NovelToon NovelToon
MY HOT KILLER LECTURER

MY HOT KILLER LECTURER

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cinta Terlarang / CEO
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

"Aku memaafkan pengkhianatanmu demi nama baik keluarga, tapi hatiku sudah mati."

Arga, CEO 30 tahun, terjebak nikah bisnis dengan istri yang hamil anak orang lain. Hatinya dikunci rapat.

Sampai Queen, mahasiswi bar-bar 20 tahun + pewaris universitasnya, datang dan menantang semua aturan.
Satu ciuman di club malam meruntuhkan tembok esnya.

Sekarang Arga harus pilih: Tetap di neraka pernikahan, atau terbakar dalam gairah terlarang dengan mahasiswinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTEMUAN DI MEJA MAKAN

Siang itu, Grand Indonesia Mall tampak begitu ramai oleh pengunjung yang ingin menghabiskan waktu luang di akhir pekan. Dentingan musik bernada jaz samar-samar terdengar dari pelantang suara yang terpasang di sepanjang langit-langit mal mewah tersebut, berpadu dengan riuh rendah obrolan ratusan manusia yang berlalu-lalang di antara gerai-gerai pakaian bermerek internasional.

Di antara kerumunan itu, Queen berjalan dengan langkah santai yang memikat, membelah koridor mal bersama Karin. Hari ini, Queen tampil memukau dengan gaya kasual namun berkelas mengenakan halter neck crop berwarna hitam yang memamerkan bahu indahnya yang putih bersih, dipadukan dengan celana kulot satin berpinggang tinggi berwarna krem. Rambut bergelombangnya dibiarkan tergerai bebas, berayun lembut setiap kali ia melangkah. Di sebelahnya, Karin sibuk membawa beberapa kantong belanjaan berlogo butik kosmetik ternama.

"Sepi banget ya gak ada Alya," celetuk Karin sambil membetulkan letak tali tas jinjingnya. "Dia ada urusan apa sih mendadak banget? Padahal kan dia yang paling semangat kalau diajak berburu diskon sepatu."

Queen terkekeh renyah, menyesap minuman es kopi di tangannya. "Katanya ada acara makan siang keluarga yang gak bisa dia hindari. Tahu sendiri kan bokapnya kalau udah manggil, dia gak bakal bisa berkutik." Queen menjawab santai, sama sekali tidak tahu bahwa 'urusan keluarga' yang dimaksud Alya melibatkan salah satu nama paling berpengaruh di kampus mereka.

Namun, takdir tampaknya punya cara sendiri untuk mempermainkan ego Queen.

Saat mereka berdua melewati sebuah restoran kasual-mewah bernuansa kaca transparan yang menyajikan hidangan Jepang otentik, langkah Karin mendadak terhenti. Matanya melebar, menatap lurus ke arah salah satu meja V.I.P di sudut dekat jendela restoran.

"Eh, Queen... coba lo lihat ke arah jam dua. Itu bukannya Pak Arga?" bisik Karin setengah heboh, menyenggol lengan Queen dengan siku.

Queen menolehkan kepalanya. Netra bulatnya seketika terkunci pada sesosok pria bertubuh tegap yang sedang duduk memunggungi lorong mal. Meskipun hanya terlihat dari belakang, Queen sangat mengenali postur tubuh tegap dengan bahu kokoh yang terbalut kemeja flanel premium hitam-putih itu. Itu memang Arga Dirgantara. Dan di hadapannya, duduk seorang wanita berambut bob rapi dengan gaun rajut mahal berwarna pastel yang tampak sangat anggun. Keysha.

"Wah, gila sih. Itu istrinya, kan? Cantik banget, Queen," puji Karin spontan tanpa menyaring ucapannya terlebih dahulu. Matanya berbinar kagum melihat keanggunan Keysha dari balik kaca restoran. "Auranya elegan banget, kayak wanita karier kelas atas yang berpendidikan tinggi. Pantesan Pak Arga betah banget jadi suami teladan, serasi banget mereka berdua."

Plak!

Ucapan Karin barusan terasa seperti sengatan lebah yang tepat sasaran di telinga Queen. Jiwa cegil-nya bergejolak hebat, diiringi rasa tidak terima yang membakar dadanya. Cantik? Elegan? Di mata Queen, wanita itu tidak lebih dari sekadar bayang-bayang masa lalu yang manipulatif, yang semata-mata menggunakan status istri untuk mengikat sang dosen demi kepentingan materi.

