Seorang penyihir terkuat nomor satu Lucien yang tidak tertandingi, memasuki raga seorang pria lemah yang ternyata adalah pelayan setia dari Putri Aurelia. Aurelia adalah anak haram dari pimpinan klan Es yang selalu diremehkan oleh Ayahnya.
Apa lagi Aurel terlahir tanpa memiliki inti roh murni.
Namun segalanya berubah saat Lucien memasuki raga Arthur. Rahasia nya terungkap saat nyawa Aurel dalam bahaya. Aurel memohon padanya. Dan sejak saat itu--- Lucien sang penyihir terkuat menjadi guru dari Aurel.
Tujuan Aurel satu--- membalaskan setiap hinaan yang dia Terima dan merampas kepemimpinan klan Es dari Ayah dan Kakak tiri nya. Tentu saja, itu semua hanya bisa terjadi jika Lucien berdiri di sampingnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembalinya Sang Pemimpin
Pagi itu, halaman istana Klan Es dipenuhi langkah kaki yang beradu dengan lantai kristal di bawah kaki mereka. Hari itu—tetua Frost beserta istri sahnya, Madam Elena, akan kembali setelah pergi menghadiri undangan di Kerajaan Solaria.
Beberapa pelayan, prajurit, dan murid utama langsung mempersiapkan penyambutan untuk menyambut dua orang penguasa di Klan Es itu. Mereka berbaris rapi di halaman untuk menyambut datangnya pemimpin mereka.
Enzo juga tidak kalah antusias menyambut kembalinya orang tuanya. Tak lama kemudian, suara kepakan sayap terdengar berat membelah awan.
Semua orang mendongak. Dari langit, sebuah kereta kuda bersayap terbang rendah menuju halaman istana, menyebarkan pendar es tipis di jalurnya.
Kuda bersayap itu mendarat dengan sempurna, melipat sayap megahnya dengan keanggunan nyata.
Para prajurit dan pelayan berdiri sejajar di sisi kiri dan kanan, menundukkan kepala dalam posisi hormat yang kaku.
Sementara di tengah, Enzo berdiri bersama puluhan murid lainnya, menahan napas penuh harap.
Pintu kereta kuda yang terbuat dari es berlapis perak terbuka. Memperlihatkan sebuah kaki kekar yang turun bersamaan dengan tubuh seorang pria paruh baya berjenggot tipis, namun masih terlihat sangat tampan dengan aura kepemimpinan yang dingin menindas.
Di susul kemudian oleh tubuh wanita paruh baya yang sangat cantik dengan rambut putih seputih salju yang disanggul rapi, mengenakan gaun beludru mewah bersulam benang emas. Mereka adalah tetua Frost dan istri sahnya—Madam Elena.
"Ayah! Ibu! Akhirnya kalian kembali," Enzo langsung melangkah maju, memecah barisan untuk memeluk ayah dan ibunya dengan kehangatan seorang putra yang rindu.
Tetua Frost dan Madam Elena hanya tersenyum tipis, jenis senyuman formal yang biasa ditunjukkan oleh para bangsawan berdarah murni.
Tetua Frost menepuk bahu tegap Enzo sekali, sebuah gestur pengakuan yang sangat minim namun berarti besar bagi pemuda itu.
"Apa selama kami pergi terjadi masalah?" tanya Tetua Frost. Suaranya berat dan berwibawa, langsung menatap lurus ke dalam manik mata sang putra seolah bisa membaca setiap kebohongan yang tersembunyi di sana.
Enzo terdiam canggung selama satu detik yang menegangkan. Tenggorokannya mendadak kering sebelum akhirnya ia berdehem pelan untuk menutupi kegugupannya. "Semuanya baik-baik saja, Ayah. Tidak ada masalah besar yang terjadi. Aku menjaga wilayah ini dengan sangat baik," kata Enzo kembali membusungkan dada, penuh rasa percaya diri yang dipaksakan.
Tetua Frost mengangguk samar, tampak puas dengan jawaban tersebut. "Bagus! Sebagai satu-satunya calon penerus takhta Klan Es, itu memang sudah menjadi kewajiban untukmu. Jangan pernah biarkan kelengahan sedikit pun menodai nama baik Klan kita," kata Tetua Frost tegas.
Ia kemudian melangkahkan kakinya yang dibalut sepatu bot kulit hitam untuk masuk ke dalam istana, diikuti oleh langkah patuh Enzo dan semua murid di belakangnya.
Sementara itu, di belakangnya, Madam Elena sengaja memperlambat langkah anggunnya. Ia mengangkat satu jemarinya yang dihiasi cincin permata safir besar, memberi isyarat samar agar seorang pelayan senior yang paling ia percayai mendekat.
