NovelToon NovelToon
Mama Kembali: Kehidupan Kedua

Mama Kembali: Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Wanita perkasa / Mengubah Takdir
Popularitas:21k
Nilai: 5
Nama Author: Tere Nusa

Tio Yong Ing menghabiskan seluruh hidupnya untuk keluarga.

Ia bekerja tanpa henti, menelan setiap hinaan, dan menyerahkan setiap rupiah yang ia punya — semua demi anak-anaknya. Hasilnya? Di usia 70 tahun, ia terbaring sendirian di panti jompo. Suaminya sudah tiada. Keenam anaknya tak pernah menjenguk. Keponakannya bunuh diri karena tak ada yang melindunginya.

Lalu Yong Ing meninggal.

Dan terbangun lagi — di usia 50 tahun, dengan semua ingatan tentang masa depan yang belum terjadi.

Kali ini, ia tahu siapa yang akan berkhianat. Siapa yang akan menderita. Dan kapan semuanya akan runtuh.

Kali ini, Ibu tidak akan mengalah lagi.

Langkah pertama? Merampas kembali seluruh keuangan keluarga. Langkah kedua? Menyelamatkan menantunya yang sedang sekarat melahirkan — karena di kehidupan sebelumnya, ia terlambat. Langkah ketiga? Membongkar pengkhianatan suami saudara iparnya sebelum terlambat.

Dan itu baru tiga hari pertama.

Di keluarga besar Tionghoa-Indonesia di Semarang, di mana nama keluarga adalah segalanya dan rahasia bisa membunuh — Yong Ing akan membangun kembali segalanya dari nol. Dengan sandal jepit di tangan kanan dan buku tabungan di tangan kiri, ia akan mengubah keluarganya dari pedagang kecil di Pecinan menjadi nama yang disegani di seluruh kota.

Tapi mengubah nasib enam anak yang sudah dewasa ternyata lebih sulit dari yang ia bayangkan. Terutama ketika mereka semua mulai curiga: *sejak kapan Mama jadi setajam ini?*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 014: Mengusir Rudy Zhou

"Kalau begitu," katanya pelan, "kita harus cepat."

Margaret memang ingin cepat mengurus Angela.

Tetapi sebelum ia sempat bergerak ke keluarga Png, bahaya lain datang sendiri ke pintu rumah Lim.

Siang itu, Jason pulang lebih awal dari bengkel bersama seorang laki-laki kurus berwajah licin. Laki-laki itu memakai kemeja bermotif terlalu ramai, rambutnya disisir dengan minyak berlebihan, dan senyumnya mudah sekali keluar.

"Ma!" Jason berseru dari ruang depan. "Temanku mampir. Ini Rudy Zhou."

Margaret yang sedang memotong bawang di dapur berhenti.

Pisau di tangannya menekan talenan.

Rudy Zhou.

Nama itu seperti bau busuk dari kehidupan lama.

Dalam mimpi panjangnya, laki-laki inilah yang menepuk bahu Jason, bicara soal peluang besar di luar kota, lalu membujuknya memakai uang titipan pelanggan bengkel sebagai modal. Jason yang bodoh dan ingin cepat berhasil ikut. Uang hilang. Pekerjaan hilang. Utang datang. Rumah ikut terseret.

Hari ini, Rudy Zhou berdiri di ruang depan sambil tersenyum seperti orang membawa rezeki.

"Ci Margaret, saya sering dengar soal Mama Jason," katanya manis. "Katanya Mama paling hebat se-Perumahan Bukit Indah."

Margaret menatapnya dari pintu dapur.

Jason tampak bangga. "Dia mau ajak aku lihat peluang usaha, Ma. Katanya ada proyek spare part di Surabaya."

Daniel, yang sedang memperbaiki kipas angin di ruang tengah, mengangkat kepala.

Margaret tersenyum.

Senyum itu membuat Daniel langsung merasa tidak enak.

"Peluang usaha?" tanya Margaret.

Rudy Zhou cepat mengangguk. "Iya, Ci. Anak muda seperti Jason harus berani. Kalau cuma kerja bengkel, kapan kaya?"

