NovelToon NovelToon
SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

"Semua orang bilang dia dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tapi hanya aku yang tahu — di balik tatapan dingin itu, tersembunyi hati yang paling lembut dan paling setia."

Su Yi, gadis sederhana yang tiba-tiba dijodohkan dengan pria paling ditakuti, paling kaya, dan paling dingin di kota — Mo Han, CEO Grup Mo yang kekuasaannya merentang ke seluruh negeri. Semua orang kasihan padanya, mengira dia hanya akan menjadi istri piala yang dibuang kapan saja. Namun tak ada yang tahu... Mo Han sudah menunggunya selama sepuluh tahun.

Di balik perjodohan yang dipaksakan itu, tersembunyi cinta yang tak pernah terucap, rahasia masa lalu, dan bahaya yang perlahan mendekat. Saat Su Yi perlahan melihat sisi lain pria itu, hatinya mulai bergetar. Tapi saat dia mulai jatuh cinta... rahasia besar itu mulai terungkap.

Apakah perjodohan ini akan menjadi neraka selamanya? Atau justru menjadi awal dari cinta yang paling indah dan paling abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Kebohongan yang Runtuh dan Hati yang Bergetar

 

Bab 31: Kebohongan yang Runtuh dan Hati yang Bergetar

Mo Ha berdiri diam di ambang pintu, napasnya tertahan di tenggorokan seakan baru saja ditinju keras tepat di ulu hati. Di hadapannya, Su Yi berdiri membelakanginya bahu sedikit tergetar menahan isak tangis yang tak mau keluar. Punggungnya yang biasanya tegak kini tampak rapuh seakan satu sentuhan saja akan hancur berantakan. Di meja di depannya tersebar surat-surat lama, foto-foto usang, dan selembar dokumen resmi yang jatuh terbalik di tepian — cap merah besar di sudutnya cukup untuk membuat darah siapa pun membeku di pembuluh nadi.

"Kau sudah tahu sejak kapan?" suara Mo Ha pelan dan serak, bukan marah, melainkan terkejut hingga nyaris tak bersuara.

Su Yi bergetar hebat mendengar suaranya, bahunya terangkat perlahan namun tak berbalik. "Sejak... sejak tiga bulan sebelum pernikahan kita."

Mo Ha melangkah masuk perlahan, kakinya terasa berat bagai tertanam di lantai batu. Ia berhenti dua langkah di belakang wanita yang selama ini ia kira tak pernah mempedulikannya sedikit pun. Wanita yang selalu dingin, selalu menjauh, selalu menatapnya seakan ia hanyalah debu yang tak pantas mengotori sepatunya — ternyata menyimpan beban seberat itu sendirian di bahu mungilnya sepanjang waktu.

"Kau tahu..." Mo Ha menelan ludah susah payah, dadanya sesak tak terbayangkan, "...bahwa pernikahan ini bukan atas kemauanku sendiri."

Su Yi tertawa getir pelan, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya tanpa ditahan lagi. "Aku tahu. Ayahmu datang memohon pada ayahku. Menyelamatkan perusahaan yang hampir runtuh sebagai gantinya. Sebuah kesepakatan. Transaksi dua keluarga. Dan aku... aku adalah barang tukarnya." Ia berbalik perlahan, wajahnya basah namun matanya menatap lurus ke manik mata Mo Ha tanpa menyembunyikan apa pun lagi. "Yang tak kuketahui saat itu... adalah bahwa kau sendiri sama tidak menginginkannya seperti aku."

Mo Ha terdiam. Selama ini ia berpikir Su Yi menikah dengannya karena ambisi, karena kepatuhan buta pada keluarganya, karena ia tak peduli siapa suaminya asal sesuai keinginan ayahnya. Ia tak pernah menyangka... mereka berdua adalah tawanan di sangkar yang sama, namun saling melempar batu sepanjang waktu tanpa sadar siapa sebenarnya sesama tawanan.

"Kenapa kau tak pernah bicara?" tanya Mo Ha pelan, langkahnya mendekat selangkah. "Kenapa kau diam saja dan membiarkanku membencimu selama ini?"

"Karena apa gunanya bicara?" Su Yi tersenyum getir, air mata mengalir makin deras. "Kau sudah punya gambaran tentangku sejak awal. Dingin. Ambisius. Tak berperasaan. Apa pun yang kukatakan hanya akan terdengar seperti alasan belaka. Jadi kubiarkan saja. Biarkan kau membenciku. Setidaknya... itu lebih mudah daripada melihat tatapan kecewamu."

