"Kadang yang paling kita cari, selalu ada di dekat kita, tapi tetap terasa begitu jauh."
Nayla Lauren Alveric dan Zavier Kael Mahendra berada dalam satu ruang lingkup yang sama, berjalan berdampingan, dan saling menatap mata satu sama lain setiap hari. Namun secara emosional, jarak tak kasat mata membentang begitu lebar di antara mereka.
Meskipun raganya dekat di mata, perasaan ragu, konflik masa lalu, dan rahasia yang tersembunyi membuat hati mereka terasa jauh di hati. Di tengah liku-liku takdir dan pergolakan rasa, dapatkah cinta mereka menemukan jalannya untuk menyatukan dua hati yang saling bertolak belakang ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KETIKA SERAGAM EMAS MEREKAH RETAK
Matahari siang merayap naik tepat di atas garis cakrawala pegunungan, mengikis sisa-sisa kabut yang sempat menyelimuti Danau Sanubari. Di halaman berkerikil villa tua itu, angin sepoi berembus membawa keheningan yang mendadak terasa sarat akan ancaman.
Zavier dan Nayla masih berdiri di pelataran kayu luar saat gema raungan mesin beberapa mobil hitam bermotor besar memecah kedamaian lereng bukit. Tiga unit SUV hitam ber kaca gelap meluncur deras menembus semak-semak pinus, lalu berhenti secara serentak membentuk barisan setengah lingkaran yang mengunci pergerakan di depan villa.
Nayla menghentikan napasnya seketika. Jemarinya memutih saat meremas erat lengan jaket Zavier. "Zav... mereka sudah sampai."
Zavier tidak menarik tangannya. Pria Mahendra itu justru melangkah setengah tapak ke depan, menyembunyikan sebagian tubuh Nayla di balik bahunya yang tegap. Manik matanya yang kelam menatap dingin ke arah pintu-pintu mobil yang terbuka secara bersamaan.
Dari mobil pertama, beberapa pengawal berseragam formal Alveric turun dengan sikap siaga. Namun, dari mobil utama di tengah, sosok Raka Mahendra melangkah keluar dengan santai. Jas mewahnya sengaja tidak dikancingkan, membiarkan angin pegunungan mengibaskan kainnya. Di samping Raka, Adrian Kenzie Alveric berdiri tegap, memancarkan aura ketegasan dingin yang tak tersentuh.
"Tempat persembunyian yang cukup romantis, Zavier," suara Raka mengalun dengan nada mengejek yang sangat jernih memotong keheningan. Raka melangkah mendekat, menghentikan langkahnya tepat lima meter di hadapan adiknya. "Nenek pasti bangga melihat cucu kesayangannya memakai aset tua keluarga untuk melarikan putri Alveric."
Zavier menatap Raka tanpa kedipan. "Bagaimana Bang Raka bisa menemukan tempat ini?"
"Kamu pikir kamu pintar, Zav?" Raka terkekeh sinis, menyilangkan kedua tangannya di dada. "Sinyal GPS motormu memang kamu matikan, tapi pelacak satelit darurat di sistem transmisi mesin yang biasa dikelola tim mekanik Mahendra tidak pernah tidur. Papi yang memasangnya di semua kendaraan kita. Kamu lupa kalau aku yang memegang kendali atas audit kendaraan operasional?"
Adrian melangkah maju, memotong percakapan dua bersaudara itu. Matanya yang tajam tertuju lurus pada adik perempuannya. "Nayla, kemari. Jangan membuat situasi ini makin memalukan untuk keluarga Alveric."
Nayla meremas jemari Zavier lebih erat, menggeleng pelan. "Mas Adrian... Nayla tidak mau pulang kalau cuma untuk dikurung dan diatur seperti barang dagangan."
"Ini bukan soal pilihanmu, Nayla!" suara Adrian naik satu oktav, dingin dan menekan. "Ayah dan Kakek sedang menunggu di Alveric Tower bersama Gatan Rain. Kehilanganmu selama dua belas jam sudah memicu kekacauan di ruang rapat konsorsium. Kamu harus ikut Mas pulang sekarang juga."
"Dia tidak akan ke mana-mana kalau dia belum siap, Mas Adrian," pangkas Zavier tegas. Suara beratnya bergema pelan namun memancarkan wibawa yang membuat para pengawal di belakang Adrian sempat tertahan.
