"Dikhianati istri, diperas mertua, membesarkan anak yang bukan darah dagingnya.
Raka Pratama hidup bak budak — sampai ia terlahir kembali dengan Sistem Cashback 10x. Sekarang, setiap rupiah yang ia habiskan kembali sepuluh kali lipat.
Perceraian? Ia yang memulai. Konglomerat yang mengancam? Hancur. Pejabat korup? Ditangkap hidup-hidup. Dari nol menuju jajaran orang terkaya dunia — ini bukan dongeng. Ini balas dendam.
"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21 - Fitnah Tetangga
Agus melanjutkan dengan suara rendah, "Dan menurut sumber saya, orang-orang itu bilang mereka dilindungi seorang pewaris kaya."
Kata-kata itu membuat udara ruang rapat berubah dingin.
Adi langsung menutup laptopnya. Pak Yanto menelan ludah. Dua staf Garuda Shield yang berdiri di dekat pintu saling menatap, seolah nama yang belum disebutkan itu sudah cukup berat untuk memenuhi ruangan.
Raka tidak langsung menjawab. Ia mengambil foto gerobak Pak Yanto yang dicoret cat merah, lalu meletakkannya kembali di atas meja.
"Kita tetap jalan sesuai kontrak," kata Raka. "Audit rute, jadwal pengawalan, body camera aktif, laporan tertulis. Tidak ada anggota yang memancing ribut."
Agus mengangguk. "Siap, Bos."
"Kalau benar ada pewaris kaya di belakang mereka, kita tidak menebak-nebak. Kita kumpulkan bukti sampai namanya keluar sendiri."
Pak Yanto menatap Raka dengan mata sedikit basah. "Saya cuma ingin usaha saya aman, Pak."
"Itu tujuan kontrak kita," jawab Raka. "Bukan balas dendam, bukan adu gaya. Aman dulu."
Sore itu, setelah Pak Yanto pulang dengan jadwal pengawalan awal, Raka kembali ke apartemen lamanya untuk mengambil beberapa barang terakhir. Ia sebenarnya sudah jarang tidur di sana. Tempat itu terlalu sempit untuk hidup barunya, tetapi masih menyimpan beberapa dokumen lama, jam tangan murah, dan sebuah koper lusuh dari masa ketika ia masih menghitung uang bensin.
Di lobi bawah, seorang wanita tua sudah menunggu.
Bu Sumini duduk di sofa tamu dengan kerudung agak miring, tas kain di pangkuan, dan wajah sengaja dibuat lelah. Begitu melihat Raka keluar dari lift, ia langsung berdiri.
"Raka!"
Nada itu masih sama seperti dulu. Nada orang yang tidak meminta, tetapi merasa sedang mengambil haknya.
Agus yang mengantar Raka hari itu bergerak setengah langkah ke depan. Tidak kasar. Tidak mengancam. Hanya cukup untuk membuat jarak.
Bu Sumini melirik tubuh tegap Agus, lalu cepat-cepat menoleh lagi pada Raka. "Sekarang kamu pakai pengawal buat hadapi Ibu?"
Raka berhenti tiga langkah darinya. "Bu Sumini, ada urusan apa?"
Wajah Bu Sumini langsung berubah. Matanya basah. Bibirnya bergetar, tetapi matanya tetap sibuk memperhatikan jam Raka, kunci mobil di tangan Raka, dan sepatu baru yang mengilap.
"Kamu tega sekali," katanya. "Setelah cerai, kamu langsung kaya, langsung sombong. Ibu ini sudah tua. Ratna juga masih harus makan. Budi... ya, Budi memang banyak salah, tapi dia adik Ratna. Kamu dulu bagian dari keluarga kami."
"Dulu," kata Raka.
Satu kata itu memotong tangisan palsu seperti pisau memotong benang.
Bu Sumini menggenggam tas kainnya lebih kuat. "Jangan begitu, Raka. Tetangga bakal ngomong apa? Mantan menantu jadi orang kaya, tapi bekas mertuanya dibiarkan susah. Apa kamu tidak malu?"
Raka menatapnya tenang. "Saya tidak punya kewajiban nafkah kepada Ibu. Urusan perceraian sudah diputuskan pengadilan. Pembagian harta sudah selesai lewat akta perdamaian. Kalau ada kebutuhan hukum, bicara dengan pengacara saya."
"Pengacara lagi, pengacara lagi!" suara Bu Sumini meninggi. Beberapa penghuni apartemen mulai melirik. "Kamu ini manusia apa batu? Ibu cuma minta sedikit. Untuk makan. Untuk bayar utang kecil. Masa kamu mau bikin orang tua mengemis?"
Agus berkata pendek, "Bu, mohon jaga suara."
Bu Sumini langsung menunjuk Agus. "Kamu diam! Ini urusan keluarga!"
"Bukan," kata Raka. "Ini gangguan di properti orang lain."
Wajah Bu Sumini mengeras. Air mata yang tadi dipaksa keluar tiba-tiba berhenti.
"Oh, jadi begitu. Baik. Kalau kamu mau mempermalukan Ibu, Ibu juga bisa bicara pada orang. Semua orang harus tahu kamu seperti apa."
Raka hanya mengeluarkan ponsel dan menekan tombol rekam suara. Ia mengangkat layar sedikit, cukup sopan agar Bu Sumini melihat.
"Silakan bicara. Saya juga akan simpan."
Bu Sumini terpaku. Untuk pertama kali sore itu, mulutnya terbuka tanpa suara.
Agus tidak menyentuhnya. Ia hanya menoleh kepada petugas keamanan apartemen. "Pak, mohon catat tamu ini. Jika mengganggu penghuni lagi, ikuti prosedur gedung."
