Miskin seumur hidup, ia bahkan harus mengakhiri hidupnya karena penyakit yang tak mampu ia obati.
Namun, ketika membuka mata, ia justru mendapati dirinya telah masuk ke dalam novel sebagai seorang wanita yang baru saja melompat dari sebuah gedung demi melarikan diri dari pernikahan perjodohan.
Seharusnya ia ikut kabur.
Tapi setelah mengetahui bahwa pria yang akan menjadi suaminya adalah seorang pewaris kaya raya, pikirannya berubah.
“Melarikan diri? Untuk apa? Bukankah lebih baik aku menikah dan hidup nyaman?”
Kini, ia bertekad mempertahankan pernikahan yang bahkan tidak diinginkan oleh pemilik tubuh asli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Pintu tertutup. Elena menatap langit-langit kamar, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
"Kenapa hanya dipanggil begitu saja bisa membuatku senang?" Ia menutup wajahnya dengan bantal.
"Fokus, Elena. Ingat tujuan awal. Uang, rumah, kehidupan yang stabil. Itu yang kau cari. Tapi kenapa semakin aku mengenalnya, semakin sulit menganggap pernikahan ini hanya sebagai kesepakatan?"
***
Keesokan paginya, mobil hitam mewah melaju perlahan dan berhenti di depan sebuah bangunan tua di pinggiran kota. Elena turun bersama Sebastian, matanya terpaku pada bangunan tiga lantai yang tampak telah lama ditinggalkan.
Cat dindingnya mengelupas, jendela-jendelanya sebagian pecah, dan papan nama di atas pintu utama sudah kusam dan nyaris tak terbaca VOSS PRIVATE CLINIC.
Elena menatapnya lama. Tiba-tiba kepalanya terasa berat, seakan ada sesuatu yang mendesak dari dalam ingatannya. Tangannya refleks mencengkeram lengan Sebastian.
"Aku pernah di sini," bisiknya pelan.
Sebastian langsung menatapnya cemas. "Kau yakin?"
Elena mengangguk perlahan. "Aku tidak ingat secara pasti. Tapi setiap inci tempat ini terasa begitu akrab. Seolah aku pernah berdiri di depan pintu ini, bertahun-tahun yang lalu."
Sebastian menggenggam tangannya erat. "Kita tidak perlu masuk kalau kau belum siap, Elena."
"Aku siap." Elena menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. "Ayo kita cari tahu."
Mereka melangkah masuk. Udara di dalam terasa lembap dan dingin, debu tebal menutupi lantai dan perabotan tua.
Beberapa kursi kayu masih berjejer di ruang tunggu, seolah pemiliknya pergi kemarin saja dan akan kembali sebentar lagi. Elena berjalan perlahan, setiap langkah seakan membangunkan sesuatu yang lama terkubur jauh di dalam pikirannya. Hingga akhirnya ia berhenti di depan sebuah pintu di ujung lorong.
Tangannya terangkat perlahan. "Aku tahu ruangan ini."
Sebastian memperhatikan pintu itu. "Ruang pemeriksaan."
Elena mendorong pintu itu terbuka. Ruangan itu kosong, hanya ada sebuah meja kayu tua dan lemari besi di sudut ruangan. Ia mendekati meja, jarinya menyentuh permukaan yang berdebu itu. Dan seketika, bayangan-bayangan samar muncul di benaknya.
Seorang wanita duduk di kursi. Elena kecil terbaring di ranjang. "Jangan takut," kata wanita itu lembut.
"Aku ingin pulang," tangis anak kecil terdengar.
"Kau belum boleh pulang dulu."
"Kenapa?"
Wanita itu tak menjawab. Lalu pintu terbuka. Seorang pria masuk. Elena kecil menangis lebih keras. Pria itu mengenakan cincin hitam berukir kepala elang di jari manisnya.
Elena tersentak mundur, napasnya tercekat. "Sebastian!"
Sebastian segera memeluk bahunya, menatapnya cemas. "Apa yang kau lihat? Siapa itu?"
"Pria itu.." Elena menunjuk pintu yang baru saja ia lewati. "Dia datang ke sini. Dia memakai cincin elang itu."
"Daniel?"
"Aku tidak tahu. Tapi ada sesuatu lagi.." Elena memejamkan mata, berusaha menangkap suara yang samar itu. "Dia berbicara dengan wanita itu. Dia berkata 'Apakah dia melihatnya?'"
Sebastian membeku. "Lalu?"
