Mengisahkan rumah tangga Anjani dan Malik yang harus kandas dengan hadirnya sosok Dara, wanita yang merupakan sahabat baik Anjani yang menjadi pelakor dalam rumah tangganya. Hinaan kasar dari mertuanya juga membuat Anjani menyerah dan memutuskan untuk berpisah hingga takdir mempertemukannya dengan bule tampan asal Inggris Oliver Jones yang mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sumpah Sebelum Ditangkap
Malam itu, kemewahan private dining di lantai empat puluh sebuah hotel bintang lima seolah menjadi saksi bisu bagi jatuhnya dinasti Wiratama. Malik Wiratama datang dengan langkah percaya diri, mengenakan setelan jas tuxedo hitam yang ia siapkan untuk pesta pernikahannya nanti. Di sampingnya, Dara Mitha Dahayu berjalan bak ratu, dengan perhiasan berlian yang ia harap bisa memukau para investor asing yang dijanjikan oleh Oliver Jones.
Mereka memasuki ruangan privat yang luas, dengan meja panjang yang tertata rapi. Namun, tak ada investor. Tak ada papan presentasi. Hanya ada tiga orang yang duduk di ujung meja: Oliver Jones, seorang pria dengan seragam resmi dari otoritas penegak hukum, dan Anjani Direja.
Anjani duduk dengan anggun. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya dirias tipis namun memberikan kesan ketegasan yang luar biasa. Ia mengenakan gaun berwarna navy yang elegan. Di depannya, sebuah koper kecil terbuka, memperlihatkan tumpukan dokumen yang sudah ditandai dengan pembatas warna-warni.
Malik menghentikan langkahnya. Senyumnya perlahan sirna, digantikan oleh gurat pucat di wajahnya. "Oliver... apa maksud semua ini? Di mana para investor itu?"
Oliver Jones tidak menjawab. Ia hanya menyesap anggur merahnya dengan santai, lalu memberi isyarat kepada pria di sampingnya. Pria berseragam itu bangkit berdiri.
"Malik Wiratama dan Dara Mitha Dahayu," suara pria itu menggema di ruangan yang sunyi. "Atas nama hukum, kalian dinyatakan sebagai tersangka utama dalam kasus penggelapan dana perusahaan, penyuapan hakim, serta persekongkolan dalam tindakan kekerasan fisik dan penganiayaan terhadap warga sipil. Ini adalah surat perintah penangkapan resmi."
Dunia seolah runtuh bagi Malik. Kakinya lemas hingga ia hampir terjatuh ke lantai. "Tidak! Ini jebakan! Oliver, kau bilang ini pertemuan bisnis!"
"Ini memang bisnis, Malik," sahut Oliver tenang. "Bisnis untuk membersihkan sampah dari pasar industri."
Dara, yang berada di samping Malik, mencengkeram tas tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya yang melotot menatap Anjani dengan kebencian yang mendidih. Ia tidak lagi peduli pada Malik atau citra dirinya. Yang ia inginkan saat ini adalah mencabik-cabik wajah wanita di depannya.
"Anjani!" Dara berteriak histeris, suaranya melengking tajam di ruang yang kedap suara itu. "Kau pikir kau menang? Kau hanya wanita rendahan yang beruntung bisa bersandar pada bule kaya ini! Kau tidak akan bisa menahanku selamanya!"
****
Anjani berdiri dari kursinya. Ia melangkah perlahan mendekati Dara. Tidak ada keraguan, tidak ada rasa takut. Ia berhenti tepat di depan Dara, menatap lurus ke mata wanita yang telah menghancurkan hidupnya, keluarganya, dan harga dirinya.
"Aku tidak menang karena keberuntungan, Dara," ucap Anjani dengan nada rendah yang dingin. "Aku menang karena aku berdiri di sisi kebenaran. Kau mencoba menghancurkan orang tuaku, kau mencoba memfitnahku, dan kau mencoba membeli keadilan dengan uang kotor. Sekarang, lihatlah dirimu sendiri. Kau hanyalah orang yang akan segera memakai baju tahanan."
Petugas mulai mendekati mereka untuk memborgol tangan Malik dan Dara. Malik tampak pasrah, namun Dara justru meronta-ronta dengan brutal. Ia berusaha melepaskan diri dari cengkeraman petugas, namun usahanya sia-sia.
