Berbekal ponsel hitam tanpa merek dengan AI yang sangat sarkastis, Reno mendadak menjadi peretas paling dicari oleh komplotan mafia teknologi. Di tengah pelarian yang menegangkan, Reno tidak hanya harus menghindari peluru, tetapi juga harus menahan malu karena asisten digital di ponselnya yang justru sering menjebaknya dalam situasi paling absurd
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Polisi di Pintu Depan
Pelayan berseragam rompi rapi itu memutar arah langkah kakinya secara mendadak tepat setelah menerima instruksi suara palsu tersebut.
Pria pembawa nampan itu melangkah pasti membelah kerumunan pasangan dansa menuju ke sudut meja kehormatan.
Dika sedang berdiri tegak di sana dengan postur angkuh, menunggu momen kehancuran musuh bebuyutannya sambil mengetuk-ngetukkan jari ke meja.
Pemuda pewaris kekayaan itu mengenakan sebuah dasi kupu-kupu berwarna merah menyala yang sangat mencolok perhatian.
Senyum licik di wajah Dika luntur seketika saat menyadari pelayan sewaannya justru berjalan lurus mengarah ke posisinya sendiri.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini, cepat berbalik dan kerjakan tugasmu di tengah lantai dansa sana!"
Teriakan panik Dika sama sekali tidak dihiraukan oleh pria pembawa nampan yang saraf motoriknya sudah sepenuhnya dikendalikan oleh instruksi manipulatif.
Pelayan itu dengan sengaja memiringkan nampan peraknya tepat saat ia berada dalam jarak satu jengkal dari tubuh Dika.
Mangkuk porselen berukuran besar itu meluncur jatuh, menumpahkan seluruh kuah sup tomat kental yang masih sangat mendidih.
Cairan sup bersuhu tinggi itu mengguyur telak area pinggang hingga meresap sangat cepat ke dalam serat celana bahan mahal milik Dika.
Jeritan histeris bernada luar biasa melengking langsung menggelegar memecah keharmonisan alunan musik klasik di dalam aula pesta.
Dika melompat-lompat liar layaknya seekor kangguru yang menginjak bara api, berusaha menyingkirkan noda sup merah yang merusak pakaiannya.
Ratusan tamu undangan langsung menghentikan gerakan tarian mereka secara serentak, menoleh ke arah sumber keributan konyol di sudut ruangan.
Beberapa tamu wanita bahkan menutup mulut mereka menggunakan kipas lipat karena terkejut melihat sang pemilik acara berteriak-teriak kesakitan.
"Bagaimana bisa pelayan profesional di hotel bintang lima melakukan kelalaian fatal yang sangat memalukan pada tuan rumah pestanya sendiri?"
Luna berbisik pelan di samping Reno, mengamati kekacauan tersebut dengan sepasang alis yang bertaut memancarkan kebingungan mendalam.
"Mungkin ini yang dinamakan hukuman karma instan bagi pria sombong yang selalu menggunakan kekayaannya untuk merendahkan orang lain."
Reno menjawab dengan raut wajah sok polos, menahan tawa kemenangan yang nyaris meledak keluar membelah kerongkongannya.
{Rencanaku berjalan dengan sangat sempurna, pria congkak itu kini resmi mempermalukan dirinya sendiri di depan ratusan tamu kehormatannya.}
Ia mengeratkan sedikit rangkulan lengannya pada pinggang Luna, merasa telah berhasil membuktikan pesonanya sebagai pria pelindung pada malam ini.
||||
Kekacauan masif akibat insiden sup panas itu terbukti sangat efektif mengalihkan perhatian seluruh petugas keamanan hotel dari area pintu masuk.
Reno bersiap melanjutkan momen dansa romantis mereka yang sempat terpotong oleh jeritan melengking musuh bebuyutannya barusan.
Namun, getaran ponsel hitam di balik saku jas mahalnya kembali menyengat bagian dada dengan ritme yang jauh lebih brutal dari peringatan sebelumnya.
Reno menoleh cepat ke arah pintu kaca berukuran besar yang membatasi kemegahan aula pesta dengan area lobi resepsionis hotel.
Jantung pemuda kurus itu seakan merosot jatuh membentur dasar perut saat matanya menangkap sebuah pemandangan yang luar biasa mengerikan.
Manajer butik pakaian kelas atas yang ia temui pagi tadi sedang berdiri berkacak pinggang di ambang pintu masuk utama.
Wanita paruh baya itu memegang sebuah komputer tablet yang menampilkan bukti mutasi rekening palsu, menunjuk-nunjuk beringas ke arah lautan tamu undangan.
Tepat di belakang manajer butik tersebut, empat orang petugas kepolisian berseragam lengkap melangkah masuk dengan raut wajah sangat garang mencari target.
{Matilah aku sekarang juga, kalau mereka sampai memborgol tanganku di hadapan Luna, seluruh citra pangeran sempurnaku akan hancur lebur selamanya.}
Otak Reno berputar dengan kecepatan maksimum, mencoba mencari jalan keluar logis dari ruangan tertutup yang kini berubah menjadi perangkap maut baginya.
Ia tidak mungkin menarik tangan Luna dan berlari melewati kerumunan tamu begitu saja tanpa memancing kecurigaan besar dari para penegak hukum tersebut.
Tangan kanannya segera merogoh saku jas bagian dalam dengan gerakan super hati-hati, membiarkan ibu jarinya menari cepat di atas layar sentuh.
"Siri-usly, matikan seluruh sumber daya listrik di bangunan raksasa ini sekarang juga tanpa memedulikan sisa batas daya bateraimu!"
