Bagi Davina, Barra adalah cinta pertama masa kecil yang tiba-tiba menghilang. Sepuluh tahun berlalu tanpa kabar, Barra kembali ke desa, bukan lagi sebagai pemuda hangat yang ia kenal, melainkan pria asing yang dingin. Tanpa basa-basi, Barra menyodorkan penawaran gila: pernikahan kontrak.
Demi membiayai pengobatan neneknya, Davina terpaksa setuju. Namun, berharap bahagia, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk. Setelah menikah, Barra bersikap sangat kejam, hingga puncaknya pria itu pergi keluar negeri dan mengabaikannya selama dua tahun.
Saat masa kontrak hampir habis, Barra mendadak pulang. Anehnya, sikap pria itu berbalik 180 derajat menjadi sosok yang lembut, hangat, dan penuh perhatian, persis seperti Barra yang dulu ia cintai.
Perubahan drastis membuat Davina didera kecurigaan. Mengapa di saat kontrak akan berakhir, Barra justru ingin mempertahankannya? Rahasia besar apa yang sebenarnya disembunyikan Barra selama sepuluh tahun ini? Apa motif dibalik pernikahan kontrak mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DETAK JANTUNG YANG KEMBALI HADIR
Pagi berikutnya datang dengan membawa suasana yang jauh berbeda di dalam mansion mewah itu. Sinar matahari menembus celah gorden kamar utama, memantulkan cahaya hangat di atas ranjang yang kini tidak lagi terasa mencekam. Kini perasaan Davina jauh lebih ringan, seolah beban berat yang menghimpit dadanya selama berhari-hari telah diangkat tanpa sisa.
Ketika ia melangkah turun ke lantai satu, aroma gurih nasi goreng mentega dan telur mata sapi kembali menyapa indra penciumannya. Di balik meja bar dapur, Barra sudah berdiri tegap tanpa mengenakan jas kerjanya. Pria itu hanya memakai kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan kesan santai namun tetap menawan.
"Selamat pagi, Vina," sapa Barra, langsung menoleh begitu mendengar langkah kaki mendekat. Seulas senyum hangat terukir di wajah tampannya. "Duduklah. Sarapan kesukaanmu sudah siap."
Davina berjalan agak ragu, lalu mengambil tempat duduk di kursi tinggi meja bar. Ia menatap sepiring nasi goreng yang ditata rapi di hadapannya. "Kamu... memasak lagi, Barra?"
"Aku sudah berjanji akan menebus semua kesalahanku, bukan?" Barra meletakkan secangkir teh manis hangat di samping piring Davina, lalu duduk di kursi sebelah istrinya. Tatapannya begitu lembut, mengunci seluruh perhatian Davina. "Makanlah yang banyak. Hari ini aku yang akan mengantarmu ke kantor secara resmi."
Davina sempat ingin menolak karena teringat keributan tempo hari, namun melihat binar penuh harap di mata elang suaminya, ia akhirnya memilih untuk mengangguk pelan dan menyuap sarapannya. Rasa canggung itu masih ada, tetapi getaran aneh di dadanya kini tidak bisa lagi ia sangkal.
Sesuai ucapannya, Barra benar-benar mengantarkan Davina hingga ke depan lobi kantor redaksi. Namun kali ini, tidak ada lagi perlakuan sembunyi-sembunyi atau kepanikan. Barra turun dari mobil, mengitari kap depan, dan membukakan pintu untuk Davina di hadapan beberapa karyawan yang baru saja tiba.
Begitu Davina melangkah masuk ke dalam ruang redaksi, atmosfer di sana sudah berubah total. Tidak ada lagi bisikan miring atau tatapan meremehkan dari Rendi dan teman-temannya. Sebaliknya, semua orang kini membungkuk hormat dan menyapa Davina dengan sangat sopan.
"Selamat pagi, Nyonya Alfarizi," sapa Pak Renaldi yang tiba-tiba sudah berdiri di depan kubikel Davina dengan senyum paling ramah yang pernah ia miliki. "Jika Anda membutuhkan penyesuaian jadwal atau cuti untuk menemani Tuan Barra, silakan ajukan saja langsung kepada saya, ya."
Davina hanya bisa tersenyum canggung dan mengucapkan terima kasih. Ia tahu, pengumuman mutlak dari Barra tiga hari lalu, telah mengubah pandangan semua orang di tempat ini. Penghormatan yang ia terima hari ini adalah bukti bagaimana Barra menaruh harga diri istrinya di tempat tertinggi.
Kejutan dari sang CEO rupanya tidak berhenti sampai di situ. Sore harinya, tepat jam pulang kantor, mobil Barra sudah terparkir rapi di depan gedung. Begitu Davina masuk ke dalam mobil, ia terkejut melihat pakaian yang dikenakan Barra. Pria itu telah mengganti kemeja kerjanya dengan kaus kasual berwarna hitam dan celana jin santai.
"Kita tidak langsung pulang ke rumah?" tanya Davina saat menyadari jalur yang mereka lewati berbeda.