Petugas keamanan yang sejak tadi ragu-ragu langsung mengangguk. Seragam Garuda Shield di tubuh Agus, postur tubuhnya, dan cara bicaranya yang rapi membuat keputusan itu terasa mudah.
Bu Sumini mundur setengah langkah. Ia menatap Raka dengan kebencian yang tidak lagi ditutup-tutupi.
"Kamu tunggu saja," desisnya. "Orang kampung belum tentu percaya uangmu."
"Saya tidak minta dipercaya," jawab Raka. "Saya hanya minta jangan memfitnah."
Bu Sumini pergi dengan langkah cepat, sandal tuanya menampar lantai lobi. Tangannya gemetar, tetapi bukan karena sedih. Itu gemetar orang yang gagal mendapat uang, lalu mencari senjata lain.
Senjata itu muncul dua hari kemudian.
Di gang dekat rumah kontrakan lama Hartono, cerita tentang Raka mulai beredar. Isinya potongan-potongan yang sengaja diracik.
Raka disebut lupa diri setelah punya mobil mahal. Raka disebut meninggalkan Ratna tanpa hati. Raka disebut mengusir Bu Sumini dari apartemen, padahal "Ibu hanya minta makan". Ada yang menambahkan Raka memakai orang berbadan besar untuk menakut-nakuti perempuan tua. Ada pula yang berkata, "Orang kaya baru memang begitu."
Cerita itu merayap dari warung kopi ke tukang sayur, dari grup WhatsApp warga ke mulut ibu-ibu yang sedang membeli cabai. Dalam satu sore, Raka yang tidak pernah datang ke gang itu mendadak menjadi tokoh utama di sana.
Raka mengetahuinya dari Yuli.
Pesan pertama Yuli pendek.
`Mas Raka, Bu Sumini mulai main tetangga. Polanya klasik: nangis, putar fakta, minta simpati.`
Pesan kedua datang bersama foto dari jauh. Bu Sumini duduk di depan warung, memegang dada, dikelilingi tiga wanita dan seorang pria tua.
`Saya tidak ikut campur dulu. Cuma pantau. Aman secara hukum.`
Raka membaca pesan itu di ruang kerja Garuda Shield. Di depannya, Adi sedang membahas anggaran patroli untuk Pak Yanto, sementara Agus menandai peta rute yang rawan gangguan.
Adi melihat wajah Raka. "Masalah keluarga lagi?"
"Fitnah tetangga," kata Raka.
Adi mendengus pelan. "Lebih murah dari preman, tapi kadang lebih berisik."
Raka tersenyum tipis. "Biarkan. Orang yang berbohong untuk uang biasanya tidak tahan lama saat tidak diberi panggung."
Namun Raka tetap tidak membiarkan semuanya lewat tanpa catatan. Ia membalas Yuli.
`Jangan provokasi. Rekam hanya di ruang publik dan dari pihak yang mau bicara. Fokus pada bukti bahwa ini tekanan uang, bukan keluhan sungguhan.`
Yuli menjawab hampir seketika.
`Siap. Saya pancing dengan pertanyaan tetangga netral. Tidak ada jebakan ilegal, atuh.`
Sore berikutnya, Raka sengaja melewati gang lama itu dengan mobil operasional biasa, bukan Alphard. Ia turun di minimarket kecil untuk membeli air mineral. Tidak membawa rombongan. Tidak pamer.
Tetap saja, beberapa mata langsung menempel padanya.
Seorang ibu berbisik, cukup keras untuk terdengar, "Itu dia. Mantan menantu Bu Sumini."
Seorang bapak di dekat motor tua menyipitkan mata. "Katanya sudah kaya sekali."
Raka membayar air mineralnya tanpa menoleh. Kasir muda tampak canggung, tetapi Raka hanya mengucapkan terima kasih.
Di luar, Bu Sumini berdiri di seberang jalan. Ia jelas terkejut melihat Raka datang tanpa takut. Di belakangnya ada dua tetangga yang tadi mendengar cerita versi dirinya.
"Nah, itu orangnya," kata Bu Sumini dengan suara dibuat gemetar. "Kalau punya hati, dia pasti datang minta maaf. Tapi lihat, senyum saja tidak."
Raka membuka tutup botol air, minum seteguk, lalu menatapnya.
"Bu Sumini," katanya, "kalau Ibu punya tuntutan hukum, kirim lewat pengacara. Kalau Ibu punya fitnah, simpan saja. Saya tidak akan berdebat di pinggir jalan."
"Dengar?" Bu Sumini langsung mengangkat suara. "Dia bilang Ibu fitnah! Anak muda zaman sekarang tidak takut dosa!"
Raka tidak menjawab. Ia masuk ke mobil, menutup pintu, dan pergi.
Seseorang di gang itu mungkin mengira ia kalah.
Tetapi malamnya, Yuli mengirim satu file audio.
Suara di rekaman tidak jernih seperti studio, tetapi cukup jelas. Ada bunyi sendok memukul gelas, suara motor lewat, lalu suara Bu Sumini yang menurun setelah para tetangga mulai bubar.
"Kalau dia tidak malu, susah. Makanya harus ramai dulu. Orang kaya itu takut nama jelek. Nanti juga dia kasih uang supaya diam."
Raka mendengarkan sampai selesai.
Tidak ada marah meledak. Tidak ada kepuasan murahan. Hanya rasa lega dingin karena kebohongan akhirnya berbentuk bukti.
Di layar ponsel, pesan Yuli masuk lagi.
Yuli menambahkan satu kalimat pendek: "Dia mengaku sendiri, Mas Raka. Semua ini untuk memaksa kamu membayar."
mungkin sepertinya, baru kali ini aku baca cerita di platform online yang punya alur, bahasa dan kekuatan cerita kaya gini.
terimakasih untuk cerita luarbiasa nya Gan....