~
Melani, seorang bidan muda yang berdedikasi, harus menelan pil pahit akibat keteguhan prinsipnya. Karena berani menolak lamaran untuk menjadi istri siri dari pejabat Dinas Kesehatan yang berkuasa, ia "dibuang" ke sebuah desa paling terpencil dan terperosok yang nyaris terisolasi dari peradaban.
~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 12
***
Angin siang berembun menyingkap tirai kain di pintu Pustu. Setelah kelompok anak-anak selesai menyimak cerita, giliran para ibu desa yang melangkah masuk satu per satu. Melani telah menyiapkan lembaran buku catatan medis sederhana di atas meja kayunya, siap memulai sesi pemeriksaan kesehatan ibu dan anak.
Namun, makin lama Melani memeriksa fisik para pasien, dadanya makin bergemuruh cemas. Naluri kebidanannya menyalakan sinyal bahaya yang amat besar.
Dari lima belas ibu hamil yang berkumpul di ruang tunggu Pustu hari itu, hampir separuhnya adalah gadis-gadis belia yang usianya baru menginjak belasan tahun—bahkan ada yang baru berusia empat belas tahun dengan perut membuncit besar. Tak hanya itu, Melani menemukan banyak ibu muda yang sudah memiliki tiga hingga empat anak dengan jarak kehamilan yang sangat rapat, hanya berselisih belasan bulan.
"Bu Melati..." panggil Melani lembut pada seorang ibu muda yang duduk gemetar di depannya. Wajah Melati tampak pucat, dengan lingkaran hitam pekat di bawah matanya. "Usia kandungan Ibu sudah delapan bulan, tapi berat badan Ibu sangat kurang. Ini kehamilan yang ke berapa, Bu?"
Melati menunduk, meremas kain sarungnya. "Ini... yang keempat, Bidan Melani. Anak pertama saya baru umur empat tahun."
Melani menahan napasnya, jemari lentiknya bergetar pelan saat mencatat. "Empat tahun empat anak... Tubuh Ibu belum sempat pulih dari persalinan sebelumnya. Ini sangat berisiko memicu pendarahan hebat saat melahirkan nanti, Bu."
"Bagaimana lagi, Bidan..." bisik Melati pasrah, suaranya hampir tak terdengar. "Di desa kita, kalau perempuan sudah haid pertama, orang tua langsung menikahkan agar tidak jadi beban. Dan kalau tidak langsung punya anak banyak, dibilang wanita mandul yang dikutuk leluhur."
Belum usai rasa prihatin Melani, seorang ibu lain melangkah mendekat sambil menggendong bayinya yang terus merintih rewel. Melani segera memeriksa kondisi bayi tersebut. Begitu kain bedong dibuka, Melani membelalak kaget. Kulit dan mata bayi berusia dua bulan itu berwarna kuning pekat. Di dipan sebelah, seorang bayi lain terbaring lemas dengan kondisi dehidrasi akibat diare akut. Bahkan, Melani menemukan satu balita dengan kelainan kelumpuhan kaki yang mengarah kuat pada gejala peninggalan infeksi polio.
"Astaga..." gumam Melani lirih, matanya berkaca-kaca menahan rasa perih di dada. "Air... air yang dipakai memandikan dan meminumkan bayi ini dari mana, Bu?"
"Dari sumur bawah dekat rawa, Bidan. Sudah biasa dimantra-mantrai dan diminumkan mentah-mentah ke bayi supaya kebal," jawab ibu sang bayi polos.
Dada Melani mengembang kencang. Ia tidak bisa lagi berdiam diri. Ini bukan lagi sekadar masalah penyakit biasa, melainkan krisis kesehatan reproduksi dan sanitasi dasar yang mengancam nyawa generasi masa depan Hulu Rawa.
Melani meminta Bu Minah mengumpulkan seluruh ibu hamil, ibu menyusui, dan para pemudi desa di teras panggung Pustu. Udara siang yang hangat dipenuhi rasa penasaran para warga wanita yang berkumpul melingkar di atas tikar pandan.
Melani berdiri di depan mereka. Kain tenun birunya berkibar pelan. Wajah cantiknya tak lagi menyiratkan kecanggungan, melainkan ketegasan berwibawa seorang tenaga medis yang bertaruh demi keselamatan warganya.
"Ibu-ibu dan Adik-adik sekalian, dengarkan saya baik-baik," buka Melani, suaranya jernih melintasi teras Pustu. "Saya berdiri di sini hari ini bukan untuk merusak, melarang, atau menantang tradisi leluhur tanah ini. Saya sangat menghormati Adat Hulu Rawa. Tapi hari ini, sebagai seorang bidan, saya wajib menyampaikan kebenaran demi menyelamatkan nyawa kalian dan bayi-bayi kalian!"
Para ibu saling pandang, suasana teras mendadak hening.