"Hari ini, kita akan melakukan kencan pertama yang sesungguhnya," jawab Barra tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan, namun tangan kirinya bergerak perlahan, meraih jemari Davina di atas pangkuan dan menggenggamnya erat.
Mobil melaju menuju alun-alun kota, tempat di mana sebuah pasar malam rakyat sedang digelar. Suara musik wahana permainan, aroma harum arum manis, dan gemerlap lampu warna-warni langsung menyambut kedatangan mereka. Tempat sederhana ini sangat kontras dengan status Barra sebagai seorang konglomerat, namun tempat ini persis seperti pasar malam di desa yang dulu sering mereka kunjungi bersama saat masih kecil.
Barra menggandeng tangan Davina dengan sangat erat, membelah kerumunan pengunjung tanpa memedulikan tatapan orang lain. Mereka mencoba hampir semua hal, mulai dari membeli gulali kapas, melempar gelang ke dalam botol, hingga duduk bersama di atas wahana bianglala yang berputar lambat.
Saat berada di titik tertinggi bianglala, dengan pemandangan lampu kota di bawah mereka, Davina menoleh menatap Barra yang sedang tersenyum menatap ke luar jendela kaca wahana. Sosok pria dingin dan berkuasa itu seolah lenyap, digantikan kembali oleh Barra kecil yang dulu selalu melindunginya dari kenakalan anak-anak desa.
"Kenapa kamu memilih tempat seperti ini, Barra? Bukankah kamu lebih cocok berada di restoran mewah?" tanya Davina pelan.
Barra menoleh, menatap lekat ke dalam manik mata Davina. Genggaman tangannya mengencang. "Karena di tempat seperti inilah aku pertama kali menyadari bahwa kebahagiaan sejati tidak butuh kemewahan, Vina. Selama dua tahun di London, dikelilingi oleh gedung-gedung tinggi dan jamuan makan malam formal yang kaku, pikiranku hanya tertuju pada satu hal, membawa gadisku kembali ke tempat seperti ini."
Mendengar kalimat itu, tembok es di hati Davina benar-benar mencair tanpa sisa. Benih-benih cinta yang sempat ia kubur dalam-dalam kini telah tumbuh menjadi pohon yang kokoh. Getaran di dadanya bukan lagi karena rasa takut, melainkan karena getaran cinta yang nyata yang kembali menemukan jalan pulangnya.
Malam semakin larut ketika mereka tiba kembali di halaman belakang mansion mewah mereka. Langit malam yang pekat tiba-tiba menurunkan rintik hujan tipis yang membawa hawa sejuk. Bukannya bergegas masuk ke dalam rumah, Barra justru menghentikan langkahnya di bawah lampu taman yang temaram, tepat di atas hamparan rumput hijau yang basah.
Barra berbalik menghadap Davina. Ia mengambil kedua tangan istrinya, lalu meletakkannya di atas bahu tegapnya sendiri, sementara kedua tangan kekarnya merengkuh lembut pinggang ramping Davina.
"Barra, ini hujan," bisik Davina dengan senyuman kecil yang sangat manis, wajahnya merona merah di bawah cahaya lampu taman.
"Biarkan saja sebentar," sahut Barra dengan suara baritonnya yang terdengar begitu lembut. Pria itu mulai menggerakkan langkah kakinya perlahan, membawa Davina berputar mengikuti ritme lambat yang hanya ada di dalam kepala mereka. Mereka berdansa kecil di bawah rintik hujan tipis, mengabaikan dunia luar yang penuh dengan intrik bisnis.
Davina menyandarkan kepalanya di dada bidang Barra, mendengarkan detak jantung suaminya yang berdegup dengan ritme yang sama cepatnya dengan detak jantungnya sendiri. Rasa aman, kehangatan, dan kedamaian yang selama dua tahun ini hilang, kini telah kembali sepenuhnya ke dalam dekapannya.
Barra menghentikan gerakan dansa mereka. Ia menangkup kelembutan pipi Davina dengan kedua telapak tangannya yang hangat. Pria itu menunduk, menatap wajah istrinya dengan binar mata yang dipenuhi oleh rasa syukur dan cinta yang teramat sangat mendalam.
Secara perlahan dan penuh kelembutan, Barra mendekatkan wajahnya, lalu mengecup kening Davina yang terbalut jilbab pasmina dengan sangat lama. Kecupan itu terasa begitu sakral, seolah menyalurkan seluruh jiwa dan janji setianya yang tidak akan pernah diingkari lagi.
Setelah melepaskan kecupannya, Barra tidak menjauhkan wajahnya. Ibu jarinya mengusap lembut sisa rintik air hujan di pipi Davina, lalu ia berbisik dengan suara rendah yang begitu menggetarkan sukma.
"Terima kasih sudah mau kembali belajar mencintaiku, Istriku."
Davina memejamkan matanya, menikmati kehangatan yang menjalar di seluruh tubuhnya. Namun, di tengah kebahagiaan yang baru saja mereka renggut kembali, sebuah bayangan hitam dari masa lalu sedang mengintai di balik kegelapan di luar pagar mansion, siap membawa teror baru yang akan menguji kekuatan cinta mereka.