NovelToon NovelToon
BANGKITNYA PENDEKAR TERKUAT

BANGKITNYA PENDEKAR TERKUAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: GEELANG

aku akan mengguncang dunia persilatan, aku yang memiliki ingatan masa depan memiliki keunggulan yang akan menghacurkan segala yang merebut waktu dan duniaku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 - Langkah Pertama Seorang Pendekar

Sun Chen membuka mata dengan napas memburu. Keringat dingin membasahi dahi dan lehernya, berkilau di bawah temaram sinar bulan yang menerobos celah Dedaunan. Di dalam dadanya, jantung berdegup kencang seolah baru saja berlari menempuh jarak ribuan li.

Ia segera memejamkan mata kembali, mencoba memusatkan pikiran untuk menyusup ke dalam lautan kesadarannya. Namun, tidak ada lagi cahaya ungu kehitaman. Bayangan sisik naga purba dan gumpalan aksara kuno yang melayang samar tadi telah lenyap tanpa bekas. Ruang batinnya kembali gelap, sunyi, dan tenang, seolah pusaran energi dahsyat beberapa saat lalu hanyalah ilusi belaka.

Sun Chen menghela napas panjang. Ia mengepalkan tangan kecilnya seraya menatap telapak tangannya sendiri. Jiwanya memang menyimpan ingatan seorang Jenderal Demonic dan potongan warisan purba yang tak ternilai, tetapi wujud fisiknya saat ini hanyalah seorang anak balita berusia empat tahun. Dantiannya masih kosong, dan pembuluh darahnya terlalu rapuh untuk menampung energi tingkat tinggi.

"Tubuh ini masih terlalu lemah," bisik Sun Chen pada keheningan malam. Ia sadar, memaksa membuka segel warisan naga sekarang hanya akan menghancurkan organ dalamnya sendiri. Kesabaran adalah kunci.

Matahari baru saja terbit di ufuk timur, memancarkan sinar keemasan yang menembus kabut tipis di Lembah Batu Pecah. Pagi masih sangat dingin ketika Chou Tian sudah berdiri tegak di tengah halaman tanah yang luas. Di kedua tangannya, ia memegang dua buah ember kayu berukuran sedang yang terisi penuh oleh air sungai.

Sun Chen keluar dari gubuk bambu dengan pakaian sederhananya yang agak kebesaran.

"Kau sudah bangun," kata Chou Tian dingin, lalu meletakkan kedua ember air itu ke tanah hingga menimbulkan suara dentuman pelan. "Tidak ada waktu untuk bersantai. Mulai hari ini, tubuhmu adalah senjata utamamu."

Tanpa banyak bicara atau memberikan jurus-jurus indah yang biasa diimpikan anak kecil, Chou Tian menunjuk ke arah aliran sungai berarus deras yang berada sekitar tiga ratus langkah di bawah tebing gubuk.

"Ambil air menggunakan ember kecil di sana, penuhi tong besar di samping gubuk. Setelah itu, pindahkan batu-batu kali di ujung timur ke sisi barat. Lalu, lari mengelilingi lembah ini lima kali."

Latihan itu benar-benar kejam untuk ukuran anak seusianya. Sun Chen harus mengangkut air menaiki jalan setapak yang terjal dengan kaki telanjang. Ember kecil yang diisinya terasa amat berat bagi otot-otot lengannya yang belum terlatih. Tidak berhenti di situ, batu-batu kali yang harus dipindahkannya memiliki permukaan licin dan tajam, membuat jemari kecilnya mengelupas dan memar.

Otot-otot kaki dan punggung Sun Chen menjerit kesakitan. Paru-parunya terasa terbakar setiap kali ia menarik napas saat berlari mengelilingi perimeter lembah. Berkali-kali tubuh kecil itu limbung dan jatuh tersungkur di atas tanah keras yang berbatu. Lututnya berdarah, kakinya gemetar hebat, dan matanya berkaca-kaca akibat rasa sakit fisik yang ekstrem.

