Kanaya Tabitha adalah definisi wanita sempurna. Cantik, pintar, dan mandiri, dia sukses membangun bisnisnya dari nol. Di balik keanggunannya, Kanaya adalah sosok wanita tangguh yang menguasai seni bela diri tingkat tinggi, dan jangan harap ada pria yang bisa mendekatinya dan mengusik hidup tenang nya, hubungan dan cinta tidak ada di dalam daftar hidup nya.
Namun, dunia indahnya runtuh saat sebuah rahasia besar mendadak memutarbalikkan hidupnya. Tubuhnya mengalami perubahan aneh yang tak masuk akal. Bagaimana bisa dia hamil tanpa pernah disentuh pria mana pun?
Kanaya tidak tahu bahwa setiap malam, rahimnya telah diklaim oleh Alexander Giorge, Raja Vampir yang posesif dan berbahaya di balik kegelapan.
"Kamu milik ku, Kanaya. Berlari lah sejauh apa pun, darah daging ku akan selalu membimbingku kembali ke tempat tidurmu. Jika ada pria lain yang berani menyentuhmu, ku pastikan namanya tinggal sejarah."_ Alexander Giorge.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANGAN HITAM
"Sekarang kamu tetap di dalam rumah sakit, jangan pergi ke tempat sepi sendirian, kalau shift kamu selesai, pulang pakai taksi online atau minta jemput sopir rumah sakit, jangan pakai mobil kamu dulu," perintah Naya dengan tegas dan tenang, mencoba menenangkan sahabatnya.
"Iya, iya, aku bakal nginep di rumah sakit aja malam ini, kebetulan besok ada jadwal operasi pagi juga," jawab Fanya, terdengar sedikit lega setelah mendengar suara tenang Naya.
"Bagus. Maaf ya, Fan, gara-gara aku kamu jadi ikut keseret dalam masalah ini," ucap Naya lirih, ada rasa bersalah yang terselip di hatinya.
"Astaga, Nay, kita udah temenan dari lama, jangan ngomong kayak gitu, yang penting sekarang kamu fokus jaga diri kamu dan kandungan kamu di sana," jawab Fanya dengan tulus sebelum akhirnya pamit untuk kembali bekerja.
"Pasti, jangan lupa kabari aku kalau ada apa-apa," ucap Naya sebelum mematikan sambungan telepon.
Naya menurunkan ponselnya, lalu menatap kosong ke arah pintu balkon yang tertutup rapat oleh gorden
Suara embusan angin yang menerpa kaca jendela besar di dekatnya terdengar samar-samar.
Sreeet...
Telinga tajam Naya mendengar suara halus dari luar balkonnya, dia menatap lurus ke arah gorden tipis yang bergoyang, padahal pintu kaca geser menuju balkon tertutup rapat dan terkunci dari dalam.
Naya mengepalkan tangannya, mencoba mengatur napas agar tetap tenang, dia berjalan perlahan mendekati laci meja kerja, lalu menarik sebuah pisau lipat yang selalu dia simpan di sana.
"Siapa di luar?" tanya Naya dengan suara rendah namun penuh penekanan, tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.
Tidak ada jawaban, namun, dari balik kaca yang gelap, Naya bisa melihat dengan jelas sebuah siluet bertubuh tinggi besar berdiri mematung.
Deg
Yang membuat jantung Naya berdetak lebih cepat bukanlah ukuran tubuh bayangan itu, tatapan mata merah menyala yang menembus kegelapan, menatap lurus ke arah perut Naya.
Naya tidak mundur justru dia maju satu langkah, menantang balik tatapan mengerikan itu.
"Kalau cuma berani ngintip dari luar kayak pengecut, mending kamu pergi, tempat ini bukan arena bermain mu," ucap Naya lagi, nadanya terdengar dingin dan sangat mengintimidasi.
Mendengar ucapan Naya, bayangan hitam itu bergerak lambat.
Salah satu tangannya yang memiliki kuku-kuku panjang dan tajam terangkat, menyentuh permukaan kaca jendela seolah ingin meraih sesuatu yang beraroma manis itu.
“Darah... penerus... raja...”
Naya meringis kecil sambil memegangi pelipisnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya tetap menggenggam pisau.
Anehnya, rasa sakit di kepalanya tidak bertahan lama, detak jantung di dalam perutnya kembali menguat, menyebarkan gelombang energi hangat yang seketika menghalau rasa pusing dan bisikan aneh tersebut.
Begitu rasa sakitnya hilang, bayangan hitam di luar balkon itu tiba-tiba melompat mundur dan menghilang ke kegelapan malam, menyisakan embusan angin kencang yang menghantam kaca luar.
"Dia pergi..." bisik Naya, pelan.
