NovelToon NovelToon
Mantan Istri Rahasia Sang CEO

Mantan Istri Rahasia Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Pertiwi Dian

​"Lima tahun lalu, dia diusir dalam keadaan hamil dan dianggap mandul. Kini, dia kembali bukan untuk mengemis cinta, melainkan untuk merebut apa yang menjadi miliknya."

​Elena kembali ke ibu kota sebagai desainer interior kelas dunia dengan satu misi rahasia: mengambil kembali anak perempuannya yang sempat tertinggal di keluarga mantan suaminya, Arthur Arkananta. Namun, takdir mempermainkannya. Klien besar pertama yang harus dia hadapi adalah Arthur sang CEO berdarah dingin yang dulu mencampakannya karena fitnah kejam.

​Di saat Elena mati-matian menyembunyikan putra kembarnya yang genius dari jangkauan Arthur, sebuah rahasia besar di masa lalu mulai terkuak satu per satu. Arthur yang mulai curiga kini berbalik mengejarnya, tetapi Elena bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas.

​Akankah Arthur menemukan kebenaran tentang anak kembar mereka sebelum Elena pergi membawa semuanya? Atau akankah penyesalan sang CEO datang terlambat saat Elena justru bersanding dengan pria lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pertiwi Dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Komandan Dapur dan Algoritma Suhu Steak

Kehangatan dari peresmian studio desain baru di Sayap Barat mansi masih menyisakan senyuman di wajah Elena hingga pagi ini. Namun, alih-alih langsung mengurung diri di depan meja sketsa atau proyektor hologram, Elena memiliki rencana lain yang jauh lebih tidak biasa untuk menghabiskan hari libur penuh Arthur.

​Pukul lima sore, sebuah pengumuman mengejutkan keluar dari bibir sang Co-Chairman baru.

​"Hari ini, semua pelayan, koki, dan asisten rumah tangga di mansi utama libur total dari area dapur," ucap Elena sambil mengikat rambut panjangnya menjadi cepol kasual, menampilkan leher jenjangnya yang anggun. Dia memakai celemek kain bermotif garis-garis biru.

​Arthur yang baru saja turun mengenakan kaus rumahan hitam santai mengernyitkan dahi. "Elena, apa maksudnya? Siapa yang akan memasak makan malam untuk kita?"

​"Kita, Arthur. Kamu, aku, Leon, dan Lia," jawab Elena dengan kedipan mata yang menggoda. "Kamu sudah membelikan aku studio paling mewah, jadi malam ini aku ingin menyuapmu dengan makan malam buatan kita sendiri. Tidak ada pelayan, tidak ada asisten."

​Arthur membeku sesaat. Pria yang sanggup meruntuhkan kompetitor bisnis dalam satu kedipan mata itu mendadak merasa detak jantungnya berpacu lebih cepat karena satu kata: dapur. "Elena, aku bisa menyewa koki bintang lima dari Paris lagi dalam waktu sepuluh menit..."

​"Tidak ada koki, Tuan Arkananta. Masuk ke dapur sekarang atau kamu tidur di sofa malam ini," ancam Elena dengan nada bercanda yang mutlak tidak bisa dibantah.

​Dari arah ruang tengah, Leon berjalan masuk sambil menjinjing sebuah termometer laser digital dan tabletnya, sementara Lia berlari riang mengenakan celemek mini bermotif kelinci merah muda. "Hore! Lia mau bantu bikin kue!"

​Dapur mansi utama yang biasanya rapi dan kaku seketika berubah menjadi medan perang domestik yang sangat bising. Elena membagi tugas dengan adil. Dia sendiri bertugas menyiapkan bumbu pasta, Lia membantu mencuci sayuran, Leon bertugas memantau panggangan daging, dan Arthur... ditunjuk sebagai komandan penggorengan.

​"Arthur, tolong tumis bawang bombai ini sampai harum," perintah Elena, menyerahkan semangkuk irisan bawang kepada suaminya.

​Arthur menerima mangkuk itu seperti menerima dokumen rahasia negara. Di depan kompor induksi canggih dengan tubuh tegak yang kaku. Begitu mentega meleleh dan bawang bombai dimasukkan, bunyi desisan keras terdengar, memercikkan sedikit minyak panas.

​Plesyatt!

​Sang CEO garang yang ditakuti seluruh pebisnis Asia itu spontan melangkah mundur satu langkah dengan wajah menegang tajam, memegang sudit kayu seperti memegang senjata laras panjang. "Elena, minyak ini mengalami anomali tekanan termal. Ini memercik terlalu agresif."

​Elena yang melihat tingkah kaku suaminya langsung meledakkan tawa renyahnya hingga memenuhi ruangan. Dia melangkah mendekat, berdiri di samping Arthur, memegang tangan kekar pria itu dan membimbingnya untuk mengaduk tumisan dengan benar. "Ini namanya memasak, Arthur, bukan perang siber. Jangan kaku begitu."

