NovelToon NovelToon
Isi Ulang Hidup Ku

Isi Ulang Hidup Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Romansa Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Angka? "
angka yang muncul diatas kepala Ivy, setelah mendapatkan diagnosa dari dokter tentang batas akhir hidupnya.
Ivy yang menghargai setiap waktu, memutuskan untuk hidup untuk dirinya. karena selama ini dia setelah kembali ke keluarga Dermawan. Ivy hidup seperti boneka, membahagiakan orang lain dan bersaing dengan Oliv saudara angkatnya.
Dengan bantuan mamanya yang mengetahui penyakitnya, Ivy melepaskan diri dari otoriter ayahnya.
Hidupnya berwarna disaat akhir hidupnya, saat bersama warga desa Gemilang. sambil memikirkan cara menambah angka hidupnya, sampai suatu hari dia tidak sengaja mencium Rama cahya yang merupakan paman mantan tunangannya.
Yang bisa menambah hari angka kehidupannya,akhirnya Ivy mendapatkan cara agar dirinya bisa hidup lebih lama.
Tapi sepertinya Ivy mengalami kesulitan, karena Rama bukan pria yang mudah didekati wanita.
Bisakah Ivy terus dekat dengan Rama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22.Tawaran dan kesempatan.

Begitu suara pengumuman mereda, musik lembut kembali mengalun memenuhi ruangan. Tanpa memberi kesempatan Ivy untuk membantah atau memprotes lebih lanjut, Rama langsung memutar badannya sedikit, menjulurkan satu tangannya dengan sikap yang sangat sopan namun tetap memancarkan kekuasaan.

“Kalau begitu, mari kita buktikan kepada semua orang bahwa kita memang serius,” ucapnya dengan nada rendah yang hanya terdengar oleh Ivy.

Ivy masih tertegun, namun sebelum ia sempat menolak, tangan Rama sudah menyentuh pinggangnya dengan lembut namun tegas, sementara tangan lainnya menggenggam jemari gadis itu. Tanpa bisa menghindar, ia pun dibawa melangkah mengikuti irama musik menuju tengah lantai dansa. Semua mata kembali tertuju pada mereka, melihat pasangan yang terlihat sangat serasi—Rama yang gagah dan berwibawa, serta Ivy yang anggun dan bersinar bagai bintang.

Selama beberapa saat mereka bergerak mengikuti alunan melodi, suasana terasa tenang dari luar, namun di dalam hati keduanya penuh pertanyaan dan perasaan yang campur aduk. Ivy menunggu hingga merasa cukup aman untuk berbicara tanpa didengar orang lain, lalu menunduk sedikit dan berbisik dengan nada dingin namun tegas.

“Baiklah, sekarang kita berdua saja. Apa sebenarnya maksudmu dengan rencana pernikahan yang tiba-tiba ini? Kau benar-benar gila, ya, Paman?”

Begitu mendengar sebutan terakhir itu, raut wajah Rama langsung berubah. Ia mengerutkan dahi, matanya sedikit menyipit menatap wajah Ivy dengan ekspresi kesal yang jelas terlihat. Ia memperlambat gerakan dansanya sejenak.

“Paman? Kenapa kau menyebutku begitu? Apakah aku terlihat setua itu?” tanyanya dengan nada yang sedikit meninggi namun tetap rendah. “Selama ini kau memanggilku Tuan Rama, kenapa tiba-tiba berubah menjadi paman?”

Ivy tidak merasa takut sedikit pun, justru menjawab dengan nada santai dan tenang seolah hal itu sudah jelas. “Bukankah Oliv sudah bertunangan dengan Brian, keponakanmu? Kalau begitu, secara hubungan keluarga aku memang harus menyebutmu sebagai paman, bukan? Itu hanya sopan santun.”

Rama mendengus pelan, lalu mempererat sedikit genggamannya pada tangan Ivy. “Mulai hari ini, lupakan semua hubungan itu. Sekarang kau bukan lagi sekadar orang asing atau adik angkat dari tunangan keponakanku. Kau akan menjadi calon istriku. Kedua keluarga sudah mendengarnya, dan ayahku sudah merestui. Setelah ini, tidak ada yang bisa menolak lagi.”

Mendengar ucapan itu, raut wajah Ivy menjadi semakin tegas. Ia mengangkat kepalanya sedikit, menatap lurus ke dalam mata Rama. “Tidak! Aku menolak. Kau benar-benar tidak waras. Menikah dengan gadis yang umur hidupnya sudah dihitung dan tinggal sedikit saja? Apa Tuan Rama tidak takut menyesal nanti?”

Rama hanya tersenyum tipis, senyum yang terasa menggoda dan sama sekali tidak terbebani oleh kenyataan itu. “Kenapa harus menyesal? Menjadi duda karena ditinggal istri secantik dan sebaik dirimu justru akan membuatku terlihat beruntung, bukan malang. Dan percayalah, setelah kau tiada nanti, aku tidak akan menikah lagi. Aku akan tetap setia menjadi duda yang keren selamanya.”

Mendengar jawaban itu, mulut Ivy terbuka sedikit karena kaget, lalu seketika ia mendengus geli sekaligus kesal. “Dasar pria gila! Belum resmi menikah saja sudah memikirkan bagaimana rasanya menjadi duda yang keren. Apa otakmu dipenuhi hal-hal aneh seperti itu?”

