NovelToon NovelToon
Please, Menikahlah Denganku!

Please, Menikahlah Denganku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:246
Nilai: 5
Nama Author: Nona Khansa

Aku tidak meminta banyak padamu, hanya satu hal. Menikahlah Denganku!

Cinta yang terpaut 2 tahun lebih tua dari Arhan, siapa bilang ia tidak bisa mendapatkannya? Ia bertekad pada dirinya, apapun yang terjadi Lula Khansa hanyalah miliknya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Khansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1-Dewa Penolong

Lula khansa atau biasa di panggil Lula itu menatap semua buku-bukunya yang berserakan dilantai dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

"Maksut lo apa coba?? Bilang ke pak Bahri kalo gue gak ikut kerja kelompok???" Tari, salah satu pelaku yang sering sekali membuli Lula itu menarik rambut Lula hingga ia mendongokkan kepalanya. "Sengaja? Iya? Biar gue dimarah? "

Lula menggelengkan kepalanya cepat dengan wajah yang sudah ketakutan. Ini bukan cuman sekali ataupun dua kali ia diperlakukan seperti ini oleh temannya, tapi dari awal ia masuk sekolah SMA hingga sekarang kelas XII ia sudah menjadi korban bully. "E-enggak Tar... G-gue c-cuman.. "

Belum sempat Lula melanjutkannya perkataannya, Tari sudah lebih dulu menampar wajah Lula dengan begitu keras.

Plak!

"Apapun alesan yang lo buat, gue gak akan pernah percaya ataupun kasian! Dasar miskin! Sampah! Jelek! Item! " Ucap Tari dengan perkataannya yang memang sudah sering ia lontarkan pada Lula. Jika tadi ia menjambak lalu menamparnya, maka kali ini Tari menarik tangan Lula dengan keras sampai terasa hingga tulang. "Mending ada yang mau sekelompok sama gembel. Udah dikasih baik malah ngelunjak apa coba namanya kalo bukan anj-"

"Apa yang kalian lakukan disini? " Suara berat nan berdamage itu dikeluarkan. Langkah kaki cowok berbaju seragam sama yaitu putih abu-abu itu semakin mendekat.

Tari dan Lula sama-sama menoleh secara bersamaan.

Ketika melihat cowok itu, Tari langsung melepaskan pegangan tangannya dari lengan Lula. "A-arhan... " Tari berucap dengan wajah ketakutan.

"Pergi atau gue aduin ke bokap biar lo di keluarin dari sekolah ini". Tatapannya tajam yang seperti elang itu tentu saja membuat Tari jadi semakin takut. Tanpa banyak kata lagi Tari segera pergi menjauh dari tempat itu.

Lula menundukkan wajahnya. Menatap tanah yang saat ini sedang ia duduki tadi. Mentalnya benar-benar hancur berkali-kali akibat perlakuan dari para teman-temannya. Tidak ada satupun orang yang mau berteman dengannya semenjak dulu. Lagi-lagi ia sendirian dalam sedihnya.

"Bangun.." tangan kokoh Arhan mengulurkan tangannya tepat didepan wajah Lula.

Mendengar suara cowok yang tadi menolongnya dari amukan iblis, Lula langsung mengangkat kepalanya. Menatap lengan kokoh cowok dihadapannya. Siapa yang tidak kenal dengan Arhan? Ia adalah pemilik sekolah Nusa Bulan, tempat ia saat ini menempuh pendidikan. Meskipun Arhan masih kelas sepuluh, namun satupun tidak ada yang berani menentang ucapannya, ya karena ia adalah anak dari pemilik sekolah ini.

"Enggak perlu kok, aku bisa sendiri, tanganku kotor" Ucap Lula yang sebenarnya ia menolak Arhan secara halus. Alesannya simpel saja, ia tidak mau jika nantinya akan jadi masalah.

"Kakak menolak tanganku?" Tanya Arhan yang tidak berubah. Tangannya masih terulur tepat didepan wajah Lula.

Lula beberapa detik menimang-nimang apakah ia harus menerima uluran tangan anak dari sang pemilik sekolah ini atau tidak. Ia menolehkan beberapa kali, memastikan tidak ada yang melihatnya disini. Setelah dirasa aman, barulah Lula mengangkat tangannya, menggenggam tangan kokoh yang ukurannya dua kali lebih besar dibandingkan miliknya itu.

" Kakak gak papa kan? Tadi di apain sama perempuan itu?" Tanya Arhan setelah Lula sudah berdiri tegak.

