NovelToon NovelToon
Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Reinkarnasi / Romantis
Popularitas:226
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Selama 500 tahun, seorang arwah wanita dikutuk oleh dewa menjadi “Roh Bulan” dan disegel di dalam lukisan kuno di sebuah kuil akibat kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu. Hidup dalam kesunyian abadi, ia hanya bisa melihat dunia dari balik lukisan tanpa mampu menyentuh siapa pun.
Hingga suatu malam, seorang pria tanpa sengaja membebaskannya dari segel kuno. Semakin lama bersama, arwah wanita itu mulai jatuh cinta padanya. Namun keduanya perlahan menyadari bahwa mereka ternyata telah terikat sejak 500 tahun lalu, dan pria itu mungkin adalah alasan sebenarnya di balik kutukan Roh Bulan yang menghancurkan hidup mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14 Wajah yang Sama dengan Dewi

Angin laut berhembus pelan membawa aroma asin yang memenuhi udara malam. Ombak kecil menyentuh pasir dengan suara tenang, namun pikiran Ravin sama sekali tidak setenang itu. Ia duduk terdiam memandangi langit gelap, masih sulit mempercayai semua yang terjadi dalam hidupnya. Dunia aneh, roh bulan, hukuman dewa, sampai harus terdampar di tempat asing bersama Arum. Semua terasa seperti mimpi panjang yang belum selesai.

Di sampingnya, Arum tertidur lelah dengan posisi meringkuk kecil. Rambut hitamnya sedikit berantakan tertiup angin, wajahnya pucat namun tetap terlihat manis dan cantik. Untuk sesaat Ravin hanya memandanginya diam-diam. Gadis itu terus bersikap kuat, padahal sejak tadi bahkan belum makan apa pun.

Ravin menghela napas pelan.

“Aku malah gak kepikiran dia lapar…”

Ia berdiri perlahan agar tidak membangunkan Arum lalu mulai berjalan menyusuri pantai, berharap menemukan sesuatu yang bisa dimakan atau seseorang yang dapat membantu. Langkahnya terhenti ketika melihat sosok gadis berdiri di ujung pantai membelakanginya. Rambut panjangnya tertiup angin malam, gaun putihnya bergerak lembut terkena hembusan laut.

Entah kenapa sosok itu terasa begitu familiar.

Ravin mempercepat langkahnya.

“Permisi… apa di sekitar sini ada—”

Gadis itu menoleh.

Mata Ravin langsung membesar. Napasnya seperti berhenti sesaat.

“D-Dewi…?”

Itu benar-benar wajah Dewi.

Ravin menatap tidak percaya. Setelah semua kekacauan ini, setelah mengira tak mungkin bertemu lagi, gadis yang paling ingin ia lihat justru berdiri di depannya sekarang. Perasaan lega langsung memenuhi dadanya.

“Dewi… serius ini kamu?” suara Ravin bergetar kecil.

Di tempat lain, Arum perlahan terbangun dan langsung panik saat menyadari Ravin tidak ada di sampingnya. Ia segera berdiri lalu mencari ke sekitar pantai sampai akhirnya melihat Ravin bersama seorang wanita.

Langkah Arum melambat.

Dari kejauhan ia bisa melihat wajah Ravin yang begitu bahagia.

Ravin mendekati Dewi beberapa langkah lagi.

“Gimana kamu bisa ada di sini? Ibu sama adikku pasti seneng banget kalau—”

Plak!

Tamparan keras tiba-tiba mendarat di pipi Ravin.

Ravin terpaku kaget sambil memegang wajahnya. Bahkan Arum yang baru tiba ikut membelalak terkejut melihat kejadian itu.

Tatapan Dewi tidak lagi hangat seperti biasanya. Matanya dipenuhi kemarahan dan rasa kecewa yang dalam.

Ravin masih memegang pipinya yang terasa panas. Tatapannya tidak lepas dari wajah gadis di depannya. Hatinya benar-benar kacau. Selama ini Dewi yang ia kenal selalu lembut, manis, bahkan jarang meninggikan suara. Namun gadis ini… tatapannya dipenuhi kebencian seolah Ravin adalah orang paling hina yang pernah ia temui.

Suasana pantai yang dingin tiba-tiba terasa menyesakkan.

Ravin mencoba mendekat sedikit dengan suara pelan.