Percakapan mereka terhenti sejenak saat putaran dansa membawa mereka melewati sekelompok tamu. Begitu agak menjauh, Ivy kembali menegaskan pendiriannya dengan suara yang lebih tegas namun tetap lembut. “Sekali lagi, aku tidak mau. Aku tidak ingin menikah dengan siapa pun, apalagi dengan seseorang yang baru saja aku kenal dan yang tadi sempat menghinaku.”

Namun, jawaban Rama kali ini membuat napas Ivy tercekat dan pikirannya langsung berputar cepat. Ia mendekatkan wajahnya sedikit ke telinga Ivy, suaranya terdengar rendah namun penuh makna.

“Benarkah kau tidak mau? Bahkan jika itu berarti kau mendapatkan ‘sumber daya’ yang bisa memperpanjang umurmu? Ingatlah apa yang kau butuhkan. Jika kita menikah, kau tidak perlu lagi merasa canggung atau takut. Kau bisa leluasa memegang tanganku, mendekatiku, bahkan menyentuh seluruh tubuhku sesuka hatimu. Semua itu menjadi hakmu yang sah. Bukankah itu yang selama ini kau cari dariku?”

Kalimat itu menusuk tepat ke inti permasalahan yang selama ini disembunyikan Ivy. Ia terdiam seketika, langkah kakinya hampir terhenti. Di dalam benaknya, angka “47 Hari” yang melayang di atas kepalanya seolah berkedip, mengingatkannya pada kenyataan pahit bahwa waktunya semakin sedikit. Jika menikah adalah satu-satunya cara agar ia bisa terus mendapatkan energi untuk memperpanjang hidupnya, mengapa harus menolak? Bukankah ini kesempatan emas yang tidak akan datang dua kali?

Setelah berpikir sejenak dengan hati dan pikiran yang matang, Ivy mengangkat wajahnya kembali. Tatapannya sudah berubah menjadi lebih mantap dan penuh kesadaran. Ia menatap Rama dengan pandangan yang tidak lagi penuh kesal, melainkan penuh perhitungan.

“Baiklah… aku setuju. Kita akan menikah,” jawabnya singkat namun tegas.

Senyum tipis yang penuh kemenangan dan rasa puas terukir jelas di wajah Rama. Ia tahu gadis itu akhirnya melihat akal sehat dan keuntungan yang bisa didapatkan. Tanpa perlu banyak bicara lagi, mereka melanjutkan dansa dengan gerakan yang terlihat semakin serasi, seolah memang sudah menjadi pasangan yang sempurna.

Beberapa hari setelah pesta itu, kabar pertunangan dan rencana pernikahan Rama Cahya dengan Ivy Dermawan menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru kota. Semua orang membicarakannya, menganggapnya sebagai persatuan dua keluarga paling berpengaruh, sekaligus mengagumi keberuntungan Ivy yang dipilih oleh pria paling diidamkan banyak wanita.

Sesuai adat dan kesepakatan, keluarga Cahya segera mengirimkan rombongan utusan untuk melamar dan membawa seserahan yang jumlahnya luar biasa mewah. Di halaman kediaman Dermawan, tertata rapi kotak-kotak berisi perhiasan emas dan permata, uang tunai dalam jumlah besar, surat-surat tanah dan saham, serta tiga buah kunci mobil mewah terbaru. Semua itu diserahkan oleh asisten pribadi Kakek Candra dengan rasa hormat.

Ivy yang melihat semua itu merasa terkejut sekaligus tidak nyaman karena terlalu berlebihan, namun ia tahu menolak hanya akan menimbulkan masalah baru. Ia menerimanya dengan anggun sesuai petunjuk ibunya.

Di sisi lain, Oliv hanya bisa menatap dari kejauhan dengan mata berkaca-kaca penuh rasa iri dan kebencian yang semakin memuncak. Ia merasa posisinya tergeser total, dan segala rencananya untuk menguasai harta keluarga Dermawan perlahan hancur.

Sementara itu, Tuan Tio yang selama ini sangat keras kepala dan selalu menentang keinginan Ivy untuk mengambil jurusan kedokteran, tiba-tiba berubah pikiran sepenuhnya. Pengaruh dan nama besar keluarga Cahya membuatnya sadar bahwa mendukung putri kandungnya justru akan membawa keuntungan lebih besar. Ia pun akhirnya menyetujui sepenuhnya keinginan Ivy melanjutkan pendidikan yang ia cita-citakan.

Namun, perubahan paling nyata dan terasa hanya diketahui oleh Ivy sendiri. Sejak malam dansa itu, di mana tangan Rama tidak pernah melepaskan genggamannya dan tubuh mereka terus bersentuhan dalam waktu lama, angka yang melayang di atas kepalanya perlahan berubah. Dari semula hanya “47 Hari”, kini angka itu telah naik menjadi “60 Hari”. Selain itu, kondisi fisiknya pun terasa jauh lebih baik; rasa lemas dan nyeri yang sering menyerang tubuhnya kini jarang sekali muncul.

Ivy tersenyum dalam hati, menyadari bahwa keputusannya untuk menerima pernikahan ini bukanlah kesalahan. Ia mendapatkan kesempatan untuk hidup lebih lama, sekaligus memiliki kekuatan baru untuk membuktikan dirinya dan membalas segala perlakuan buruk yang pernah diterimanya dari Oliv dan ayahnya yang terlalu memihak.

1
𝒁𝒆𝒍𝒊𝒏𝒆
lnjt
Musdalifa Ifa
semangat up Thor 💪, cerita nya ok
Alia Chans
lanjut, like + 🌹🤭😉



kalo berkenan mampir juga thor🤭😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!