Naya menurunkan pisaunya, napasnya sedikit terengah-engah, lalu segera berjalan mendekati pintu kaca, memeriksa kuncinya sekali lagi, lalu menutup gorden tebal rapat-rapat hingga tidak ada celah sedikit pun untuk melihat ke luar.
"Makhluk apa sebenarnya tad itu?" bisik Naya sambil menyandarkan punggungnya ke dinding, tangannya kembali mengusap perutnya yang terasa hangat.
"Kamu sebenarnya anak siapa, sayang? Kenapa mereka semua mengincar mu?" tanya Naya lirih pada perutnya, yang tentu saja tidak mendapat jawaban selain denyutan halus yang menenangkan.
Sementara itu, Catalina sedang mondar-mandir di dalam kamar tidurnya yang luas.
Rasa kesal dan penasaran yang membakar hatinya membuat wanita itu tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat, namun dia masih menunggu kabar dari orang-orang suruhannya.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu kamar memecah keheningan.
Catalina langsung berbalik dengan cepat dan membuka pintu.
Ceklekk
Di depan kamarnya, berdiri orang kepercayaannya sedang memegang sebuah map cokelat tebal.
"Gimana? Kamu udah dapet info soal Kanaya?" tanya Catalina tanpa basa-basi, langsung menyambar map tersebut.
"Sudah, Nona, informasi ini kami dapatkan dari orang dalam yang bekerja di agen properti elite pusat kota," jawab Taufik sambil membungkukkan badannya sedikit.
Catalina langsung membuka map itu dan membaca lembaran kertas di dalamnya dengan mata yang melebar penuh kepuasan.
"Penthouse di pusat kota? Di lantai paling atas gedung?" gumam Catalina, lalu tertawa sinis.
"Pantas aja dia tidak pernah kelihatan di mansion nya lagi, ternyata dia bersembunyi di sana. Tapi, buat apa dia tinggal di sana yang jaraknya sangat jauh dari perusahaan nya, kalau tidak ada yang dia sembunyikan?" tanya Catalina pada dirinya sendiri, otaknya mulai menganalisis situasi.
"Ada satu hal lagi yang aneh, Nona," ucap pria kepercayaan Catalina.
"Apaan? Cepat ngomong, jangan setengah-setengah!" seru Catalina dengan nada tidak sabar.
"Dokter pribadi sekaligus sahabat dekat Nona Naya yang bernama Dokter Fanya, terlihat mengunjungi penthouse itu membawa peralatan medis, salah satunya adalah alat USG," jawab pria itu dengan suara berbisik.
Mendengar itu senyuman di wajah Catalina langsung membeku, dia terdiam selama beberapa detik, mencoba mencerna informasi yang baru saja ia dengar.
"USG? Maksud kamu alat yang biasa dipake buat periksa orang hamil?" tanya Catalina, memastikan pendengarannya tidak salah.
"Benar, Nona, dan menurut informasi dari rumah sakit tempat Dokter Fanya bekerja, belakangan ini Dokter Fanya sering mengambil jadwal kosong hanya untuk datang ke penthouse milik Nona Naya," jawab pria itu lagi.
Catalina tertegun, lalu sedetik kemudian, senyuman licik kembali terkembang di wajahnya yang dilapisi riasan tebal itu.
Matanya berkilat penuh kemenangan, seolah-olah baru saja menemukan harta karun yang sangat berharga.
"Hamil? Kanaya hamil?!" seru Catalina setengah tertawa, merasa di atas angin.
"Selama ini dia selalu pasang tampang sok suci, sok terhormat, dan tidak pernah deket dengan pria mana pun, kalau sekarang dia tiba-tiba hamil diam-diam sampai harus sembunyi, itu artinya anak itu hasil hubungan haram!" ucap Catalina dengan nada penuh kebencian sekaligus kegembiraan yang meluap-luap.
"Apakah Anda ingin kami menyebarkan berita ini ke media sekarang, Nona?" tanya orang kepercayaan Catalina, bersiap menerima perintah selanjutnya.
Catalina mengangkat tangan kanannya, mengisyaratkan bawahannya untuk menahan diri.
"Jangan dulu, kalau cuma gosip tanpa foto atau bukti yang kuat, dia bisa dengan mudah nekan pihak media pake uang dan kekuasaannya," jawab Catalina, menunjukkan sisi liciknya yang penuh perhitungan.
"Terus, apa rencana Anda selanjutnya, Nona?" tanya pria itu lagi, penasaran dengan jalan pikiran bos nya ini.
Catalina berjalan menuju jendela kamarnya, menatap lampu-lampu kota dengan pandangan meremehkan, membayangkan wajah Naya yang akan hancur sebentar lagi.