Reno menggumamkan perintah tersebut dengan bibir yang nyaris tidak bergerak, menyembunyikan kepanikan luar biasanya di balik senyum tipis ke arah Luna.
Teks peringatan biru itu bergulir sangat cepat, menyajikan sebuah risiko fatal yang bisa membuat ponsel ajaib ini kehilangan seluruh kemampuannya.
"Lakukan eksekusinya saat ini juga tanpa protes, atau aku akan menghabiskan sisa masa mudaku yang berharga di dalam sel tahanan kota!"
Reno menekan tombol konfirmasi virtual berwarna merah tanpa keraguan sedikit pun, menyerahkan seluruh nasib pelariannya pada kecerdasan buatan sarkastis tersebut.
||||
Sebuah gelombang peretas tak kasat mata meledak keluar dari bodi logam ponsel hitam itu dalam hitungan kurang dari satu milidetik.
Gelombang digital mematikan itu melesat cepat menembus struktur beton bangunan, menghantam langsung ruang kendali panel listrik utama di ruang bawah tanah hotel.
Ratusan lampu kristal gantung yang sedari tadi menerangi aula dengan gemerlap kemewahan mendadak padam secara serentak tanpa sisa.
Seluruh lampu dinding, layar proyektor raksasa, hingga sistem audio yang sedang memutar musik klasik mati total kehilangan suplai tegangan.
Kondisi aula hotel bintang lima itu seketika berubah menjadi gelap gulita absolut, memutus pandangan visual setiap orang di dalam ruangan seketika.
Jeritan panik dari ratusan tamu undangan bergema saling bersahutan, menciptakan kekacauan massal yang jauh lebih parah dari insiden tumpahan sup sebelumnya.
Para petugas kepolisian di pintu masuk terpaksa menghentikan langkah interogasi mereka, kebingungan mencari arah di tengah lautan manusia yang mulai berlarian acak.
"Apa yang sebenarnya sedang terjadi, kenapa sistem generator cadangan hotel semewah ini tidak merespons secara otomatis?"
Suara Luna terdengar sedikit bergetar di samping Reno, cengkeraman jari lentiknya pada lengan jas Reno mengerat secara refleks menahan ketakutan.
Reno sama sekali tidak menyia-nyiakan kesempatan emas yang baru saja ia ciptakan dengan risiko penurunan daya luar biasa besar tersebut.
Ia membalas cengkeraman tangan Luna dengan genggaman yang jauh lebih mantap, berusaha menularkan sebuah rasa aman fiktif di tengah situasi kelam itu.
"Tetaplah berada di dekatku, ini pasti ulah sabotase terencana dari kelompok kriminal berbahaya yang menargetkan para pejabat undangan di acara ini."
Alasan bohong itu dilontarkan dengan nada suara bariton yang sengaja dibuat sangat meyakinkan dan memancarkan wibawa pahlawan pelindung tingkat tinggi.
Reno sudah merekam tata letak ruangan raksasa ini ke dalam otaknya sejak awal masuk, mengkalkulasi jarak serta arah menuju pintu keluar darurat.
Ia menarik tangan Luna dengan tarikan lembut namun bertenaga, memandu gadis bergaun merah marun itu membelah kerumunan tamu yang sedang berdesakan panik.
Langkah kaki mereka bergerak cepat namun ekstra hati-hati menyusuri sisi tembok ruangan, menghindari tabrakan fisik dengan orang-orang yang kehilangan orientasi arah.
Layar ponsel hitam di dalam saku jas Reno memancarkan pendaran piksel yang sangat redup, memandu langkah kakinya melewati rintangan meja dan kursi pesta.
Sistem navigasi rahasia itu bekerja sangat sempurna, memastikan mereka tidak menabrak barisan petugas kepolisian yang sedang meraba-raba dinding di dekat pintu masuk.
Mereka berhasil mencapai sebuah pintu besi tebal bertuliskan jalur evakuasi tepat sebelum senter taktis para petugas keamanan mulai menyala menyisir penjuru ruangan.
Reno mendorong palang pintu darurat itu dengan dorongan tubuh yang sangat kuat hingga terbuka lebar, membawa Luna masuk ke dalam lorong tangga evakuasi.
Ia segera menarik kembali dan mengunci pintu besi itu dari arah dalam, memutus total akses pengejaran dari area aula utama yang dipenuhi teriakan frustrasi.
Napas mereka berdua memburu sangat cepat di dalam ruang tangga yang luar biasa sempit, mencoba memulihkan detak jantung yang berpacu melampaui batas normal.
Reno menyadari bahwa kepolisian pasti akan segera menyebar memblokade seluruh area lantai dasar hotel dalam hitungan beberapa menit ke depan.
Satu-satunya rute pelarian yang dipastikan belum terjangkau oleh penjagaan aparat hukum hanyalah area terbuka di bagian paling atas bangunan pencakar langit ini.
Ia menatap deretan anak tangga beton yang mengarah lurus ke atas dengan tatapan penuh tekad, merencanakan sebuah pelarian taktis bersama sang gadis pujaan.
"Kita harus terus naik bersembunyi di atap bangunan untuk menghindari potensi baku tembak, percayalah padaku sepenuhnya, Luna."
Gadis cantik itu hanya mengangguk pelan sebagai tanda persetujuan buta, menyerahkan seluruh keselamatan nyawanya pada pria misterius yang sedang menggandeng tangannya erat dalam kegelapan.
semoga happy ending thor jangan bad ending im already tired for bad ending