Miracle. menceritakan Ayyasy dan teman-temannya yang hanya siswa biasa melihat bintang jatuh yang jatuh ke arah gunung belakang komplek mereka. mereka menyentuh batu itu dan mendapatkan kekuatan. setelah mereka mendapatkan kekuatan, ancaman ancaman dari monster monster mulai berdatangan. mereka pun harus menjadi penjaga dunia.
bersamaan dengan itu, mereka juga mulai bertemu dengan pahlawan pahlawan dari kota lain yang memiliki nama tim yang sama yaitu, Miracle
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darking
Di sebuah dimensi lain yang diselimuti kegelapan pekat dan langit berwarna keunguan, berdiri sebuah kerajaan megah bertembok batu hitam yang kokoh. Di sekitar area istana, ribuan monster dengan berbagai bentuk mengerikan berkeliaran bebas, merayap, dan mengaum memecah keheningan.
Di dalam bangunan istana utama, tepatnya di sebuah singgasana batu berukir simbol kegelapan, duduk sesosok pria berbadan tinggi besar. Tubuhnya dibalut jubah hitam pekat yang memancarkan hawa dingin yang luar biasa mencekam.
Sosok itu menyeringai, lalu bersuara dengan nada berat yang menggema di seluruh penjuru ruangan.
"Jadi mereka sudah tahu tentang diriku dan namaku? Hahahaha!" tawa Darking pecah, terdengar begitu licik dan penuh kemenangan. "Bagus... Sangat bagus. Waktunya menunggu mereka mencari keberadaanku sampai ke dimensi ini. Tanpa mereka sadari, mereka sebenarnya sedang berjalan masuk tepat ke dalam perangkapku."
Sementara itu, di markas Miracle Kosmik...
Suasana di ruang rapat utama tampak sangat padat dan penuh. Ke-32 anggota Miracle dari empat kota—Zenith, Kosmik, Cyber, dan Harvest—kini sudah berkumpul lengkap di satu ruangan. Kehadiran mereka di sana menandakan bahwa situasi sudah masuk ke tingkat siaga satu.
Layar peta holografik besar mengambang di tengah-tengah meja rapat. Dimas, Tasya, Ayyasy, Davi, dan Arunnaqa berdiri di barisan depan memimpin diskusi.
"Terima kasih untuk teman-teman dari Harvest yang baru saja menyelesaikan ancaman Monster Kristal," buka Ayyasy menatap para anggota Miracle Harvest. "Tapi kita gak punya banyak waktu buat santai."
Arunnaqa mengetikkan serangkaian perintah di tablet kontrolnya, lalu menampilkan sinyal frekuensi yang baru saja tertangkap oleh jaringan satelit gabungan.
"Satelit Cyber yang sudah disuntikkan sampel DNA monster kemarin berhasil menangkap anomali gelombang energi," jelas Arunnaqa serius. "Portal yang digunakan sosok bernama Darking itu bukan cuma portal teleportasi biasa, melainkan portal antar-dimensi."
Dimas mengangguk mengiyakan. "Artinya, Darking tidak bersembunyi di bumi ini. Dia punya markas atau kerajaannya sendiri di dimensi lain. Dan cepat atau lambat, kita harus menemukan pintu masuk ke dimensi itu untuk menghentikannya."
Seluruh 32 Miracle saling pandang. Raut wajah mereka menyiratkan ketegangan, namun pancaran mata mereka dipenuhi oleh tekad bulat untuk berjuang bersama.
Ayyasy memajukan langkahnya, menatap ke arah 32 pasang mata yang ada di hadapannya. "Kalian semua sudah mendengar penjelasan dari Dimas dan Arunnaqa. Kita tidak hanya bertarung melawan monster-monster liar yang menyerang kota kita, tapi kita bertarung melawan penguasa dari dimensi lain. Darking bukan musuh biasa."
