NovelToon NovelToon
Dua Kali Jatuh Cinta

Dua Kali Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi
Popularitas:952
Nilai: 5
Nama Author: SAIDA VALE

Nadia mati mengenaskan akibat dikhianati. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan memindahkan jiwanya ke tubuh Chelsea Latief, gadis kaya raya yang sedang koma.

Terbangun sebagai Chelsea, Nadia tidak hanya harus mencari cara untuk menghancurkan orang-orang yang telah membunuhnya di masa lalu, tetapi ia juga harus bertahan hidup di rumah mewah yang penuh dengan konspirasi racun, sekaligus menghadapi Reynald—tunangan arogan yang tiba-tiba berbalik mengejar cintanya.

"Aku bukan Chelsea yang bisa kamu injak-injak lagi, Tuan Reynald."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAIDA VALE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Perang Mental di Balik Dinding Marmer

Aroma maskulin yang familier dari parfum mahal milik Reynald menguar, mengunci ruang gerak Nadia. Jarak di antara mereka begitu dekat hingga Nadia bisa merasakan kehangatan napas pria itu di keningnya. Namun, alih-alih panik karena posisinya yang terpojok oleh intimidasi sang CEO, Nadia justru melipat tangannya di dada. Sorot matanya tetap tenang, sedalam sumudra yang tak tertebak.

"Tuan Reynald, tindakan Anda ini bisa memicu kesalahpahaman jika dilihat oleh para jurnalis di luar," ucap Nadia, suaranya mengalir tenang tanpa ada getaran gugup sedikit pun.

"Aku tidak peduli dengan jurnalis, Chelsea," desis Reynald. Rahangnya mengetat, dan sepasang mata elangnya menatap lurus, mencoba menembus kabut misteri yang menyelimuti wanita di hadapannya. "Jawab pertanyaanku. Tatapan matamu, caramu berbicara, hingga tekanan psikologis yang baru saja kamu jatuhkan pada Baskoro dan Elena... itu bukan tindakan seorang gadis labil yang baru bangun dari koma. Siapa kamu sebenarnya?"

Nadia menarik napas perlahan. Di dalam otaknya yang cerdas, ia langsung menyusun strategi penolakan yang logis. Membongkar rahasia bahwa jiwanya adalah Nadia Kirana yang bereinkarnasi hanya akan membuatnya dianggap gila atau justru menjadi kelinci percobaan medis. Ia harus memberikan jawaban yang masuk akal bagi seorang pebisnis skeptis seperti Reynald.

Nadia mengulas senyum tipis, lalu mendongak menantang tatapan Reynald. "Tuan Reynald, apakah begitu sulit dipercaya jika seseorang bisa berubah total setelah merasakan dinginnya ambang kematian?"

Reynald tidak bergeming. "Orang bisa berubah, Chelsea. Tapi mereka tidak mendadak menguasai taktik negosiasi bisnis dan mengetahui seluk-beluk konspirasi kematian seorang CEO dari perusahaan lain dalam semalam."

"Kematian Nadia Kirana bukan rahasia yang terkunci rapat bagi orang yang mau membuka matanya," balas Nadia dengan nada meremehkan. "Sebelum saya tidak sadarkan diri karena racun di rumah itu, saya tidak sengaja membaca beberapa berkas audit internal Baskoro Corp yang dikirimkan ke alamat surel lama ayah saya. Keluarga Latief dan mendiang Nadia Kirana pernah memiliki rencana investasi bersama yang digagalkan secara sepihak oleh Baskoro tepat setelah Nadia tewas."

Nadia menjeda kalimatnya, membiarkan kebohongan yang dirancang dengan rapi itu meresap ke dalam logika Reynald.

"Jadi, saat saya melihat pembunuh berdarah dingin seperti Baskoro dan Elena tertawa lepas di atas penderitaan orang lain, sementara saya sendiri hampir mati karena diracun oleh orang terdekat saya... rasa simpati dan amarah saya bangkit. Saya hanya menggunakan informasi itu untuk menggertak mereka. Apakah itu salah?"

