Kelas Privat Maya: Di Balik Senyum CEO
Di sebuah sudut kota yang ramai, tersembunyi sebuah ruangan kecil yang penuh dengan tumpukan buku dan aroma kopi yang khas. Ruangan itu adalah 'Kelas Privat Maya', tempat di mana mimpi-mimpi sederhana diukir dan harapan-harapan baru tumbuh. Maya, seorang guru privat yang ceria dan penuh semangat, mendedikasikan hidupnya untuk membantu anak-anak dari latar belakang kurang mampu.
Suatu hari, seorang pria misterius datang ke kelas Maya. Pria itu tinggi, tampan, dan berpakaian rapi, jauh dari bayangan Maya tentang seorang ayah atau kakak yang biasa mengantar anak-anaknya les. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, namun sorot matanya yang lelah dan senyumnya yang terpaksa menyiratkan beban yang berat.
Awalnya, Maya mengira pria itu ingin mendaftarkan anaknya. Namun, ia terkejut ketika pria itu berkata, "Aku ingin belajar, Maya. Ajari aku cara tersenyum lagi." Ternyata, di balik kesuksesannya yang gemilang, CEO
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Bawah Guyuran Hujan dan Benang yang Terurai
Langkah Maya terasa begitu berat menyusuri pelataran gedung tanaya Tower. Hujan deras yang melanda Jakarta seolah merayakan kehancuran hatinya. Ia mengabaikan payung yang disodorkan oleh satpam lobi dan terus melangkah menerobos guyuran air yang dingin. Air mata dan rintik hujan menyatu di pipinya, membasahi gaunnya hingga melekat dingin di kulit.
Ia menaiki mobilnya dengan tangan yang masih gemetar hebat. Di dalam kabin yang sunyi, Maya mencengkeram kemudi erat-erat. Kata-kata Kian terus bergema di kepalanya bagai sembilu: “Dunia bisnis tidak sesederhana matematika di kelas privatmu dulu... Dan yayasanmu adalah harga yang paling kecil yang bisa kubayar.”
Apakah dua tahun pernikahan, senyuman Arka, dan janji-janji manis di atas peraduan malam itu hanyalah ilusi? Maya menunduk, menangis terisak-isak sampai dadanya sesak.
Namun, di tengah kehancuran itu, nurani seorang ibu dan naluri tajam seorang mantan guru berbisik pelan. Maya mengenal Kian. Ia mengenalnya saat pria itu masih menjadi sosok dingin yang menutup rapat emosinya dari dunia. Tatapan mata Kian di ruangan tadi memang dingin, tetapi ada sesuatu yang ganjil—rahang yang mengeras ketat, urat leher yang menegang, dan cara pria itu mengepalkan tangan hingga memutih.
Kian sedang berbohong. Atau lebih buruk lagi... Kian sedang mempertaruhkan sesuatu yang lebih besar dari hidupnya sendiri.
Maya menyapu air matanya kasar. Tangisnya mendadak berhenti, digantikan oleh tekad yang membakar dari dalam dada. Jika Kian memilih untuk bertarung di kegelapan seorang diri demi melindunginya, Maya tidak akan tinggal diam menjadi penonton yang pasrah.
Sementara itu, di dalam ruang kerja utama tanaya Tower yang lengang.
Sisca terperanjat mundur melihat reaksi keras Kian. Darah menetes pelan dari buku-buku jari Kian yang menghantam meja kaca hingga retak. Pria itu tidak meringis sedikit pun. Matanya yang merah menatap Rendra bagai seekor predator yang siap menerkam.
"Kian, kamu... kamu gila?" bisik Sisca dengan napas tertahan.
"Keluar," suara Kian merendah, namun getaran dinginnya membuat bulu kuduk Sisca berdiri. "Sisca, keluar dari ruanganku sekarang sebelum aku lupa bahwa kamu pernah menjadi bagian dari masa laluku."
Sisca menelan ludah, menatap Rendra dengan cemas, lalu terburu-buru merapikan tasnya dan melangkah keluar dari ruangan itu.