"Tapi kita punya kekuatan dari empat kota," timpal Davi dengan suara berat dan tegas. "Harvest, Cyber, Kosmik, dan Zenith. Selama kita tetap bersatu dan tidak terpecah belah, tidak ada alasan untuk takut."
Cheryl yang berdiri di samping Davi melipat kedua tangannya di dada sambil tersenyum tipis. "Betul kata Ketua. Lagipula, kita sudah membuktikan di tambang kemarin kalau kerja sama kita makin solid."
"Gue udah mulai memetakan titik stabilitas ruang dan waktu di sekitar Kota Cyber dan Kosmik," sambung Arunnaqa sambil menampilkan grafik fluktuasi energi di layar proyeksi holografik. "Setiap kali portal kegelapan itu terbuka, ada riak energi berfrekuensi tinggi yang tertinggal selama beberapa menit. Jika kita bisa mengisolasi riak energi tersebut menggunakan teknologi Cyber dan kekuatan manipulasi waktu Dimas, kita bisa memaksa portal itu tetap terbuka cukup lama untuk kita seberangi."
"Artinya... kita bisa membuat jalan ke markas Darking?" tanya Iyan, jemarinya mengepal di dekat gagang pedang mataharinya.
"Secara teori, ya," jawab Dimas melirik ke arah Tsalwa yang memberikan anggukan kecil penuh dukungan. "Tapi resikonya sangat tinggi. Sekali kita masuk ke dimensi kegelapan itu, kita tidak tahu apa yang menanti kita di sana. Bisa jadi atmosfer di sana menekan kekuatan Miracle kita, atau kita langsung dikepung oleh pasukan monster."
Sintia yang berdiri agak di belakang, menyilangkan tangannya sambil melirik ke arah Iyan. Ia melihat betapa matangnya sikap Iyan sekarang—jauh berbeda dari saat Iyan masih terpuruk akibat masalahnya dengan Nessa. Ada rasa kagum yang makin membesar di dalam hati Sintia, meski ia memilih untuk memendamnya rapat-rapt.
"Kalau begitu, kita butuh persiapan matang sebelum benar-benar menyeberang," ujar Tasya, matanya menyapu seluruh ruangan. "Kita harus membagi peran dengan jelas. Tim pertahanan, tim penyerang jarak dekat, penyerang jarak jauh, dan tim pendukung/penyembuh."
"Serafe sama Alya bisa fokus di barisan tengah buat dukungan penyembuhan dan kuncian area," usul Fadhil sambil menoleh ke Alya. Alya tersenyum hangat dan mengangguk setuju.
Serafe yang polos mengacungkan jempolnya dengan penuh semangat. "Serafe siap memancarkan sihir penyembuh paling terang kalau ada yang terluka!"
Di sisi lain ruangan, Azkailah menggeser posisinya sedikit lebih dekat ke Rava. "Rava, nanti di sana kamu jangan sok jagoan maju sendirian ya. Nanti kalau terluka gimana?"
Rava yang mendadak disapa Azkailah langsung berdeham keras, berusaha memasang wajah cool dan datar, padahal detak jantungnya mendadak berdegup kencang dan rona merah tipis muncul di pipinya. "H-halah, tenang aja kali. Gue bisa menjaga diri sendiri. Lagian gue kan kuat."
Sontak tingkah Rava itu memancing lirikan jahil dari anggota Miracle Cyber lainnya. Vikka dan Gita menahan tawa, sementara Delila dan Delaya saling berbisik sambil terkekeh pelan melihat Rava yang salah tingkah di depan Azkailah.
"Cieee... Rava sok dingin padahal mukanya udah merah kayak kepiting rebus tuh," bisik Vikka pelan yang membuat Rava makin memalingkan wajahnya ke arah lain dengan canggung.
