SINOPSIS:
"Lima ratus tahun di dunia kultivasi mengajarkanku satu hal: kebaikan adalah kelemahan, dan pengkhianatan hanya bisa dibayar dengan darah."
Ethan Mahendra adalah seorang pemuda genius yang hidupnya dihancurkan dalam semalam oleh keserakahan Keluarga Wijaya—konglomerat penguasa kota. Dianiaya hingga sekarat di sebuah gang gelap, jiwanya justru terlempar ke Alam Kultivasi Bawah. Di sana, ia merangkak dari dasar lumpur, bertarung melintasi lautan darah, hingga berhasil menyentuh puncak tertinggi sebagai kultivator "Alam Kenaikan Abadi Bintang 9". Namun, tepat sebelum ia melangkah ke Alam Keabadian, sembilan sekte besar mengkhianatinya.
Alih-alih binasa, ledakan jiwanya justru melempar Ethan kembali ke masa lalu—masuk ke dalam tubuh mortal aslinya di Bumi, tepat beberapa menit setelah ia dipukuli hingga hampir mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Aditiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Tak Diundang dari Gerbang Hitam
Bab 22: Tamu Tak Diundang dari Gerbang Hitam
Langkah kaki bergema di jalan-jalan batu kota kuno yang baru saja terbangun.
Kabut tipis yang menyelimuti bangunan perlahan tersibak oleh aura puluhan kultivator yang memasuki alun-alun utama. Mereka mengenakan jubah hitam dengan garis perak di bagian lengan. Lambang sebuah gerbang retak terukir di dada mereka, memancarkan qi yang dingin dan menekan.
Di barisan paling depan berdiri seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun. Rambutnya diikat rapi ke belakang, sementara bekas luka tipis membelah pelipis kirinya hingga ke rahang. Tatapannya tajam seperti pisau.
Ia bukan orang yang suka berbicara panjang.
Namun ketika matanya jatuh pada Ethan yang masih menggenggam inti kristal biru, sudut bibirnya sedikit terangkat.
"Jadi... kau yang berhasil membuka warisan."
Suara pria itu tenang, tetapi mengandung tekanan yang membuat udara terasa lebih berat.
Ethan tidak menjawab.
Ia justru memperhatikan susunan barisan lawan.
Empat orang berada di Alam Pengumpulan Qi Bintang 8–9.
Delapan orang di Bintang 5–7.
Sisanya berada pada tahap lebih rendah, tetapi masing-masing membawa artefak khusus yang dirancang untuk membentuk formasi.
Yang paling berbahaya justru pria di depan.
Alam Pendirian Fondasi Bintang 2.
Masih di bawah kekuatan Ethan pada kehidupan sebelumnya.
Namun...
Dengan tubuhnya sekarang, kemenangan sama sekali bukan sesuatu yang pasti.
Di belakang Ethan, Lina tanpa sadar mengepalkan tangan.
"Siapa mereka?"
Pria tua berjubah abu menarik napas panjang.
"Divisi Laut Gerbang Hitam..."
"Mereka tidak pernah bergerak kecuali demi artefak kuno."
Wajahnya menjadi semakin suram.
"Kalau mereka muncul sendiri, itu buruk."
"Tapi kalau pemimpin mereka datang..."
"...berarti warisan ini jauh lebih penting daripada yang kita bayangkan."
Pria berbekas luka melangkah maju.
Namanya adalah Gao Ren.
Salah satu Komandan Divisi Laut Organisasi Gerbang Hitam.
"Aku akan memberimu satu kesempatan."
Ia mengangkat satu tangan.
"Serahkan kristal itu."
"Kau boleh pergi."
Lina hampir mempercayainya.
Namun Ethan hanya memandangnya datar.
"Kalau aku menyerahkannya..."
"Aku tetap akan dibunuh."
Gao Ren tersenyum tipis.
"Kau lebih pintar dari kebanyakan orang."
"Itu benar."
Jawaban yang terlalu jujur justru membuat suasana semakin dingin.
Di sisi lain alun-alun...
Pria bertopeng putih yang sebelumnya hanya mengamati dari kejauhan kini masih berdiri di atas atap bangunan tua bersama tiga bawahannya.
Mereka belum ikut campur.
Wanita bertopeng di sampingnya bertanya lirih.
"Komandan."
