NovelToon NovelToon
Bestie,KUA Di Sebelah Mana?

Bestie,KUA Di Sebelah Mana?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Nikahmuda
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Karakter Utama:

​Arga: Cowok yang biasanya tenang, rapi, dan selalu jadi "penjaga" kalau mereka nongkrong. Tapi malam itu, dia sama mabuknya.

​Kinar: Cewek ceplas-ceplos, panikan, dan tipe sahabat yang tahu semua aib Arga dari zaman masih ngompol sampai sekarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Perhatian Kecil di Pagi yang Chaos

Matahari pagi belum sepenuhnya menampakkan diri, namun sisa-sisa air hujan semalam masih menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang hingga ke dalam kamar kontrakan. Di dalam kamar depan, alarm ponsel Kinar sudah menjerit untuk yang kelima kalinya sejak pukul lima subuh. Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, Kinar meraba nakas, mematikan alarm dengan gusar, lalu mendongak menatap jam dinding yang melingkar di kamarnya.

Pukul enam lewat empat puluh lima menit.

"Mampus! Gue telat!"

Kinar melompat dari tempat tidur seolah-olah kasurnya baru saja dialiri arus listrik berkekuatan tinggi. Kesadarannya langsung pulih seratus persen. Pagi ini adalah jadwal bimbingan krusialnya dengan Pak Bambang—dosen pembimbing utama yang terkenal tidak memiliki toleransi sedikit pun terhadap keterlambatan. Terlambat satu menit saja di hadapan pria paruh baya itu, artinya Kinar harus merelakan draf bab tiganya dicoret habis tanpa sempat ia jelaskan, atau yang lebih buruk, draf itu akan dilempar ke tempat sampah seperti yang menimpa kakak tingkatnya bulan lalu.

Suara gaduh dari kamar Kinar rupanya terdengar sampai ke luar. Pintu kamar mandi yang terletak di dekat dapur terbuka, menampilkan Arga yang baru saja selesai mandi dengan handuk yang masih melingkar di lehernya dan rambut hitamnya yang basah berantakan.

"Lo ngapain sih pagi-pagi udah kaya reog?" tanya Arga heran, memperhatikan Kinar yang keluar kamar dengan rambut acak-acakan mirip sarang burung, sibuk mencari kemeja putihnya yang entah terselip di mana.

"Gue telat, Arga! Pak Bambang minta ketemu jam setengah delapan teng di ruang jurusan! Kalau gue telat, tamat riwayat skripsi gue semester ini!" jawab Kinar panik setengah mati. Suaranya melengking tinggi, kepanikan yang luar biasa membuat gerakan tangannya menjadi kikuk saat membongkar isi lemari pakaian.

Arga menghela napas panjang melihat pemandangan kacau di depannya. Bukannya ikut panik atau menjahili Kinar seperti biasanya, cowok itu justru melangkah tenang menuju dapur. "Mandi sana cepat. Gak usah dandan kelamaan, muka lo pas-pasan juga gak bakal berubah jadi mirip aktris Korea dalam waktu lima menit. Biar gue yang urus sisanya."

"Gue gak ada waktu buat dandan, Arga! Dan stop ngehina muka gue pagi-pagi!" teriak Kinar dari dalam kamar mandi, menyuarakan kekesalannya di tengah suara gemercik air yang terburu-buru.

Di luar, Arga bergerak dengan cekatan. Dia menyalakan kompor gas, memanaskan wajan, dan mulai memasak nasi goreng mentega instan dengan telur mata sapi di atasnya. Tangannya yang biasa memegang stang motor balap atau stik game kini terlihat begitu terampil membalik telur. Tak butuh waktu lama, aroma gurih nasi goreng langsung menguar, memenuhi seluruh sudut rumah kontrakan mereka yang sempit.

Dua puluh menit kemudian, Kinar keluar dari kamar dengan kemeja putih yang sedikit kusut di bagian lengan dan rok hitam formal. Tas ranselnya sudah bertengger di pundak, sementara tangannya sibuk memakai flat shoes dengan tergesa-gesa di dekat pintu depan.

"Gue berangkat duluan ya, Ga! Gak sempat sarapan, gue pesen ojek online aja!" seru Kinar, tangannya sudah memegang gagang pintu.

"Gak usah sok tahu. Gak bakal ada ojek online yang mau ambil orderan lo jam segini di daerah macet begini," potong Arga tiba-tiba. Cowok itu sudah berdiri di dekat meja makan, sudah rapi dengan jaket denim andalannya dan kunci motor yang berputar di jari telunjuknya. Di tangan kirinya, ada sebuah kotak bekal plastik berwarna hijau mint dan satu botol air mineral dingin.

Kinar menghentikan gerakannya, menatap Arga dengan bingung. "Maksud lo?"

Arga berjalan mendekat, lalu tanpa permisi menyodorkan kotak bekal itu tepat ke depan dada Kinar. "Nih, bawa. Gue tahu otak lo yang pas-pasan itu gak bakal kuat dengerin omelan Pak Bambang kalau perut lo kosong. Di dalem udah gue tulisin catatan kecil biar lo gak bego-bego amat pas ditanya dosen."

Kinar menerima kotak bekal itu dengan perasaan campur aduk. Detak jantungnya yang tadi berpacu karena panik akibat dikejar waktu, mendadak berubah ritme menjadi getaran halus yang aneh di dalam dadanya. Dia menatap kotak bekal itu, lalu beralih menatap wajah Arga yang berekspresi datar seolah apa yang dilakukannya barusan adalah hal paling biasa sedunia.

