Namanya Anya Dia baru pindah ke rumah kontrakan lama di riau. Murah banget sewanya. Cuma ada 1 yang aneh: cermin gede di kamar.
Malam pertama, Anya iseng selfie depan cermin jam 12 malam. Pas diliat hasilnya... di foto dia senyum. Tapi di pantulan cermin, dia nunduk.
Dia kira cuma efek cahaya. Besoknya dia dandan buat kerja. Ngaca biasa.
Tiba-tiba lampu kedip. Pas nyala lagi, di cermin dia udah nunduk duluan. Padahal Sari masih natap cermin....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26
Angin malam berembus masuk, membawa aroma anyir dan besi berkarat. Wulan kembali membekap mulutnya. Tari mencengkeram lengan Bu Mimi, sementara Serra merangkul Anya semakin erat. Di leher Anya, memar itu terasa kian panas dan berdenyut-denyut.
Tasbih di tangan Tio mulai berputar cepat seiring bibirnya yang melafalkan doa. "Subhanallah... subhanallah..." lirihnya.
Bu Mimi menarik napas dalam-dalam. Matanya menatap tajam ke dalam kegelapan di luar pintu. "Dia sudah keluar," katanya pelan. "Ya Allah...! Tampaknya dia akan semakin mengincar Anya."
Duk!
Sesuatu yang berat jatuh di pekarangan luar. Lalu terdengar suara langkah kaki. Sret... sret... Pelan, namun jelas terdengar semakin mendekat ke arah pintu belakang yang terbuka itu.
Bu Mimi mematikan senter. "Sekarang kembali ke ruang tamu. Duduk melingkar, baca doa apa saja yang kalian bisa!"
Mereka berlari kecil kembali ke ruang tamu dengan jantung, rasanya mau copot. Lampu dimatikan kembali. Klek. Suasana menjadi gelap, hanya menyisakan cahaya temaram dari layar ponsel Tio yang memutar murottal.
Tio langsung bergerak cepat memeriksa pintu depan, memastikan pintu dan jendela terkunci rapat. Krek. Krek. Tari buru-buru menutup gorden rapat-rapat hingga tidak ada cahaya sedikit pun masuk dari luar. Wulan duduk menyudut di pojok sofa sambil memeluk lututnya, matanya tak lepas dari pintu. Sementara Serra masih merangkul Anya, mengusap punggung tangannya dengan jempol untuk menenangkannya, meskipun tangannya sendiri terasa sedingin es.
Bu Mimi menarik tikar dan menggelarnya di tengah ruang tamu. "Duduk di sini, saling mendekat. Jangan berpisah!"
Lima orang kini duduk berdesakan di atas tikar dengan lutut yang saling bersentuhan. Bu Mimi menuangkan air putih dari galon ke dalam gelas kecil. "Minum ini. Bismillah."
Suasana menjadi hening. Hanya ada lantunan murottal Merdu. Tapi entah kenapa justru membuat bulu kuduk meremang.
"Nah," Bu Mimi mulai bicara, menatap mereka satu per satu. "Sekarang cerita dari awal. Bagaimana bisa makhluk itu ada di kantor? Padahal ustadz sudah mengurungnya."
Serra pun mulai menceritakan kejadian mencekam itu. "Tadi di kantor, Anya tiba-tiba pingsan, lalu tiba-tiba muncul garis di lehernya" terang Serra, masih dibayangi ketakutan. "Lalu tiba-tiba dia muncul di koridor sambil menatap kami."
Bu Mimi terduduk lemas. Tangannya yang sempat memegang golok kini tampak gemetar. "Astaghfirullah...! Kenapa bisa jadi begini?" bisiknya lirih, matanya menerawang menatap ke arah kamar Anya yang tertutup rapat.
Wulan langsung bergeser duduk mendekati Bu Mimi. "Bu...? Sekarang kita harus gimana.?"
Bu Mimi menarik napas panjang. Bau gosong mendadak masuk melalui celah-celah genteng. "Ibu juga bingung, Nak...! Yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah meminta perlindungan kepada Allah."
Tes... tes...
Suara air kembali terdengar. Jelas-jelas semua keran sudah dimatikan. Kelimanya langsung menoleh serempak ke arah dapur yang gelap gulita.