Wanita itu menjawab.. "Tidak. Dia terlalu kecil untuk memahami apa yang terjadi."
Keheningan menyelimuti ruangan itu. Sebastian menatapnya lekat. "Melihat apa, Elena?"
"Aku tidak tahu." Elena menggeleng pelan. "Tapi aku yakin aku melihat sesuatu hari itu. Sesuatu yang sengaja mereka sembunyikan dariku."
Mereka kemudian menemukan lemari besi tua di sudut ruangan. Sebastian berhasil membukanya setelah menemukan kunci di laci meja. Di dalamnya tersimpan beberapa dokumen, sebagian besar rusak karena kelembapan. Namun satu map masih cukup terjaga.
Sebastian membukanya perlahan. Catatan medis. Nama di halaman pertama membuat keduanya terdiam.
Nama: Elena Arvienne, Usia: 8 tahun
Keterangan: Pasien ditemukan dalam kondisi trauma berat dan kebingungan setelah menghilang selama beberapa jam.
Elena membaca baris demi baris, hingga wajahnya tiba-tiba berubah pucat. "Sebastian.. di sini tertulis aku ditemukan oleh Victor."
"Itu yang sudah kita ketahui," jawab Sebastian pelan.
"Tapi lihat ini." Elena menunjuk catatan tulisan tangan di bagian bawah halaman.
Pasien tidak boleh diizinkan mengingat kejadian sebelum ditemukan.
Sebastian mengerutkan kening. "Kenapa? Siapa yang menulis ini?"
Namun di halaman terakhir, ada satu kalimat yang membuat keduanya terdiam dalam keheningan yang panjang.
Jika ingatan pasien kembali, cari rekaman kamera dari taman belakang.
Elena mendongak. "Taman belakang?"
Sebastian langsung bergerak. "Tempat ini punya taman di belakang. Ayo!"
Mereka berlari keluar melalui pintu belakang. Di sana terbentang halaman luas yang kini dipenuhi rumput liar dan semak belukar. Di salah satu sudut, berdiri tegak sebuah tiang kamera pengawas yang sudah berkarat.
"Rekaman kamera.." gumam Sebastian.
"Sudah dua belas tahun berlalu, Sebastian."
"Server penyimpanan mungkin masih ada di dalam gedung."
Elena menatapnya dengan napas tertahan. "Kalau rekamannya masih ada.. kita mungkin bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi malam itu."
Namun sebelum Sebastian sempat bergerak, suara benda berat jatuh terdengar dari lantai atas
BRAK!
Keduanya langsung menoleh. Sebastian menarik Elena ke belakang tubuhnya, sikapnya berubah waspada seketika.
"Jangan bergerak," bisiknya tegas.
"Ada orang di atas?"
"Mungkin." Sebastian memberi isyarat kepada dua pengawal yang telah menunggu di luar. Mereka segera masuk ke dalam bangunan. Tak lama berselang, terdengar suara langkah kaki yang berlari tergesa-gesa.
"Kejar!"
Salah satu pengawal berlari mengejar seseorang yang melarikan diri lewat pintu samping. Sebastian segera membawa Elena menjauh dari bangunan itu. Namun sebelum mereka pergi, mata Elena menangkap sesuatu di antara rumput liar. Sebuah kartu identitas yang tergeletak di tanah.
Ia memungutnya. Saat melihat nama yang tertera di sana, darahnya seakan berhenti mengalir.
MIRA VOSS
Elena menatap Sebastian dengan tangan gemetar. "Sebastian.. ini nama wanita yang kulihat dalam ingatanku. Wanita yang menenangkanku waktu itu."
Sebastian mengambil kartu itu, wajahnya seketika berubah serius. "Berarti dia masih hidup."
Tiba-tiba ponsel Elena bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Kalau kau ingin bertemu Mira, datanglah tanpa Sebastian.
Belum sempat Elena mencerna itu, pesan kedua menyusul.
Karena kali ini, suamimu bukan orang yang ingin kami temui.
Sebastian membaca pesan itu dari samping, rahangnya mengeras seketika. "Mereka sedang mencoba memisahkan kita, Elena. Kita tidak akan pergi ke tempat itu."
Elena menatapnya, lalu tersenyum tipis namun tegas. "Kalau begitu, mereka salah menilai."
"Maksudmu?"
"Aku tidak akan pergi tanpa suamiku."
Tatapan Sebastian perlahan melunak, namun di matanya terlihat kekhawatiran yang mendalam.
...tp trus lanjuuut💪💪😘😘