Di tengah cemoohan keluarga dan stigma sebagai produk gagal bangsawan Pendragon, Wiliam Pendragon menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang jenius Level 12 pencipta Pernapasan Pedang Kegelapan sekaligus pemilik Domain Expansion yang ditakuti. Menjalani kehidupan ganda sebagai murid biasa demi menjaga kedamaian ibunya, Wiliam berubah menjadi "Hantu Topeng" saat malam tiba—sosok vigilante bertopeng bertanduk dan berjubah gelap yang membantai kejahatan tak tersentuh hukum secara dingin tanpa memedulikan pahlawan atau villain. Namun, aksinya yang menyisakan jejak sihir unik mulai mengguncang tatanan politik benua, memicu perburuan massal dan menarik perhatian empat entitas Level 20 terkuat di dunia yang mempertanyakan apakah Hantu Topeng adalah pelindung atau justru bom waktu yang siap membumihanguskan tatanan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucius Aurelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30
Bab 30: Kehangatan Jiwa yang Tertaut, Gelak Tawa di Antara Takdir, dan Penempaan Konsepsi Diri
Sinar perak dari sisa portal dimensi melenyap sepenuhnya saat kaki mereka kembali menginjak lantai kayu gubuk rahasia Hephaestus. Suasana ruangan bawah tanah yang tenang seketika pecah saat tubuh Nona Kitsune mendadak limbung, kehilangan seluruh tumpuan kakinya. Langkah anggun sang keturunan Dewi Rubah itu goyah hebat; matanya terpejam dan napasnya berembus terengah-engah akibat habisnya pasokan energi spiritual yang ia salurkan demi memimpin ritual sakral di Kolam Rubah.
"Kitsune!"
Dengan refleks tingkat refleks High Mage yang baru diraihnya, Ren melompat maju. Tangan tegapnya menyambar tubuh molek Kitsune sebelum wanita itu menyentuh lantai batu yang dingin. Ren merengkuh pinggang ramping dan menarik tubuh mulus Kitsune ke dalam pelukannya.
"Kitsune! Buka matamu! Ada apa dengansmu?" seru Ren penuh kepanikan seraya menepuk pelan pipi halus sang dewi rubah.
Namun, pendar emas kemerahan di sepasang mata Kitsune kian meredup. Kesadarannya terkikis cepat oleh kelelahan ekstrem. Tujuh ekor peraknya meliuk lemah dan terhampar pasrah di atas lantai.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Ren mengangkat tubuh Kitsune secara bridal style. Dengan langkah terburu-buru, ia membawanya melintasi lorong dan menidurkannya di atas ranjang kayu bermiras kapuk yang lembut di dalam kamarnya. Ren menarik selimut wol tebal hingga menutupi dada Kitsune yang kian berhembus teratur.
Hephaestus yang mengekor dari belakang menyapu janggut tuanya dengan raut prihatin. "Ritual penyerahan darah purba dan pembukaan segel Demon Heart tadi menguras lebih dari separuh konsentrasi dan energi jiwanya, Ren. Biarkan aku saja yang menjaganya malam ini agar kau bisa beristirahat mempersiapkan fisikmu."
"Tidak, Hephaestus," tolak Ren tegas seraya memposisikan kursi kayu tepat di samping tempat tidur Kitsune. Matanya yang kini memancarkan pendar emas-perak menatap wajah pucat Kitsune yang tertidur lelap. "Dia menjadi sepeti ini karena membantuku. Ini tanggung jawabku. Aku yang akan menjaganya semalaman."
Hephaestus menghela napas panjang, namun menyunggingkan senyuman tipis penuh arti sebelum berbalik keluar. "Terserah kau saja, Anak Muda. Tapi ingat, besok kita harus melanjutkan latihan."
Sepanjang malam, Ren tidak memejamkan mata sedikit pun. Ia berkali-kali mengganti kain kompres hangat di dahi Kitsune, memelihara pendar energi perak di sekitar tubuh sang wanita agar suhu badannya tetap stabil. Melihat ketulusan dan pengorbanan wanita yang telah hidup ribuan tahun dalam kesendirian ini, dinding batas di dalam hati Ren perlahan melunak, membiarkan benih kehangatan yang tak terduga bersemi pelan di dasar jiwanya.