Trak!
Kali ini terdengar suara kursi yang diseret di lantai dapur. Pelan.
"Jangan menyahut!" tegas Bu Mimi. "Tutup mata kalian, baca doa dalam hati!"
Tio buru-buru menaikkan volume murottal di ponselnya. Sementara itu, memar di leher Anya berdenyut semakin hebat, terasa panas dan menyakitkan. Membuat gadis itu merintih kecil. Serra langsung menepuk pipi Anya pelan. "Nya, lihat aku. Jangan merem. Dan jangan didengarkan!"
Kali ini ketukan itu bukan dari pintu depan, melainkan dari dalam kamar mandi kos yang letaknya di ujung lorong. Padahal, jelas-jelas pintu sudah mereka kunci rapat.
Tiba-tiba, terdengar suara kran air dibuka dengan volume penuh. Sangat kencang. Disusul oleh suara benturan keras dan kaca yang pecah berantakan. Prak!
Wulan langsung menjerit tertahan, sementara air mata Tari mulai tumpah karena ketakutan. Bu Mimi bergegas berdiri. Wajahnya tidak lagi menyiratkan rasa takut, melainkan kemarahan yang meluap. Ia menyambar gelas berisi air putih, lalu memercikkannya kuat-kuat ke empat penjuru ruang tamu.
"Keluar kau!" bentak Bu Mimi lantang. "Jangan berani-berani kau ganggu anak ini!"
Seketika itu juga, angin di luar mendadak berhenti. Murottal dari ponsel Tio masih melantun, tetapi pada kaca jendela yang tertutup gorden, tiba-tiba muncul sebuah tapak tangan basah. Lima jari berukuran kecil menempel erat dari luar kaca, perlahan-lahan merosot turun. Di tengah bekas telapak, terbentuk sebuah tulisan dari aliran air: AKU.
Semua mata terhipnotis menatap gorden tersebut. Tapak tangan kecil itu berhenti tepat di tengah kaca, sementara huruf-huruf yang membentuk kata 'AKU' perlahan meleleh ke bawah menyerupai tetesan air mata.
"Nya..." bisik Serra dengan suara pecah. "Jangan dilihat."
Prak!
Suara hantaman keras terdengar dari dalam kamar mandi, seperti ada sesuatu yang menendang pintu dengan brutal. Bu Mimi langsung melangkah maju, mengangkat gelas terakhir setinggi dada. "Bismillah!" Ia menyiramkan air ke arah lorong.
Belum sempat air itu menyentuh lantai, pintu kamar mandi yang terkunci itu berbunyi krek... lalu terbuka dengan sendirinya.
Kegelapan pekat langsung menyeruak dari dalam, membawa kepulan uap dingin dan bau gosong yang bercampur anyir yang sangat menyengat. Di dinding bagian dalam kamar mandi, tampak tulisan baru berwarna merah menyala: AKU DI SINI.
Wulan yang tak kuat menahan bau busuk itu langsung muntah di lantai. Tari berteriak histeris, sementara Tio terus merapalkan Ayat Kursi sekuat tenaga dengan suara yang bergetar. Bu Mimi segera menarik Anya ke dalam pelukannya.
"Dengar sini! Anya bukan milikmu!" bentak Bu Mimi, suaranya menggelegar mengalahkan kesunyian malam. Buku-buku jari Bu Mimi memutih karena menggenggam gelas kosong dengan sangat erat.
Sreeeet...
Uap dingin dari dalam kamar mandi semakin tebal, merangkak pelan memenuhi lorong hingga masuk ke ruang tamu. Hawa sedingin es langsung menusuk tulang. Tulisan merah di dinding kamar mandi mulai meleleh, meneteskan cairan kental berwarna merah tua.
Serra menggenggam tangan Anya kuat-kuat hingga terasa sakit. "Jangan lihat, Nya. Pejamkan matamu. Baca doa apa saja yang kamu hafal," bisik Serra tepat di telinga Anya.
Namun, semua sudah terlambat. Di tengah kegelapan lorong kamar mandi, sesuatu mulai bergerak. Sreeeet... sreeeet... Suara langkah kaki basah terdengar diseret dengan lambat.
atau Anya kerja sambil kuliah thor?