“Dewi… ini aku, Ravin…”

Namun gadis itu justru mundur dengan wajah jijik.

“Jangan panggil aku seperti itu.”

Suara langkah cepat terdengar dari belakang. Arum akhirnya tiba dengan napas sedikit terengah. Begitu melihat Arum, ekspresi gadis itu langsung berubah drastis. Matanya membesar penuh khawatir sebelum buru-buru menghampiri.

“Mbak!”

Tanpa ragu gadis itu langsung memeluk Arum erat membuat Arum membeku kaget.

“Mbak pergi ke mana aja?! Aku sama ibu ayah nyariin mbak kemana-mana!” suaranya mulai bergetar panik. “Udah tiga hari mbak hilang tanpa kabar…”

Arum hanya diam bingung. Tubuhnya terasa kaku saat gadis itu terus memeluknya erat seolah takut kehilangan lagi.

Ravin memandang kejadian itu dengan tidak percaya.

“Mbak…?” gumamnya lirih.

Gadis itu menoleh tajam ke arah Ravin, tatapannya kembali penuh kemarahan.

“Aku udah bilang sama ibu kalau laki jalang ini pasti yang bawa mbak pergi!”

Ucapan itu seperti menghantam kepala Ravin lebih keras dari tamparan tadi.

Laki jalang.

Kata-kata itu keluar dari wajah yang sangat mirip Dewi.

Ravin mundur satu langkah pelan, benar-benar tidak menyangka keadaan akan menjadi seperti ini. Dadanya terasa sesak melihat wajah yang ia rindukan justru menatapnya penuh kebencian.

Arum sendiri masih terlihat linglung. Ia menatap gadis di depannya lama sekali. Wajah itu terasa asing namun anehnya juga terasa dekat.

“K-kamu…” suara Arum pelan. “Siapa…?”

Gadis itu langsung menatap Arum heran.

“Mbak… ini aku Ajeng…”

Mata Arum perlahan membesar.

Ajeng menggenggam tangan Arum erat dengan mata mulai berkaca-kaca.

“Ibu sama ayah khawatir banget. Ayah bahkan hampir lapor penjaga kerajaan karena mbak hilang.” Ajeng menunduk sesaat lalu melirik Ravin dengan tajam. “Semua gara-gara dia.”

Ravin hanya terdiam. Kepalanya mulai memahami sesuatu yang membuat bulu kuduknya merinding.

Gadis itu bukan Dewi.

Dia Ajeng… adik Arum di masa ini.

Ombak kembali terdengar menghantam pantai, namun kini suasananya terasa jauh lebih berat. Ravin bisa melihat Arum gemetar kecil. Gadis itu tampak ingin bicara, namun tidak tahu harus mengatakan apa.

Karena kenyataannya… Arum sama sekali tidak mengingat kehidupan ini.

Malam di rumah sakit terasa sunyi dan melelahkan. Lampu putih lorong ICU menyala redup, meninggalkan suasana dingin yang membuat dada terasa semakin sesak. Beberapa keluarga pasien tampak tertidur di kursi tunggu, sementara suara alat medis terus terdengar samar dari balik ruangan perawatan intensif.

Dewi berjalan pelan membawa dua kantong makanan hangat di tangannya. Wajahnya terlihat lelah karena sejak beberapa hari terakhir ia terus bolak-balik ke rumah sakit, namun gadis itu tetap memaksakan datang.

Saat tiba di depan ruang ICU, ia melihat ibu Ravin duduk lemas di kursi dengan mata sembab karena terlalu banyak menangis. Di sampingnya ada ayah Ravin yang tampak jauh lebih diam dari biasanya. Pria itu menunduk sambil memijat pelan dahinya, seolah pikirannya sudah terlalu berat.

Dewi mendekat perlahan.

“Tante… om…”

Ibu Ravin langsung menoleh. Wajah lelah wanita itu sedikit melembut saat melihat Dewi datang lagi.

“Dewi… kamu datang lagi, nak…”

Dewi mengangguk kecil lalu menyerahkan makanan yang ia bawa.

“Aku bikinin makanan sedikit… tante sama om pasti belum makan dari tadi.”

Ayah Ravin tampak terdiam sesaat sebelum menerima kantong itu pelan.

“Kamu gak perlu repot-repot begini…”

“Gak apa-apa om,” jawab Dewi lirih. “Aku cuma… pengen bantu.”

