Seorang pria bernama AZKA (27 tahun) sudah beberapa minggu mengalami koma akibat kecelakaan kerja ketika ia yang merupakan pimpinan konstruksi sedang meninjau proyek pembangunan.
Azka telah menikah dengan VISHA (24 tahun) selama 3 tahun tapi belum memiliki momongan. Meskipun begitu, hubungan pernikahan mereka masih sangat harmonis. Visha senantiasa merawat Azka di rumah sakit.
Tapi siapa sangka kalau ternyata otak Azka yang sedang koma justru menciptakan ingatan baru yang berbeda.
Dia teringat dengan SESILIA (19 tahun) yang merupakan kepala tim QC baru di kantornya. Walaupun Azka baru bertemu beberapa kali, ternyata secara tidak sadar, Azka mempunyai rasa ketertarikan dengan Sesilia.
Hal ini membuat kenangan-kenangan indah tentang hubungan Azka dan Sesilia. Sedangkan ingatan tentang Visha justru terhapuskan.
Semenjak sadar, Azka mengalami dilema antara Visha dan Sesilia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1: Rumah Tangga Azka dan Visha
Secangkir kopi hangat diletakkan dengan hati-hati di atas meja kaca. Uapnya terlihat mengepul pelan, menyatu dengan aroma udara yang masih penuh hawa mengantuk. Meskipun begitu, Visha melangkah menuju dapur, tangannya dengan cekatan memecahkan telur, mengaduk bersama irisan bawang, tak lupa sedikit garam.
Suara mendesis dari wajan menyambut, seakan tahu bahwa aktivitas ini sudah sering dilakukan oleh Visha sebagai seorang istri.
Meracik sarapan sederhana, membuatkan kopi, mengawali hari dengan perhatian yang terasa hangat. Sebuah bentuk kasih sayang meski tak pernah diminta, tapi selalu ia berikan untuk laki-laki yang kini masih berada di dalam kamar mandi.
Sudah hampir tiga tahun Visha melakukannya. Sejak ia menikah dengan Azka, pegawai kontraktor yang pindah tugas ke kota kecil di daerah, mengharuskan mereka pindah dari ibu kota.
Walaupun awalnya sulit melakukan penyesuaian, kehidupan Azka dan Visha cukup berbahagia karena mereka saling mencintai satu sama lain.
“Azka, cepat mandinya! Nanti terlambat lho. Kamu ini kebiasaan sekali kalau mandi, selalu lama,” teriak Visha dari balik pintu sambil memeriksa kelengkapan pakaian kerja suaminya.
Beberapa menit berlalu, suara pintu kamar mandi terbuka pelan. Azka muncul dengan langkah tergesa. Tubuhnya hanya dibalut handuk abu-abu melingkar di pinggang, sementara tetes-tetes air masih menuruni ujung rambut yang basah.
Pandangan mata langsung tertuju pada sosok Visha di sisi ranjang dengan tubuh membungkuk sedikit, merapikan seragam kerja yang tadi ia masih letakkan sembarangan. Gerak-geriknya tenang, seperti tak terusik oleh kemunculan Azka, tapi kehadirannya membuat udara di kamar terasa sedikit lebih padat.
“Visha, kamu lupa ya? Hari ini kan jum’at. Harusnya aku pakai kemeja batik,” ucap Azka sambil melepaskan handuk lalu mengusap rambut.
“Astaga, aku lupa. Sebentar ya,” jawab Visha terlihat sedikit panik.
Ia berjalan menuju lemari, membuka pintu yang berderit pelan, lalu menggeser sejumlah gantungan pakaian dengan ujung jarinya. Setelah beberapa detik menimbang, ia menarik keluar dua kemeja batik, masing-masing dengan motif dan warna berbeda. Tangannya terhenti sejenak, memikirkan sesuatu, seperti sedang memilih bukan sekadar pakaian, tapi kesan yang ingin ditinggalkan hari ini.
“Kamu mau pakai warna biru atau coklat?,” ujarnya setelah tidak bisa memutuskan sendiri.
“Yang mana saja lah,” sahut Azka sembari mengenakan celana panjang hitam yang sudah disiapkan Visha tadi.
Visha melihat ke arah dua kemeja batik itu, berpikir sebelum memilih, “Coklat deh,” pilihnya.
Menunggu Azka mengenakan kaos dalam, Visha lalu memberikan kemeja batik terpilih itu. Setelah Azka memakainya, Visha membantu mengancingkan kancing kemeja dengan setengah tergesa.
“Oh ya, untuk besok, kamu sudah tentukan tempatnya dimana? Kita harus segera booking lho, takut full karena weekend,” tanya Azka membahas tentang perayaan anniversary pernikahan mereka yang ketiga.