Melani memegang gambar anatomi tubuh sederhana yang ia lukis di lembaran kertas. "Pertama, tubuh seorang anak perempuan yang usianya di bawah delapan belas atau sembilan belas tahun belum siap secara organ reproduksi maupun mental untuk mengandung! Pinggulnya belum melar sempurna, rahimnya belum kuat. Menikah dan hamil di usia terlalu muda serta hamil berturut-turut tanpa jeda minimal dua sampai tiga tahun... itu sama saja mempertaruhkan nyawa sang ibu di pintu kematian!"
"Tapi Bu Bidan..." sela seorang ibu tua dari sudut. "Dari dulu tradisi kita memang membiarkan anak perempuan cepat menikah agar rumah tangga ramai."
"Tradisi bertujuan untuk melindungi manusia, Bu, bukan untuk membahayakan nyawa!" tangkas Melani lembut namun sangat menohok. "Jarak kehamilan yang terlalu dekat membuat tubuh ibu habis mengikis nutrisi sendiri. Dan untuk bayi-bayi kalian..."
Melani menunjuk bayi di pangkuan salah satu warga. "Penyakit kuning yang parah, diare akut, hingga kelumpuhan kaki pada anak-anak... itu bukan karena roh jahat atau kutukan! Diare dan penyakit kuning terjadi karena air sumur rawa yang dipakai tidak direbus sampai mendidih! Dan kelumpuhan itu adalah lumpuh layu akibat virus polio yang seharusnya bisa dicegah sejak dini!"
"Dicegah bagaimana, Bu Bidan?" tanya Melati dengan mata berbinar penuh harapan.
"Dengan imunisasi!" tegas Melani. "Tetes dan suntikan kekebalan tubuh!"
Ibu-ibu di teras mulai berbisik-bisik, beberapa di antaranya mengangguk-angguk membenarkan ucapan Melani setelah melihat bukti nyata anak-anak mereka yang sering sakit.
"Keterbatasan fasilitas medis di Pustu ini tidak akan menyurutkan niat saya," lanjut Melani, menyunggingkan senyum hangat yang menyuntikkan keberanian ke dada para wanita desa. "Saya akan berusaha berkoordinasi dan mendatangkan tim medis resmi untuk melakukan imunisasi masal dan pemeriksaan kesehatan lengkap di desa ini. Tolong... izinkan saya membantu kalian menjaga anak-anak kalian tetap hidup dan sehat!"
Mendengar ketulusan dan penjelasan logis dari Melani, beberapa ibu muda mengusap air mata mereka. Rasa percaya yang murni terpancar jelas dari raut wajah mereka.
"Kami mau, Bidan Melani... Tolong ajari kami cara merawat bayi yang benar," bisik Melati tulus, diikuti anggukan serentak dari belasan ibu-ibu di teras Pustu.
Namun, edukasi terbuka yang dilakukan Melani di teras Pustu ternyata tak luput dari pengawasan.
Di balik rindangnya semak-semak tak jauh dari Pustu, Mbah Karsa berdiri menopang tubuhnya pada tongkat kayu. Mata tuanya yang tajam menatap ke arah Melani dengan raut amarah yang berkobar. Di samping Mbah Karsa, berdiri Sutan—yang kini secara sembunyi-sembunyi menyusup kembali ke perbatasan desa—bersama dua pemuda adat pengikut Mbah Karsa.
"Lihat itu, Mbah Karsa..." bisik Sutan memprovokasi, menyembunyikan tangannya yang masih berbekas hitam. "Perempuan kota itu mulai lancang. Dia terang-terangan melarang pernikahan muda dan menyalahkan aturan air suci leluhur kita. Dia bilang tradisi kita membahayakan nyawa!"
Mbah Karsa mengepalkan jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih. "Dia sudah melampaui batas..." desis Mbah Karsa dingin. "Dia tidak hanya merebut hati Ki Rangga, tapi sekarang mencoba meracuni pikiran wanita-wanita Hulu Rawa untuk membangkang pada aturan tua!"
"Lalu bagaimana, Mbah? Apakah kita biarkan dia membawa orang-orang kota masuk ke desa ini untuk menyuntikkan obat-obatan itu?" tanya pemuda adat di sebelahnya.
"Tidak akan!" tegas Mbah Karsa dengan suara berat penuh ancaman. "Malam ini, kita panggil sidang adat darurat tanpa Ki Rangga! Kita harus menghentikan bidan itu sebelum hukum leluhur kita benar-benar punah di tanah ini!"
Mbah Karsa berbalik melangkah pergi ke dalam kegelapan hutan, meninggalkan teras Pustu yang masih dipenuhi gelak tawa dan harapan baru para ibu di bawah bimbingan Bidan Melani.
Bersambung..
kasih pelajaran lah buat Pak pramono tuuu... gemesssss
pasti lancar ya Thor 🤭