Lula tersenyum tipis mendengar pertanyaan dari Arhan. Baru kali ini ada manusia yang peduli dengan keadaannya. Biasanya tidak akan ada orang satupun yang mananyai kabarnya, bukan hanya manusia bahkan alam bumi pun ia rasa juga tidak peduli dengan keadaannya. "Aku gapapa kok Arhan. Makasih ya udah mau nolongin."

Arhan mengangguk dengan tampan. "Aku paling gak suka ada yang namanya bullying disini kak, pokoknya kalo ada yang bully kakak lagi, kakak harus ngomong sama aku, dengan senang hati aku bakal nolong kakak." Titah Arhan dengan senyuman hangatnya. Ia memang cowok yang hangat dan penuh kasih sayang. Namun senyuman dan kasih sayang itu bisa saja pudar menjadi seorang singa apabila ada orang yang membuatnya benci.

Lula semakin melebarkan senyumannya. Ia tidak menyangka, Arhan anak si pemilik sekolah ini sangat sangat sangat baik padanya. Arhan berbeda dengan semua orang yang ada disini. Walaupun usia Arhan lebih muda dua tahun dari Lula, tapi entah kenapa Arhan sudah seperti cowok dewasa yang mengerti dengan segala hal. "Makasih Arhan, aku gak nyangka ada orang sebaik kamu." Titah Lula dengan wajah kagum.

Arhan mengangguk. "Aku bantu obati kakak ya di UKS." Tolong Arhan yang melihat bagian sudut bibir cewek didepannya mengeluarkan darah.

Dengan cepat Lula menggelengkan kepalanya. "Eh ... Enggak usah, gapapa, saya takut kamu nanti jadi bahan gosipan anak sekolah. Enggak usah, aku seneng kamu tadi bantu aku."

Arhan mengangkat satu alisnya, karena Lula yang tingginya lebih pendek darinya Arhan harus menunduk melihat kakak kelasnya itu. "Gosip anak sekolah?." Tanya Arhan dengan ekspresi bingung. "Siapa yang berani buat gosip anak dari pemilik sekolah ini? Sampe ada, aku yang bakal maju lawan mereka. Udah ayo!" Tanpa diduga Arhan menggenggam tangan Lula dan menariknya menuju ruang UKS untuk mengobati luka di ujung bibir Lula.

Lula yang tiba-tiba mendapatkan perlakuan tersebut sedikit tersentak tanpa bisa memberontak. Ia terlalu kaget jadi tidak bisa berkutik dan hanya menuruti ajakan dari Arhan untuk ke ruang UKS.

Dan benar saja, disetiap koridor sekolah saat mereka melewati jalan menuju ruang UKS, beberapa pasang mata menatap mereka dengan tatapan bertanya-tanya. Ada yang menatapnya dengan tatapan membenci seolah-olah iri dengan sikap Arhan kepada Lula.

Selama perjalanan, Lula hanya menundukkan kepalanya tanpa berani mendongok sedikitpun. Ia takut dengan mereka semua, ia takut akan kembali diperlakukan seperti babu dan binatang lagi.

Sesampainya di UKS, Arhan memerintahkan Lula untuk duduk dikursi yang sudah disediakan diruangan UKS itu.

"T-tapi ...." Lula begitu sangat tidak enak hati dengan Arhan. Ia benar-benar tidak pantas mendapatkan perlakuan khusus dari Arhan.

"Tinggal duduk apa susahnya si kak? Jarang-jarang loh seorang Arhan mau membantu kakak kelasnya." Arhan tersenyum, menunjukkan gigi gingsul bagian kirinya yang membuatnya siapa saja dapat meleleh jika melihat senyuman manis itu.

Mau tidak mau Lula pun menurut dengan Arhan. Ia mulai menaiki kasur ukuran kecil itu.

Sementara Arhan saat ini sedang mencari kotak P3K dilemari kayu yang tersedia tak jauh dari kasur. Setelah menemukannya, barulah ia langsung mengambilnya dan berjalan ke tempat Lula duduk.

Jantung Lula hampir copot saat Arhan yang sudah ikut duduk menghadapnya. Ia mengamati pergerakan Arhan yang sedang menyiapkan obat merah untuk mengobati lukanya. Rasanya seperti sebuah keajaiban yang tak nyata. Baru sekali seumur hidupnya ada seorang cowok yang sangat peduli padanya hingga mau mengobati luka yang tidak seberapa itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!