Namun, setiap kali ia terjatuh, Sun Chen tidak menangis. Bayangan gerobak budak, kematian orang tuanya, serta pengkhianatan di tepi jurang pada kehidupan lalunya terus berputar di dalam kepalanya. Dengan gigi terikat rapat, ia memaksakan jemarinya mencengkeram tanah, bertumpu pada lututnya yang gemetar, dan kembali bangkit berdiri.

Chou Tian berdiri di atas sebuah batu tinggi, memperhatikan muridnya dari kejauhan dengan wajah tanpa ekspresi. Namun, di balik tatapan kaku itu, ada rasa terkejut yang mendalam. Anak kecil biasa pasti sudah menyerah dan menangis meraung-raung pada putaran pertama, tetapi Sun Chen terus bergerak tanpa mengeluh sepatah kata pun.

Menjelang tengah hari, tugas terakhir tiba. Sun Chen diminta berdiri dalam posisi kuda-kuda dasar. Kaki diregangkan melebar, lutut ditekuk membentuk sudut sembilan puluh derajat, dan kedua tangan diluruskan ke depan.

Tubuh Sun Chen bergetar hebat. Keringat mengalir deras membasahi seluruh pakaiannya dan menetes ke tanah, menciptakan lingkaran basah di bawah kakinya. Keseimbangannya beberapa kali goyah, tetapi ia tetap bertahan.

"Tubuh manusia ibarat sebuah rumah," suara Chou Tian bergema perlahan saat pria tua itu melangkah mendekati Sun Chen. "Jika fondasinya terbuat dari lumpur rapuh, sebangga apa pun kau mendirikan tiang dan atap yang indah, bangunan itu akan runtuh diterpa angin pertama."

Chou Tian menyentuh bahu Sun Chen, membenarkan posisi punggung muridnya agar tetap lurus. "Banyak pendekar di luar sana yang terburu-buru mengejar kekuatan tenaga dalam. Mereka meminum ramuan pemicu, menyerap energi secara ganas, dan bangga bisa menguasai jurus mematikan di usia muda. Namun saat mencapai tingkatan tinggi, tubuh mereka tidak sanggup menahan beban energi itu sendiri. Mereka akhirnya cacat, gila, atau tewas mengenaskan."

Mendengar nasihat itu, batin Sun Chen bergetar. Apa yang dikatakan Chou Tian adalah kenyataan pahit dari kehidupan lalunya. Kultus Demonic selalu memaksakan latihan instan pada calon Jenderal Demonic, membuat mereka kuat dalam waktu singkat tetapi mengorbankan masa depan kultivasi mereka. Sun Chen memejamkan mata seraya menguatkan pijakan kakinya. Kehidupan keduanya ini benar-benar berada di jalur yang tepat.

Saat matahari berada tepat di puncak kepala, Chou Tian menyuruh Sun Chen berhenti. Tubuh kecil Sun Chen langsung roboh ke tanah, terengah-engah mencari udara, tetapi dadanya dipenuhi kepuasan yang luar biasa.

Makan siang disajikan sangat sederhana di atas balok kayu di depan gubuk. Terdapat dua ekor ikan bakar hasil tangkapan dari sungai dan beberapa umbi hutan yang direbus. Meskipun tanpa bumbu yang mewak, bagi Sun Chen yang sangat kelaparan, makanan itu terasa sangat nikmat.

"Siapa nama desamu?" tanya Chou Tian tiba-tiba di sela-sela kunyahannya. Suaranya terdengar kasual, tetapi sorot matanya menanti.

Sun Chen menghentikan tangannya yang sedang memegang umbi rebus. Ia menunduk sebentar, merapikan emosinya. "Desa Daun Hijau, Guru. Berada di perbatasan selatan."

"Apa yang terjadi di sana?"

"Kelompok pedagang pembawa gerobak datang di malam hari," jawab Sun Chen pendek, suaranya tenang namun mengandung kepahitan yang dingin. "Mereka membakar rumah-rumah, membunuh orang tua saya, dan memasukkan anak-anak yang tersisa ke dalam gerobak besi."