"Benar juga."

Jason terkejut. "Mama setuju?"

"Setuju bahwa anak muda harus berani." Margaret meletakkan pisau, mencuci tangan, lalu menatap Daniel. "Papa, jaga tamu sebentar."

Daniel memegang obeng, bingung. "Kamu mau ke mana?"

"Ganti baju."

Sepuluh menit kemudian, Margaret keluar dari kamar.

Ruang tengah langsung sunyi.

Ia memakai baju kebaya baru warna hijau tua yang belum pernah dipakai sejak dibeli. Wajahnya diberi bedak agak terlalu tebal. Bibirnya merah. Rambut setengah putihnya disisir rapi dan diberi jepit mengilap milik Elisa.

Jason melongo.

Daniel menjatuhkan obeng.

Rudy Zhou berkedip cepat, senyumnya perlahan membeku.

Margaret berdiri di dekat cermin ruang tengah, memiringkan wajah, lalu bertanya dengan suara manis yang membuat Jason merinding.

"Aku cantik tidak?"

Tidak ada yang menjawab.

Margaret menoleh pada Rudy Zhou.

"Rudy Zhou, menurutmu aku cantik?"

Laki-laki itu tertawa gugup. "Ci Margaret... tentu saja. Untuk usia Ci..."

"Untuk usia aku?"

"Maksud saya, Ci sangat segar."

Daniel berdiri. "Maggie, kamu kenapa?"

Margaret mengabaikannya. Ia berjalan mendekati Rudy Zhou dengan langkah pelan. Rudy Zhou yang tadi duduk santai sekarang menegakkan punggung.

"Kamu bilang Jason harus berani," kata Margaret. "Aku juga suka laki-laki berani."

Jason mengeluarkan suara seperti tersedak.

"Ma!"

Margaret mengambil gelas dari meja. "Minum dulu, Rudy Zhou. Tamu jangan malu-malu."

"Tidak usah, Ci. Saya sudah minum."

"Aduh, jangan begitu. Kamu datang ke rumahku, masa tidak mau minum dari tanganku?"

Daniel menatap gelas itu seperti gelas tersebut musuh keluarga.

"Margaret."

Nada suaranya berubah.

Margaret justru tersenyum lebih lebar. Ia duduk terlalu dekat dengan Rudy Zhou, lalu mengipasi dirinya dengan kipas bambu.

"Panas, ya. Aku tadi masak di dapur. Wangi bawang masih nempel. Atau..." Ia mengangkat sedikit lengannya, masih dalam batas sopan tetapi cukup membuat semua laki-laki di ruangan itu membeku. "Mau cium wangi ketiakku? Katanya kalau perempuan rajin masak, wanginya beda."

Rudy Zhou pucat.

Jason melompat berdiri. "Ma, cukup! Aku mau muntah!"

Daniel benar-benar maju.

"Kamu!" Ia menunjuk Rudy Zhou. "Keluar."

Rudy Zhou berdiri terburu-buru. "Ko Daniel, salah paham. Saya tidak..."

Daniel mendorong bahunya.

Tidak terlalu keras, tetapi cukup membuat Rudy Zhou mundur. Jason, yang sudah jijik setengah mati, ikut menarik lengan temannya.

"Keluar, keluar! Kamu jangan dekat-dekat Mama-ku!"

"Aku tidak dekat! Dia yang..."

Jason menatapnya garang.

"Mau bilang apa?"

Rudy Zhou menelan kalimatnya.

Margaret masih duduk manis di kursi, mengipasi wajah.

"Rudy Zhou," katanya lembut, "lain kali kalau mau ajak anakku cari uang, ajak aku juga. Aku suka laki-laki yang punya proyek besar."

Rudy Zhou hampir tersandung sandal di teras.

"Tidak, Ci. Tidak perlu. Saya ingat ada urusan."

Ia kabur begitu cepat sampai pintu pagar berderit.

Jason berdiri di teras, wajahnya hijau. "Aku tidak akan pernah berteman dengan orang yang Mama goda. Tidak akan. Sampai mati pun tidak."

"Bagus," kata Margaret.

