NovelToon NovelToon
Dikira Miskin: Ternyata Suamiku CEO

Dikira Miskin: Ternyata Suamiku CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:985
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Larasati, wanita pekerja keras yang sudah lelah hidup dalam kesulitan dan pernah terluka oleh orang yang hanya mementingkan harta, jatuh hati pada Agung—pria sederhana yang tampak tidak memiliki apa-apa, namun selalu menyayanginya dengan tulus dan penuh perhatian. Meski diperingatkan kerabat dan teman agar tidak membuang waktu pada pria yang dianggap tidak mampu mensejahterakannya, Larasati tetap teguh memilih Agung. Mereka menikah dengan sangat sederhana, berjanji untuk membangun kehidupan bersama dalam suka maupun duka.

Selama berbulan-bulan mereka berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan gaji yang pas-pasan, namun kasih sayang Agung tak pernah berkurang sedikitpun. Hingga suatu hari, kedatangan seorang pria tua berwibawa dengan mobil mewah mengubah segalanya. Larasati akhirnya mengetahui kenyataan yang disembunyikan Agung selama ini: suaminya bukanlah orang miskin, melainkan pewaris tunggal keluarga konglomerat Wijaya yang sengaja menyamar menjadi orang biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Cinta Pertama yang Beracun

Seminggu berlalu sejak pertemuan pertama di lorong gelap perpustakaan. Sejak hari itu, Reno Darmawan seolah muncul di setiap sudut kehidupan Lala.

Pagi-pagi buta saat Lala baru sampai di gerbang sekolah, Reno sudah berdiri bersandar di pagar sambil memegang sebotol susu cokelat dingin — kesukaan Lala yang tidak pernah dia ceritakan pada siapa pun di sekolah. Saat jam istirahat, ketika Lala ingin mengambil buku di rak paling tinggi perpustakaan yang tidak terjangkau tangannya, Reno tiba-tiba muncul dari belakang mengambilkannya dengan gerakan yang seolah kebetulan belaka. Bahkan saat Lala hampir tertabrak sepeda motor di jalan pulang sore itu, tangan kuat Reno langsung menarik pinggangnya menjauh dari bahaya dengan refleks yang begitu cepat, seolah dia sudah mengawasi setiap langkah gadis itu dari jauh.

“Kamu selalu ada di tempat yang tepat, ya?” komentar Lala sore itu, sambil berdiri di pinggir jalan masih gemetar karena kaget. Wajahnya memerah padam saat menyadari tangan Reno masih mencengkeram pinggangnya erat-erat.

Reno segera melepaskan sentuhannya seolah tersengat listrik. Wajahnya kembali memasang topeng dingin yang biasa dia pakai, tapi Lala sempat melihat kilatan kelembutan yang melintas cepat di mata cokelat gelapnya sebelum menghilang kembali.

“Kebetulan saja,” jawab Reno pendek sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana seragam. “Kamu harus lebih hati-hati. Jalan di sekitar sini cukup berbahaya kalau lengah.”

Dia berbalik hendak pergi seperti biasa, tapi kali ini Lala memberanikan diri memanggilnya lagi.

“Reno! Besok sore… ada pertunjukan seni di sekolah. Kamu mau datang menonton? Aku… aku tampil membaca puisi.”

Reno berhenti. Punggungnya terasa kaku sejenak. Di dalam hatinya, suara Kevin dan orang tuanya berteriak keras: Ambil kesempatan ini! Dekati dia! Buat dia semakin jatuh cinta padamu! Tapi ada suara lain yang lebih pelan, lebih asing, yang berbisik: Jangan. Gadis ini tidak tahu apa-apa. Jangan seret dia ke dalam kubangan hitammu.

Akhirnya dia menoleh sedikit, hanya memperlihatkan separuh wajahnya yang tampan dan penuh misteri itu.

“Aku akan datang,” jawabnya singkat, lalu melangkah pergi menghilang di balik kerumunan siswa lain yang pulang sekolah.

Lala berdiri diam di tempatnya lama setelah sosok Reno menghilang. Jantungnya berdegup kencang tidak beraturan, perasaan aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya memenuhi seluruh dadanya. Dia tahu dia harus waspada. Dia tahu nama belakang Darmawan adalah nama yang selalu disebut orang tuanya dengan nada penuh kewaspadaan. Tapi setiap kali dia melihat mata Reno yang dalam itu, setiap kali pria itu muncul menolongnya tanpa diminta, semua logika dan peringatan di kepalanya seolah lenyap tak berbekas.

