NovelToon NovelToon
Tak Sengaja Membangun Surga Di Hutan Kematian (I Accidentally Built A Paradise In The Death Forest)

Tak Sengaja Membangun Surga Di Hutan Kematian (I Accidentally Built A Paradise In The Death Forest)

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Fantasi / Slice of Life
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kūkyo

Di saat teman sekelasnya dipanggil ke dunia lain sebagai Pahlawan dan memperoleh kemampuan legendaris, Haruto Mirakawa hanyalah korban yang ikut terseret.
Karena bukan bagian dari ritual pemanggilan, semua skill hebat sudah habis saat gilirannya tiba.
Yang tersisa hanya satu kemampuan biasa:
Shadow Tool.
Kemampuan untuk menciptakan satu alat dari bayangannya.
Bukan pedang suci.
Bukan sihir penghancur.
Hanya... alat.
Merasa bersalah, sang dewa memberinya berkah kecil untuk bertani dan sebuah tombak tua yang kemudian menyatu dengan skillnya.
Lalu Haruto dikirim ke tempat yang katanya tenang dan jauh dari perang.
Tempat itu ternyata adalah...
Hutan Kematian.
Di hutan yang ditakuti seluruh dunia, Haruto hanya ingin menjalani hidup santai, menanam sayur, membangun rumah, dan menikmati hari-harinya.
Namun sedikit demi sedikit, para monster cerdas, buronan, dan orang-orang yang kehilangan tempat pulang mulai berdatangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kūkyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Transaksi Pertama

​Beberapa hari setelah uji coba buta (blind test) di ibu kota rampung dan mendulang sukses besar, kesibukan di gudang penyimpanan Roven meningkat drastis. Namun, bertolak belakang dengan ekspektasi banyak pedagang besar yang ingin memborong komoditas baru tersebut, Roven justru sengaja membatasi jumlah pesanan yang ia terima.

​Ia tidak berniat meraup keuntungan instan dalam semalam dengan menjual seluruh stok secara serampangan. Di dalam kepalanya, pedagang itu merenung, "Kalau aku menjual semuanya sekarang demi keuntungan besar... hubungan dagang yang baru saja dirintis ini bisa terganggu karena pasokan yang tidak terkontrol."

​Oleh karena itu, Roven dengan sangat selektif hanya menerima pesanan dari kalangan terbatas: pihak keluarga inti istana, dua restoran kelas atas yang sanggup membayar harga premi, serta pesanan khusus dari dua orang bangsawan berkuasa yang menjadi pelanggan lamanya. Sisa permintaan dari para pedagang serakah ditolaknya secara halus dengan alasan keterbatasan pasokan alam.

​Setelah memastikan alokasi pesanan di ibu kota aman, Roven segera mempersiapkan keberangkatan kereta dagang kedua menuju Desa Haruto. Kali ini, muatan yang dibawa bukan lagi sekadar barang uji coba, melainkan komoditas yang benar-benar dibutuhkan oleh desa terpencil tersebut. Kereta itu dipenuhi oleh batang-batang besi berkualitas, karung-karung garam kasar, paku berbagai ukuran, serta sejumlah perkakas besi siap pakai dan beberapa kain dan karung kosong. Begitu kereta kuda itu meluncur meninggalkan gerbang kota menyusuri jalur pengawalan yang kini sudah dianggap jauh lebih aman berkat pengalaman rute sebelumnya, sudut pandang pun bergeser.

​Sudah sekitar satu minggu berlalu sejak kepulangan rombongan pertama Jenderal Varkas ke ibu kota. Pagi itu, Haruto tengah menikmati rutinitas tenangnya, menyirami petak-petak sawah yang menghijau subur dengan gemercik air jernih yang mengalir teratur.

​Tiba-tiba, suara teriakan nyaring Luna memecah ketenangan pagi dari atas menara pengawas kayu. "Haruto! Ada kereta datang dari arah hutan!"

​Seluruh penghuni desa langsung menghentikan aktivitas mereka dan berbondong-bondong keluar rumah. Haruto berjalan santai menuju gerbang utama, menyunggingkan senyuman lebar begitu melihat wujud dua kereta dagang yang familiar memasuki area batas hutan.

