NovelToon NovelToon
The Light We Found

The Light We Found

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu
Popularitas:96
Nilai: 5
Nama Author: Tr_w

Tirta Adira selalu percaya bahwa perasaan manusia adalah hal yang paling sulit ditebak. Hari ini bisa mencintai, esok bisa memilih pergi. Karena itulah, setelah sebuah hubungan yang melelahkan meninggalkan luka, ia memutuskan untuk berhenti menggantungkan kebahagiaannya pada siapa pun.

Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang terkenal kasar, keras kepala, dan memilih mengurung dirinya di balik masa lalu yang belum selesai. Pertemuan mereka tidak pernah berjalan mulus, tetapi di antara setiap perdebatan dan perbedaan, tumbuh sebuah chemistry yang tak mampu dijelaskan oleh logika.

Ini bukan kisah tentang cinta yang rumit. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling menemukan di waktu yang tak pernah mereka rencanakan, lalu perlahan belajar bahwa terkadang, cinta hadir bukan untuk mengubah seseorang, melainkan untuk mengajarkan bagaimana menerima dan menyembuhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6

Pagi ini, Lala bangun lebih awal dengan keributannya di dapur seperti biasa. Tirta yang masih enggan membuka mata kini terpaksa bangun dan berjalan menuju kamar mandi.

Jika Lala sudah berada di rumah kecil ini, mau tidak mau Tirta juga harus menjadi seorang morning person.

"Bagaimana semalam? Ada masalah?" tanya Lala sambil sesekali meniup kopi hangatnya.

"Kami sudah putus."

Byurr!

"Uhuk... uhuk..."

Lala sampai tersedak mendengar sahabatnya tiba-tiba mengatakan bahwa hubungannya dengan Jordan telah berakhir. Yang lebih mengejutkan lagi, wajah Tirta justru tampak setenang air yang mengalir.

"Kamu serius? Apa nanti kalian akan balikan lagi?" Lala ingin memastikan kebahagiaan sahabatnya itu benar-benar nyata.

"Sepertinya tidak. Aku sudah lelah." Jawab Tirta sambil tetap sibuk mengunyah sarapannya. Lala langsung tersenyum lebar, lalu menepuk lengan Tirta dengan semangat.

"Akhirnya kamu sadar juga! Aku suka sekali mendengarnya. Terima kasih, Tuhan!" Teriaknya penuh kebahagiaan. Akhirnya sahabatnya itu bisa melanjutkan hidup dengan lebih baik.

Sementara Tirta hanya membalas dengan senyum tipis, lalu kembali melanjutkan sarapannya.

Beberapa hari setelah mengetahui hubungan Tirta benar-benar berakhir, Lala memutuskan kembali ke kontrakannya.

Ia senang melihat sahabatnya mulai menjalani hidup dengan lebih baik, meski ia tahu bahwa di waktu-waktu tertentu Tirta pasti masih akan merindukan pria yang telah menemaninya selama beberapa tahun ini.

Untuk mengisi waktu luang Tirta saat akhir pekan, Lala dengan penuh semangat mengajak gadis pemalas itu mulai rutin berolahraga.

Setiap Minggu pagi mereka akan berlari, lalu dilanjutkan pergi ke pusat kebugaran seperti kebiasaan Lala.

Tirta menolak mentah-mentah.

Ia memang sangat membenci olahraga berat yang hanya membuat tubuhnya kelelahan setelah selesai. Menurutnya, bermain badminton atau olahraga ringan lainnya jauh lebih menyenangkan untuk mengisi waktu luang.

Sedangkan olahraga berat seperti yang dilakukan Lala benar-benar tidak sanggup ia lakukan. Meski tidak pernah pergi ke pusat kebugaran, postur tubuh Tirta sebenarnya sudah sangat bagus.

Pinggangnya ramping.

Pinggulnya cukup berisi.

Dadanya pun cukup menonjol.

Memang tidak terlalu besar, tetapi setidaknya masih ada "pegangan hidup" yang membuatnya cukup percaya diri.

Rayuan dan bujukan Lala akhirnya berhasil membuat Tirta menyerah. Hari ini menjadi hari pertamanya ikut berolahraga.

Pukul lima pagi, Lala sudah mengajaknya menuju lapangan untuk berlari. Tentu saja Lala ditemani oleh sang kekasih. Lala dan Rico sudah berpacaran kurang lebih satu tahun. Pria itu sangat posesif dan hampir selalu menemani Lala ke mana pun gadis itu pergi.

Ya, tentu saja harus posesif.

Lihat saja Lala yang begitu cantik dan mempesona. Bagaimana mungkin gadis seperti itu dilepas begitu saja berkeliaran di alam liar?

"Kita lari dari sini. Lima putaran, ya. Awas kalau belum selesai sudah mengeluh. Nanti putarannya aku tambah." Lala memberi peringatan kepada Tirta yang sejak awal memang sangat susah dibujuk.

"Iya... iya... iya. Kamu cerewet sekali. Sudahlah, aku duluan." Tirta langsung berlari lebih dulu. Sedangkan Lala dan Rico berlari di belakang sambil mengawasinya.

Baru satu putaran, Tirta sudah ingin berhenti. Namun dari belakang, Lala terus meneriakinya agar tetap berlari.

"Ayo!"

"Kalian duluan saja. Aku lari santai." Lala dan Rico akhirnya berlari lebih cepat meninggalkannya.