Chou Tian tidak langsung menanggapi. Pria tua itu mengunyah ikannya perlahan, lalu menatap langit siang yang cerah. Sebagai seorang pengembara yang telah mengarungi dunia persilatan selama puluhan tahun, ia tahu betapa kejamnya dunia di luar sana. Namun, mendengar takdir tragis yang menimpa bocah empat tahun di hadapannya, ada kilatan simpatik dan amarah samar yang melintas di matanya yang keriput.

"Dunia ini tidak pernah ramah pada mereka yang tidak bisa membela dirinya sendiri," gumam Chou Tian pelan.

Setelah istirahat singkat, latihan kedua dimulai. Kali ini bukan latihan otot, melainkan latihan pernapasan. Chou Tian membimbing Sun Chen duduk bersila di atas batu datar di bawah rindangnya pohon pinus.

"Tarik napas melalui hidungmu perlahan, rasakan udara dingin masuk mengalir ke bagian bawah perutmu," instruksi Chou Tian seraya menempelkan telapak tangannya di punggung Sun Chen. "Tahan sejenak, lalu hembuskan melalui mulut mengikuti ritme bisikan angin di sekitarmu."

Bagi Sun Chen yang memiliki pengalaman puluhan tahun sebagai ahli bela diri, konsep pernapasan menyatu dengan alam bukanlah hal baru. Ia langsung memahami titik fokus energi dan cara mengarahkan peredaran udara di dalam tubuhnya.

Namun, kendala utama tetaplah raga balitanya. Jalur pembuluh darahnya masih sangat sempit, sehingga ketika ia mencoba menyelaraskan napas dengan sempurna, dadanya terasa sesak dan nyeri. Sun Chen tidak memaksakan diri; ia menurunkan intensitasnya dan secara bertahap menyesuaikan ritme pernapasan sesuai kemampuan fisiknya saat ini.

Di saat Chou Tian memperagakan cara menarik dan menghembuskan napas yang benar, Sun Chen tidak hanya mendengarkan kata-kata sang guru. Matanya yang tajam mengamati setiap detail kecil dari gerakan tubuh Chou Tian.

Ia menyadari sesuatu yang sangat luar biasa. Saat Chou Tian berdiri, melangkah untuk memungut kayu bakar, bahkan saat sang guru mengangkat cangkir teh sederhana, cara bernapas dan distribusi berat tubuh Chou Tian selalu berada dalam keseimbangan yang sempurna. Setiap gerakan kecil pria tua itu terselip prinsip dasar dari teknik bela diri tingkat tinggi.

Ilmu sejati Setan Tinju ternyata tidak hanya diajarkan saat latihan resmi, batin Sun Chen terperangah. Seluruh jalan hidup dan kebiasaannya adalah bentuk latihan itu sendiri.

Sementara itu, jauh di luar kedamaian Lembah Batu Pecah, tepatnya di tepi jalan berbatu dekat aliran sungai perbatasan.

Suasana di sekitar karavan pedagang budak tampak tegang. Beberapa gerobak besi terhenti di pinggir jalan. Di dekat semak-semak, tampak lima orang penjaga berbadan tegap sedang merintih kesakitan dengan tulang lengan yang patah dan wajah lebam mendalam.

Seorang pria berbadan tinggi tegap dengan luka parah di wajahnya melangkah mendekati para penjaga yang terluka. Ia adalah Pemimpin Karavan Budak. Matanya menyipit berbahaya saat mendengarkan laporan dari anak buahnya.

"Seorang pria tua berjanggut putih?" tanya Pemimpin Karavan dengan suara berat dan parau. "Dia mengalahkan kalian berlima hanya dengan tangan kosong dalam hitungan detik?"

"B-benar, Ketua," jawab salah satu penjaga yang terluka seraya memegangi lengannya yang terkulai lemas. "Gerakannya sangat cepat. Kami bahkan tidak sempat mencabut pedang. Dia membawa kabur bocah dari gerobak nomor tiga."

