NovelToon NovelToon
Menantu yang Diremehkan

Menantu yang Diremehkan

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Tamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

"Tiga tahun Surya Prasetyo hidup sebagai menantu yang diinjak-injak. Dicaci maki mertua, dihina saudara ipar, dijadikan budak dapur oleh istrinya sendiri.

Sampai malam itu—malam ulang tahun pernikahan ketiga—dia mendengar semuanya.

Istrinya selingkuh. Istrinya mengincar asuransi jiwa lima miliar. Istrinya sudah menjadwalkan dia sebagai donor ginjal paksa. Dan istrinya... sudah merencanakan kematiannya.

*""Genggam erat-erat tanganku, Pak. Karena ini terakhir kalinya.""*

Dari seorang laki-laki yang tidur di pinggir sungai, Surya bangkit. Lulus ujian advokat. Menghancurkan perusahaan mantan istri. Membangun kerajaan bisnis. Membuat semua orang yang pernah menginjak-injaknya... berlutut.

Tapi balas dendam hanyalah permulaan. Di balik semua ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengawasi setiap langkahnya—dan rahasia terbesarnya tersembunyi di orang yang paling dia percaya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21: Guru dan Murid

Pagi setelah Surya mengantar Diana pulang, ia mendapat pesan singkat.

Datang malam ini. Palazzo. Bawa seluruh ceritamu, bukan separuh.

Diana tidak menambahkan salam.

Surya membaca pesan itu dua kali. Ia tahu undangan itu bukan keramahan. Itu interogasi tanpa ruang tahanan.

Malamnya, ia datang membawa satu tas berisi salinan bukti yang sudah boleh ia perlihatkan: kronologi Nadia, rekaman ruang tamu yang hanya ia transkrip, dokumen Mega Awan, laporan Benny, dan catatan transfer Kevin kepada Nadia. Ia tidak membawa dokumen penyidikan tertutup Meilu. Batas tetap batas.

Diana membukakan pintu dengan pakaian rumah sederhana. Tanpa blazer, tanpa sepatu hak. Namun, matanya tetap seperti ruang sidang.

"Masuk."

Di meja makan apartemen luas itu, Surya menyusun berkas satu per satu.

Ia mulai dari malam ulang tahun pernikahan. Sepatu laki-laki. Suara di kamar. Polis asuransi Rp 5 miliar. Surat donor ginjal. Kematian Pak Kusuma. CCTV Bang Joni. Porsche Kevin. PT Mega Awan. Benny Halim. Dewi yang difitnah mencuri. Alphard terbakar. Nadia yang kehilangan segalanya tetapi masih mencoba menggigit siapa pun di sekitar Surya.

Diana mendengarkan tanpa memotong.

Ketika Surya selesai, jam dinding sudah lewat pukul sebelas.

"Kevin hanya alumni UNAIR," kata Diana akhirnya. "Adik tingkat. Dulu dia sering mencari bantuan jaringan alumni untuk acara kampus. Saya tidak pernah punya hubungan pribadi dengannya."

"Saya percaya."

"Kamu tidak percaya kemarin."

"Kemarin saya tidak tahu seluruh fakta Anda."

Diana menatapnya tajam, lalu menghela napas. "Dan saya tidak tahu seluruh faktamu."

Kalimat itu terdengar seperti perdamaian kecil.

Surya berdiri. "Anda belum makan?"

"Itu pertanyaan aneh setelah laporan pengkhianatan dan kejahatan korporat."

"Saya lapar."

Diana hampir menolak. Namun, Surya sudah berjalan ke dapur terbuka. Ia menemukan beras, telur, tempe, sedikit ayam, cabai, bawang merah, dan kecap. Tiga tahun menjadi suami rumahan ternyata meninggalkan keterampilan yang tidak bisa dicuri Nadia.

Satu jam kemudian, meja Diana terisi nasi liwet sederhana, ayam kecap, tempe goreng, dan sambal bawang. Aroma rumah Jawa memenuhi apartemen mahal yang sebelumnya terasa seperti ruang pamer.

Diana duduk diam.

"Dulu ibu saya masak seperti ini," katanya pelan.

Surya tidak bertanya lebih jauh.

Mereka makan tanpa banyak bicara. Di akhir makan, Diana membawa piring ke wastafel. Surya mengambilnya lebih dulu.

"Biar saya."

"Kamu tamu."

"Saya juga mantan ahli cuci piring."

Untuk pertama kalinya, Diana tertawa.

Setelah Surya pulang, Diana berdiri di depan pintu. Ia menatap dapur yang masih menyisakan aroma bawang dan kecap. Matanya panas lagi. Namun, kali ini ia tidak menahan seluruhnya.

Bukan karena Surya memasak.

Karena ada pria yang bisa bicara tentang luka, lalu tetap ingat memberi makan orang lain.

Keesokan harinya, Diana melemparkan tantangan di ruang rapat Sentana.

"Ayu Pramesti. Aktris papan atas. Sengketa kontrak dengan rumah produksi, manajer lama, dan sponsor. Deadline dua hari. Kalau kamu bisa membantu saya menyusun jalan damai yang diterima semua pihak, saya akan mempertimbangkan menerima kamu sebagai murid."

