Malam yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Adrian berubah menjadi mimpi buruk ketika ia mendapat kabar bahwa calon istrinya, Liana, mengalami kecelakaan fatal. Saat tiba di lokasi kejadian, Adrian terkejut menemukan Liana meninggal bersama seorang pria bernama Jamie, yang ternyata adalah kekasih Fatma.
Fatma, seorang ustadzah yang salehah, hancur mengetahui pria yang dicintainya telah berselingkuh dengan wanita yang bahkan tidak dikenalnya. Di tengah duka dan amarah, Adrian melampiaskan kesalahannya kepada Fatma dan menuduhnya tidak mampu menjaga Jamie. Meski Fatma menegaskan bahwa dirinya juga korban pengkhianatan, Adrian yang dipenuhi emosi membuat keputusan nekat: pada malam yang sama ia memaksa Fatma untuk menjadi istrinya.
Dari tragedi yang menyatukan dua hati yang sama-sama terluka, dimulailah kisah penuh konflik, luka, dan takdir yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Di pondok pesantren yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota tempat Fatma menderita, keheningan sepertiga malam mendadak terpecah oleh desah napas yang memburu.
"Astaghfirullah,"
Abah terbangun dari tidurnya secara mendadak. Tubuh paruh bayanya langsung terduduk tegak di atas ranjang.
Keringat dingin bercucuran membasahi kening dan punggungnya, meskipun udara malam itu terasa sangat dingin.
"Astaghfirullah... Astaghfirullah..." bisik Abah berulang kali dengan suara yang bergetar.
Tangannya bergerak naik, meremas dada kirinya. Abah merasakan jantungnya berdetak dengan sangat kencang, bertalu-talu seolah baru saja habis berlari jauh.
Perasaannya mendadak diliputi oleh rasa sesak dan gelisah yang luar biasa hebat, seakan ada bagian dari belahan jiwanya yang sedang menjerit kesakitan di luar sana.
Umi yang terbangun karena mendengar suara suaminya, segera bangkit dan ikut duduk di sampingnya.
Wajahnya dipenuhi rasa cemas saat melihat sang suami tampak begitu pucat.
"Abah kenapa?" tanya Umi lembut, tangannya mengusap punggung Abah dengan penuh perhatian untuk menenangkan.
"Ada yang sakit, Bah?"
Abah perlahan mengembuskan napas panjang, mencoba meredakan debaran di dadanya yang masih tak keruan.
Ia menoleh ke arah istrinya, lalu menggelengkan kepalanya perlahan dengan tatapan mata yang menyiratkan kekhawatiran mendalam.
"Tidak apa-apa, Umi. Seperti Abah mimpi buruk," lirih Abah, suaranya terdengar berat.
Meskipun mencoba menenangkan diri, ingatan akan kilasan mimpi samar yang mengusik tidurnya tadi membuat hati Abah tidak tenang.
Di dalam benaknya, bayangan wajah Fatma—putri tercintanya—langsung terlintas, memunculkan sebuah kerinduan sekaligus firasat buruk yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
Rasa tidak enak itu terus menggelayuti dada Abah, membuatnya memilih untuk segera turun dari tempat tidur guna mengambil air wudu dan mengadukan kegelisahan hatinya di atas sajadah lewat salat tahajud.
Keesokan paginya, berkas cahaya matahari fajar menembus sela-sela gorden, menyinari kamar tidur utama yang berantakan.
Fatma perlahan membuka matanya. Setiap inci tubuhnya terasa kaku dan mati rasa. Saat menoleh ke samping, ia mendapati Adrian masih tertidur lelap dengan napas mendengkur halus, tanpa mengenakan sehelai benang pun.
Pemandangan itu seketika memicu kilasan balik atas kekejaman semalam, membuat dada Fatma kembali sesak.
Dengan gemetar, Fatma menunduk dan menyibak selimut.
Tatapannya terpaku pada noda merah pekat yang mengering di atas sprei putih.
