NovelToon NovelToon
Cincin Pengkhianatan

Cincin Pengkhianatan

Status: tamat
Genre:Mafia / Action / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Its Efa

Vincent Lawson rela meletakkan pistolnya demi menggenggam tangan wanita yang ia cintai. Ia percaya, cincin itu akan menjadi awal dari selamanya. Namun pada malam yang sama, wanita itu mengganti janjinya dengan sepasang borgol.

Di tengah raungan sirene dan hancurnya seluruh impian, Vincent tak lagi mempertanyakan mengapa ia ditangkap. Ia hanya ingin tahu...

“Di antara ribuan senyum yang kau berikan selama dua tahun... adakah satu saja yang lahir karena cinta, bukan karena tugas?” 💔

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Efa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

[ Jalan Pulang ]

Pesan dari Komandan semalam masih terngiang di kepala Rhea.

"Operasi penangkapan memasuki tahap akhir. Bersiaplah."

Sejak bangun tidur, dadanya terasa sesak. Untuk pertama kalinya, ia berharap waktu berjalan lebih lambat.

Bel kecil di pintu toko berbunyi.

Rhea segera menghapus jejak air matanya sebelum berbalik.

"Selamat pagi."

Vincent berdiri di depan pintu sambil membawa dua gelas kopi hangat.

"Pagi."

Melihat mata Rhea yang sedikit sembab, Vincent mengernyit.

"Kau menangis?"

Rhea langsung menggeleng.

"Kurang tidur saja."

Vincent tidak bertanya lagi.

Ia tahu setiap orang memiliki rahasia yang belum siap diceritakan.

"Ayo."

Rhea menatapnya bingung.

"Ke mana?"

"Aku ingin mengenalkanmu pada seseorang."

Satu jam kemudian, mobil mereka berhenti di sebuah rumah sederhana di pinggir kota.

Rumah itu tidak besar.

Halamannya dipenuhi bunga mawar putih yang bermekaran.

Rhea menatap sekeliling dengan heran.

"Rumah siapa ini?"

Vincent tersenyum kecil.

"Rumahku."

Rhea terdiam.

"Rumahmu?"

"Bukan penthouse itu."

Vincent membuka pagar perlahan.

"Ini rumah yang dibangun ayahku sebelum semuanya berubah."

Mereka berjalan memasuki halaman.

Rumah itu tampak bersih meski sudah lama tidak dihuni.

"Kenapa kau tidak tinggal di sini?"

Vincent mengusap pelan pagar kayu yang mulai kusam.

"Karena setiap sudut rumah ini mengingatkanku pada mereka."

"Mereka?"

"Ibu dan ayahku."

Keheningan menyelimuti keduanya.

Vincent membuka pintu rumah.

Di ruang tamu masih tersusun beberapa foto keluarga yang sudah mulai memudar.

Rhea memperhatikan satu foto kecil di atas lemari.

Seorang anak laki-laki tersenyum sambil memegang tangan kedua orang tuanya.

"Itu kau?"

Vincent mengangguk.

"Dulu aku pikir keluargaku akan seperti ini selamanya."

Senyumnya perlahan menghilang.

"Ternyata aku salah."

Rhea menatap foto itu cukup lama.

Sulit baginya membayangkan pria yang kini ditakuti banyak orang pernah menjadi anak kecil yang tertawa begitu lepas.

Mereka duduk di teras rumah.

Angin sore membawa aroma bunga mawar yang memenuhi halaman.

"Tahu kenapa aku membawamu ke sini?" tanya Vincent.

Rhea menggeleng.

"Karena tempat ini adalah rahasia terakhir yang kumiliki."

Vincent tersenyum tipis.

"Aku belum pernah membawa siapa pun ke rumah ini."

"Bahkan Damian tidak pernah masuk."

Rhea membeku.

Ia tidak menyangka Vincent mempercayainya sejauh itu.

"Aku tidak tahu kenapa."

"Tapi saat bersamamu..."

"...aku mulai ingin pulang."

Kalimat itu membuat tenggorokan Rhea tercekat.

Ia buru-buru mengalihkan pandangan agar Vincent tidak melihat matanya yang mulai berkaca-kaca.

Sore menjelang malam.

Saat hendak kembali ke mobil, Vincent berhenti di depan halaman rumah.

"Rhea."

"Iya?"

"Aku sudah mengambil keputusan."

Rhea menatapnya.

"Aku akan membubarkan sebagian besar bisnis Black Raven."

Jantung Rhea berdetak semakin cepat.

"Kenapa?"

Vincent tersenyum kecil.

"Aku lelah."

"Aku sudah terlalu lama hidup dengan pistol di tanganku."

Ia menatap kedua telapak tangannya.

"Untuk pertama kalinya..."

"...aku ingin hidup seperti orang biasa."

Rhea menggigit bibir bawahnya.

Semua yang selama ini diinginkan polisi...

Sedang dilakukan Vincent atas keinginannya sendiri.

Namun semuanya terasa terlambat.

Di sisi lain kota, ruang rapat kepolisian dipenuhi para petugas.

Komandan berdiri di depan layar besar.

"Operasi akan dimulai dalam waktu dekat."

Seorang anggota mengangkat tangan.

"Bagaimana dengan Zhava?"

"Dia tetap melanjutkan penyamaran."

"Kita hanya menunggu sinyal darinya."

Komandan menatap foto Vincent Lawson di layar.

"Kali ini..."

"...kita tidak boleh gagal."

Malam itu, Vincent kembali ke penthouse.

Damian sudah menunggu di ruang kerja.

"Bos."

"Hm?"

"Semua dokumen pengalihan aset sudah siap."

Vincent menerimanya.

"Bagus."

Damian tampak bingung.

"Bos benar-benar akan meninggalkan Black Raven?"

Vincent tersenyum pelan.

"Organisasi ini sudah memberiku tempat untuk bertahan hidup."

"Tapi..."

"...aku tidak ingin menghabiskan sisa hidupku di dalamnya."

Damian menundukkan kepala.

"Kalau itu keputusan Bos..."

"...kami akan menghormatinya."

Vincent membuka laci mejanya.

Di dalamnya masih tersimpan kotak beludru hitam berisi cincin yang telah ia siapkan.

Ia mengusap kotak itu perlahan.

"Sedikit lagi..." batinnya.

"Setelah semua ini selesai..."

"Aku akan memintamu menjadi pendamping hidupku."

Sementara itu, di apartemennya, Rhea memeluk kedua lututnya di atas tempat tidur.

Bayangan rumah sederhana yang dipenuhi mawar putih terus berputar di kepalanya.

Hari ini Vincent tidak membawanya ke markas mafia.

Bukan ke tempat penyimpanan senjata.

Bukan ke ruang rapat Black Raven.

Melainkan...

ke tempat yang paling ia anggap sebagai rumah.

Dan Rhea sadar...

Semakin besar kepercayaan yang diberikan Vincent...

Semakin kejam pengkhianatan yang akan ia lakukan nanti. 💔

1
Anne Soraya
lanjut 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!