"Dimana jalang itu sekarang?" bisik Madam Elena. Nada suaranya berbisik namun sedingin embun beracun, kontras dengan wajah cantiknya yang tadi sempat tersenyum tipis.
Mata pelayan paruh baya itu seketika berbinar licik, seolah dia memang sudah menyusun kata-kata dan menunggu pertanyaan itu keluar dari bibir sang nyonya besar sejak kereta kuda mereka mendarat.
Pelayan itu membungkuk lebih dalam, merapatkan tubuhnya agar suaranya tidak terdengar oleh siapapun.
"Nyonya besar, Anda tidak akan memercayainya! Sudah seminggu lebih wanita penyakitan itu hanya bermalas-malasan dan tidur di dalam gubuk reyotnya," kata pelayan itu dengan suara menggebu-gebu, penuh intonasi menghasut. "Dia sama sekali tidak menyentuh pekerjaan apa pun selama Nyonya pergi. Benar-benar tidak tahu diri!" lanjutnya memanaskan suasana.
Mata Madam Elena berkilat tajam, memancarkan kilatan amarah yang membara di balik ketenangannya yang palsu.
Tanpa aba-aba atau sepatah kata pun, langkah kaki Nyonya Elena berbalik arah dengan hentakan kasar, menuju ke arah paviliun gubuk terpencil di sudut lain istana.
Ia diikuti oleh beberapa pelayan pribadi yang saling berbisik, wajah-wajah mereka tampak tidak sabar dan haus untuk segera menyaksikan drama penyiksaan dan keputusasaan yang biasa tersaji.
Brak!
Pintu kayu itu ditendang dengan sangat kasar.
Hantaman itu membuat seorang wanita paruh baya yang terbaring lemas di atas ranjang kasar tersentak, lalu perlahan menoleh dengan mata sayu yang dipenuhi bayang-bayang kepucatan akibat demam.
Madam Elena berdiri tegak di ambang pintu, melipat kedua tangannya di depan dada dengan angkuh.
Ia menatap merendahkan sosok wanita yang tak lain adalah Kamelia—ibu kandung dari Aurelia—yang kini tampak begitu rapuh di bawah bayang-bayang kemegahan gaun Elena.
"Kau tampaknya sangat menikmati waktu istirahatmu di tempat kumuh ini, hah?" suara Madam Elena terdengar sangat datar, namun setiap katanya membawa ancaman yang sangat berbahaya. "Jika khayalanmu sebagai nyonya di istana ini sudah selesai, sadarlah di mana tempat dan derajatmu yang sesungguhnya berada!" katanya mendesis.
Kamelia memaksakan seluruh sisa tenaganya yang terkuras untuk bangkit dan duduk. Ia menatap langsung ke dalam manik mata Madam Elena yang penuh kebencian.
Di dalam mata Kamelia yang lelah, tidak ada rasa takut; melainkan ada sesuatu yang lain yang mulai membara di dasar jiwanya. Sebuah kemarahan, kepedihan, dan dendam yang telah ia tahan selama bertahun-tahun di bawah penindasan wanita di depannya.
Kamelia menghembuskan napas panjang yang terdengar begitu lelah, menahan getar di dadanya. "Tubuhku masih sangat sakit, Elena..." kata Kamelia dengan nada suara yang bergetar lemah.
"Biarkan aku beristirahat sebentar lagi saja... setidaknya sampai tubuhku pulih untuk bekerja kembali," katanya parau.
Namun, bukan kata-kata belas kasih atau izin yang didapatkan oleh Kamelia, melainkan sebuah kilatan gerakan cepat yang membelah udara—
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi kirinya yang pucat, menyisakan bekas kemerahan dan seketika membuat sudut bibirnya robek mengeluarkan darah segar.
"Lancang! Berani sekali mulut wanita rendahan dan budak sialan sepertimu memanggilku langsung dengan sebutan nama!" bentak Madam Elena dengan napas yang memburu egois.
Wajahnya memerah karena murka.
Lalu, seolah-olah telah menyentuh bangkai yang menjijikkan, Madam Elena buru-buru mengeluarkan saputangan sutra dari sakunya dan mengelap telapak tangannya dengan gerakan kasar bertubi-tubi, memandang kulit Kamelia seolah-olah itu adalah sebuah kotoran yang dapat menularkan penyakit busuk.
Kamelia terjerembab kembali ke atas ranjangnya. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, menahan denyut perih di pipi dan hatinya.
Di balik selimut kainnya yang tipis dan kasar, kedua tangannya yang kurus dan lemah mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, merekam setiap jengkal penghinaan ini ke dalam lubuk hati terdalamnya.