Dia tidak tahu bahwa setiap “kebetulan” yang terjadi selama seminggu ini semuanya direkayasa dengan sempurna. Bahwa Reno tahu kesukaan susu cokelatnya karena sudah mengintip isi bekal Lala selama berhari-hari lewat orang dalam sekolah. Bahwa insiden sepeda motor tadi sengaja diatur oleh anak buah Kevin untuk membuat Reno tampak seperti pahlawan penyelamat. Bahwa setiap langkah yang dia ambil, setiap senyum yang dia berikan, semuanya hanyalah bagian dari naskah panjang yang ditulis untuk menghancurkan keluarga Lala dari dalam.

Dan yang paling menyedihkan dari semuanya: Reno sendiri mulai tidak yakin apakah dia masih sanggup menjalankan naskah itu sampai akhir. Setiap kali dia melihat senyum tulus Lala yang tidak bercampur kepura-puraan sedikit pun, sesuatu yang sudah lama mati di hatinya mulai tumbuh kembali perlahan, membuatnya merasa semakin bersalah setiap kali dia harus berbohong lagi pada gadis itu.

 

Sementara itu, di kediaman utama keluarga Saraswati, permainan yang jauh lebih berbahaya sedang dimainkan oleh Agung dan Larasati.

Pak Surya — penasihat bisnis terdekat Agung yang ternyata adalah mata-mata keturunan pengkhianat seratus tahun lalu — baru saja keluar dari ruang kerja utama setelah menyampaikan laporan keuangan bulanan. Selama pertemuan itu, Agung dan Larasati bersikap persis seperti biasa: mendengarkan setiap saran Pak Surya dengan seksama, menyetujui usulan investasi barunya, bahkan tidak menunjukkan sedikit pun tanda kecurigaan.

Begitu pintu ruang kerja tertutup rapat, senyum ramah di wajah Agung langsung lenyap tanpa bekas, digantikan oleh tatapan dingin sang CEO yang tidak kenal ampun.

“Dia membawa data palsu lagi,” kata Agung datar sambil melemparkan berkas laporan ke atas meja marmer besar itu. “Angka pendapatan cabang Surabaya dia naikkan dua puluh persen palsu. Tujuannya supaya kita setuju menambah investasi di sana, lalu nanti dia bisa mengalihkan sebagian besar uang itu ke rekening kelompok Kevin secara perlahan.”

Larasati berdiri di balik meja kerja suaminya, jemarinya yang cerdas sedang membolak-balik dokumen hasil penyelidikan tim intelijen swasta mereka. Wajahnya cantik namun tegas, persis seperti wajah wanita yang dulu dengan cerdik mengatur keuangan keluarga mereka dari uang recehan saat tinggal di kontrakan kumuh dulu — hanya sekarang dia mengatur perputaran uang senilai triliunan rupiah dengan ketelitian yang sama persis.

“Dia juga sudah tiga kali bertemu dengan Reno Darmawan di kafe dekat sekolah Lala,” lapor Larasati dengan suara berat. “Ternyata bukan cuma Kevin yang mengendalikan anak itu. Pak Surya juga. Dialah yang memberikan semua informasi detail tentang kebiasaan Lala, tentang jadwal sekolahnya, tentang hal-hal yang disukai gadis kita. Semua untuk memudahkan Reno mendekati putri kita.”

Saat menyebut nama putri mereka, suara Larasati sedikit bergetar. Amarah yang mendidih mulai naik ke dadanya. Dia bisa memaafkan jika musuh menyerang nyawanya sendiri. Dia bisa memaafkan jika mereka mau merampas seluruh harta dan jabatan yang dia miliki sekarang. Tapi tidak ada yang berani menyentuh anak-anaknya. Tidak ada.

Agung segera bangkit dari kursi kerjanya. Dia berjalan mendekati istrinya, lalu menarik tubuh Larasati masuk ke dalam pelukan eratnya. Dia bisa merasakan getaran amarah dan ketakutan di tubuh wanita itu.

“Tenang, Sayang,” bisik Agung lembut sambil mengusap punggung Larasati berulang kali dengan gerakan menenangkan. “Kita sudah tahu semuanya sekarang. Tidak akan ada yang terjadi pada Lala maupun Bagas. Aku sudah memerintahkan pengawal tak terlihat untuk mengawasi mereka dua puluh empat jam sehari, bahkan di dalam sekolah sekalipun. Reno tidak akan pernah bisa menyakiti Lala sedikit pun selagi aku masih hidup.”

Larasati mendongak menatap wajah suaminya. Air mata yang tadi hampir tumpah akhirnya kembali dia tahan.