Air matanya langsung meleleh tanpa suara. Mahkota kesucian yang selama puluhan tahun ia jaga dengan penuh kehormatan di lingkungan pesantren, kini telah direnggut paksa dengan cara yang paling hina oleh suaminya sendiri.
Fatma mencoba bangkit dari tempat tidur. Namun, begitu kedua kakinya menyentuh lantai, rasa perih yang teramat sangat menyengat di antara kedua kakinya, membuat ia hampir tersungkur jika tidak cepat berpegangan pada tiang ranjang.
Ia melangkah tertatih menuju cermin besar di sudut kamar.
Saat melepaskan selimut yang melilit tubuhnya, Fatma terkesiap.
Melalui pantulan cermin, ia melihat punggung, lengan, dan bahunya dipenuhi bekas cambukan sabuk semalam yang kini membiru, membengkak, dan beberapa di antaranya mengeluarkan darah mati yang mengering. Tubuhnya yang dulu bersih kini tampak hancur.
Drrt... Drrt...
Keheningan pagi itu terpecah oleh getaran ponsel Fatma yang tergeletak di atas meja rias.
Dengan tangan yang masih gemetar hebat, Fatma meraih ponsel tersebut.
Layarnya menampilkan nama yang membuat pertahanannya runtuh: Abah.
Fatma berdeham beberapa kali, mencoba menstabilkan suaranya yang parau agar tidak terdengar mencurigakan. Ia menggeser tombol hijau ke atas.
"Assalamualaikum, Abah..." ucap Fatma, berusaha sekuat tenaga menahan isak tangis yang sudah mendesak di tenggorokan.
"Waalaikumsalam, Nduk," sahut suara di seberang telepon.
Suara Abah terdengar begitu teduh, namun terselip nada cemas yang mendalam di sana.
"Nduk, Abah dan Umi sekarang sedang dalam perjalanan ke rumahmu. Semalam perasaan Abah sangat tidak tenang dan memimpikanmu. Kamu baik-baik saja, kan, Nduk?"
Mendengar suara sang ayah yang begitu menyayanginya, runtuh sudah seluruh ketahanan Fatma.
Ia membekap mulutnya sendiri dengan tangan kiri agar suara tangisnya tidak lolos ke seberang telepon, sementara air matanya mengalir semakin deras membasahi pipi.
Di atas ranjang, Adrian tampak melenguh dan sedikit bergerak dalam tidurnya, membuat kepanikan Fatma melesat berkali-kali lipat.
"Inggih, Abah. Fatma baik-baik saja. Hati-hati di jalan. Fatma akan menunggu Abah dan Umi datang ke rumah," ucap Fatma dengan suara yang diusahakan setenang mungkin, meski getaran di ujung kalimatnya tidak bisa sepenuhnya disembunyikan.
Setelah Abah menjawab salam, Fatma segera menutup ponselnya.
Kepanikan kini menjalar di seluruh tubuhnya. Ia menoleh ke arah Adrian yang masih terlelap, lalu bergegas melangkah tertatih-tatih menuju kamar mandi.
Saat tubuhnya diguyur air, Fatma terpejam kuat-kuat sembari menggigit bibir bawahnya sendiri.
Air dingin yang menyentuh luka cambukan yang terbuka di punggung dan lengannya terasa luar biasa perih, bagai disayat-sayat sembilu. Namun, ia tidak punya waktu untuk meratapi rasa sakit itu.
Pikirannya dipenuhi ketakutan luar biasa jika Abah dan Umi melihat kondisinya yang hancur seperti ini.
Selesai mandi dan mengenakan pakaian muslimah yang longgar serta hijab yang menutup rapat dada dan punggungnya, Fatma kembali ke sisi ranjang.
Dengan jantung yang berdebar kencang, ia memberanikan diri menyentuh bahu suaminya.