Fajar keesokan harinya menyingsing pelan, menembus celah jendela kayu gubuk. Cahaya keemasan pagi menerpa kelopak mata Kitsune. Ujung jemari lentiknya bergetar saat kesadarannya kembali pulih sepenuhnya.
Hal pertama yang tertangkap oleh pandangan mata emas kemerahannya adalah sosok Ren yang tertidur terduduk di atas kursi kayu persis di samping ranjangnya. Tangan kanan Ren masih menggenggam erat kain kompres, sementara kepalanya bersandar lelah di tepi kasur.
Kitsune tertegun. Rasa hangat yang teramat sangat asing—sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama ribuan tahun mengembara di dunia yang dingin—merebak cepat memenuhi rongga dadanya. Jemari lentiknya terulur, menyentuh lembut helai rambut kelabu Ren yang berantakan.
Perlahan, Kitsune mencoba memposisikan tubuhnya untuk duduk. Namun, gesekan halus kain selimut seketika memicu Ren terbangun dari tidur ayamnya.
Mata kelabu Ren membelalak, lalu ia secara refleks memegang kedua bahu Kitsune dengan raut wajah panik.
"Kau sudah bangun?! Bagaimana keadaanmu? Apakah ada bagian tubuhmu yang terasa sakit atau nyeri? Bicaralah padaku, Kitsune!" cecar Ren bertubi-tubi tanpa jeda.
Melihat ekspresi panik yang begitu jujur dari pria bertopeng dingin itu, Kitsune tidak mampu menahan tawa kecilnya. Suara tawa renyahnya bergema merdu di dalam kamar.
Giggling...
Ren mengerutkan alisnya yang tebal, wajahnya memerah tipis akibat rasa canggung. "Kenapa kau malah tertawa? Aku sungguh-sungguh mengkhawatirkanmu!"
Kitsune menyandarkan kepalanya di telapak tangan Ren yang masih menempel di bahunya, menatap Ren dengan binar mata yang penuh kasih.
"Maafkan aku, Ren..." kekeh Kitsune pelan. "Hanya saja... sudah sangat lama sekali aku tidak mendapatkan perhatian yang begitu tulus seperti ini. Terakhir kali ada orang yang panik setengah mati memikirkanku saat aku terluka atau pingsan... adalah saat aku masih mengembara bersama Monyet Jelek itu."
Mendengar frasa Monyet Jelek, otak cerdas Ren langsung menyambungkan ingatan kisah purba yang diceritakan Dewi Rubah kemarin.
"Monyet Jelek... maksudmu Sun Wukong?" tanya Ren memastikan.
Kitsune tersenyum tipis, mengangguk pelan. "Ya. Paman Wukong selalu mengomel dan panik jika aku terluka sedikit saja saat melarikan diri dari kejaran para dewa."
Ren menurunkan tangannya, menundukkan kepalanya dalam-dalam seraya mengepalkan jemarinya.
"Maafkan aku, Kitsune..." bisik Ren dengan nada suara yang dipenuhi penyesalan mendalam.
Kitsune tertegun, meredupkan tatapannya. "Maaf? Untuk apa kau meminta maaf, Ren?"
"Aku sudah mengetahui semuanya dari Dewi Rubah kemarin..." cerita Ren dengan dada sesak. "Aku tahu penderitaan luar biasa yang kau lewati selama ribuan tahun. Kau harus diburu oleh para dewa dari berbagai panteon, melarikan diri dari satu benua ke benua lain, dan hidup dalam kesendirian agar klanmu tidak punah... Dan kemarin, demi membantu manusia lemah sepertiku, kau malah menghabiskan seluruh energi jiwamu dan harus merasakan rasa sakit penderitaan itu lagi... Aku sungguh minta maaf."
Mendengar setiap patah kata yang keluar dari bibir Ren, pertahanan emosional Kitsune runtuh seketika. Air mata kehangatan menetes dari sudut mata cantiknya. Tanpa ragu lagi, Kitsune melompat maju dan memeluk leher Ren dengan teramat sangat erat!
HUG!
Tubuh mulus Kitsune menempel rapat di dada tegap Ren. Kitsune menyembunyikan wajah anggunnya di bahu Ren, menangis terisak-isak meluapkan ribuan tahun rasa kesepian yang terpendam.
"Tidak apa-apa, Ren... Tidak apa-apa..." tangis Kitsune tersedu-sedu seraya meremas jubah Ren. "Ini bukan penderitaan... Dibantu olehmu dan dipeluk oleh perhatianmu seperti ini... membuat seluruh penderitaan ribuan tahun itu terasa tidak ada artinya lagi..."