“Maafkan aku. Aku hanya… aku tidak sanggup membayangkan jika sesuatu terjadi pada mereka. Dulu saat kita tidak punya apa-apa, bahaya yang kita hadapi paling cuma tidak bisa makan sehari. Sekarang… sekarang nyawa anak-anak kita dipertaruhkan oleh orang-orang yang tidak punya hati.”

Agung mengusap lembut sudut mata istrinya dengan ibu jari. Tatapannya melembut seketika, hilang sudah sifat dingin sang CEO, yang tersisa hanyalah Agung: pria sederhana yang sangat mencintai keluarganya lebih dari nyawanya sendiri.

“Ingat tidak dulu malam hujan terbesar di kontrakan kita?” tanya Agung pelan sambil mengingat masa lalu yang sulit itu. “Atap kita bocor di mana-mana, kasur kita basah kuyup semua. Kita tidak punya uang untuk memperbaikinya, tidak punya tempat lain untuk menginap. Kamu bilang apa padaku saat itu?”

Larasati teringat malam itu dan tanpa sadar tersenyum tipis.

“Aku bilang… tidak apa-apa. Yang penting kita bertiga — saat itu baru kita berdua — tetap sehat dan bersama. Hujan akan berhenti juga nanti.”

“Benar,” Agung mengangguk pelan. “Sekarang pun sama. Badai ini juga akan berhenti nanti. Kita akan melewatinya bersama seperti selalu. Dan kali ini kita tidak lagi hanya berdua dengan sepotong gorengan untuk makan malam. Sekarang kita punya kekuatan, kita punya sumber daya, dan yang paling penting… kita sudah tahu semua langkah musuh sebelum mereka sempat menjalankannya.”

Ia mencium kening Larasati dalam-dalam, lalu menurunkan ciumannya ke sudut mata, ke hidung mancung istrinya, dan akhirnya berhenti tepat di bibir Larasati yang sedikit terbelah karena napas yang mulai memburu.

“Malam ini jangan pikirkan mereka dulu,” bisik Agung tepat di atas bibir istrinya. “Biarkan kita lupakan sejenak semua pengkhianatan, semua ancaman, semua rencana rumit ini. Malam ini cuma ada kita berdua. Seperti dulu.”

Ciuman yang terjadi setelah itu lambat, dalam, dan penuh dengan segala rasa yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Ada rasa syukur karena masih bersama, ada janji untuk saling melindungi sampai titik darah penghabisan, ada hasrat yang sudah tumbuh semakin dalam selama lebih dari satu dekade pernikahan mereka.

Agung mengangkat tubuh istrinya dengan mudah, langkahnya mantap membawa mereka keluar dari ruang kerja menuju kamar utama yang hanya berjarak beberapa puluh meter. Sepanjang jalan itu bibir mereka tidak pernah saling melepaskan. Begitu pintu kamar terkunci rapat, Agung membaringkan Larasati perlahan di atas ranjang besar mereka, lalu tubuhnya menindih lembut tubuh wanita itu, memastikan tidak ada celah sedikit pun yang memisahkan mereka.

Malam itu, mereka saling memiliki dengan penuh cinta dan kepemilikan yang tak terbantahkan. Setiap sentuhan Agung seolah ingin menanamkan keyakinan sedalam-dalamnya pada Larasati bahwa dia akan selalu ada untuk melindunginya. Setiap erangan Larasati seolah menjadi pengingat bagi Agung mengapa dia harus bertahan dan memenangkan setiap peperangan yang datang. Tidak ada lagi jabatan, tidak ada lagi harta, tidak ada lagi musuh yang mengintai. Yang ada hanya Agung dan Larasati — dua jiwa yang dipertemukan oleh ketidaktahuan akan harta, diuji oleh kebohongan identitas, dan akhirnya disatukan oleh ikatan yang jauh lebih kuat dari segala nama besar di dunia ini.

Ketika semuanya selesai, mereka tetap saling berpelukan erat di bawah selimut tipis, mendengarkan detak jantung satu sama lain yang perlahan kembali teratur. Keringat dingin hasil keintiman tadi masih membasahi kulit mereka, bercampur dengan aroma melati kesukaan Larasati yang selalu menjadi penanda kehadiran wanita itu bagi Agung.

“Besok kita akan memberikan umpan pertama pada Pak Surya,” kata Agung pelan sambil memainkan ujung rambut hitam panjang istrinya yang tersebar di atas bantal. “Kita akan berpura-pura setuju memindahkan sebagian besar dana cadangan perusahaan ke rekening proyek palsu yang dia usulkan. Biarkan dia berpikir kita benar-benar bodoh dan tidak curiga apa-apa. Biarkan dia memberitahu semua temannya bahwa kemenangan sudah di tangan mereka.”