Raka menaikkan satu alisnya, lalu tertawa pendek, sebuah tawa yang sarat akan rasa ketidakadilan yang membakar dadanya. "Dengar itu, Adrian? Adikku si Anak Emas sedang berakting jadi pahlawan. Zavier... kamu sadar tidak, apa yang sudah kamu perbuat? Karena ulah kekanak-kanakanmu ini, Papi harus menanggung malu di depan Alexander Alveric!"
Raka melangkah dua tapak lebih dekat, menunjuk dada Zavier dengan jari telunjuknya.
"Kamu selalu dipuji Papi, Zav. Kamu disanjung punya intuisi jenius, dicalongkan jadi dewan direksi, dibanggakan di setiap jamuan makan malam!" desis Raka dengan mata yang mulai berkilat marah. "Tapi apa yang kamu lakukan begitu dapat sedikit tekanan? Kamu kabur! Kamu merusak kerja keras aku dan Bang Ethan yang sudah bertahun-tahun menjaga reputasi Mahendra! Kamu ini cuma anak manja yang egois!"
Zavier menatap Raka dalam-diam. Ia bisa melihat kilatan luka dan dendam yang selama ini tersembunyi di balik sikap dingin abang keduanya itu.
"Aku tidak pernah minta Papi memujiku, Bang Raka," jawab Zavier pelan namun menembus tepat ke mata Raka. "Aku tidak pernah minta posisi di dewan direksi, dan aku tidak pernah berniat merebut apa yang sudah Abang dan Bang Ethan perjuangkan. Kalau Abang mau posisi itu, ambil semuanya. Tapi jangan sentuh Nayla."
Raka mengepal giginya rapat-rapat. Kalimat jujur dari Zavier bukannya mendinginkan suasana, justru makin menyulut api cemburu di hatinya. "Kamu bicara seolah-olah kamu sangat mulia, Zavier. Tapi kenyataannya... kamu cuma beban untuk keluarga ini."
Adrian menatap jam tangannya dengan raut ketidaksabaran yang memuncak. "Cukup drama keluarga Mahendra ini. Pengawal, bawa Nayla ke mobil."
Dua pengawal Alveric melangkah maju secara bersamaan. Namun sebelum mereka sempat menyentuh tangga kayu villa, Zavier menggeser tubuhnya secara mutlak, memblokir jalan dengan tatapan mata yang siap menerkam siapa saja yang berani melangkah lebih jauh.
"Langkahi aku dulu," bisik Zavier dingin.
Atmosfer di pelataran villa itu seketika berada di ambang ledakan. Dua klan besar yang selama ini terikat dalam aliansi bisnis bernilai triliunan rupiah kini berdiri berhadapan, bukan lagi dengan draf dokumen dan pena mahal, melainkan dengan emosi mentah anak-anak mereka yang retak di bawah himpitan kekuasaan para orang tua.
Dua pengawal Alveric sempat tertegun, menghentikan langkah mereka di hadapan tatapan dingin Zavier yang tak menunjukkan sedikit pun keraguan. Aura intimidasi yang dipancarkan anak bungsu Mahendra itu begitu nyata, membuat para pengawal profesional sekalipun ragu untuk mengambil tindakan fisik secara gegabah.
"Kalian ragu hanya karena menghadapi anak SMA?" cetus Adrian dengan suara yang terlampau tenang namun sarat akan kekecewaan. Ia melangkah maju, memangkas jarak hingga berdiri tepat di hadapan Zavier. "Zavier, aku menghormati keluargamu dan posisi Papi Kael. Tapi jika kamu terus menjadi penghalang, aku tidak akan segan menggunakan cara yang lebih keras."
Nayla yang berada di belakang Zavier tidak sanggup lagi berdiam diri. Ia melihat bagaimana garis rahang Zavier mengeras, bagaimana napas pria itu teratur meski bahayanya nyata. Nayla memegang pergelangan tangan Zavier, menggenggamnya kuat-kuat sebelum perlahan melangkah keluar dari balik perlindungan bahu pria itu.
"Cukup, Mas Adrian! Cukup!" teriak Nayla dengan suara gemetar, membuat seluruh pasang mata di pelataran villa tertuju padanya. Air mata hangat menetes menyusuri pipinya, namun tatapan matanya memancarkan keberanian yang belum pernah dilihat oleh Adrian sebelumnya. "Jangan sentuh Zavier. Aku akan pulang!"
Zavier serta-merta menoleh, menatap Nayla dengan raut terkejut yang dalam. "Nay, tidak. Kamu tidak perlu menuruti mereka."