Mendadak sikap Visha berubah menjadi manja menggemaskan.
“Iya nih, aku masih bingung. Menurut kamu lebih bagus di Cemara Resto atau Dharmawangsa Dining ya?” tanyanya sambil merapikan kemeja yang sudah terkancing semua.
“Dharmawangsa Dining boleh tuh. Kalau Cemara Resto sepertinya agak kurang deh,” jawab Azka.
Visha terlihat berpikir sejenak.
“Ya sudah kalau gitu, di sana saja,” ucap Visha singkat.
***
Di dalam sebuah ruang rapat, sejumlah pegawai berkumpul. Perhatian mereka tertuju pada layar besar yang ada di depan. Seorang pria berkemeja batik coklat terlihat sedang memberi penjelasan. Ia adalah Azka yang sedang memimpin rapat.
Azka bekerja sebagai project manager di sebuah perusahaan kontraktor. Tugasnya melakukan penetapan kebijakan, aturan, pengawasan dan evaluasi terhadap progres dari setiap proyek yang dijalankan oleh perusahaan.
Begitu rapat dinyatakan usai, Azka segera bangkit dari kursi. Tanpa banyak bicara, ia melangkah cepat keluar ruangan, seakan oksigen di dalam sana terlalu berat untuk ditinggali barang sedetik lebih lama.
“Azka, tunggu,” sahut Noval, teman dekat sekaligus asistennya di kantor.
Mereka kini jalan beriringan di sebuah koridor. Noval membahas tentang ketegasan Azka yang memberikan evaluasi cukup keras ke divisi quality control.
“Tega ya kamu, pak. Kejam sekali, haha,” ucap Noval sambil menepuk bahunya.
“Saya hanya jalankan tanggung jawab, saya juga sudah memberikan kesempatan beberapa kali, tapi mereka seperti menyepelekan,” respon Azka.
Langkahnya terhenti, lalu berkata, “Jangan salahkan kalau saya ambil tindakan tegas”.
Noval memberi dukungan, “Iya, iya. Kamu benar pak”.
Untuk mengalihkan arah pembicaraan mulai terasa canggung, Noval mengganti topik lain. Ia menyinggung terkait olahraga futsal, kegiatan rutin yang biasa mereka lakukan setiap hari sabtu sore.
Matanya sedikit berbinar saat bercerita, seolah kenangan akan tawa, peluh, dan sorak di lapangan itu lebih menyenangkan untuk dibicarakan daripada apapun.
“Besok kamu jadinya beneran tidak bisa ikut futsal ya pak?” kata Noval.
“Iya, kan saya sudah bilang ke kamu. Saya besok mau rayakan ulang tahun pernikahan,” ungkap Azka.
Kini mereka sudah berada di depan ruangannya.
“Ya sudah, saya masuk dulu. Kamu segera selesaikan laporan hasil rapat tadi, biar saya juga bisa teruskan ke direksi,” lanjut Azka membuka pintu, lalu masuk ke dalam.
Noval bersiaga seperti tentara, “Siap pak, laksanakan!,” ucapnya sambil memberi hormat.
***
Malam Minggu turun dengan gemerlap lampu rumah yang memantul di kaca jendela.
Visha berdiri di depan cermin, memandang dirinya mengenakan gaun membalut tubuh dengan sempurna, anggun, lembut, dan mempesona. Riasan di wajah bukan sekadar polesan, melainkan sentuhan seni yang menghadirkan kesan elegan tanpa berlebihan. Setiap garis dan warna berpadu dengan harmoni memikat.
Tak jauh darinya, Azka sedang merapikan kemeja putih, dilapisi jas biru gelap membuat sosoknya tampak semakin tegap. Sekilas ia menoleh ke arah Visha, tanpa sadar tersenyum, sebuah kekaguman yang tak bisa ia sembunyikan.
Mereka saling bertatapan sejenak. Tak ada kata, hanya sorot mata saling mengakui. Malam ini, mereka tampak seperti sepasang cerita yang ditulis dengan penuh kehati-hatian.
“Kamu cantik sekali malam ini,” ucap Azka kepada istrinya.
Menanggapi pujian itu, Visha juga membalas, “Makasih ya, kamu juga terlihat sangat tampan, membuat aku semakin jatuh cinta,” kata Visha setengah malu-malu.
Azka melangkah pelan mendekatinya, sorot mata tak lepas dari wajah Visha yang masih dibingkai senyum. Tanpa banyak kata, ia mengangkat tangan, menyentuh lembut sisi wajah perempuan itu.