Sementara itu, Ayyasy yang berdiri di dekat perbatasan meja kontrol diam-diam mendengarkan suara petunjuk dari Arunnaqa yang sedang memberikan instruksi teknis kepada tim Cyber. Ada sesuatu dari nada suara imut Arunnaqa yang selalu berhasil membuat Ayyasy tersenyum tipis tanpa sadar. Di saat yang sama, Ayyasy juga tidak bisa menutupi kekagumannya pada Tasya—cara Tasya berpikir cepat, menyusun taktik, dan memimpin diskusi selalu terlihat begitu rapi dan elegan di mata Ayyasy. Tentu saja, semua perasaan kagum dan gemas itu disimpan rapat-rapat oleh Ayyasy dalam hatinya sendiri tanpa ada satu orang pun yang tahu.
Rapat berlangsung marathon hingga malam hari. Strategi demi strategi dipanjatkan, skenario terburuk diperhitungkan, dan simulasi formasi tempur dimantapkan.
Malam harinya, markas Kosmik memberikan tempat istirahat bagi ke-32 pahlawan tersebut. Suasana agak lebih tenang dibanding sore tadi, namun aura kesiapan tempur terasa makin pekat di udara.
Di balkon markas yang menghadap ke arah langit malam Kota Kosmik, Dimas berdiri sendirian menatap bintang-bintang. Angin malam yang dingin berembus pelan memainkan rambutnya.
Langkah kaki halus terdengar mendekat. Tsalwa berjalan membawa dua cangkir teh hangat dan menyerahkan salah satunya kepada Dimas.
"Masih mikirin tentang dimensi Darking?" tanya Tsalwa lembut.
Dimas menerima cangkir itu, mengusap kehangatannya dengan telapak tangan. "Gak cuma itu, Sya. Gue cuma kepikiran... apakah keputusan kita buat mendatangi kerajaannya langsung itu tindakan yang tepat? Gimana kalau itu emang jebakan yang sengaja disiapin buat kita?"
Tsalwa menatap profil wajah Dimas dari samping. Pandangannya memancarkan ketenangan dan kepercayaan yang mendalam. "Jebakan atau bukan, kita gak punya pilihan lain buat membiarkan musuh terus-menerus nyerang rumah kita, Dim. Dan kamu gak sendirian. Ada aku, ada Ayyasy, Davi, Arunnaqa, dan seluruh 32 Miracle. Kita masuk bareng-bareng, kita berjuang bareng-bareng, dan kita pulang bareng-bareng."
Dimas menoleh, menatap mata Tsalwa yang berkilat di bawah pendar cahaya bulan. Kata-kata Tsalwa mengikis keraguan yang sempat membayangi pikirannya. Sebuah senyuman tulus terukir di wajah Dimas. "Makasih ya, Tsalwa. Kamu selalu tahu cara bikin gue tenang."
Tsalwa tersenyum manis, pipinya merona halus di kegelapan malam.
Sementara di dimensi kegelapan...
Darking berdiri di puncak menara istananya. Matanya yang merah menyala menatap hamparan lautan energi gelap yang membendung di sekitar kerajaannya. Di belakangnya, puluhan monster kelas tinggi berukuran raksasa berbaris rapi, menunggu perintah sang raja.
"Datanglah, para pahlawan cahaya..." bisik Darking dengan suara beratnya yang menggelegar halus di udara hampa. "Bawalah seluruh kekuatan Miracle kalian ke hadapanku. Karena di tempat ini... cahaya kalian hanya akan menjadi bahan bakar bagi kegelapan abadi!"
Darking mengangkat tangannya, memicu riak energi hitam raksasa di atas kerajaannya, menyiapkan panggung pertempuran paling mematikan yang belum pernah disaksikan oleh dunia manusia sebelumnya. Para Miracle dari empat kota kini berada di ambang perang terbesar dalam hidup mereka, di mana ikatan persahabatan, cinta, dan keberanian mereka akan diuji hingga batas maksimal.
Di luar markas. Di balik pohon. Berdiri sesosok makhluk yang sedang memperhatikan markas miracle kosmik.
"Inikah anak anak yang memiliki kekuatan bintang jatuh itu? Sehebat apa mereka sampai-sampai Darking tidak bisa merebut kekuatan mereka?" bisik sosok itu.