NovelToon NovelToon
Benang Merah Diujung Mimpi

Benang Merah Diujung Mimpi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO / SPYxFAMILY
Popularitas:412
Nilai: 5
Nama Author: Luh Belong

No Plagiat ❌


Sejak kecil, Valerie Sinclair selalu bermimpi tentang seorang anak laki-laki bernama Hazel yang tumbuh bersamanya, namun setelah Hazel di mimpinya tumbuh remaja wajahnya tak pernah terlihat jelas. Setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan tragis, Valerie menikah kontrak dengan Damian demi membalas budi keluarga konglomerat yang diselamatkan orang tuanya.

Seiring waktu, Valerie jatuh cinta pada Damian karena sosoknya begitu mirip dengan pria dalam mimpinya. Namun sikap Damian yang dingin membuat Valerie memilih bercerai. Saat Damian akhirnya menyadari perasaannya dan berusaha merebut kembali hati Valerie, sebuah kecelakaan mengungkap rahasia mengejutkan tentang mantan istrinya yang membuat Damian prustasi.

Mampukah Damian mendapatkan kembali cinta wanita yang pernah ia sia-siakan, atau kesempatan kedua ini justru datang terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jarak yang terasa dingin

Valerie kembali ke kamarnya. Dengan perasaan bimbang, bersalah, dan sesak yang memenuhi dadanya, Valerie perlahan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.

Pandangannya kosong menatap langit-langit kamar, ia bahkan tidak menyadari kapan air mata itu mulai mengalir. Butiran bening itu jatuh begitu saja, membasahi pelipis dan bantal tempat kepalanya bersandar.

Dadanya terasa sakit, bukan sakit karena ditolak. Melainkan ia menyadari bahwa dirinya telah berharap terlalu jauh. Padahal sejak awal Damian telah berkata dengan jelas.

Tidak akan ada perasaan, dan cinta dalam pernikahannya. Tidak akan ada masa depan bagi mereka selain akhir dari sebuah kontrak. Namun hati manusia memang sering kali keras kepala, semakin berusaha menghindar, semakin dalam ia terjatuh.

Valerie memejamkan matanya.

Kini ia kembali merasa sendirian. Dulu, saat kehilangan kedua orang tuanya, Hazel selalu hadir dalam mimpinya. Menemaninya, menenangkan tangisannya, dan menghiburnya. Kehadiran Hazel meyakinkan dirinya tidak sendirian.

Namun setelah menikah dengan Damian, ia tidak pernah lagi memimpikan Hazel. Taman, tawa, dan kehangatannya perlahan menghilang. Tanpa sadar, Valerie menggantikan ruang kosong itu dengan Damian.

Ia mulai bergantung pada perhatian kecil yang Damian berikan, menunggu suara langkahnya saat pulang bekerja. Menikmati kebiasaan Damian yang suka menggodanya hanya untuk melihat wajah kesalnya.

Dan kini, ia merasa telah kehilangan keduanya. Hazel telah menghilang, dan Damian mungkin akan menjauhi dirinya.

Valerie mengusap air matanya perlahan. Ia bangkit dari tempat tidur, melangkah menuju meja kecil di dekat jendela. Tangannya menggenggam buku sketsa itu untuk terakhir kalinya.

Buku yang selama ini menyimpan rahasia hatinya. Perasaan yang tak pernah berani ia ungkapkan, perasaan yang kini justru membuatnya terluka.

Dengan pelan, Valerie membuka laci meja, lalu meletakkan buku sketsa itu di dalamnya. Menutup laci tersebut rapat-rapat, seolah sedang mengunci perasaannya sendiri.

“Aku tidak boleh mengecewakan Damian lagi.”

gumamnya lirih.

Setelah menarik napas panjang, Valerie melangkah keluar dari kamar. Namun langkahnya terhenti saat ia berdiri di ambang koridor lantai dua.

Dari atas, ia dapat melihat ruang utama mansion.

Damian duduk di sofa bersama Olivia, mereka sedang berbincang santai. Sesekali Olivia tertawa ceria, damian yang biasanya tampak dingin pun juga tertawa hangat. Mereka terlihat begitu nyaman, begitu akrab, begitu serasi. Dan yang paling menyakitkan. Mereka tampak bahagia, tanpa dirinya.

Valerie menggigit bibir bawahnya pelan, dadanya kembali terasa sesak. Ia sadar.

Olivia dan Damian sudah berteman dari kecil. Wanita yang mengenalnya jauh lebih lama, yang mampu membuat Damian tersenyum dengan mudah.

Sedangkan dirinya, hanyalah seseorang yang hadir karena sebuah kontrak. Seseorang yang bahkan tidak pernah diinginkan Damian.

Valerie menundukkan kepalanya, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. Ia segera berbalik. Kembali masuk ke dalam kamar, menutup pintu perlahan, lalu bersandar di baliknya.

Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah, ia memeluk dirinya sendiri. Membenci kelemahan hatinya, membenci dirinya yang begitu mudah jatuh cinta. Mencintai seorang pria yang bahkan sejak awal sudah mengatakan bahwa dirinya tidak membutuhkan cinta.