Nayla menggeleng pelan, menyunggingkan senyum getir yang sangat rapuh. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Zavier dengan jemarinya yang dingin. "Kalau aku terus bertahan di sini, mereka akan menghancurkanmu, Zav. Mas Adrian dan Bang Raka tidak akan berhenti sampai kamu tidak punya apa-apa lagi. Aku tidak mau kamu kehilangan keluargamu hanya karena memelukku."
"Aku tidak peduli kehilangan itu semua, Nayla," bisik Zavier dengan nada suara yang begitu berat dan dalam, menatap lurus ke dalam manik mata gadis yang amat dicintainya. "Tempatku adalah di mana kamu merasa aman."
"Dan aku merasa aman karena tahu kamu akan baik-baik saja," balas Nayla lirih. Ia menarik tangannya pelan, lalu berbalik menatap Adrian dengan dagu terangkat. "Aku akan ikut Mas Adrian pulang ke Alveric Tower. Tapi dengan satu syarat."
Adrian menyipitkan matanya. "Kamu tidak dalam posisi untuk memberikan syarat, Nayla."
"Syaratnya sederhana, Mas," potong Nayla tegas, mengabaikan intimidasi abang sulungnya. "Biarkan Zavier pergi tanpa sentuhan fisik atau ancaman apa pun dari tim pengawal Alveric mau pun Bang Raka. Kalau Mas melanggar, aku pastikan aku tidak akan pernah mau menyentuh atau menandatangani dokumen aliansi apa pun yang Ayah siapkan untuk Barito Group."
Adrian membisu sejenak. Ia menilai raut wajah adik perempuannya dengan cermat, menyadari bahwa Nayla yang ada di hadapannya saat ini bukan lagi gadis penurut yang bisa didikte tanpa perlawanan. Keterlibatan Barito Group dan konsorsium bernilai triliunan rupiah terlalu berharga untuk dipertaruhkan hanya demi memuaskan amarah emosional.
"Baik," sahut Adrian akhirnya, mengibaskan tangannya memberi isyarat pada para pengawal untuk mundur. "Mobil utama sudah siap. Jalan sekarang."
Raka yang menyaksikan seluruh kompromi itu mendengus sinis, menyandarkan tubuhnya ke kap mobil SUV hitam. "Luar biasa. Drama picisan yang sangat menguras waktu. Kamu lihat sendiri kan, Zav? Bahkan gadis Alveric itu paham kalau kamu cuma membawa masalah buat dia."
Zavier sama sekali tidak mengindahkan provokasi Raka. Matanya hanya tertuju pada Nayla yang mulai melangkah menjauhinya, menyusuri tangga kayu villa menuju mobil hitam Alveric yang siap menelannya kembali ke dalam sangkar emas.
Saat pintu mobil hendak ditutup, Nayla sempat menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Di bawah naungan pohon-pohon pinus dan pendar sinar matahari siang yang membias kencang, mata mereka saling mengunci, menyampaikan sejuta kata yang tak sempat terucap oleh bibir.
Pintu mobil tertutup dengan dentam berat, dan iring-iringan SUV hitam itu perlahan bergerak meninggalkan halaman berkerikil, melaju membelah bukit menuju keramaian ibu kota yang telah menanti dengan badai kekuasaan.
Raka merapikan jasnya, lalu berjalan mendekati Zavier yang masih berdiri mematung di tempatnya. Senyum miring yang menghiasi wajah Raka kini berganti menjadi tatapan dingin yang sarat akan dominasi.
"Permainan anak-anakmu sudah selesai, Adikku," kata Raka pelan tepat di samping telinga Zavier. "Papi menunggu di kantor pusat. Dan percaya padaku... hukuman untuk anak emas yang mencoreng nama Mahendra jauh lebih menyakitkan daripada kekecewaan orang biasa."
Zavier menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan sembari merogoh kunci motor dari saku jaketnya. Ia menoleh menatap Raka dengan tatapan mata yang sama sekali tidak memancarkan ketakutan atau penyesalan.
"Mari kita lihat seberapa jauh Papi bisa mempertahankan takhtanya, Bang Raka," balas Zavier dingin dan tenang.
Tanpa menunggu balasan abangnya, Zavier menaiki motor besarnya, menyalakan mesin yang menderu nyaring, lalu melaju kencang menyusul jalur yang sama, siap menerjang badai terbesar yang akan meretakkan benteng klan Mahendra dan Alveric hingga ke akarnya.
kekny zavier ini tipe aku 🤭