​"Wah, cepat juga ya," gumam Haruto riang. Berkat pemilihan jalur yang sudah dipetakan dengan baik dan pengawalan ketat, perjalanan kali ini memang terasa jauh lebih efisien dibandingkan sebelumnya.

​Roven turun dari bangku kusir dengan langkah yang jauh lebih santai dan percaya diri dari kunjungan pertamanya. Tidak ada lagi kecanggungan di wajahnya; ia tersenyum ramah seraya mengeluarkan sebuah buku catatan tebal berisikan daftar nilai tukar resmi yang telah disetujui bersama di istana.

​Haruto menerima buku catatan itu, lalu membalik-balik lembarannya dengan kening berkerut bingung. "Ehm... jujur saja, aku tidak begitu paham dengan sistem angka dan daftar rumit seperti ini."

​Roven tertawa kecil. "Ah, tidak perlu khawatir. Kau tidak harus menghafal semuanya sekarang. Biar kujelaskan pelan-pelan dengan contoh sederhana."

​Roven mulai menjabarkan kalkulasi penukarannya secara transparan. "Misalnya, satu kilogram tomat premium milikmu bernilai sekian. Dan sebaliknya, satu batang besi tempa ini bernilai sekian." Melalui penjelasan yang sabar dan masuk akal dari sang pedagang, Haruto akhirnya mulai memahami konsep dasar penetapan nilai harga komoditas antar-wilayah.

​Begitu pintu penutup kereta bagian belakang dibuka, memperlihatkan muatan di dalamnya, Brom yang berdiri di dekat pintu bengkel langsung terpaku membeku.

​Batangan besi mentah berukuran tebal, sekotak penuh paku baja, engsel-engsel pintu yang kokoh, hingga beberapa batang baja sederhana tersusun rapi di dalam gerobak. Mata sang pandai besi tua itu langsung berbinar-binar terang. Sudah bertahun-tahun lamanya ia tidak pernah melihat bahan baku logam sebanyak dan semurni itu di hadapannya.

​Brom melangkah pelan mendekati tumpukan tersebut, mengulurkan tangannya yang kasar untuk memegang salah satu batang besi dingin. Ia merasakannya cukup lama dalam keheningan yang penuh kekaguman. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyuman tulus.

​"Akhirnya..." bisik Brom pelan, nyaris tak terdengar.

​Tanpa membuang waktu lagi, area bengkel yang tadinya sunyi mendadak hidup dan sibuk. Brom langsung mengambil alih komando, menyusun dan mengelompokkan setiap material logam yang baru datang dengan presisi tingkat tinggi.

​Mana besi yang bisa langsung dipotong dan dipakai, mana yang harus dilebur ulang untuk ditempa kembali, dan mana bahan khusus yang harus disimpan di tempat kering agar terhindar dari karat.

​Haruto ikut turun tangan membantu merapikan barang-barang tersebut ke sudut bengkel, sambil melontarkan pertanyaan penasaran, "Memangnya semua besi ini harus dipilah-pilah dulu, Brom? Bukankah semuanya sama saja?"

​Mendengar pertanyaan itu, Brom tersenyum lebar dan mulai menjelaskan dasar-dasar metalurgi sederhana kepada Haruto. Ia menerangkan mengapa kadar karbon dalam besi menentukan tingkat kekerasannya, alasan mengapa batang besi utuh jauh lebih berharga daripada sekadar serpihan rongsokan logam, serta bagaimana memperlakukan panas api tungku yang berbeda untuk jenis logam tertentu. Penjelasan itu membuat Haruto—dan siapa pun yang mendengarnya—ikut belajar memahami seluk-beluk seni pengolahan logam.

​Suasana desa hari itu berubah menjadi perayaan kecil yang penuh keceriaan. Seluruh warga ikut ambil bagian dalam kesibukan tersebut sesuai kemampuan mereka.