"Apakah kita membantu?"
Pria itu menggeleng.
"Belum."
"Mangsa yang terluka lebih mudah dikendalikan."
Tatapannya tidak pernah lepas dari Ethan.
"Aku ingin melihat..."
"...seberapa berbahaya anak itu."
Ethan perlahan menyimpan kristal biru ke dalam cincin penyimpanannya.
Gerakan sederhana itu membuat mata Gao Ren berubah dingin.
"Itu jawabanmu?"
Ethan mengangguk pelan.
"Aku tidak suka dipaksa."
Kalimat itu diucapkan tanpa emosi.
Namun Gao Ren justru tertawa kecil.
"Sudah lama..."
"...tak ada junior yang berani berbicara seperti itu kepadaku."
Ia mengangkat tangan kanan.
"Formasi."
Serentak dua belas orang melangkah.
Mereka melemparkan cakram logam ke udara.
Dua belas cahaya merah membentuk kubah raksasa yang menutupi seluruh alun-alun.
Pria tua berjubah abu langsung memucat.
"Formasi Pengunci Langit..."
"Kita tidak bisa keluar."
Lina mencoba menyerang dinding cahaya.
Dentang!
Pedangnya terpental.
Formasi itu bahkan menyerap sebagian qi miliknya.
Ethan tidak bergerak.
Sebaliknya, ia mengamati setiap simpul formasi.
"Dua belas jangkar."
"Sumber energi berada pada empat titik utama."
"Formasi cukup kuat..."
"Tapi dibuat terburu-buru."
Sudut bibirnya nyaris tak terlihat bergerak.
"Ada celah."
Gao Ren menangkap perubahan kecil itu.
"Jangan bilang..."
"Kau sedang mencari kelemahan formasi kami?"
Ethan menjawab tenang.
"Sudah menemukannya."
Tawa para anggota Gerbang Hitam memenuhi alun-alun.
Namun Gao Ren tidak ikut tertawa.
Instingnya justru memberi peringatan.
Pemuda itu...
Tidak pernah berbicara tanpa dasar.
Pertarungan akhirnya pecah.
Empat kultivator Pengumpulan Qi menyerbu bersamaan.
Tidak ada yang menyerang satu per satu.
Mereka menyerang dari empat arah berbeda.
Koordinasi mereka hampir sempurna.
Pedang.
Rantai.
Tombak.
Belati.
Empat senjata tiba bersamaan.
Ethan melangkah mundur setengah langkah.
Pedang meleset beberapa sentimeter.
Ia memutar tubuh.
Belati melewati pundaknya.
Namun rantai baja berhasil melilit pergelangan kirinya.
Pemilik rantai tersenyum.
"Dapat!"
Belum sempat menarik...
Ethan justru maju.
Gerakan yang sama sekali tidak diduga.
Rantai menjadi kendur.
Siku Ethan menghantam dada lawan.
BRAK!
Pria itu terpental sambil memuntahkan darah.
Tetapi pada saat bersamaan...
Tombak menusuk punggung Ethan.
Darah kembali mengalir.
Ia memaksa tubuhnya berputar.
Ujung tombak hanya menusuk dangkal.
Meski demikian, napas Ethan mulai terasa berat.
Tubuh ini memang belum mampu menanggung pertarungan panjang melawan banyak lawan.
Lina menggertakkan gigi.
"Aku harus membantu!"
Namun baru dua langkah...
Dua anggota Gerbang Hitam menghadangnya.
Pertarungan mereka pun pecah.
Lina mulai menunjukkan perkembangan yang selama ini tersembunyi.
Ia tidak lagi bertarung hanya mengandalkan bakat.
Pengalaman beberapa hari bersama Ethan membuat cara berpikirnya berubah.
Ia mulai membaca ritme lawan.
Memancing kesalahan.
Memanfaatkan lingkungan.
Meski masih kesulitan...
Ia tidak lagi berada dalam posisi yang sepenuhnya tertekan.
Pria tua berjubah abu memperhatikannya sambil tersenyum tipis.
"Gadis itu berkembang cepat..."
Di tengah kekacauan...
Ethan tiba-tiba menghentikan semua serangan.
Ia berdiri diam.
Empat lawannya ikut berhenti.
"Akhirnya menyerah?"
tanya Gao Ren.