"M-mas..." panggil Fatma lirih. Tubuhnya refleks sedikit menjauh karena trauma.
"Mas Adrian..."
Adrian melenguh kasar, lalu perlahan membuka kelopak matanya yang tampak merah akibat sisa alkohol semalam.
Ia duduk di atas ranjang, memijat pelipisnya yang berdenyut pening.
"Hm, ada apa?" tanyanya dengan suara serak dan ketus.
"Abah sama Umi sedang dalam perjalanan ke sini, Mas. Sebentar lagi mereka sampai," ucap Fatma dengan nada gemetar.
Mendengar kata 'Abah dan Umi', kesadaran Adrian langsung pulih sepenuhnya.
Matanya membelalak. Ia menoleh ke arah sprei yang menampakkan noda darah pekat bekas paksaannya semalam.
Dengan gerakan cepat dan panik, Adrian langsung menarik kain selimut untuk menutupi noda tersebut, menyembunyikannya dari pandangan.
Ia kemudian beralih menatap Fatma dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan mengintimidasi.
Adrian berdiri, mencengkeram kedua bahu Fatma dengan erat hingga wanita itu meringis menahan sakit di lukanya.
"Dengar," bisik Adrian dengan nada mengancam di depan wajah Fatma.
"Tutup semua bekas luka itu rapat-rapat. Pasang wajah bahagiamu di depan orang tuamu. Jangan sampai mereka curiga atau melihat satu pun bekas di tubuhmu, atau kamu tahu sendiri apa akibatnya bagi pesantren mereka!"
"I-iya, Mas..." lirih Fatma sembari menundukkan kepalanya, tidak berani menatap sepasang mata elang yang semalam telah bertindak layaknya monster itu.
Setelah Adrian melepaskan cengkeramannya, Fatma segera melangkah keluar dari kamar utama dengan langkah yang masih terasa goyah dan perih.
Ia menepis jauh-jauh rasa sakit di sekujur tubuhnya demi menyambut kedatangan kedua orang tua yang sangat dihormatinya.
Fatma bergerak cepat membersihkan sisa-sisa keributan semalam di ruang tamu.
Ia memunguti robekan buku harian Jamie yang berserakan di lantai, menyembunyikannya di tempat aman, lalu bergegas menuju dapur.
Dengan sisa-sisa tenaganya, Fatma mulai menyiapkan bahan makanan.
Ia memutuskan untuk memasak masakan kesukaan Abah dan Umi: sayur lodeh hangat, sambal bajak, tahu tempe goreng, dan ikan asin.
Aroma harum masakan tradisional itu perlahan memenuhi seisi rumah, mencoba menyamarkan atmosfer kelam yang sempat pekat semalam.
Dari kejauhan, Adrian berdiri di ambang pintu dapur.
Pria itu sudah rapi mengenakan pakaian kasualnya.
Dengan tangan bersedekap di dada, ia menatap punggung Fatma yang bergerak lambat karena menahan linu.
Ada kilatan aneh di mata Adrian saat melihat bagaimana Fatma begitu patuh menuruti perintahnya demi melindungi keluarganya.
Adrian melangkah mendekat. Suara derap langkah kakinya membuat tubuh Fatma seketika menegang di depan kompor.
Pria itu berhenti tepat di samping Fatma, menatap tajam ke arah masakan yang sedang mengepul.
"Ingat pesanku tadi," bisik Adrian dengan nada rendah yang sarat akan ancaman terselubung.
"Jangan sampai ada setetes pun air mata atau keluhan di depan mereka. Tersenyumlah seolah kamu adalah istri paling bahagia di dunia."
Fatma meremas spatula di tangannya, berusaha sekuat tenaga agar air matanya tidak tumpah saat itu juga.
"I-iya, Mas..." jawabnya dengan suara bergetar halus, bersiap menyembunyikan seluruh lukanya di balik senyuman demi Abah dan Umi.
lanjut thor🙏
bikin jengkel aja thor 😡😡