Dulu ia dipanggil Ratu Pembunuh. Kini ia hanya Laras, wanita biasa yang bersembunyi di desa terpencil.
Ia berjanji takkan pernah mengangkat senjata lagi. Namun kedatangan Dika, laki-laki yang membawa rahasia serupa, mengubah segalanya. Di antara hamparan hijau dan sungai jernih, benih cinta tumbuh di tanah yang dulu subur oleh dendam. Antara melupakan masa lalu atau kembali menjadi sosok yang ditakuti—Laras harus memilih: bertahan hidup, atau berani mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joice 758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 : Jejak yang Tak Terhapus
Tiga tahun berlalu begitu cepat, membawa perubahan yang indah di setiap sudut Karimun. Bayu kini sudah bisa berlari kesana-kesini dengan kaki mungilnya yang lincah, suaranya riuh memanggil Ayah, Ibu, dan Paman Raka setiap kali melihat kepakan sayap burung atau ombak yang menghantam pantai. Wajahnya kian hari kian mirip dengan Laras—namun sorot matanya belum pernah mengenal ketakutan atau kebencian, hanya rasa ingin tahu yang besar dan senyum yang tak pernah pudar.
Setiap pagi, sebelum matahari terlalu tinggi, Laras sering duduk bersama putranya di pinggir pantai. Ia menceritakan tentang laut yang luas, tentang hutan yang menyimpan banyak rahasia, dan tentang orang-orang yang harus kita jaga.
“Kau tahu, Nak?” kata Laras pelan sambil membelai rambut hitam Bayu yang berantakan tertiup angin. “Dulu Ibu pernah berpikir bahwa dunia ini hanya penuh dengan bahaya dan musuh. Sampai akhirnya Ibu bertemu Ayah, Paman Raka, dan semua orang di sini. Dunia itu indah, Bayu—selama kita memilih untuk melihat keindahannya.”
Bayu hanya mengangguk polos, lalu melemparkan kerikil kecil ke dalam air sambil tertawa riang. Dika yang memperhatikan dari kejauhan tersenyum penuh syukur. Ia tahu, luka masa lalu Laras perlahan sembuh total berhadapan dengan kepolosan putra mereka.
Namun takdir seolah ingin menguji keteguhan hati Laras untuk terakhir kalinya.
Sore itu, saat langit mulai berubah warna menjadi jingga keunguan, seorang lelaki tua yang berpakaian lusuh dan berjalan tertatih-tatih muncul di gerbang rumah mereka. Wajahnya penuh kerutan, rambutnya memutih, namun saat ia menatap Laras, air mata seketika membasahi pipinya yang keriput.
Laras tertegun. Jantungnya berdegup kencang, seolah berhenti berdetak sesaat. Wajah itu... wajah yang tak pernah ia sangka akan ia lihat lagi seumur hidupnya.
“Kau...” suara Laras tercekat.
Lelaki itu jatuh berlutut di tanah yang berpasir halus. “Maafkan aku, Laras... Maafkan aku, Raka...”
Itu adalah Paman Hadi—orang kepercayaan ayahnya dulu, orang yang diketahui telah tewas bersama ayahnya dalam peristiwa pengkhianatan puluhan tahun silam. Orang yang sebenarnya menjadi saksi mata kejadian aslinya, namun yang Laras dengar adalah ia ikut berkhianat dan kemudian menghilang.
Raka yang baru datang dari ladang langsung terbelalak. Ia maju hendak menahan amarahnya, namun Laras memberi isyarat agar ia tenang.
“Kau masih hidup?” tanya Laras dengan suara bergetar. “Dan kenapa kau baru datang sekarang?”
Paman Hadi mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. “Aku selamat karena ayahmu menyuruhku lari membawa bukti, agar nama baiknya bisa dibersihkan suatu hari nanti. Tapi aku tertangkap, dipenjara di pulau terpencil tanpa cahaya matahari selama belasan tahun. Baru kemarin aku dibebaskan setelah penjaga lamanya diganti. Sepanjang waktu itu aku hanya berharap kalian berdua masih hidup.”
Lelaki itu kemudian mengeluarkan selembar kain usang yang berisi dokumen-dokumen kuno, surat perjanjian, dan nama-nama pejabat yang dulu bersekongkol meruntuhkan kekuasaan ayah Laras. Bukti yang selama ini hilang tak berbekas.
“Ini semua milik ayahmu,” lanjut Paman Hadi. “Beliau tidak pernah berniat memberontak. Beliau hanya ingin melindungi rakyat dari keserakahan penguasa saat itu. Aku menyimpannya nyawaku demi barang-barang ini.”