Daniel berbalik menatap istrinya.

Matanya panas.

"Kamu sengaja?"

Margaret berdiri, merapikan kebaya, lalu masuk kamar tanpa menjawab.

Malamnya, setelah rumah mulai tenang, Daniel masih duduk dengan wajah masam. Ia tidak merokok, tetapi jari-jarinya tampak mencari sesuatu.

Margaret masuk membawa baskom kecil berisi air hangat untuk mencuci wajah.

"Masih marah?"

"Kamu hampir membuatku memukul orang di depan anak."

"Hampir?"

"Aku sudah mendorongnya."

"Itu belum memukul."

Daniel menatapnya kesal.

Margaret akhirnya duduk. "Rudy Zhou bukan teman baik. Dia akan membuat Jason kehilangan pekerjaan, uang, dan harga diri. Aku harus membuat Jason jijik sebelum dia percaya."

Daniel terdiam.

"Itu bagian dari mimpimu?"

Margaret mengangguk.

Kemarahan di wajah Daniel turun perlahan, diganti sesuatu yang lebih rumit. Cemburu, lega, malu, dan kagum bercampur menjadi satu.

"Lain kali," katanya pelan, "kalau mau pura-pura menggoda laki-laki, beri tahu aku dulu."

"Kalau kuberi tahu, wajahmu tidak akan asli."

Daniel membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Di luar kamar, Jason berteriak dari ruang tengah, "Ma! Tolong jangan pakai kebaya itu lagi kalau ada temanku!"

Margaret dan Daniel saling menatap.

Untuk pertama kalinya setelah hari-hari penuh darah, uang, dan tangisan, Daniel tertawa.

Keesokan malamnya, Margaret memasak ayam.

Dua paha ayam terbesar ia ambil lebih dulu. Satu ia letakkan di mangkuk Daniel. Satu lagi di mangkuknya sendiri.

Ryan, cucu Adrian yang sudah cukup besar untuk protes tetapi belum cukup pintar untuk membaca suasana, langsung cemberut.

"Ama, aku mau paha ayam."

Vanessa membeku, takut anaknya kena semprot.

Margaret menggigit ayamnya dengan tenang.

"Di rumah ini, Papa dan Mama makan dulu. Yang tidak setuju, pintu di sana."

Ryan menatap pintu, lalu menatap paha ayam di mangkuk Ama-nya.

Matanya berkaca-kaca.

Wajah Vanessa menghitam seperti dasar wajan.

1
🌸nofa🌸
keren banget kak, nambah pengetahuan tentang pengelolaan keuangan keluarga. makasih dah rutin update🙏
Fauziah Daud
mantap.. trusemangattt
Fauziah Daud
karen
Ida Kurniasari
lanjut thor😍
Dewiendahsetiowati
crazy up thor
Dewiendahsetiowati
wah Margaret asetnya sudah berkembang banyak
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
ini waktu up nya ngga salah liat kan ya/Shy/
Dewiendahsetiowati
mantab Margaret
Dewiendahsetiowati
belum mulai sudah tekor duluan,tapi tetap semangat Jason
Dewiendahsetiowati
Jason mulai bangkit lagi bersama Marco dan Toby
Dewiendahsetiowati
Margaret suka bener deh ngomongya🤣🤣
Dewiendahsetiowati
kasihan Jason
Dewiendahsetiowati
Ama the best deh aktingnya,Jason jadi bodyguard jadi tenaganya kayak Hulk dibutuhkan.Vanesa dan Margaret mulutnya bon cabe level 100.kelyarga kocak dan kompak🤣🤣
Dewiendahsetiowati
Oscar bikin ngakak 🤣🤣
Dewiendahsetiowati
ada main nih sama kakak iparnya
Dewiendahsetiowati
semua sudah berjalan kearah yang benar tinggal buang benalu yang ada dirumah👍👍
Dewiendahsetiowati
othornya taruh bawangnya kebanyakan,nyesek baca part Sophie😭😭😭
Dewiendahsetiowati
bagus Margaret tegas sama orang2 toxic
Dewiendahsetiowati
hadir thor
cinnamon
kapan up nya thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!