"Biasa aja. Masih cantikan gue ke mana-mana," sahut Queen dengan nada bar-bar khasnya, memutar bola matanya malas.

"Ih, serius, Queen! Dia kelihatan berkelas banget. Lo jangan cemburu buta gitu, deh," goda Karin, tidak tahu saja badai apa yang sedang berkecamuk di dalam dada sahabatnya.

Queen tidak menjawab. Sebuah ide gila dan nekat mendadak terlintas di benaknya ketika melihat antrean panjang pengunjung yang sedang menunggu kursi kosong di depan restoran tersebut. Restoran itu benar-benar penuh karena waktu sudah menunjukkan jam makan siang.

"Karin, lo laper kan? Yuk, makan di sana," ajak Queen dengan senyum miring yang penuh arti misterius.

"Hah? Antreannya panjang banget begitu, Queen! Bisa-bisa kita pingsan duluan sebelum dapet meja," protes Karin heran.

"Tenang aja. Kita punya jalur V.I.P," ucap Queen penuh percaya diri. Tanpa menunggu persetujuan Karin, Queen langsung menarik pergelangan tangan sahabatnya itu, melangkah lebar memasuki area restoran dan melewati barisan antrean, berjalan lurus menuju meja tempat Arga dan istrinya berada.

Arga sedang memotong daging wagyu di piringnya dengan gerakan kaku ketika sebuah aroma parfum manis vanila dan buah beri yang teramat familier mendadak menyerbu indra penciumannya. Sarafnya menegang seketika. Sebelum ia sempat mendongak, sebuah suara manja yang teramat renyah sudah terdengar di dekat telinganya.

"Siang, Pak Arga. Wah, kebetulan banget ya kita ketemu di sini."

Arga menghentikan gerakan pisaunya. Ia mendongak dan mendapati Queen sudah berdiri di samping mejanya dengan senyuman manis yang mematikan, ditemani oleh Karin yang tampak sangat canggung dan kebingungan.

"Queen? Karin?" Arga menyebut nama kedua mahasiswanya dengan suara bariton yang datar, mencoba sekuat tenaga mempertahankan topeng esnya di depan sang istri.

"Iya, Pak. Restorannya penuh banget sampai antre di luar, padahal aku sama Karin udah laper banget dari tadi," keluh Queen dengan nada manja yang sengaja dibuat sedih, matanya melirik ke arah dua kursi kosong yang tersisa di meja bundar milik Arga. "Karena kita saling kenal di kampus, boleh gak kalau aku sama Karin numpang duduk di meja Bapak? Daripada kita nunggu lama di luar, kan kasihan mahasiswanya kelaparan, Pak."

Karin menahan napas, merasa ingin menghilang dari muka bumi karena kelakuan nekat Queen yang bener-bener di luar nalar. Namun, ia tidak bisa mundur lagi.

Keysha yang duduk di hadapan Arga tampak menghentikan aktivitas makannya. Ia menatap kedua gadis muda itu dengan pandangan menyelidik, namun segera merubah ekspresinya menjadi ramah dan penuh senyuman anggun. "Siang. Oh, mereka mahasiswa kamu di kampus, Mas?" tanya Keysha lembut.

Arga mengetatkan rahangnya. Pikirannya berputar cepat. Jika ia menolak Queen secara mentah-mentah di depan umum dengan alasan yang tidak logis, Keysha pasti akan menaruh curiga. Apalagi Queen adalah anak dari pemilik yayasan tempatnya mengajar, menolaknya dengan kasar di tempat umum bisa memicu masalah lain. Dengan berat hati dan napas yang tertahan, Arga akhirnya mengangguk tipis.

"Silakan duduk," ucap Arga dingin, kaku, dan tanpa riak emosi.

"Wah, makasih banyak ya, Pak Arga yang baik dan tampan," sahut Queen penuh kemenangan. Ia langsung mengambil posisi duduk tepat di sebelah kiri Arga, sementara Karin duduk di sebelah kanan Keysha dengan senyum canggung yang dipaksakan.

"Kenalkan, ini Keysha, istri saya," ucap Arga memperkenalkan wanita di hadapannya dengan nada formal, mencoba menegaskan batasan status di antara mereka. "Keysha, ini Queen dan Karin. Mahasiswa saya di kelas Ekonomi."