Pemimpin Karavan mengepalkan tangannya hingga berbunyi gemertak. Bocah empat tahun dari Desa Daun Hijau itu bukanlah anak biasa. Saat ditangkap, bocah itu memiliki ketenangan mental yang sangat tidak wajar, tidak menangis ataupun histeris seperti anak-anak lainnya.

"Cari mereka," perintah Pemimpin Karavan dengan nada dingin yang menyengat. "Sebarkan anak buah ke seluruh penjuru hutan dan lereng pegunungan ini. Temukan pria tua itu dan bawa kembali bocah tersebut. Barang itu sangat penting. Jika kita gagal menyerahkannya, kepala kita yang akan membalasnya!"

Malam kembali menyelimuti lembah. Keheningan merayap turun bersama dinginnya udara pegunungan.

Sun Chen kembali duduk bermeditasi sendirian di atas batu datar di depan gubuk bambu. Ia menarik dan menghembuskan napas secara teratur mengikuti teknik pernapasan yang diajarkan Chou Tian tadi siang.

Perlahan-lahan, ia merasakan sesuatu yang berbeda dari malam sebelumnya. Di dalam pusat dantian bawahnya yang sebelumnya kosong dan dingin, kini muncul rasa hangat yang samar. Meskipun sangat tipis, seperti sepercik api kecil di tengah kegelapan, rasa hangat itu adalah bukti nyata bahwa benih tenaga dalam pertamanya telah berhasil terbentuk.

Sun Chen perlahan membuka matanya. Senyum tipis terukir di bibirnya.

Saat ia memalingkan wajah sedikit ke samping, ia menyadari sebuah bayangan berdiri diam di sudut gubuk yang gelap. Chou Tian berdiri di sana dalam keheningan malam, memperhatikannya sejak tadi tanpa bersuara.

Pria tua itu menatap murid kecilnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Di balik wajah kaku dan kerasnya, batin Chou Tian sebenarnya bergejolak hebat. Ia melihat bagaimana anak berusia empat tahun itu mampu menguasai ritme pernapasan dasar hanya dalam waktu satu hari, bahkan berhasil merasakan percikan energi pertama di dantiannya tanpa bantuan obat-obatan pemicu.

Hanya dalam satu hari... gumam Chou Tian dalam hatinya seraya mengepalkan tangan di dalam lipatan lengan jubahnya. Bakat anak ini... jauh melampaui dugaanku. Apakah Langit sengaja mengirimnya untuk meneruskan warisan klanku?

Di tempat lain yang sangat jauh dari tempat pelatihan Sun Chen.

Di dalam sebuah aula batu yang remang-remang dan berbau amis, seorang pria yang mengenakan jubah hitam pekat duduk di atas kursi batu berukir tengkorak. Cahaya obor berkedip-kedip, memantulkan bayangan menakutkan di dinding batu.

Seorang utusan bertopeng berlutut di hadapannya dengan penuh hormat.

"Lapor, Yang Mulia. Kami menerima kabar dari karavan perbatasan selatan. Salah satu anak budak berhasil meloloskan diri dengan bantuan seorang ahli yang tidak dikenal."

Pria bergaya jubah hitam itu mengelus dagunya perlahan. Bibirnya yang pucat terangkat, membentuk sunggingan senyum yang sangat dingin dan merindingkan.

"Seorang anak yang lolos dari perbatasan selatan..." suara pria itu bergema pelan namun penuh tekanan yang menakutkan. "Bocah yang memiliki ketenangan luar biasa di tengah pembantaian desanya sendiri..."

Ia berdiri dari kursi batunya, melangkah pelan menuju kegelapan aula.

"Temukan bocah itu," perintahnya tegas, membuat udara di dalam aula mendadak menjadi sangat dingin. "Dia adalah calon terbaik yang pernah kita temukan untuk Program Jenderal Demonic."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!