Reynald terdiam selama beberapa saat. Matanya menyipit, menganalisis setiap jengkal ekspresi wajah Chelsea. Penjelasan itu terdengar sangat logis dari sudut pandang bisnis, namun instingnya yang tajam tetap merasakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh wanita ini. Ada ikatan emosional yang terlampau pekat saat Chelsea menyebut nama Nadia Kirana tadi.

"Kamu wanita yang berbahaya, Chelsea," ucap Reynald akhirnya, perlahan menjauhkan tubuhnya dan memberi Nadia ruang untuk bernapas. Ia merapikan lipatan tuksedonya dengan gerakan tenang. "Kamu menyembunyikan cakar di balik gaun indahmu."

"Di dunia yang penuh dengan serigala seperti ini, menjadi kelinci yang penurut hanya akan membuat saya berakhir di dalam perut mereka untuk kedua kalinya, Tuan Reynald," sahut Nadia sembari merapikan helaian rambutnya yang sedikit turun. "Dan bukankah Anda lebih suka bekerja sama dengan wanita yang berbahaya daripada gadis manja yang hanya bisa menangis merepotkan Anda?"

Reynald memalingkan wajahnya sejenak, menyembunyikan secercah kilat ketertarikan yang semakin kuat di matanya. Chelsea yang sekarang benar-benar berada di frekuensi yang sama dengannya. Dingin, taktis, dan penuh perhitungan.

"Kerja sama kita hanya berlaku jika kamu tidak membawa masalah Baskoro Corp ke dalam lingkaran bisnis perusahaanku," ucap Reynald dengan nada memperingatkan.

"Tentu saja. Musuhku di Baskoro Corp dan mansion Latief adalah urusanku sendiri. Anda hanya perlu menjadi perisai hukum saya di depan publik," jawab Nadia penuh percaya diri.

Sebelum mereka sempat kembali ke aula utama, ponsel di dalam tas kecil milik Nadia bergetar. Nadia membukanya dan mendapati sebuah pesan singkat dari nomor tidak dikenal. Namun, kali ini bukan pesan ancaman mekanis seperti sebelumnya.

Nomor Tidak Dikenal: Nona Chelsea, jika Anda ingin tahu siapa yang membeli zat beracun yang dimasukkan ke dalam susu Anda tiga hari lalu, datanglah ke ruang bawah tanah nomor 104 Hotel Grand Hyatt sekarang. Jangan bawa Reynald jika Anda ingin informan ini tetap hidup.

Nadia menatap layar ponselnya dengan mata yang seketika menggelap. Seseorang sedang memasang umpan di dalam hotel ini. Apakah ini jebakan dari Paman Hendra, atau justru ada sekutu misterius yang ingin membantunya?

Nadia menyimpan kembali ponselnya, lalu menoleh ke arah Reynald dengan senyuman formal yang sempurna. "Tuan Reynald, saya perlu ke kamar kecil sebentar untuk merapikan riasan wajah saya. Anda bisa kembali ke aula terlebih dahulu."

Reynald menatapnya dengan pandangan selidik yang tajam. "Jangan membuat masalah di gedung orang lain, Chelsea."

"Saya hanya wanita lemah yang ingin membedak wajah, Tuan yang terhormat," canda Nadia sarkastik sebelum membalikkan badannya dan melangkah pergi menyusuri koridor yang menuju ke arah lift barang, mengabaikan jalur menuju kamar mandi utama.

Nadia menekan tombol lift menuju lantai bawah tanah. Detak jantungnya berirama konstan, dipenuhi oleh adrenalin yang memuncak. Di dalam hatinya, jiwa Nadia Kirana berbisik penuh keberanian: Siapa pun yang berada di bawah sana, entah itu kawan atau lawan... aku akan memastikan mereka tahu bahwa mereka sedang berhadapan dengan orang yang salah.

Pintu lift berdenting terbuka, memperlihatkan lorong ruang bawah tanah hotel yang remang-remang, sunyi, dan berbau beton lembap. Nadia melangkah keluar, bersiap menghadapi teror berikutnya yang sudah menanti di balik pintu nomor 104.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!