Dalam jeda yang singkat namun penuh makna, ia menunduk dan menyentuhkan bibirnya yang kemudian terasa hangat, tenang, dan penuh rasa. Sebuah ciuman tak buru-buru, seperti waktu pun sengaja melambat untuk memberi ruang pada momen itu hidup lebih lama.
“Ayo, kita berangkat sekarang,” tutup Azka.
Mereka berdua keluar dari kamar sambil bergandengan tangan.
***
Mobil yang dikendarai oleh Azka telah masuk ke halaman Dharmawangsa Dining. Salah satu restoran lokal yang cukup terkenal di sana. Tempat para pejabat, petinggi dan orang-orang kaya mengadakan pertemuan, perayaan atau hanya sekedar makan malam.
Begitu kendaraan berhenti di depan lobi yang diterangi cahaya temaram, Azka segera membuka pintu dan melangkah keluar. Suasana malam menyambut dengan kelembutan khas kota kecil yang belum sepenuhnya tidur.
Tak lama, Visha pun menyusul, menurunkan kaki perlahan dari mobil. Gaun bergerak anggun mengikuti setiap langkah. Di samping, Azka mengulurkan tangan, dan tanpa ragu Visha meraihnya. Bersama-sama, mereka berjalan memasuki restoran, seakan malam itu telah bersiap menjadi latar dari kisah mereka yang sedang berlanjut.
“Terima kasih ya,” kata Azka kepada seorang petugas valet.
Ketika mereka berdua beranjak masuk ke dalam restoran. Seorang hostess cantik membukakan pintu lalu menyambut mereka untuk dilayani.
“Maaf kak, bisa dibantu apakah sebelumnya sudah reservasi?” tanyanya dengan lembut.
Azka menoleh ka arah Visha yang memang dari awal mengurusi soal bookingan di restoran tersebut.
“Sudah, reservasi atas nama Visha Aurelia,” jawab Visha.
“Baik, tunggu ya kak. Silakan masuk dulu, biar saya tanyakan ke resepsionis sebentar,” ujarnya lagi sambil mengarahkan tangan mempersilahkan masuk.
Visha menoleh ke sekeliling, menyapu perlahan setiap sudut ruangan. Interior restoran begitu mewah, membuatnya terdiam sejenak dalam kekaguman.
Dinding-dinding berlapis marmer, ornamen elegan yang menghias langit-langit, dan sentuhan warna emas memantul indah dari cahaya lampu kristal. Semua menciptakan suasana megah, seolah ia tengah melangkah ke dalam dunia lain.
Kilau keemasan bukan hanya memantul di ruangan, tapi juga dalam sorot mata, membuat senyum kecil muncul tanpa sadar di wajahnya.
“Kamu suka tempat ini?,” kata Azka melihat istrinya berbinar.
“Iya, sangat suka. Kenapa tidak dari dulu ya kita kesini,” ujar Visha.
Memotong pembicaraan mereka, hostess tadi kembali datang.
“Mari kak, saya bantu antar,” ajaknya.
Mereka mengikuti arahan hostess tersebut hingga tiba ke sebuah meja marmer dengan dua kursi di setiap sisi. Pada bagian tengah sudah menyala lilin-lilin panjang dan besar, membuat suasana menjadi terasa sangat romantis.
Azka kemudian mendekat ke salah satu kursi, memundurkannya ke belakang, mempersilahkan Visha untuk duduk. Setelah itu, ia juga duduk di sisi seberang.
“Silakan kak, ini menunya. Apakah mau langsung pesan atau mau lihat-lihat dulu?,” tanya si hostess.
Lagi-lagi Azka melirik ke arah Visha yang lebih paham soal pesan makanan dan minuman.
“Langsung saja,” jawab Visha cepat.
“Baik kak, boleh saya catat pesanannya,” respon hostess sambil mengeluarkan sebuah tab.
***
Azka dan Visha melangkah masuk ke dalam rumah, diiringi cahaya lampu teras menyambut hangat. Pintu tertutup perlahan di belakang, mengurung keheningan malam tenang bersama mereka.
Di wajah keduanya masih terlukis senyum bukan sekadar basa-basi, melainkan pantulan dari kebahagiaan yang sulit disembunyikan. Perayaan anniversary mereka berjalan nyaris sempurna, seperti harapkan. Tak ada kejutan besar, tapi justru dalam kesederhanaan itulah keduanya merasa utuh.
Langkah mereka pelan, seperti tak ingin waktu cepat berlalu. Di antara tawa kecil dan sisa aroma parfum yang belum pudar, mereka tahu momen ini akan dikenang.
Masih berada di ruang tamu, Visha tiba-tiba menarik tangan Azka.
“Makasih ya. Ini menjadi malam terindah untuk aku,” ucapnya dilanjutkan dengan mencium bibir Azka.