Ren merubah posisi duduknya, mengaitkan kedua tangannya di pinggang Kitsune, membalas pelukan hangat itu dengan sangat erat dan protektif. Ren mengusap punggung Kitsune yang bergetar lembut, menyalurkan pendar aura High Mage barunya untuk menguatkan jiwa sang wanita.
Setelah beberapa saat meluapkan emosi, Isakan tangis Kitsune mereda. Kitsune mengendurkan pelukannya, merenggangkan tubuhnya beberapa senti, lalu menatap lurus ke dalam sepasang mata kelabu Ren yang dipenuhi pendar emas-perak.
Suasana di dalam kamar mendadak berubah menjadi teramat sangat hening dan intens.
Aroma keharuman bunga purba menguar dari tubuh Kitsune. Pandangan mata mereka terkunci satu sama lain. Tatapan Ren turun menyapu bibir merah menyala milik Kitsune yang sedikit terbuka. Seolah dipandu oleh benang takdir purba yang mengikat jiwa mereka, wajah kedua pasangan itu perlahan-lahan saling mendekat...
Jarak di antara bibir mereka makin terkikis... tiga senti... dua senti... satu senti—
BRAKKKKK!
"SELAMAT PAGI SEMUANYA! AKU MEMBAWA NAMPAN DAGING PANGGANG DENGAN ANGGUR TERBAIK—OBAAH!"
Pintu kamar kayu ditendang terbuka hingga hancur bergetar! Hephaestus melangkah masuk dengan senyuman lebar seraya mengangkat nampan makanan raksasa di kedua tangannya!
FLASH!
Seketika itu juga, atmosfer romantis di puncak kehangatan hancur berkeping-keping!
Ren dan Kitsune secara refleks meloncat saling menjauh dengan wajah yang merah padam hingga ke ujung telinga! Ren pura-pura terbatuk hebat seraya membelakangi ruangan, sementara Kitsune yang merasa momen puncaknya diganggu seketika meledak amarahnya!
"TUA BANGKAI PENGACAUUUU!" teriak Kitsune berang.
SWOOSH!
Salah satu ekor perak Kitsune mekar raksasa dan mengibas cepat bagaikan cambuk raksasa!
BAMMMM!
"GWAHK!"
Hephaestus bersama nampan makanannya meledak terlempar keluar dari kamar, melayang melintasi lorong bawah tanah sebelum menghantam tumpukan besi tempaan di ujung ruangan!
Setelah insiden keributan pagi yang konyol itu selasai dan mereka menikmati sarapan bersama di meja kayu, fokus mereka kembali pada agenda utama: persiapan semifinal.
Di area lapang di balik gubuk kayu, udara pagi bertiup sejuk. Kitsune yang kini telah pulih sepenuhnya berdiri anggun mengenakan kimono ungunya, memandangi Ren yang berdiri bersiap di tengah padang rumput.
"Dengarkan aku baik-baik, Ren," ujar Kitsune dengan nada mengajar yang anggun. "Darah Dewi Rubah Ekor Sembilan yang mengalir di dalam tubuhmu kini telah menyatu dengan Demon Heart-mu. Tapi, untuk menggunakannya di dalam pertarungan sungguhan melawan para Archmage, kau harus belajar menggabungkan (fusion) dua jenis energi yang bertolak belakang ini."
Ren mengangkat kedua tangannya. Dari tangan kirinya memancar gejolak api ungu-hitam milik Demon Heart, sedangkan dari tangan kanannya memancar aura perak lembut milik Darah Rubah Purba.
"Sifat Demon Heart adalah destruktif, liar, dan menghancurkan," jelas Kitsune seraya melangkah melingkari Ren. "Sedangkan sifat Darah Rubah adalah fleksibel, mengalir, dan manipulatif. Kau harus menggunakan naluri darah rubahmu untuk 'menjinakkan' kegilaan energi iblis tersebut, membungkusnya menjadi satu gelombang energi baru yang presisi."
Ren memejamkan matanya, mencoba membenturkan kedua energi itu di dalam pembuluh darahnya.
CRACK-CRACK!
Namun, begitu api ungu-hitam menyentuh pendar perak, ledakan energi kecil terjadi di telapak tangan Ren, membuatnya terlempar mundur beberapa langkah dan terbatuk pelan.