Ethan menggeleng.
"Aku hanya selesai menghitung."
"Menghitung apa?"
"Hitungan napas."
Semua orang mengernyit.
Ethan menunjuk salah satu cakram logam di langit.
"Lima."
"Lima detik lagi..."
"...formasi kalian akan mulai tidak stabil."
Gao Ren langsung mendongak.
Mustahil.
Tidak ada yang salah.
Empat...
Tiga...
Dua...
Satu...
TIBA-TIBA!
Salah satu cakram bergetar hebat.
Retakan kecil muncul di permukaannya.
Mata Gao Ren membelalak.
"Bagaimana mungkin?"
Ethan sudah mengetahui jawabannya sejak awal.
Saat Penjaga Batu runtuh...
Gelombang qi kota mengubah aliran energi bawah tanah.
Formasi Gerbang Hitam justru dipasang tepat di atas jalur qi yang kini berlawanan arah.
Bukan kesalahan besar.
Namun cukup untuk menciptakan ketidakstabilan kecil.
Dan Ethan hanya menunggu waktunya.
BOOOM!
Satu titik formasi meledak.
Kubah cahaya berguncang.
Seluruh anggota Gerbang Hitam kehilangan sinkronisasi sesaat.
"Itu sekarang!"
teriak pria tua berjubah abu.
Lina segera bergerak.
Ia menyerang salah satu penjaga cakram.
Pedangnya menghantam cakram logam.
CRAAK!
Satu simpul hancur.
Dua belas...
Menjadi sebelas.
Retakan kubah semakin besar.
Wajah Gao Ren akhirnya berubah muram.
"Anak ini..."
"...terlalu berbahaya."
Ia tidak lagi menahan diri.
Qi Alam Pendirian Fondasi meledak sepenuhnya.
Tekanan mengerikan menyapu seluruh alun-alun.
Bahkan Ethan terdorong beberapa langkah.
Perbedaan alam kultivasi mulai menunjukkan dampaknya.
Gao Ren mencabut pedang hitam dari punggungnya.
Pedang itu dipenuhi ukiran naga yang terbelenggu rantai.
"Pedang Pemutus Jiwa."
Aura gelap memenuhi udara.
Pria tua berjubah abu langsung pucat.
"Itu artefak tingkat bumi..."
"Ethan dalam bahaya."
Namun Ethan tidak panik.
Sebaliknya...
Tatapannya justru beralih ke pintu istana yang baru terbuka.
Sejak awal...
Ia merasa ada sesuatu yang mengawasinya dari sana.
Bukan manusia.
Bukan roh.
Melainkan...
Kesadaran kuno.
Dan kini...
Pintu istana perlahan mulai terbuka sendiri.
Tidak ada yang menyentuhnya.
Engsel batu bergeser perlahan.
GRRRR...
Suara berat menggema ke seluruh kota.
Semua orang, termasuk Gao Ren, refleks menoleh.
Dari balik kegelapan lorong...
Muncul cahaya biru redup.
Lalu...
Suara langkah kaki.
Bukan satu.
Dua.
Sepuluh.
Puluhan.
Sosok-sosok mengenakan zirah kuno perlahan keluar dari dalam istana.
Mata mereka kosong.
Namun rongga mata memancarkan api biru.
Masing-masing membawa tombak dan perisai yang dipenuhi rune kuno.
Pria tua berjubah abu kehilangan warna wajahnya.
"Mustahil..."
"Pasukan Pengawal Raja..."
"Mereka belum musnah?"
Di antara para prajurit itu...
Seorang jenderal setinggi hampir tiga meter melangkah keluar.
Helm naganya retak di bagian depan.
Di tangan kanannya tergenggam sebuah tombak hitam sepanjang tiga meter.
Tatapannya perlahan menyapu seluruh alun-alun.
Lalu berhenti tepat pada Ethan.
Dan untuk pertama kalinya sejak ribuan tahun...
Jenderal itu berlutut dengan satu kaki.
Suara beratnya bergema memenuhi kota.
"Yang Mulia..."
"...akhirnya Anda datang."
Keheningan langsung menyelimuti seluruh medan pertempuran.
Bahkan Gao Ren membeku di tempat.
Karena jelas...
Jenderal kuno itu tidak sedang berbicara kepada siapa pun selain Ethan.