Kini Tirta berlari seorang diri dengan mata yang terus melirik ke arah para pedagang yang mulai membuka dagangan mereka.

"Tenang, Tirta. Setelah selesai lari nanti aku akan membeli semua jajanan itu." Gumamnya menyemangati diri sendiri. Saat putaran kelima selesai, Tirta langsung berlari kecil menuju salah satu pedagang.

Ia membeli sekotak donat, sebungkus nasi goreng, dan dua botol air mineral. Kedua tangannya kini penuh oleh makanan. Tujuannya berikutnya adalah mencari tempat duduk. Di pojok lapangan terdapat sebuah bangku panjang.

Di sana sudah ada seorang pria yang sedang duduk di kursi roda. Tanpa berpikir panjang, Tirta berjalan ke arahnya lalu duduk di bangku yang masih kosong.

"Eh, Tuan Darah Tinggi yang waktu itu ternyata. Halo! Kita bertemu lagi." Sapanya sambil tersenyum lebar.

Hari ini suasana hatinya sedang baik karena berhasil membeli banyak makanan. Masalah mereka beberapa hari lalu pun sudah ia anggap selesai.

"Saya tidak ingat." Jawab pria itu ketus sambil melirik jam tangan digital mewah di pergelangan tangannya. Tirta hanya mengangguk pelan dengan senyum jahil.

Ia kemudian membuka bungkus nasi gorengnya dengan tingkah yang benar-benar seperti anak kecil. Pria itu tampak semakin risih. Sejak awal ia memang tidak menyukai perempuan yang menurutnya tidak tahu sopan santun. Terlebih lagi perempuan yang terlalu banyak ikut campur karena rasa penasarannya.

"Mau ke mana, Tuan Muda? Ayo sarapan bersama. Aku tidak keberatan berbagi." Ajak Tirta sambil memegang erat bagian depan kursi roda pria itu.

Hal itu justru membuat pria tersebut semakin tidak menyukainya.

"Saya peringatkan sekali lagi. Saya tidak pernah segan bersikap kasar kepada perempuan." Nada suaranya mulai terdengar kesal.

Namun matanya sempat melirik ke arah orang-orang yang semakin ramai berdatangan ke lapangan. Hari sudah menunjukkan pukul enam pagi.

"Baiklah, aku tidak akan mengganggumu lagi. Tapi coba donat ini kalau kamu tidak mau makan nasi goreng. Ini enak sekali dan—"

Brak!

Sekotak donat itu jatuh ke tanah. Pasir yang ada di bawah membuat donat-donat itu langsung kotor.

Tirta membeku.

Ia sangat ingin menikmati donat itu. Namun pria kasar di sampingnya justru melemparkannya ke bawah. Tirta tidak protes. Ia hanya menundukkan kepala sambil menatap donat yang sudah tidak bisa dimakan lagi.

"Sudah saya peringatkan. Tapi kamu masih saja keras kepala." Pria itu hendak pergi sambil menjalankan kursi rodanya.

"Aku cuma ingin mengajakmu sarapan baik-baik. Kalau memang tidak mau, setidaknya jangan membuang makanan milik orang lain." Suara Tirta terdengar bergetar menahan tangis.

Pria yang sudah hampir menjauh itu mendadak terdiam.

Ia menoleh ke belakang.

Dilihatnya Tirta masih menunduk sambil mengaduk nasi gorengnya tanpa semangat.

Entah kenapa...

Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, selain kejadian kelam itu, pria tersebut kembali merasakan sesuatu yang bernama bersalah. Dengan tegas ia memutar kursi rodanya kembali menghampiri Tirta.

"Saya belikan yang baru."

"Tidak perlu. Aku tidak mau berurusan lagi denganmu." Tolak Tirta dengan wajah yang masih cemberut.

"Saya belikan donat yang sama. Sekalian dengan es krim." Tawaran itu keluar begitu saja.

Ini bahkan pertama kalinya ia benar-benar memikirkan perasaan orang lain selain mantan kekasihnya. Tirta perlahan mendongakkan wajah. Tatapannya dipenuhi rasa tidak percaya.

Ia takut pria itu hanya sedang membohonginya. Namun wajah pria yang duduk di kursi roda itu sama sekali tidak terlihat seperti seorang penipu.

"Saya tidak bohong. Bagaimana kalau saya belikan dua kotak donat?"

"Oke, setuju." Jawab Tirta dengan wajah yang langsung berbinar. Senyum lebarnya kembali menghiasi wajah.

"Baiklah. Sekarang habiskan dulu sarapanmu. Setelah itu kita pergi membeli donat." Tirta langsung mengangguk patuh. Ia kembali duduk dengan manis sambil melanjutkan makan.

Bahkan ia masih sempat menawarkan nasi gorengnya sekali lagi. Namun pria itu hanya menggeleng pelan. Tirta pun mengerti bahwa pria tersebut memang tidak sedang lapar.

Ponsel pria itu kembali berbunyi.

Saya sudah sampai.

Pesan dari sepupunya. Pria itu hanya menghela napas panjang. Topi dan masker segera ia kenakan untuk menyembunyikan wajahnya. Entah apa yang sedang terjadi pada dirinya.

Namun hari ini menjadi pertama kalinya ia membuat sepupunya menunggu begitu lama hanya karena seorang gadis asing yang baru saja dikenalnya.

...****************...

💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman. Tr_w 💜

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!