Kini hanya tersisa Kian dan Rendra di dalam ruangan yang tegang itu. Rendra merapikan jas kelabunya, mencoba mempertahankan senyum kemenangannya meski kilat mata Kian membuatnya agak gentar.
"Skenario yang luar biasa, Kian," ujar Rendra seraya melangkah mendekat. "Aktingmu di depan istri tercintamu sangat meyakinkan. Dia benar-benar percaya kamu mengkhianatinya. Sekarang, setelah hak atas tanah yayasan itu berpindah tangan ke Vanguard Legacy, kesepakatan kita berlaku. Rekaman dan dokumen ancaman terhadap keselamatan anakmu... kembalikan padaku."
Kian melangkah maju satu titik, mengabaikan darah yang menetes dari tangannya ke atas karpet mahal.
"Kau pikir aku menyerahkan tanah itu karena aku takut padamu, Rendra?" bisik Kian lurus di depan wajah Rendra. Suaranya serak dan berbahaya. "Tanah yang kau dapatkan itu hanyalah umpan. Dokumen pelepasan hak yang kau pegang... sudah kumasukkan klausul investigasi aset berisiko tinggi. Begitu kau menandatanganinya atas nama Vanguard, seluruh aliran dana gelap konsorsiummu di London otomatis terlacak oleh otoritas keuangan internasional."
Rendra membeku. Warna dari wajahnya seketika sirnah. "Apa... apa katamu?"
Kian menyeringai tipis—sebuah seringaian dingin yang sama sekali tak menyentuh matanya.
"Kau mengancam keselamatan Arka dan Maya dengan menyewa orang untuk mengintai rumahku selama seminggu terakhir. Kau pikir aku tidak tahu?" Kian mencengkeram kerah jas Rendra dengan satu tangan berdarah, menarik pria itu hingga sejajar dengannya. "Aku berpura-pura menjadi monster di depan istriku sendiri hari ini... hanya untuk memastikan kau merasa menang dan tidak menyentuh sehelai rambut pun dari keluarga kecilku."
"Kau... kau menjebakku!" bisik Rendra dengan suara gemetar, menyadari perangkap yang telah dipasang Kian dengan sangat halus.
"Ini bukan sekadar jebakan, Rendra," desis Kian tepat di telinganya. "Ini adalah hukuman karena kau sudah berani membawa nama anak dan istriku ke dalam permainan kotor ini. Kepolisian dan tim hukumku sudah bergerak detik ini. Kau punya waktu dua jam sebelum seluruh asetmu dibekukan."
Kian menghempaskan Rendra hingga pria itu tersandung menabrak kursi sofa. Tanpa memedulikan Rendra yang mulai panik memanggil pengacaranya, Kian berbalik cepat, merampas kunci mobil dan mantelnya dari atas meja.
Dada Kian bergemuruh hebat. Persetan dengan kemenangan bisnis ini. Persetan dengan Rendra. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah rasa sakit di mata Maya saat wanita itu menghatinya tadi. Hatinya seperti diiris sembilu mengingat ucapan Maya: “Nilaimu... NOL besar.”
"Tunggu aku, Maya..." gumam Kian parau seraya berlari menuju lift. "Tolong... jangan menyerah padaku."
Di bawah guyuran hujan yang makin deras di luar gedung, Maya tidak langsung pulang ke rumah. Mobilnya terparkir di tepi jalan, tak jauh dari gerbang masuk tanaya Tower.
Maya duduk melipat tangan, menatap tajam ke arah pintu keluar parkir eksekutif. Matanya sembap, namun pikirannya kini sangat jernih. Pelajaran terbaik yang pernah ia ajarkan pada Kian dulu adalah: matematika tidak pernah bohong, dan karakter seseorang tidak berubah hanya dalam semalam.
Ketika mobil SUV hitam milik Kian melesat keluar dari area parkir dengan kecepatan tinggi menembus hujan, Maya langsung memutar kemudi dan menginjak gas, membuntutinya dari jarak aman.
Malam ini, ujian sebenarnya baru saja dimulai—dan Bu Guru tidak akan biarkan muridnya bertarung sendiri di tengah badai.