Namun di tengah keheningan mesra, Azka mendadak teringat sesuatu. Sebuah janji kecil sempat tenggelam dalam riuhnya perayaan malam itu.
Ia menghela nafas pelan, menoleh sejenak ke arah Visha, lalu merogoh saku jasnya. Ingatan kembali jelas bahwa ia telah berjanji pada kedua orangtuanya untuk menelepon setelah makan malam. Bukan permintaan besar, hanya bentuk perhatian sederhana dari rumah yang tak pernah benar-benar jauh, meski jarak memisahkan.
“Ya ampun, aku hampir saja lupa. Sebentar, kita telepon mereka ya,” ujarnya kini sudah memegang handphone di tangan.
Azka menatap Visha sejenak, lalu dengan nada lembut mengisyaratkan, “Kita duduk di sana dulu deh.”
Ia mengarahkan istrinya ke sofa di ruang tengah, tempat yang selalu menjadi ruang nyaman mereka berbagi cerita.
Namun baru saja Visha menurunkan tubuh ke dudukan empuk, sesuatu di wajahnya berubah. Tatapan hangat meredup, berganti dengan sorot mata dingin dan penuh tanya. Sudut bibir yang tadi tersenyum perlahan menghilang, berganti raut menunjukkan keraguan.
Azka menangkap perubahan itu. Seketika, atmosfer di antara mereka ikut bergeser, seakan keselarasan semula tenang kini menyimpan sesuatu yang tak terucap.
“Maaf aku baru telepon, aku baru pulang nih, sama Visha,” kata Azka mengawali obrolan video call bersama orangtuanya.
Azka mengarahkan kamera ke arah Visha.
“Halo, Pa, Ma,” sapa Visha sambil memberikan senyum palsu.
“Hai, selamat ya untuk ulang tahun pernikahan kalian,” ucap orangtua Azka kompak memberikan selamat.
Benar saja, hal yang ditakutkan Visha akhirnya terjadi.
“Jadi gimana, Azka? Kamu sudah lakukan yang mama bilang? Kata temen mama mujarab lho, sudah banyak bukti berhasilnya,” tanya Mama.
Suasana mulai berubah drastis. Tak ada lagi tawa kecil, bahkan kata-kata pun menjadi takut untuk melangkah keluar dari bibir.
Azka menyadari. Ia bisa merasakan situasi menjadi lebih kaku, seperti dinding perlahan menjauhkan mereka satu sama lain. Dengan nada dibuat ringan dan senyum sedikit dipaksakan, ia mencoba mencairkan suasana.
“Iya ma, sudah kok, mudah-mudahan bisa segera ya,” jawab Azka yang sebenarnya berbohong.
“Aamiin ya Allah, Aamiin ya rabbal alamin. Mama selalu bantu doa untuk kalian supaya bisa segera dapat momongan,” ujar Mama.
Tidak mau kalah, Papa juga ikut mendoakan.
“Papa juga doakan kalian. Papa benar-benar sudah tidak sabar ingin menggendong cucu,” ungkap Papa.
Usai video call berakhir, layar handphone menghitam, begitu pula sorot mata Visha. Senyumnya menghilang, digantikan rasa sendu berat tak tersampaikan. Azka meletakkan handphone di meja, pelan tanpa suara, lalu menyandarkan tubuh ke sandaran sofa melihat Visha yang kini melamun dengan tatapan kosong.
Suasana tadi yang dipenuhi tawa dan obrolan hangat kini terasa sunyi. Kebahagiaan yang sempat menyelimuti hati selama perayaan, seakan menguap begitu saja, terbawa oleh satu kalimat sederhana dari seberang layar.
Tiga tahun pernikahan, mereka masih berdua. Tak ada suara tangis bayi ataupun langkah kecil merangkak berjalan di lorong rumah. Visha mencoba tersenyum, tapi terasa lelah. Di balik matanya, ada keresahan belum terjawab. Semakin ia mencoba menepis, makin jelas luka itu menampakkan diri.
Azka berusaha untuk menghibur istrinya.
“Kamu tidak perlu sedih, percaya saja jika Allah punya rencana. Ini pasti yang terbaik untuk kita,” ujarnya sambil mengusap kepala Visha.
“Iya tapi mau sampai kapan?” tanya Visha.
Diam sebentar, Azka coba mengarahkan obrolan dengan candaan.
“Daripada kamu seperti ini, bagaimana kalau kita ikhtiar malam ini?” kata Azka menggoda.
Sempat tidak paham, Visha langsung merespon dengan geli setelah menyadari maksud suaminya. “Ah kamu ini,” kata Visha sambil memukul pelan dan tersenyum malu.