Eko yang sedang minum kopi hampir tersedak.

Surya menatap map. "Murid?"

"Jangan besar kepala. Baru mempertimbangkan."

Kasus Ayu Pramesti jauh lebih rumit daripada yang terlihat di berita hiburan. Ayu ingin keluar dari kontrak film karena jadwal bentrok dengan serial streaming. Rumah produksi menuntut penalti. Sponsor mengancam menggugat karena wajah Ayu sudah dipakai dalam kampanye. Manajer lama menahan akses email dan beberapa pembayaran endorsement.

Yang membuatnya lebih rumit: serial streaming itu diproduksi Lintang Pictures.

Nama direktur utamanya tertulis jelas.

Lim Wei Chen.

Surya menatap nama itu lebih lama daripada perlu.

Meilu pernah menyebut keluarga Lintang. Namun, belum pernah membuka detail. Sekarang nama itu berdiri di berkas, menghubungkan dunia hiburan, keluarga Lim, dan perempuan yang baru saja selesai berpura-pura menjadi kekasihnya.

Diana melihat arah matanya. "Kamu kenal?"

"Saya kenal adiknya."

"Meilu?"

Surya menoleh.

Diana tersenyum tipis. "Jakarta tidak sebesar yang kamu kira."

Surya tidak punya waktu untuk memikirkan itu. Ia membaca kontrak Ayu sepanjang malam. Kuncinya bukan menang-kalah. Kalau Ayu dipaksa menyelesaikan film lama, Lintang Pictures rugi jadwal. Kalau rumah produksi lama digugat balik, sponsor ikut rusak. Kalau manajer lama dipermalukan, ia bisa membuka gosip yang merusak semua pihak.

Maka Surya menyusun jalan ketiga.

Ayu tetap menyelesaikan dua hari syuting tambahan untuk adegan kunci film lama. Lintang Pictures menyesuaikan jadwal serial selama satu minggu dan mendapat hak promosi bersama sebagai kompensasi. Sponsor lama memperoleh konten promosi tambahan tanpa biaya. Manajer lama dibayar komisi yang memang tercatat. Namun, akses email dan pembayaran endorsement wajib dikembalikan hari itu juga dengan berita acara.

"Semua orang kehilangan sedikit," kata Diana saat membaca proposalnya.

"Agar tidak ada yang kehilangan semuanya."

Pertemuan mediasi dilakukan di ruang kaca Sentana. Ayu Pramesti datang memakai topi dan masker. Namun, matanya tetap dikenali sebagai mata orang yang biasa hidup di kamera. Perwakilan rumah produksi datang dengan pengacara. Sponsor membawa staf legal. Dari Lintang Pictures, seorang pria berwajah bersih dan berkemeja hitam hadir lewat panggilan video.

"Lim Wei Chen," katanya. "Panggil saja Weichen."

Surya mengangguk sopan. "Surya Prasetyo."

Weichen memandangnya sedikit lebih lama. "Oh. Jadi kamu Surya."

Diana mengetuk meja. "Kita mulai."

Mediasi berlangsung hampir empat jam. Ada suara meninggi. Ada ancaman keluar ruangan. Ada manajer lama yang berkeringat ketika Surya membacakan daftar pembayaran endorsement yang tertahan. Namun setiap kali pihak mulai saling membakar, Surya mengembalikan mereka ke angka, jadwal, dan risiko.

"Kalau perkara ini masuk pengadilan," katanya pada satu titik, "semua pihak mungkin benar sebagian. Tapi publik hanya akan mengingat satu hal: Ayu sulit diajak kerja sama, rumah produksi menekan artis, sponsor panik, dan Lintang terlambat produksi. Kemenangan hukum yang menghancurkan nilai komersial bukan kemenangan bisnis."

Ruangan diam.

Ayu menurunkan masker. "Saya setuju kalau jadwal saya tidak dihancurkan."

Weichen di layar mengangguk. "Lintang bisa geser satu minggu."

Perwakilan sponsor akhirnya berkata, "Tambahan konten promosi harus tertulis."

"Sudah saya siapkan drafnya," kata Surya.

Diana menatapnya sekilas. Kali ini, ia tidak menyembunyikan kepuasan.

Malam itu, berita acara kesepakatan ditandatangani. Tidak ada konferensi pers. Tidak ada drama media. Justru karena tidak ada drama, semua pihak menang.

Setelah ruangan kosong, Diana berdiri di dekat jendela.

"Surya."

"Ya, Bu Diana."

"Mulai besok, kamu ikut semua perkara strategis saya. Kamu baca apa yang saya baca, dengar apa yang saya dengar, dan kalau saya bilang diam, kamu diam."

Surya menahan napas.

"Itu berarti..."

"Aku menerima kamu sebagai murid."

Surya menunduk. "Terima kasih, Bu."

"Jangan berterima kasih dulu. Aku akan membuatmu lebih lelah daripada Arief."

"Saya sudah terbiasa."

Diana menatapnya berjalan keluar dari ruang rapat dengan map di tangan, tubuh lelah tetapi punggung lurus.

Ia berbisik sangat pelan, hampir hanya untuk kaca jendela.

"Bocah ini... bisa jadi sangat berbahaya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!