"Halo, Tante Keysha. Salam kenal, ya. Tante cantik banget deh hari ini, pantesan Pak Arga di kampus selalu kelihatan buru-buru pengen pulang," puji Queen dengan nada manis yang sarat akan sarkasme tersembunyi. Kata 'Tante' sengaja ia tekankan untuk menyentil perbedaan usia mereka.

Keysha tersenyum tipis, sedikit terusik dengan panggilan tersebut namun tetap menjaga wibawanya. "Terima kasih, Queen. Salam kenal juga. Panggil Kakak saja tidak apa-apa, saya belum se-tua itu," balas Keysha berusaha ramah. "Mas Arga memang suami yang sangat berbakti pada keluarga."

Karin segera memesan makanan dengan cepat melalui pelayan yang datang, mencoba mencairkan atmosfer meja yang mendadak terasa begitu pekat dan menegangkan. Sementara itu, Arga memilih untuk kembali fokus pada makanannya, menolak untuk menatap Queen yang duduk tepat di sisinya.

Namun, Queen bukanlah tipe gadis yang akan membiarkan targetnya mengabaikannya begitu saja. Jiwa cegil-nya yang liar menuntut sebuah interaksi yang jauh lebih intens.

Di bawah meja makan yang tertutup oleh taplak kain tebal berwarna gelap, Queen mulai melancarkan aksi gilanya. Dengan gerakan yang sangat halus dan terukur, ia melepas salah satu sepatu sandal hak tingginya. Kaki jenjangnya yang mulus perlahan-lapan menjalar ke depan, mencari keberadaan kaki panjang sang dosen.

Sent...

Ujung jari kaki Queen yang lentik dengan berani menyentuh tulang kering Arga yang terbalut celana kain mahal.

Arga tersentak tipis di kursinya. Gerakan makannya terhenti seketika. Ia melirik tajam ke arah Queen dari sudut matanya, memberikan tatapan peringatan yang teramat dingin. Namun, Queen justru membalas tatapan itu dengan senyuman manis tak berdosa sembari memotong daging salmon di piringnya yang baru saja dihidangkan.

Melihat tidak ada perlawanan fisik yang berarti, keliaran Queen semakin menjadi-jadi. Kaki mulusnya kini bergerak naik perlahan, menjalar melewati lutut Arga, menelusuri paha kekar sang dosen dengan gesekan yang sengaja dibuat sensual dan menuntut. Targetnya sudah jelas pusat keintiman pria dewasa itu yang berada tepat di antara kedua pangkal pahanya.

Deg!

Ketika permukaan kaki hangat Queen dengan berani menyentuh dan mengusap area selangkangan Arga yang sensitif, Arga bener-bener tersentak kaget. Tubuh tegapnya menegang sempurna bak ditarik oleh tali busur. Pegangannya pada garpu makan mengeras hingga buku-buku jarinya memutih.

Napas Arga mendadak memburu, ngos-ngosan menahan gelombang gairah liar yang seketika menyengat sistem saraf pusatnya. Sensasi kulit kaki halus mahasiswinya yang menggesek kejantannya di bawah meja, tepat di hadapan istrinya sendiri yang sedang asyik mengobrol dengan Karin, membuat adrenalin Arga terpacu ke tingkat yang sangat berbahaya.

"Mas? Kamu kenapa? Kok mukanya mendadak tegang gitu?" tanya Keysha menyadari perubahan ekspresi suaminya yang mendadak mematung dengan rahang yang mengeras rapat.

Arga menelan salivanya dengan susah payah, jakunnya naik turun dengan cepat. Di bawah meja, ia mencoba menggeser kakinya untuk menghindar, namun kaki Queen justru mengunci pergerakannya dengan jepitan yang teramat berani dan manja, terus memberikan stimulasi yang memabukkan di area terlarang tersebut.

"Gak... tidak apa-apa. Makanan ini hanya... sedikit terlalu pedas," bohong Arga dengan suara bariton yang terdengar sangat serak dan bergetar halus, menahan gejolak monster di dalam diri yang hampir saja meledak karena kelakuan gila sang mahasiswi cegil.

Queen tersenyum sangat manis, menyesap jus jeruknya dengan gaya bar-bar yang teramat santai. "Iya nih, Tante Keysha. Makanan di sini emang kadang suka bikin gerah dan tegang mendadak," timpal Queen dengan nada tanpa dosa, sementara kakinya di bawah meja terus melakukan gerakan memutar yang semakin brutal di atas selangkangan Arga, menguji sampai di mana batas runtuhnya dinding es sang Dosen Killer.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!