"Lo... masakin gue sarapan?" tanya Kinar lirih, suaranya mendadak melunak.

"Bukan buat lo, tapi buat eksistensi gue sebagai suami yang bertanggung jawab di mata hukum fiktif kita," kilah Arga cepat, membuang muka ke arah lain untuk menyembunyikan semburat merah tipis yang mendadak muncul di telinganya. "Udah, jangan banyak tanya. Ayo naik motor gue, gue anter ke kampus biar gak telat. Kalau lo telat dan nangis-nangis di rumah, kuping gue yang bakal pengang dengernya."

Kinar tidak bisa menahan senyum tipis yang terbit di bibirnya. Rasa panik yang tadi sempat membakar dadanya perlahan menyublim, digantikan oleh rasa hangat yang begitu nyaman. Meskipun ucapan cowok itu selalu dibalut dengan kalimat sarkasme dan ejekan, Kinar tahu betul bahwa Arga adalah tipe orang yang berbicara dengan tindakan, bukan dengan bualan manis.

Sepanjang perjalanan menuju kampus di atas motor sport hitam milik Arga, Kinar memeluk kotak bekal itu dengan erat di dadanya. Angin pagi yang dingin menerpa wajah mereka, menembus jaket denim yang dikenakan Arga. Entah karena dorongan rasa takut jatuh akibat Arga yang mengegas motornya dengan kecepatan tinggi membelah kemacetan, atau karena alasan lain yang enggan Kinar akui, tangannya perlahan bergerak maju, menggenggam ujung jaket denim Arga dengan erat.

Arga yang merasakan tarikan di jaketnya sempat melirik dari kaca spion. Dia tidak memprotes, tidak juga mengejek seperti biasanya. Cowok itu justru menarik tuas gasnya sedikit lebih dalam, meliuk-liuk di antara deretan mobil yang terjebak macet dengan kemahiran yang luar biasa, memastikan bahwa gadis di belakangnya tidak akan kehilangan masa depannya hari ini.

Tepat pukul tujuh lewat dua puluh lima menit, motor Arga berhenti dengan mulus di depan gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Kinar segera turun, merapikan roknya yang sedikit berantakan.

"Makasih ya, Ga. Lo beneran penyelamat gue pagi ini," ucap Kinar tulus, matanya menatap Arga dengan binar penuh rasa syukur.

Arga membuka kaca helm fullface-nya, menatap Kinar dengan senyum miring khasnya. "Gak gratis ya, Nar. Pulang bimbingan, lo utang pijitin pundak gue yang pegal gara-gara bawa motor kaya kesetanan tadi. Sana masuk, jangan tengok belakang lagi."

Kinar mengangguk cepat, lalu berbalik dan berlari kecil memasuki koridor kampus menuju ruang jurusan. Setelah memastikan punggung Kinar menghilang di balik belokan koridor, Arga baru mengembuskan napas beratnya. Dia menatap telapak tangan kirinya yang sempat gemetar saat memasak tadi karena ikut panik melihat Kinar yang ketakutan.

"Sial... kenapa gue jadi sepeduli ini sama dia?" gumam Arga pada dirinya sendiri, sebelum akhirnya menutup kembali kaca helmnya dan memutar balik motornya meninggalkan area kampus dengan perasaan yang makin tidak menentu.

Sementara itu, di depan pintu ruang Pak Bambang, Kinar duduk di kursi tunggu sambil mengatur napasnya yang terengah-engah. Sembari menunggu namanya dipanggil, dia membuka kotak bekal pemberian Arga. Di atas tumpukan nasi goreng yang rapi, terdapat sebuah potongan kertas kecil dari notes kuning yang ditempel di bagian dalam tutup kotak.

Tulisan tangan Arga yang cakar ayam tapi masih bisa dibaca itu berbunyi:

‘Semangat revisiannya, Nyonya Mahendra gadungan. Kalau Pak Bambang galak, bayangin aja mukanya mirip Rendi yang abis gue usir kemarin biar lo gak takut. Habisin nasinya!’

Kinar spontan menutup mulutnya dengan sebelah tangan, menahan pekikan gemas yang hampir saja lolos dari bibirnya. Wajahnya kembali memanas, dan kali ini, dia tahu pasti bahwa itu bukan karena hawa panas hawa ruangan kampus, melainkan karena ulah seorang Arga Mahendra yang sukses membuat pertahanan gengsinya runtuh perlahan-lahan.

1
Delia_Sherlyn
bola mata ap bola apa?
Markario Putra: bola matanya k,siap salah🙏😄
total 1 replies
Delia_Sherlyn
semangat ya kak, mohon izin untuk jadi refrensi🙏
Markario Putra: ok ka👍
total 1 replies
Markario Putra
Untuk sahabat ku semua yang baru membaca novel ku ini,jangan lupa untuk klik tombol IKUTI ya kawan ku semua🙏🙏
Kim Borahae
hi, saya pembaca baru. ceritanya masuk di aku 🤣. semangat terus ya author.


btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh tinggalkan komen di novel saya juga ya. tinggal tekan profile, terima kasih /Smirk//Rose/
Kim Borahae: terima kasih yaa
total 2 replies
Markario Putra
Tinggalkan komentar Anda🙏🙏
Markario Putra: untuk sahabat ku,mohon tinggalkan komentar supaya sy bisa lebih semangat lagi untuk menulis🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!