​Arthur menatap wajah Elena dari samping, mencium aroma manis tubuh istrinya yang bercampur dengan aroma masakan, membuat rasa gengsinya menguap berganti dengan rasa hangat yang membuncah. "Kalau gurunya sedekat ini, aku bersedia memasak setiap hari," bisik Arthur posesif, memanfaatkan momen untuk mengecup pipi Elena cepat.

​"Fokus pada bawangnya, Tuan Arthur," tegur Elena dengan pipi merona.

​Sementara itu, di sudut meja konter marmer, Leon sedang berdiri di atas kursi kecil agar bisa menjangkau panggangan steak premium. Alih-alih memasak dengan insting seperti ibunya, Leon memperlakukan daging wagyu A5 itu seperti sebuah proyek eksperimen laboratorium.

​Jemari mungilnya mengetuk layar tablet, menyinkronkan data termometer laser digital miliknya.

​"Mama, serat otot daging ini membutuhkan suhu internal tepat 54°C untuk mencapai tingkat kematangan medium-rare yang sempurna," lapor Leon datar, mengarahkan sinar laser merah ke atas daging yang sedang dipanggang. "Jika waktu pembalikan daging terlambat tiga detik, tekstur jus di dalamnya akan berkurang sebesar 12% karena penguapan berlebih."

​Arthur yang baru saja menyelesaikan tugas bawang bombainya melirik putranya dengan alis terangkat. "Leon, memasak steak itu menggunakan insting dan ketebalan api, bukan kalkulus."

​"Taktik insting Anda yang membuat bawang bombai itu sedikit gosong di sudut kiri, Papa," balas Leon tenang tanpa menoleh, membuat Arthur seketika terbatuk karena skakmat dari anaknya sendiri.

​"Lia juga bantu! Lihat, wortelnya sudah bersih!" seru Lia bangga, menunjukkan tiga buah wortel yang sudah dicuci bersih (meski airnya sempat terciprat ke mana-mana hingga membasahi celemek kelincinya).

​Elena tersenyum haru, mengambil wortel dari tangan Lia. "Anak pintar. Sekarang Lia bantu Mama menaruh keju di atas pasta, ya?"

​Satu jam berlalu, dan meja makan kecil di sudut dapur akhirnya dipenuhi oleh hidangan hasil kerja sama keluarga Arkananta. Pasta bolognese buatan Elena dan Arthur tampak menggiurkan, berjejer dengan steak wagyu kematangan presisi buatan Leon, serta salad sayur hiasan tangan Lia.

​Mereka berempat duduk bersama, menikmati makanan di bawah siraman lampu dapur yang hangat tanpa ada formalitas pelayan yang melayani.

​"Bagaimana rasa steak buatan kalkulatormu, Leon?" tanya Arthur, memotong sepotong daging wagyu dan memasukkannya ke dalam mulut. Seketika itu juga, mata Arthur sedikit membelalak. Daging itu benar-benar sangat empuk dan meleleh di lidah dengan sempurna.

​"Sesuai algoritma, Papa," jawab Leon datar, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman puas yang sangat tipis saat melihat ayahnya menikmati makanan tersebut.

​Kakek William tiba-tiba melangkah masuk ke area dapur, mengendus aroma harum masakan. "Wah, bau apa ini? Kenapa aroma masakan di dapur hari ini jauh lebih hidup daripada buatan koki bintang limaku?"

​"Kakek Buyut! Ini masakan kita semua! Papa sempat takut sama minyak goreng!" celos Lia dengan polosnya, membuat wajah tampan Arthur seketika berubah menjadi kaku berwibawa menahan malu.

​William meledakkan tawa besarnya, menepuk bahu Arthur keras. "Bagus, bagus! Seorang Arkananta memang harus menaklukkan ruang rapat, tapi di depan istri, kita memang tidak punya kekuatan apa-apa!"

​Elena tertawa lepas, menggenggam erat tangan Arthur di bawah meja. Di dalam dapur yang sederhana ini, di antara tawa anak-anak mereka dan candaan sang kakek, Elena menyadari satu hal: kebahagiaan sejati tidak diukur dari seberapa besar saham yang mereka miliki atau seberapa megah studio siber yang dibangun untuknya, melainkan dari momen-momen domestik yang hangat dan penuh cinta seperti malam ini. Kerajaan Arkananta kini bukan lagi sekadar nama korporasi yang dingin, melainkan sebuah rumah yang utuh, hidup, dan siap menjaga satu sama lain dari badai dunia luar.

1
Indah Wahyuni
bagus ceritanya, alurnya tidak bertele-tele, penokohannya kuat. tinggal bertumbuh dan berkembang SJ authornya.
Dian Pertiwi: Baik siap kakak Terimakasih atas masukannya dan penilaian nya 🙏🏻🥰😘🩷
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!