Di balik gaun megah bertabur mawar merah dan dansa yang begitu mesra, tersimpan sebuah rahasia yang mematikan.
Melanie mengira ia telah menemukan cinta sejatinya pada diri Glen, seorang pria menawan yang memperlakukannya bak seorang ratu tanpa cela, seperti mawar merah yang indah tanpa duri (Thornless Red Rose). Namun, Melanie tidak pernah tahu bahwa di balik tatapan penuh kehangatan itu, Glen sedang merajut jaring balas dendam yang kejam terhadap keluarganya.
Ketika kebenaran perlahan mulai terkuak, Melanie harus menghadapi kenyataan pahit: apakah cinta Glen kepadanya murni nyata, ataukah ia hanya sekadar bidak dalam permainan balas dendam yang dirancang untuk menghancurkan hidupnya?
Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di atas bara dendam, di mana batas antara ketulusan dan pengkhianatan menjadi begitu tipis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Labirin Rasa yang Menyesatkan
Sinar matahari pagi yang menerobos celah gorden kamar Glen tidak mampu mengusir hawa dingin yang telanjur membeku di dalam hatinya. Semalaman ia tidak tidur. Lembaran buku catatan bersampul kulit di atas mejanya tetap bersih dari tinta baru, sebuah bukti bisu bahwa sang penyulam aksara telah kehilangan kendali atas ceritanya sendiri. Dengan langkah kaku dan kaus hitam polos yang dibalut jaket denim yang sudah mengering, Glen melangkah keluar dari rumah mewahnya yang sepi.
"Den Glen, ini bekalnya jangan lupa dibawa," panggil Bik Sisi setengah berlari dari arah dapur, menyodorkan sebuah kotak makan kecil dengan senyum tulus yang tak pernah luntur.
Glen menghentikan langkahnya di dekat pintu utama, menatap wanita tua yang rambutnya sudah memutih seluruhnya itu. "Terima kasih, Bik. Glen berangkat dulu. Jaga Papa ya."
"Pasti, Den. Hati-hati di jalan. Jangan terlalu banyak melamun," pesan Bik Sisi lembut.
Sepanjang perjalanan membelah jalanan Jogja menuju Universitas Airrawan, pikiran Glen bercabang tak karuan. Paradoks di dalam dadanya kian meradang. Setiap kali bayangan wajah ayahnya yang kosong muncul, rasa bersalah langsung menghantamnya karena di saat yang sama, kehangatan jemari Melanie di taman kemarin menolak untuk enyah dari ingatannya. Ia terjebak di dalam labirin yang ia ciptakan sendiri, di mana setiap jalan yang ia pilih selalu berujung pada ketakutan akan runtuhnya dinding kebencian yang ia pelihara.
Sementara itu, suasana di koridor utama Fakultas Bahasa dan Seni sudah mulai ramai. Melanie berjalan beriringan bersama Diandra menuju ruang kelas Teater Praktis. Meskipun langkahnya terlihat tenang, mata Melanie sesekali melirik ke arah tangga, tempat di mana rombongan anak Sastra biasanya muncul.
"Mel, kamu beneran tidak apa-apa kalau hari ini kita ada latihan gabungan lagi?" Diandra menyenggol lengan Melanie dengan raut wajah cemas. "Kalau kamu masih tertekan soal akting kemarin, aku bisa bilang ke Bu Sofia agar peranmu diganti saja."
Melanie menggelengkan kepala, menyunggingkan senyum tipis yang tulus untuk menenangkan sahabatnya. "Tidak perlu, Di. Aku baik-baik saja. Aku tidak boleh lari dari tanggung jawab kelas hanya karena emosi sesaat."
Tepat saat mereka berdua hendak memutar knop pintu kelas, sosok Thone muncul dari arah berlawanan, berjalan sendirian tanpa Glen di sisinya. Begitu melihat Melanie, langkah Thone langsung melambat. Ia memberikan isyarat mata yang seolah mengatakan ada hal penting yang perlu mereka bicarakan.
"Di, kamu masuk duluan saja ya. Aku mau bicara sebentar dengan Kak Thone," bisik Melanie pada Diandra.
Diandra mengernyitkan dahi, melirik Thone lalu kembali menatap Melanie dengan penuh selidik, namun akhirnya mengangguk. "Jangan lama-lama, Mel. Lima belas menit lagi Bu Sofia datang."
Setelah Diandra masuk, Melanie menghampiri Thone yang kini berdiri bersandar pada pembatas koridor lantai dua. "Ada apa, Kak Thone? Apa ini tentang... Glen?"
Thone menghela napas panjang, menatap Melanie dengan pandangan yang sulit diartikan, perpaduan antara rasa iba dan rasa bersalah yang mendalam. "Dia tidak pulang ke rumah lamanya semalam, Mel. Dia mengurung diri di rumah besar keluarganya yang kosong. Aku tahu karena Bik Sisi meneleponku pagi-pagi sekali, menanyakan apakah Glen bersamaku."
Jantung Melanie berdegup dua kali lebih cepat. "Lalu, apa dia datang ke kampus hari ini?"
"Dia datang. Tapi dia bukan lagi Glen yang suka bercanda dengan analogi dongeng fantasinya, Mel," Thone menurunkan volume suaranya, memajukan tubuhnya sedikit. "Glen yang sekarang sedang ketakutan. Dia ketakutan karena dinding benci yang dia bangun belasan tahun ini mulai goyah oleh keberadaanmu. Aku bisa melihatnya kemarin di tempat parkir. Dia membencimu karena nama belakangmu, tapi dia takut... dia sangat takut kalau rasa benci itu berubah menjadi cinta."
Melanie tertegun, kata-kata Thone seolah mengonfirmasi apa yang ia rasakan di taman kemarin. Ada rasa sesak yang aneh menjalar di dadanya, namun di saat yang sama, ada secercah tekad yang kian menguat.
"Aku tidak akan membiarkannya hancur karena aku, Kak," bisik Melanie lirih, menatap lurus ke ujung koridor.
"Aku tahu kamu gadis yang baik, Melanie. Tapi berhati-hatilah," Thone menepuk bahu Melanie pelan sebelum berbalik menuju kelasnya sendiri. "Seorang pria yang ketakutan akan perasaannya sendiri bisa menjadi jauh lebih berbahaya daripada seorang musuh yang nyata."
Melanie berdiri mematung di koridor yang mulai sepi. Rintik gerimis kembali turun membasahi halaman kampus, menciptakan suasana temaram yang muram. Ketika ia membalikkan badan untuk masuk ke kelas Teater, tatapannya mendadak terkunci pada sosok tinggi yang berdiri di ujung lorong yang gelap.
Glen ada di sana, berdiri diam dengan jaket denimnya yang kancingnya terbuka, menatap Melanie dari kejauhan dengan sepasang mata elang yang memancarkan badai emosi yang dahsyat. Tidak ada kata-kata yang terucap di antara mereka, namun di dalam keheningan koridor itu, keduanya tahu bahwa naskah dongeng yang mereka jalani kini telah berubah menjadi pertempuran batin yang siap menghancurkan siapa saja yang menyerah terlebih dahulu.
terlalu mengaitkan kisah fiksinya...