Suasana menjadi hening seketika. Bibi Sari yang mendengar percakapan itu menangis tersedu-sedu, mengenang masa-masa indah bersama keluarga itu. Dika meletakkan tangannya di bahu Laras, memberikan kekuatan tanpa berkata apa-apa.
Namun di tengah rasa haru itu, muncul rasa sakit yang kembali terasa tajam. Bertahun-tahun Laras hidup dalam bayang-bayang tuduhan pengkhianatan, bertahun-tahun ia membenci dunia karena tak tahu kebenaran yang sesungguhnya. Kini bukti itu ada di hadapannya, namun rasa sakit itu tetap ada.
“Kenapa kau tidak pernah mencari kami?” tanya Raka dengan suara gemetar menahan tangis. “Kami tumbuh sendirian, hampir mati kelaparan, diburu di mana-mana...”
“Aku tahu... aku pantas dihukum, pantas dibenci,” Paman Hadi menunduk dalam. “Namun aku berjanji, sisa umurku akan ku habiskan untuk melayani kalian berdua, sebagai permohonan maaf yang tak ternilai harganya.”
Malam itu, Laras duduk sendirian di beranda, menatap rembulan yang bersinar terang di langit gelap. Ia memegang dokumen itu erat-erat, merasakan goresan pena ayahnya yang dulu penuh harapan. Dika duduk di sampingnya, membiarkan istrinya meluapkan segala perasaannya.
“Apakah aku harus memaafkannya, Dika?” tanya Laras pelan. “Bagian dari diriku ingin sekali marah, ingin sekali menyalahkannya atas semua yang kami lalui. Tapi bagian lain... bagian yang sudah kau ajarkan padaku, berkata bahwa dia juga korban.”
Dika menggenggam tangan Laras, menatapnya lembut. “Pengampunan itu bukan untuk dia, Sayang. Pengampunan itu untukmu. Agar sisa hidupmu tak lagi dibebani rasa benci. Kau sudah menjadi ibu, kau sudah menjadi pelindung. Jika kau bisa memaafkan orang yang datang menyerang desa kita dulu, tentu kau juga bisa memberi tempat pada orang yang dulu setia pada ayahmu.”
Keesokan paginya, Laras menemui Paman Hadi yang sedang membersihkan halaman dengan penuh kesungguhan. Wanita itu berdiri di hadapan lelaki tua itu, lalu perlahan berkata:
“Aku tidak akan melupakan apa yang terjadi, Paman. Tapi aku memilih untuk tidak lagi membenci. Selamat datang kembali di rumah keluarga kami.”
Paman Hadi tak sanggup berkata-kata, ia hanya menundukkan wajahnya dan menangis bahagia.
Kehadiran Paman Hadi melengkapi kepingan sejarah yang hilang. Ia menceritakan banyak hal tentang masa kecil Laras dan Raka, tentang kebaikan ayah mereka, hingga rahasia-rahasia kecil yang hanya diketahui keluarga itu. Bayu pun kini punya kakek tambahan yang menceritakan dongeng-dongeng lama yang penuh hikmah.
Berita tentang bukti otentik yang diserahkan Paman Hadi akhirnya sampai ke Kerajaan Utara. Raja yang sudah tua itu merasa lega sekali mengetahui kebenaran yang utuh, dan segera memerintahkan agar nama baik keluarga Laras diabadikan dalam sejarah kerajaan selamanya.
Di sore yang cerah itu, seluruh warga desa berkumpul di pantai. Laras melepaskan bunga-bunga cantik ke dalam air laut, persembahan terakhir untuk ayah dan ibunya yang kini bisa beristirahat dengan tenang—karena kebenaran telah terungkap, dan keturunan mereka hidup bahagia dalam kedamaian.
Laras menatap Bayu yang sedang berlari mengejar kepakan sayap camar, diikuti Dika dan Raka yang tertawa riang. Ia sadar, jejak masa lalu memang takkan pernah terhapus sepenuhnya, tapi kita yang berhak menentukan apakah jejak itu akan menjadi luka yang terus berdarah, atau menjadi jalan yang menuntun kita menuju cahaya.
Dan di Karimun yang damai itu, Laras akhirnya menutup buku kisah kelamnya. Ia bukan lagi Mantan Ratu Pembunuh. Ia hanyalah Laras—seorang wanita yang pernah jatuh ke dalam kegelapan, namun berhasil bangkit dan membawa cahaya bagi orang-orang yang ia cintai.
Bersambung...