​Luna tampak sangat penasaran, berlari-larian kecil sambil mencoba mengangkat sebongkah paku besi yang ternyata jauh lebih berat dari perkiraannya. Kaelin dengan sigap menyapu dan membersihkan area lantai bengkel yang kotor oleh sisa arang. Fina dan Fira bekerja sama mengangkut karung-karung garam dan rempah ke dalam gudang utama, sementara Mira tetap siaga di pos pemantauan luar untuk memastikan keamanan perimeter.

​Elara berdiri di ambang pintu rumah utama, melipat kedua tangannya di dada sambil memperhatikan kehangatan pemandangan di hadapannya dengan senyuman lembut. Ia berucap pelan pada dirinya sendiri, "Sekarang... desa ini benar-benar mulai terasa seperti sebuah peradaban yang hidup dan berkembang."

​Ketika malam tiba dan aktivitas di bengkel mulai mereda, Haruto duduk bersandar di teras luar, menatap ke arah tumpukan batang besi baru yang berkilau terpantul cahaya api unggun.

​Ia mulai merenungkan langkah-langkah ke depan. Selama ini, seluruh tenaga dan waktu mereka habiskan hanya untuk menciptakan peralatan dasar bertahan hidup dan bertani. Padahal, jika peralatan dasar tersebut kini sudah tercukupi berkat pasokan besi baru, apa langkah berikutnya yang harus ia ambil untuk meningkatkan efisiensi desa?

​Haruto mengambil sepotong ranting kayu kecil dari tanah, lalu mulai menggambar sebuah sketsa kasar di atas permukaan tanah yang berdebu di hadapannya.

​Brom yang baru keluar dari bengkel melangkah mendekat, memperhatikan garis-garis yang digambar Haruto dengan rasa penasaran. Gambar itu bukanlah cetak biru sebuah senjata perang atau alat pertahanan, melainkan sebuah rancangan mekanis sederhana: sebuah gerobak dorong (wheelbarrow) beroda satu dengan pegangan ganda.

​Haruto mendongak menatap sang pandai besi, lalu berkata, "Kalau kita bisa membuat benda seperti ini... mengangkut hasil panen dari kebun ke lumbung pasti akan menjadi jauh lebih mudah dan tidak melelahkan."

​Brom mengamati sketsa di tanah itu sejenak, lalu mengangguk mantap dengan seringai lebar di wajahnya. "Benda seperti ini? Hmph, serahkan saja padaku. Besi kita sudah cukup; aku bisa membuatnya besok pagi."

1
Nadja 🎀
seruu merasa baca manga.. mengingatkan manga itu yg Isekai itu
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
Nadja 🎀
bagus ceritanya ✨
ラマSkuy
keren Thor mirip dua manga yang pernah kubaca tentang terpanggil ke dunia lain dan membangun desa didunia lain 👍👍
Nadja 🎀
seruuu bgt lanjut!
ラマSkuy
emang kehidupan santai itu paling enak untuk orang introvert 😁
ラマSkuy
mirip sekai nonbiri bertani didunia lain 👍
ラマSkuy
akhirnya ada juga novel yang bukan fantasy timur 👍👍 nice Thor lanjutkan
NURC
menarik ceritanya, untuk referensi saya yg menulis novel fantasy juga
Nurul
masih menantin apakah sampai tamat atau tidak/Doubt/
Luthfi Afifzaidan: tetap sehat n semangat thor
total 2 replies
Fiks_imajinasiku
Thor dagig asap itu tanpa api kalau mau berhasil, pakai inkubasi tungku besar bisa dari batu atau kayu yang dilapisi tanah liat jadi asapnya terpokus ke daging tidak menyebar keluar, juga cara panggang gunakan tanpa api dengan cara menekan api menggunakan daun tua atau hijau bukan kering.
Kūkyo: Makasih banyak infonya, Kak.
Mungkin bisa saya pakai di bab-bab selanjutnya. Soalnya di bagian yang sekarang Haruto juga belum punya pengetahuan tentang teknik seperti itu, jadi saya usahakan perkembangannya bertahap. Terima kasih sudah berbagi ilmunya.
total 1 replies
Fiks_imajinasiku
nice thor, apakah akan ada eps 2 dengan ambisi mendirikan kerajaan di hutan?, semangat 🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!