Saat tangan besi itu mengunci pergelangan tangannya, Dara menatap Anjani dengan sorot mata yang penuh dengan janji busuk. "Dengar baik-baik, Anjani Direja. Aku tidak akan mati di sana. Aku akan keluar. Dan saat aku keluar nanti, aku akan memastikan hidupmu jauh lebih menderita daripada neraka yang kau buat untukku! Aku akan kembali, dan aku akan merampas semua yang kau miliki, satu per satu!"
****
"Bawa mereka pergi," perintah Anjani tanpa sedikit pun gemetar.
Saat petugas membawa Dara dan Malik keluar dari ruangan itu, suara teriakan makian Dara masih terdengar hingga ke lorong hotel. Malik hanya tertunduk diam, menyadari bahwa dunianya telah benar-benar tamat.
Setelah pintu tertutup, ruangan kembali sunyi. Anjani menghembuskan napas panjang. Berat beban yang selama ini menekan pundaknya perlahan memudar. Ia menoleh ke arah Oliver yang masih duduk dengan tenang.
"Terima kasih," bisik Anjani.
Oliver berdiri, berjalan mendekat, dan meletakkan tangannya di bahu Anjani. "Jangan berterima kasih padaku. Kau yang melakukan sebagian besar pekerjaannya, Anjani. Kau yang bertahan saat mereka mencoba menghancurkanmu. Aku hanya memberikan panggung agar mereka bisa menjatuhkan diri mereka sendiri."
Malam itu, berita tentang penangkapan besar-besaran terhadap petinggi Wiratama memenuhi layar kaca. Di rumah sakit, Pak Santo dan Bu Purwati menyaksikan berita tersebut dengan air mata bahagia. Sang putri yang selama ini mereka khawatirkan, kini telah membuktikan kekuatannya.
****
Namun, di dalam sel tahanan yang dingin dan sempit, Dara Mitha Dahayu tidak bisa tidur. Ia duduk di sudut sel, tangannya yang terborgol memainkan ujung rambutnya dengan tatapan kosong yang menakutkan. Ia terus mengulang kata-kata Anjani di kepalanya, memutar ulang wajah kemenangan wanita itu.
Dendam bukan lagi sekadar emosi baginya; dendam telah menjadi alasan ia untuk bernapas. Ia mulai menyusun rencana dalam otaknya yang semakin tidak stabil. Ia tahu dia memiliki kontak di luar sana—orang-orang yang belum tertangkap, mereka yang masih setia padanya karena uang yang ia simpan di akun offshore.
"Kau pikir ini berakhir, Anjani?" bisik Dara pada kegelapan sel. "Ini baru prolog. Aku akan membuatmu memohon untuk tidak pernah dilahirkan ke dunia ini."
Sementara itu, di kantor polisi, sebuah telepon berdering di meja salah satu sipir. Seseorang dari pihak yang tak dikenal meminta informasi mengenai durasi penahanan Dara. Di luar, di dunia nyata, Anjani mulai menata kembali hidupnya. Ia tidak lagi bekerja sebagai istri yang tertindas, melainkan sebagai seorang konsultan yang kini memegang kendali atas aset-aset yang tersisa dari perusahaan lama Malik, yang kini berada di bawah pengawasan hukum untuk direstrukturisasi.
****
Kemenangan ini terasa manis, namun bagi Anjani, ia belajar satu hal yang sangat berharga: bahwa dalam dunia yang kejam, keadilan harus dipaksa untuk ditegakkan. Dan musuh yang paling berbahaya bukanlah mereka yang terang-terangan menyerang, melainkan mereka yang diam-diam menyimpan dendam di balik jeruji besi.
Di kejauhan, Oliver Jones menatap layar monitor yang menampilkan data keuangan terakhir perusahaan Malik. Ia tahu segalanya belum sepenuhnya selesai. Masih ada sisa-sisa koneksi Dara di luar sana yang perlu dibersihkan. Namun, untuk malam ini, ia akan membiarkan Anjani menikmati ketenangan yang sudah lama dinantinya.
Anjani melangkah keluar dari hotel, menatap langit Jakarta yang cerah. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, atau bagaimana ancaman Dara akan terwujud. Namun, ia tahu satu hal: ia bukan lagi wanita yang bisa dihancurkan. Ia adalah badai yang siap menghadapi badai lainnya.