"Salah," tegur Kitsune lembut. Ia melangkah mendekati Ren dari belakang, lalu meletakkan kedua tangannya di atas lengan Ren, membimbing gerakan tangan pria itu secara langsung.
Sentuhan kulit mulus Kitsune di lengan Ren dan kehangatan tubuh wanita itu yang menempel erat dari belakang membuat fokus Ren sempat goyah kembali.
"Fokus, Ren..." bisik Kitsune di samping telinga Ren, menyunggingkan senyuman godaan tipis. "Jangan memikirkan hal lain... Rasakan bagaimana detak jantungku menyelaraskan napasmu."
Kitsune menyalurkan pendar sihir peraknya melalui lengan Ren, membimbing api ungu-hitam Demon Heart agar mengalir menyusuri pembuluh darah dengan aluran spiral murni.
Under bimbingan telaten dan penuh kehangatan dari Kitsune, perlahan-lahan gejolak liar api iblis di tangan Ren mencair! Warna ungu-hitam dan perak menyatu sempurna, membentuk gelombang sihir baru berwarna Ungu-Perak Keemasan yang memancarkan pendar ketahanan dan ketajaman pemotong realitas yang teramat luar biasa!
SWOOSH—BANG!
Ren mengibaskan tangannya ke arah tebing batu di depan mereka. Gelombang sihir Ungu-Perak melesat bagaikan kilat melengkung, membelah tebing batu setinggi sepuluh meter menjadi dua bagian tanpa menimbulkan suara ledakan yang berisik! Tebasan yang teramat sangat presisi dan mematikan!
"Luar biasa..." gumam Ren terpana melihat hasil tebasannya.
Kitsune menyandarkan dadanya di bahu Ren, menyapu telinga rubah perak yang tumbuh di atas kepala Ren dengan lembut. "Kau belajar dengan sangat cepat, Pria Tampan... Dengan gabungan energi ini, pertahanan fisik para Archmage di semifinal tidak akan bisa menahan tebasan pedangmu."
Melihat momen kemesraan dan kedekatan yang kembali memuncak di antara mereka berdua di padang rumput...
CREAK...
Hephaestus yang baru selesai mengobati benjol di kepalanya melangkah keluar dari gubuk membawa martil raksasa.
"Oho! Bagus sekali! Sekarang waktunya latihan penempaan fisik dasar!" seru Hephaestus dengan suara cempreng raksasanya, tepat menghancurkan momen manis mereka untuk kedua kalinya!
Kitsune menghentakkan kakinya ke tanah seraya mendesis gemas pada sang Dewa Pengrajin, sementara Ren hanya mampu terkekeh menggelengkan kepala melihat kelakuan mentor tuanya.
Hari-hari berikutnya diisi oleh penempaan yang teramat sangat keras dan intensif. Namun, masalah terbesar yang dihadapi Ren dalam persiapan semifinal ini bukanlah sekadar gabungan energi, melainkan pemahaman hukum dasar tingkatan: Konsepsi Diri (Self-Conception).
Di Ranah Archmage (Ranah ke-8), seorang petarung tidak lagi hanya mengandalkan sihir atau tebasan fisik murni. Mereka menggunakan Konsepsi Diri—sebuah domain pemahaman hukum alam semesta tentang 'siapa diri mereka yang sesungguhnya' untuk menekan domain musuh.
Di dalam ruang latihan bawah tanah, Hephaestus dan Kitsune bertindak sebagai pengawas.
Ren duduk bermeditasi di tengah lingkaran formasi sihir. Pria itu mencoba meraba dan memanifestasikan Konsepsi Diri dari jiwanya.
"Siapa dirimu yang sesungguhnya, Ren?" tanya Hephaestus dengan suara berat yang menggelegar dari tepi ruangan. "Apakah kau seorang Manusia? Seorang Iblis? Seorang Pendekar Pedang? Atau seorang Pelindung? Jika kau tidak bisa mendefinisikan bentuk hukum jiwamu sendiri, kau akan langsung hancur tertekan saat berhadapan dengan domain para Archmage di arena!"
Ren memejamkan mata rapat-rapat. Ia mencoba memanggil ingatan seluruh perjalanannya.
'Aku adalah seorang Pendekar Pedang yang bertarung dengan amarah...' batin Ren mencoba membentuk konsep jiwanya.
CRACK!