Hati Mo Ha terasa tercabik berkeping-keping mendengar itu. Selama bertahun-tahun ia menyakiti wanita di hadapannya ini dengan kata-kata tajam, sikap dingin, kepergian tanpa pamit, dan ia pikir ia yang paling menderita. Padahal di setiap ejekannya, di setiap kepergiannya, di setiap malam yang ia tinggalkan sendirian — Su Yi diam di sana menelan semuanya bulat-bulat sendirian. Tanpa keluhan. Tanpa pembelaan.

"Maaf..." kata itu keluar begitu saja dari mulutnya, pelan namun penuh getaran tak pernah dirasakannya sebelumnya. "Su Yi... maafkan aku."

Su Yi tertegun, matanya membelalak tak percaya mendengar kata itu keluar dari mulutnya. Selama ini ia mendengar segala hal dari Mo Ha — kemarahan, penghinaan, kedinginan. Tapi kata itu... tak pernah sekalipun terbayang akan mendengarnya.

"Kau... tak perlu meminta maaf," ucapnya berusaha tegas namun suaranya pecah di tengah jalan. "Yang lalu biarlah berlalu. Besok pagi kita bicara dengan baik-baik pada pengacara. Aku sudah siapkan semuanya. Pembagian aset, hak guna tempat tinggal, urusan keluarga... tak akan merepotkanmu." Ia berbalik kembali memunggunginya, menekan jari-jarinya ke tepian meja hingga buku-buku jarinya memutih menahan gemetar. "Kita akhiri saja semuanya, Mo Ha. Kita berdua sudah cukup lama terjebak di sini."

Mo Ha diam sejenak. Mendengar kata-kata perpisahan itu seharusnya melegakannya — bukankah itu yang ia inginkan sejak awal? Bebas. Lepas. Kembali seperti dulu. Tapi saat mendengarnya benar-benar keluar dari bibirnya... dadanya terasa hampa menyakitkan. Lebih menyakitkan daripada apa pun yang pernah dirasakannya seumur hidup.

Ia melangkah mendekat lagi, kali ini berhenti tepat di samping bahunya. Su Yi menegang hebat namun tak bergerak menjauh.

"Dan setelah itu?" tanya Mo Ha pelan di dekat telinganya, napas hangatnya menyentuh pipinya lembut. "Apa yang akan kau lakukan?"

Su Yi menatap jemarinya yang gemetar di atas meja, menelan air liur susah payah. "Pergi ke luar negeri. Mulai hidup baru. Tempat di mana tak ada yang mengenal nama Su Yi maupun nama keluargaku. Tempat di mana aku bukan barang tawaran siapa-siapa lagi."

"Dan kau bahagia begitu?" tanya Mo Ha lembut namun tajam, tepat menembus kebenaran yang ia sembunyikan.

Su Yi terdiam lama sekali. Bahagia? Ia tak tahu apa artinya itu sudah sejak lama. Tapi lebih baik kesepian di tempat asing daripada dipenjara emas di rumah sendiri bersama pria yang dicintai namun takkan pernah miliknya.

"Aku akan belajar bahagia," jawabnya pelan, air mata kembali jatuh satu butang di atas kertas dokumen putih bersih. "Waktunya memulai lagi dari nol."

Mo Ha menatap punggungnya yang rapuh itu lama sekali. Sesuatu di dalam dirinya retak perlahan malam ini — bukan dinding kebencian yang ia bangun bertahun-tahun, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam, jauh lebih lunak, dan jauh lebih menakutkan untuk diakui. Ia menyadari satu hal yang tak pernah ia sadari sebelumnya: gagasan kehilangan Su Yi selamanya... jauh lebih menyakitkan daripada terus hidup bersamanya.

"Bagaimana kalau..." Mo Ha berhenti sejenak, menelan ludah seakan menelan batu panas di tenggorokannya, "...bagaimana kalau kita tidak berpisah?"

Su Yi tersentak kaku seketika seakan ditetram petir. Perlahan ia memutar kepala menatapnya, matanya lebar basah penuh keraguan tak percaya.

"Apa kau bicara omong kosong apa ini..." suaranya gemetar pelan, bibirnya pucat tak berdarah.