Kini. Sejak Hazel menghilang dari mimpinya, Valerie benar-benar merasa kesepian. Kehilangan kasih sayang berkali-kali dari orang yang dicintainya.

•●✿●•

Olivia kini semakin sering mengunjungi mansion keluarga Robert. Kedatangannya selalu disambut hangat oleh Damian, seolah kehadirannya telah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.

Namun, seiring berjalannya waktu, Valerie mulai menyadari perubahan itu. Damian tidak lagi menemaninya makan malam, tidak lagi menggodanya saat sarapan. Pria itu perlahan mulai mengabaikan kehadirannya, seakan jarak yang tercipta setelah kejadian buku sketsa itu semakin sulit dijembatani.

Valerie yang menyadari perubahan tersebut akhirnya memilih menjaga jarak, ia berhenti menunggu Damian pulang, berhenti berharap pria itu akan mengajaknya berbicara seperti dulu.

Ia mulai lebih sering menghabiskan waktunya di luar rumah bersama Ariana dan Rachel.

Mereka mencoba berbagai menu di kafe-kafe baru, mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah mereka datangi, dan sesekali tertawa bersama, meski Valerie tahu ada ruang kosong di dalam hatinya yang tidak dapat diisi oleh siapa pun.

Ketika pulang dari kampus dan berpapasan dengan Damian, Valerie hanya memberikan senyum tipis. Damian membalas dengan anggukan singkat, sebelum kembali sibuk dengan pekerjaannya.

Mereka tinggal di rumah yang sama, namun terasa seperti dua orang asing.

Tapi tidak dengan Damian. Malam itu, setelah beberapa bulan berlalu dalam keheningan. Tatapannya terpaku pada sosok Valerie yang sedang duduk di ruang utama sambil membaca sebuah novel. Cahaya lampu hangat menerangi wajahnya yang kini terlihat lebih tenang.

Ada perasaan asing yang mengusik dadanya. Perasaan yang selama ini selalu ia abaikan, tidak nyaman, kosong, dan sedikit sesak. Ia tidak mengerti mengapa dirinya begitu terusik hanya karena Valerie menjaga jarak.

Padahal sejak awal dirinya lah yang membuat Valerie berubah. Ia hanya berharap menjalani hubungan tanpa cinta, tanpa keterikatan dan tanpa harapan.

Namun kenyataannya, ketika Valerie benar-benar berhenti menunggunya, berhenti mengajaknya mengobrol, berhenti tersenyum hangat kepadanya, Damian justru merasa kehilangan sesuatu yang selama ini telah menjadi bagian dari kesehariannya.

Damian berdiri beberapa langkah darinya, ia tampak canggung. Sangat berbeda dari Damian yang biasanya percaya diri dan tenang. Ia berdeham pelan sebelum mulai berbicara.

“Vall...?”

Valerie melirik sekilas, namun tidak berniat menjawab.

Mata mereka bertemu.

Untuk sesaat, Damian kehilangan kata-katanya. Ia menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.

“Valerie...”

“Bisakah kita tidak asing, seperti ini lagi?”

“Maksudku...”

“Kembali seperti sebelumnya.”

Valerie menutup novelnya perlahan, lalu mengangkat wajahnya menatap Damian.

“Aku tidak mengerti apa maksudmu.”

“Bisa ucapkan dengan jelas?”

Damian berusaha tetap tenang, ia mencoba tersenyum meski terlihat canggung.

“Setelah kejadian saat Olivia menunjukkan buku sketsamu...”

“Aku sadar kalau sifatku terlalu buruk padamu, tidak sepantasnya aku menghakimimu tanpa mendengar penjelasan darimu.”

“Dan setelah itu, aku merasa kamu mulai menjauh.”

“Sebenarnya, aku hanya ingin kita tetap seperti dulu.”

“Makan bersama, dan saling menyapa.”

Damian terdiam sejenak sebelum melanjutkan.

“Tapi tetap seperti isi kontraknya...”

“Kita tetap tidak saling mencintai.”

Valerie tersenyum kecil, namun senyum itu tidak lagi hangat.

“Tapi menurutku, akan lebih baik kalau seperti sekarang.”

“Setidaknya dengan cara itu, aku bisa menjaga batasanku.”

Damian terdiam.

Valerie menatap pria itu dengan tenang.

“Karena perasaan terkadang tumbuh tanpa kita sadari.”

“Dan saat kita mulai menyadarinya... Kita tidak dapat mengabaikannya begitu saja.”

Damian yang sejak tadi berdiri akhirnya memilih duduk, ia meremas tangannya dengan gugup. Ekspresinya terlihat bimbang.

“Aku mengerti.”

“Tapi, bisakah kita tetap mengobrol dan makan bersama?”

Valerie tidak langsung menjawab, tatapannya justru tertuju pada pintu utama.

Olivia masuk dengan langkah ringan, seolah mansion itu adalah rumahnya sendiri.

“Halo, Damian.”

Sapanya dengan senyum sumringah.

“Lihat.”

“Aku membawa kopi kesukaanmu.”

Damian refleks berdiri lalu tersenyum.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!