangannya yang kini ia samarkan menjadi langkah anggun seorang putri. Matanya yang jernih menyapu seluruh ruangan, dan untuk sesaat, tatapannya melewati wajah Shen Meili dan Li Feng. Tidak ada ketakutan, tidak ada getaran emosi. Yang ada hanyalah kedalaman air telaga yang siap menenggelamkan mangsanya.
Li Feng... Shen Meili... Kita bertemu kembali, bisik Rulan di dalam hatinya, sementara wajahnya tetap menampilkan senyuman lembut yang seindah bunga teratai.
Li Feng terpaku di tempat duduknya. Cawan arak yang dipegangnya hampir saja tergelincir dari jemarinya. Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena kecantikan wanita bernama Gu Rulan itu, melainkan karena ada rasa akrab yang aneh yang tiba-tiba menyergap di dadanya. Kerlingan mata wanita itu, bentuk dagunya yang sempurna... entah mengapa mengingatkannya pada seseorang yang seharusnya sudah membusuk di dasar jurang dingin setahun yang lalu.
Tidak, itu tidak mungkin. Shen Xianle hanyalah gadis cacat yang lemah dan bodoh. Wanita di depan ini memancarkan aura bangsawan yang begitu kuat dan kekayaan yang tak tertandingi, Li Feng membatin, mencoba menepis pikiran gilanya.
Sementara itu, wajah Shen Meili langsung berubah mengeras. Ia menyadari bagaimana perhatian seluruh ruangan termasuk perhatian tunangannya sendiri seketika teralihkan dari dirinya kepada wanita bercadar tipis yang baru masuk itu. Rasa cemburu dan harga diri yang terluka membuat jemarinya mencengkeram kain gaunnya hingga berkerut.
"Gu Rulan... berani-beraninya wanita dari pedalaman barat mencuri perhatian di hadapanku," desis Shen Meili dengan suara rendah yang penuh kedengkian.
Rulan melangkah menuju kursi kehormatan yang telah disiapkan di dekat area faksi netral. Dengan gerakan yang sangat terlatih, ia membungkuk hormat kepada para hadirin sebelum duduk.
Setiap gerakannya memancarkan tata krama istana tingkat tinggi yang bahkan lebih sempurna daripada para putri yang dibesarkan di dalam istana Han. Hal ini tentu saja berkat latihan keras yang diberikan oleh Long Junwei.
"Nona Gu," seorang pangeran muda dari faksi netral berdiri sambil mengangkat cawannya. "Kabar mengenai kedatangan Anda sudah menjadi buah bibir di ibu kota. Kudengar Anda membawa kontribusi besar berupa kuda-kuda perang terbaik dari barat untuk kekaisaran?"
Rulan menundukkan kepalanya sedikit, membalas penghormatan itu dengan suara yang merdu bagai denting lonceng perak. "Pangeran terlalu memuji. Keluarga Gu hanyalah pelayan setia kekaisaran yang kebetulan diberkahi sedikit keberuntungan di jalur perdagangan barat. Kuda-kuda dan sutra yang kami bawa hanyalah bentuk bakti kecil kami kepada Yang Mulia Kaisar."
Mendengar kata "kuda perang terbaik", mata Li Feng langsung berkilat serakah. Sebagai seorang jenderal, pasokan kuda perang berkualitas tinggi dari barat adalah aset yang paling ia butuhkan untuk memperkuat posisinya di militer, sesuatu yang faksi Perdana Menteri sekalipun tidak bisa sediakan dengan mudah karena jalur perdagangan barat dijaga ketat oleh pasukan misterius.
Li Feng berdiri dari kursinya, mengabaikan tarikan pelan pada lengan bajunya oleh Shen Meili yang sedang melotot marah.
Pria itu melangkah maju ke tengah paviliun, memasang senyuman terbaiknya yang biasa ia gunakan untuk memikat hati orang lain. "Nona Gu, aku adalah Li Feng, Putra Sulung dari Keluarga Jenderal Besar. Mendengar visi dan ketulusan Anda untuk kekaisaran, aku merasa sangat kagum. Jika Nona Gu tidak keberatan, setelah perjamuan ini, keluarga Li bersedia membantu mengamankan jalur distribusi barang-barang Anda di ibu kota."
Rulan menatap Li Feng yang kini berdiri hanya beberapa langkah di hadapannya. Pria ini adalah pria yang sama yang setahun lalu memalingkan wajahnya dan membiarkannya diseret menuju kematian demi kekuasaan. Kini, demi kekuasaan pula, pria ini langsung merangkak mendekatinya bahkan di hadapan calon istrinya sendiri.
Rulan menahan senyum sinisnya di dalam hati. Jaring pertamanya telah dilemparkan, dan sang mangsa telah mendekat dengan sukarela tanpa perlu dipancing lebih jauh.
"Ah, jadi Anda adalah Jenderal Muda Li yang terkenal itu," Rulan menyembunyikan sebagian wajahnya di balik kipas sutranya, membuat matanya tampak melengkung indah seolah sedang tersenyum ramah. "Tawaran dari Jenderal Li tentu adalah sebuah kehormatan besar bagi keluarga Gu yang baru tiba di tempat asing ini..."
Dari sudut ruangan, Shen Meili yang tidak bisa menahan amarahnya lagi langsung berdiri, memotong kalimat Rulan dengan suara yang tajam. "Tunggu dulu! Sebelum menerima bantuan, bukankah sebaiknya Nona Gu memperlihatkan wajah aslinya terlebih dahulu? Menggunakan cadar tipis di hadapan keluarga kekaisaran... bukankah itu tanda bahwa Anda menyembunyikan sesuatu, atau mungkin wajah di balik cadar itu terlalu buruk untuk diperlihatkan?"
Atmosfer di paviliun air seketika menegang. Semua orang menantikan bagaimana tanggapan sang putri bangsawan barat terhadap provokasi terang-terangan dari Putri Ketiga yang terkenal kejam itu.