"Aku serius," Mo Ha menatap matanya lurus tak terhindar, napasnya berat namun setiap kata keluar jelas dan mantap seakan baru saja ia sadari kebenaran itu sendiri detik ini juga. "Perjanjian itu diikat oleh ayah kita. Tapi kita... kita bisa menulis perjanjian yang baru. Aturan yang baru." Ia melangkah lebih dekat lagi hingga jarak di antara mereka tinggal jengkal, menatap dalam ke manik matanya yang cokelat jernih penuh air mata. "Bukan karena kewajiban. Bukan karena keluarga. Tapi karena kita berdua. Kita mulai dari awal, Su Yi. Tanpa kebohongan. Tanpa topeng. Tanpa kebencian yang tak pernah benar-benar ada."

Su Yi menatapnya terpaku, dadanya naik turun cepat seakan lupa cara bernapas. Ia ingin tertawa, ingin marah, ingin bertanya apakah Mo Ha sedang mempermainkannya seperti dulu. Tapi tatapan pria di hadapannya... tak ada kebohongan di sana. Tak ada ejekan. Tak ada dingin. Hanya kelembutan yang perlahan bangkit perlahan menyentuhnya untuk pertama kalinya dalam hidupnya.

"Kenapa?" bisiknya pelan tak berdaya, air mata mengalir makin deras tanpa sanggup ditahan lagi. "Kenapa tiba-tiba..."

"Karena baru malam ini aku sadari," Mo Ha mengangkat tangan perlahan, telapak tangannya ragu sesaat sebelum mendarat lembut di pipinya menyeka air mata yang mengalir deras, "bahwa selama ini aku tidak membenci hidup bersamamu. Aku hanya takut menyadari betapa aku mulai menyukainya."

Su Yi menatapnya lekat-lekat seakan ingin menghafal setiap garis wajahnya malam ini — takut jika berkedip ia akan lenyap dan semuanya hanyalah mimpi indah sesaat. Jantungnya berdegup kencang nyaris meledak di dadanya, campuran antara takut, ragu, harapan, dan sesuatu yang hangat mekar perlahan di tengah dingin bertahun-tahun lamanya.

"Mo Ha..." namanya keluar begitu lembut dari bibirnya, seakan memanggil sesuatu yang suci dan rapuh sekaligus.

Mo Ha mendekatkan wajahnya perlahan, dahi mereka hampir bersentuhan, napas mereka menyatu hangat di udara sempit di antara wajah keduanya. Tatapannya jatuh ke bibirnya basah air mata, lalu kembali naik ke matanya.

"Berikan aku satu tahun," bisiknya pelan tepat di hadapan bibirnya, getarannya terasa hingga ke tulang sumsum. "Satu tahun. Kita coba. Jika di akhir tahun ini kau masih ingin pergi... aku tak akan menahanmu lagi. Aku akan melepaskanmu sepenuhnya, tanpa syarat apa pun." Ia berhenti sejenak, menelan napas berat sebelum melanjutkan pelan penuh keberanian nyaris mustahil baginya. "Tapi biarkan aku mencoba meyakinkanmu... bahwa tinggal bersamaku bukan lagi hukuman."

Su Yi memejamkan mata rapat menahan isak tangis yang meledak di dadanya. Selama bertahun-tahun ia memimpikan momen ini, namun tak pernah berani berharap benar-benar akan datang. Sekarang saat di depannya... ia gemetar hebat tak tahu harus menerima atau berlari menjauh sebelum terluka lebih dalam lagi. Namun saat membuka matanya kembali dan melihat tatapan Mo Ha — penuh harap, cemas, dan jujur — ia tahu hatinya sudah membuat keputusan jauh lebih dulu daripada akalnya.

"Satu tahun..." ulangnya pelan, suara gemetar namun mantap. "Satu tahun, Mo Ha."

Mo Ha tersenyum lembut — senyum yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya, tulus dan hangat seakan matahari pagi akhirnya menyembul setelah badai panjang. Ia menatapnya lekat-lekat, lalu perlahan mendekat menyatukan bibir mereka lembut, penuh kehati-hatian seakan memegang bunga rapuh yang bisa layu jika terhapas angin. Su Yi memejamkan mata perlahan, menyesap sentuhan itu, membiarkan dirinya jatuh perlahan ke dalam pelukan yang tak pernah ia sanggapi harapkan.

Satu tahun. Cukup waktu untuk menghancurkan masa lalu... atau membangun masa depan bersama.

 

1
Alia Chans
suka sama gendre perjodohan begini🤭🤭
salam interaksi thor😉
Arman: makasih kak
salam interaksi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!