Seketika itu juga, domain sihir yang dicoba dibentuk oleh Ren meledak buyar! Ren terdorong mundur dengan dada bergetar hebat. Gagal!
"Salah!" tegur Kitsune tegas. "Amarah hanyalah emosi sementara, bukan Konsepsi Diri! Coba lagi!"
Ren menarik napas dalam-dalam, mencoba kembali memfokuskan jiwanya.
'Aku adalah wadah dari Hati Iblis...' pikir Ren mencoba meraba konsep lain.
BOOM!
Ledakan energi iblis yang liar kembali membalikkan serangannya! Ren muntah darah tipis, menggelengkan kepalanya frustrasi. Gagal lagi!
Hari berganti hari. Kegagalan demi kegagalan terus menimpa Ren dalam upayanya memahami Konsepsi Diri. Setiap kali ia mencoba mendefinisikan jiwanya dengan label kekuatan, emosi amarah, atau status keturunan, domain jiwanya selalu menolak dan hancur berkeping-keping.
"Kenapa...?! Kenapa aku selalu gagal?!" teriak Ren frustrasi di tengah malam latihan hari kelima. Peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya. Waktunya menuju pertempuran semifinal tinggal tersisa dua hari lagi!
Melihat kegagalan dan keputusasaan yang melanda Ren, Kitsune melangkah mendekat. Ia duduk bersimpuh di depan Ren, mengambil kedua tangan Ren yang gemetar, lalu menempelkan kedua telapak tangan itu di pipinya yang hangat.
"Kau selalu gagal karena kau mencoba mendefinisikan dirimu berdasarkan apa yang dimiliki oleh tubuhmu, Ren..." bisik Kitsune dengan suara yang begitu lembut dan menenangkan jiwa.
"Kau bukan sekadar Hati Iblis. Kau bukan sekadar Darah Rubah. Dan kau bukan sekadar pedang yang menebas musuh..."
Ren menatap sepasang mata emas kemerahan Kitsune yang memancarkan ketulusan abadi.
"Lantas... siapa aku yang sesungguhnya...?" tanya Ren parau.
Kitsune menyunggingkan senyuman paling indah, mendekatkan dahinya dan menempelkannya tepat di dahi Ren.
"Kau adalah William Pendragon..." bisik Kitsune lembut. "Seorang pria yang berdiri kokoh menembus neraka demi melindungi cinta dan janjinya. Konsepsi dirimu bukan tentang kekuatan yang kau pegang... melainkan tentang Tekad Tak Tergoyahkan (Unshakable Will) untuk selalu pulang ke pelukan orang-orang yang mencintaimu."
THUMP—!
Kata-kata dari Kitsune itu seketika bergetar bagaikan dentang lonceng purba di dalam inti jiwa terdalam Ren!
Sekat kegelapan di dalam benak Ren hancur seketika! Pemahaman hakiki merebak cepat menyinari seluruh pilar jiwanya!
Ren memejamkan mata. Kali ini, ia tidak lagi mencoba mengingat amarah, iblis, atau pedang. Ia memanggil wajah Anya yang tersenyum, tawa menggemaskan kedua buah hatinya, serta pelukan hangat Kitsune yang melindunginya.
HUMMMMMMM—!
Seketika itu juga, dari dalam tubuh Ren, memancar sebuah pendar Domain Konsepsi Diri berwujud pilar cahaya Ungu-Emas-Perak yang teramat sangat murni dan kokoh! Domain tersebut membentang sejauh sepuluh meter, menetralkan seluruh tekanan energi di sekitar ruangan bawah tanah dengan keanggunan dan dominasi absolut!
Hephaestus yang menyaksikan keberhasilan manifestasi tersebut seketika menepuk tangannya girang! "Luar biasa! Konsepsi Diri: Tekad Pelindung Kosmik (Cosmic Guardian’s Will)!"
Ren membuka matanya. Sepasang mata kelabunya kini bersinar dengan kejelasan dan ketenangan jiwa yang teramat sangat absolut.
Dengan perpaduan kekuatan High Mage, Darah Purba Dewi Rubah, Demon Heart yang terintegrasi, serta manifestasi Konsepsi Diri yang sempurna... persiapan Ren kini telah utuh.
Panggung semifinal Koloseum Aethelgard yang mematikan di esok hari siap menjadi saksi bisu kebangkitan sang legenda baru di Benua Luar!