Larasati mengangkat wajah bersandar di dada bidang suaminya, matanya berbinar dengan kecerdikan yang sama yang dulu sering dia gunakan untuk memutar otak menyiasati uang pas-pasan di kontrakan dulu.

“Dan saat mereka semua berkumpul untuk membagi hasil curian kita… saat itulah kita tutup perangkapnya. Semua bukti sudah kita kumpulkan. Pengakuan, rekaman, transfer uang — semuanya lengkap. Kita jatuhkan mereka sekaligus sampai tidak bisa bangkit lagi selamanya.”

“Tepat sekali,” Agung tersenyum bangga mendengar rencana istrinya. Dia tidak pernah salah memilih wanita. Laras bukan sekadar istri cantik yang menemani di acara-acara resmi. Dia adalah otak, mitra, dan prajurit terbaik yang pernah dimiliki Agung dalam setiap peperangan hidupnya.

 

Namun di luar sana, di sebuah rumah tua yang terletak di pinggiran kota yang sepi, Reno Darmawan baru saja menerima telepon dari Pak Surya yang isinya membuat seluruh darahnya terasa membeku.

“Kamu terlalu lambat, Nak,” suara Pak Surya terdengar dingin dan mengancam dari ujung telepon. “Kevin sudah tidak sabar. Aku juga. Minggu depan keluarga Saraswati akan mengadakan pesta ulang tahun pernikahan mereka yang ke dua belas. Itu kesempatan terbaik. Bawa Lala keluar dari rumah itu malam itu. Bawa dia ke tempat yang sudah kita siapkan. Jangan gagal, atau nyawa ibumu yang terbaring sakit di rumah sakit itu yang akan menanggung akibatnya.”

Telepon ditutup secara tiba-tiba tanpa memberi Reno kesempatan menjawab sepatah kata pun.

Pemuda itu menjatuhkan ponselnya ke lantai kayu dengan bunyi gedebuk. Ia berjalan mendekati jendela kamar, menatap langit malam Jakarta yang penuh polusi cahaya dengan mata yang hampa. Tangannya mengepal erat sampai buku-buku jarinya memutih menahan amarah dan rasa tidak berdaya.

Dia tidak punya pilihan. Ibunya satu-satunya keluarga yang dia miliki. Dan nyawa ibunya sekarang dijadikan jaminan oleh Pak Surya agar Reno mau menjalankan perintah kejam itu.

Maafkan aku, Lala, batin Reno dengan suara hati yang hancur berkeping-keping. Air mata tanpa sadar akhirnya menetes juga dari mata dinginnya yang selama ini tidak pernah menunjukkan kelemahan sedikit pun. Aku tidak mau melakukan ini. Tapi aku tidak punya jalan lain.

Di saat yang sama, di kamar Lala yang terletak di lantai dua rumah besar keluarga Saraswati, gadis remaja itu sedang asyik mengetik pesan di ponselnya dengan wajah yang memerah bahagia. Pesan itu ditujukan pada Reno, berisi undangan untuk datang ke pesta ulang tahun pernikahan orang tuanya minggu depan. Dia ingin memperkenalkan pria yang baru saja memenangkan hatinya itu pada Ayah dan Ibu. Dia ingin mereka tahu bahwa Reno bukan orang jahat seperti dugaan mereka selama ini hanya karena nama belakangnya.

Lala menekan tombol kirim dengan senyum lebar yang terukir di wajahnya. Dia tidak tahu bahwa pesan sederhana itu baru saja membuka pintu neraka bagi seluruh keluarganya. Dia tidak tahu bahwa cinta pertama yang baru saja tumbuh di hatinya sebenarnya adalah racun yang perlahan akan membunuh semua kebahagiaan yang telah dibangun keluarganya dengan susah payah selama belasan tahun terakhir.

Dan di atas meja kerja Agung yang kosong, dokumen rencana jebakan untuk Pak Surya dan kelompoknya masih terbuka rapi, siap untuk dieksekusi minggu depan — tepat di hari yang sama dengan pesta ulang tahun pernikahan mereka, tepat di hari yang sama saat Reno berencana menculik Lala.

Semua benang merah konflik itu perlahan mulai bertemu di satu titik yang sama. Minggu depan akan menjadi minggu penentuan bagi semua pihak. Tidak ada yang tahu siapa yang akan keluar sebagai pemenang, dan siapa yang harus hancur berkeping-keping di akhir pertempuran itu.

Yang pasti, tidak akan ada lagi yang bisa kembali seperti semula setelah hari itu tiba.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!