NovelToon NovelToon
Istri Butaku Direbut Sahabatku

Istri Butaku Direbut Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sibewok

Rania Almira, gadis buta yang membawa rahasia keluarga Aristama, mengira telah berhasil meninggalkan suaminya, Brian Aristama.

Namun, ia tidak tahu bahwa pria yang ditinggalkannya sedang datang untuk merebutnya kembali dari tangan Daffa.

Saat obsesi, cinta, dan dendam saling bertabrakan, mampukah Brian merajut kembali rumah tangganya dan memberikan Daffa pelajaran yang membuat pria itu menyesal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 - Hari Yang Mengguncang

Rania hanya bisa mengangguk ketika Daffa kembali memeluknya.

Ia tidak menjawab apakah ide yang baru saja disampaikan Daffa itu baik atau buruk.

Rania takut, jika ia memberikan jawaban yang salah, Daffa justru akan melakukan sesuatu yang lebih berbahaya.

Terlebih lagi, saat ini Rania benar-benar mengkhawatirkan janin yang sedang dikandungnya.

Daffa hampir saja melenyapkan janin yang tidak berdosa ini.

Pikiran itu kembali menghantui Rania.

Dan bersamaan dengan itu, ucapan Brian kembali terngiang di kepalanya.

"Berhati-hatilah pada Daffa. Dia bukan pria yang baik untukmu."

Rania terdiam.

Mungkin...

Brian memang sudah mencurigai Daffa sejak awal.

Rania kemudian memeluk kepala Daffa yang masih bersandar di perutnya.

Tangannya mengusap rambut pria itu perlahan.

"Sudahlah..." ucap Rania akhirnya dengan suara lebih lembut. Ia berusaha menjaga ketenangannya. "Sekarang kita harus menjenguk Mona, bagaimana?"

Daffa mengangkat kepalanya.

"Aku ingin melihat bagaimana keadaannya saat ini," ucap Rania.

Daffa menatap wajah Rania beberapa saat. "Baiklah." Ia mengangguk. "Aku akan mengantarmu."

Rania hanya mengangguk pelan.

Beberapa menit kemudian, motor sport milik Daffa kembali melesat meninggalkan halaman rumah.

Vroom!

Mereka menuju rumah sakit tempat Mona dirawat.

Sementara itu, sebelum berangkat, Rania sempat mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Rio.

Pesan tersebut ditujukan kepada asisten Brian itu.

(Rio, hari ini aku tidak bisa masuk ke kantor. Tolong bantu urus sementara pekerjaan di PT. Herbalife.)

Tidak lama kemudian, pesan itu diterima Rio.

Rio yang berada di dalam ruangan bersama Brian langsung menunjukkan layar ponselnya kepada sang atasan.

"Tuan, pesan dari Nona Rania."

Brian membaca pesan tersebut. Senyum tipis muncul di wajahnya.

"Biarkan." Brian meletakkan kembali ponsel Rio. "Dan suruh seseorang memantau keadaan Rania di rumah sakit."

"Baik, Tuan." Rio mengangguk.

Namun sebelum ia sempat pergi, Brian kembali bertanya. "Dan bagaimana dengan foto Daffa dan Mona?"

Rio langsung memahami maksudnya. "Sudah saya kirimkan kepada ayah Daffa, Tuan."

Brian terdiam. "Bahkan sepertinya Tuan Daniel akan menemui Daffa hari ini."

Rio tersenyum kecil. "Sepertinya rencana Anda berhasil."

Brian tidak menjawab. Senyum tipis justru terukir di wajahnya. Ia berdiri membelakangi Rio.

Pandangan pria itu lurus mengarah ke perkotaan yang mulai sibuk.

Gedung-gedung tinggi terlihat dari balik kaca jendela. Kendaraan mulai memenuhi jalanan.

Namun pikiran Brian justru tertuju pada satu hal.

Daffa.

Akhirnya, ia bisa membalaskan dendamnya.

"Daffa..." gumam Brian pelan. "Kau pikir kau bisa merebut Rania dariku?"

Senyum tipis kembali muncul di bibirnya.

"Tidak semudah itu." Brian mengepalkan tangannya. "Siapa pun tidak akan bisa merebut sesuatu yang sudah menjadi milikku."

Tatapannya semakin tajam.

Namun di balik senyum kemenangan itu, Brian belum menyadari satu hal.

Permainan yang ia mulai untuk menghancurkan Daffa perlahan telah menyeret terlalu banyak orang ke dalamnya.

Dan hari ini...

Satu keluarga akan segera diguncang oleh sebuah kabar yang tidak pernah mereka bayangkan.

Sementara itu, di rumah sakit...

Pintu kamar pasien perlahan terbuka.

Rania baru saja memasuki ruangan bersama Daffa.

Di atas ranjang, Mona sudah siuman.

Wajahnya terlihat pucat. Matanya sembap akibat terlalu banyak menangis.

Namun ketika pandangannya jatuh kepada Rania, tubuhnya seketika menegang.

Terlebih saat melihat Daffa berdiri di belakang Rania.

Air mata Mona kembali mengalir deras.

Rania terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat wajah Mona yang angkuh seperti biasanya.

Tidak ada tatapan sinis. Tidak ada senyum meremehkan. Yang ada hanya kesedihan...

Dan ketakutan.

"Mona..." panggil Rania pelan.

Mona menundukkan wajahnya. Bibirnya bergetar, tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar.

Rania kemudian menoleh kepada Daffa. "Kak Daffa..."

"Ya?" Daffa membenci panggilan tersebut, namun entah kenapa hari ini ia tidak ingin berdebat.

"Boleh aku bicara berdua dengan Mona?" Tanya Rania.

Daffa langsung menggeleng. "Tidak."

Rania menatapnya. "Aku hanya ingin berbicara berdua dengannya."

"Aku akan tetap di sini." Daffa tampak tidak ingin meninggalkan dua wanita itu.

Namun Rania perlahan mendekatinya. Ia menggenggam kedua tangan Daffa dengan erat.

"Kumohon." Tatapan Rania penuh permohonan. "Berikan aku sedikit waktu untuk berbicara dengan Mona."

Daffa terdiam. Ia menatap tangan Rania yang masih menggenggam tangannya.

Beberapa detik kemudian, pertahanannya runtuh. Daffa menghela napas. "Baiklah."

Rania mengangguk kecil. "Terima kasih."

Daffa menatap Rania sekali lagi sebelum akhirnya berbalik. Ia melangkah keluar dari kamar pasien.

Klik! Pintu kamar tertutup.

Rania kemudian berbalik menghadap Mona.

Sementara itu, Daffa terus berjalan menjauh dari kamar tersebut.

Langkahnya melewati lorong rumah sakit yang semakin sepi.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Hingga akhirnya...

"Daffa."

Langkahnya terhenti.

Suara itu.

Daffa sangat mengenalnya. Perlahan ia berbalik.

Di ujung lorong berdiri seorang pria dengan wajah tegas dan tatapan penuh tekanan.

Daffa membeku. "...Ayah?"

Pria itu menatapnya tajam. Tuan Daniel. Ayah Daffa.

Dan dari sorot matanya, jelas bahwa kedatangannya pagi itu bukan untuk sekadar berbincang dengan putranya.

Bersambung...

1
Nisa Nisa
cerita nya seru, baru awal aja udah buat penasaran
Michelle Azahrah
응 anooo ini serius judulnya itu? sarkas bet, tapi aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!