Ibu Ravin menatap Dewi cukup lama. Tatapan wanita itu penuh rasa haru sekaligus sedih. Dalam keadaan seperti ini, bahkan keluarga sendiri banyak yang hanya datang sebentar lalu pulang. Namun Dewi tetap datang setiap hari tanpa mengeluh.

“Tante jadi gak enak sama kamu…” suara ibu Ravin mulai serak. “Kamu terus di sini nemenin kami…”

Dewi tersenyum kecil walau matanya terlihat lelah.

“Ravin pasti bakal marah kalau aku ninggalin tante sama om sendirian.”

Kalimat itu membuat ibu Ravin langsung menunduk menahan tangis.

Di balik kaca ICU, tubuh Ravin masih terbaring lemah dengan banyak selang dan alat medis terpasang. Tidak ada perubahan besar sejak kecelakaan itu terjadi. Mesin monitor terus berbunyi pelan menandakan jantungnya masih bertahan.

Dewi memandang ke arah Ravin lama sekali. Dadanya terasa sakit melihat pria yang biasanya keras kepala dan berisik kini hanya diam tak bergerak.

“Dokter bilang gimana, tante…?” tanya Dewi hati-hati.

Ayah Ravin menghela napas panjang sebelum menjawab pelan.

“Mereka masih belum bisa memastikan kapan dia sadar…”

Suasana langsung kembali hening.

Ibu Ravin menggenggam tangan Dewi perlahan.

“Tapi tante percaya… Ravin pasti bangun.” Mata wanita itu mulai berkaca-kaca. “Dia belum mungkin ninggalin kita.”

Dewi menggigit bibirnya pelan agar tidak ikut menangis. Ia terus menatap Ravin dari balik kaca ICU dengan hati yang semakin berat.

Dalam pikirannya hanya ada satu harapan kecil.

Bangunlah… walau cuma sekali buka mata dan bicara seperti biasanya lagi.

Perjalanan menuju rumah Arum dipenuhi keheningan yang aneh. Langit malam terlihat gelap dengan cahaya bulan redup menyinari jalan desa yang masih dipenuhi pepohonan dan rumah-rumah kayu khas zaman kerajaan. Ajeng berjalan lebih dulu sambil terus menggenggam tangan Arum erat, seolah takut kakaknya menghilang lagi.

Sementara itu Ravin berjalan di samping Arum dengan pikiran kacau.

Semua terasa terlalu aneh.

Mulai dari wajah Ajeng yang sangat mirip Dewi, sampai semua orang yang mengenalnya sebagai orang lain.

Ravin mendekat sedikit lalu berbisik pelan.

“Kamu beneran gak inget apa-apa?”

Arum diam beberapa detik sebelum menggeleng lemah.

“Aku cuma merasa… tempat ini familiar.” Suaranya lirih penuh kebingungan. “Tapi semuanya kosong di kepalaku.”

Ravin menghela napas pelan. Ia sendiri mulai merasa takut dengan kenyataan yang mereka hadapi sekarang. Jika ini benar masa lalu Arum, berarti mereka sedang berjalan di dalam kehidupan yang sudah lama hancur.

Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah rumah besar bergaya bangsawan Jawa kuno. Halaman rumah itu diterangi obor, sementara beberapa pelayan terlihat mondar-mandir panik sejak tadi.

Pintu rumah terbuka cepat.

“Arum!”

Seorang wanita paruh baya langsung berlari memeluk Arum erat dengan air mata bercucuran. Di belakangnya berdiri pria berwibawa dengan wajah tegas namun terlihat sangat lega.

“Ibu…” gumam Arum pelan, masih bingung namun tubuhnya terasa hangat saat dipeluk wanita itu.

“Kamu pergi tanpa kabar selama berhari-hari…” suara ibunya bergetar penuh tangis. “Ibu kira kamu kenapa-napa…”

Ravin hanya bisa diam memperhatikan dari samping. Dadanya terasa sesak melihat Arum yang bahkan tidak mengingat keluarganya sendiri.

Lalu tiba-tiba pria itu menoleh ke arah Ravin.

Dan tersenyum lega.

“Syukurlah… Aruna juga kembali.”

Kalimat itu langsung membuat Ravin dan Arum membeku.

“Aruna…?” Ravin refleks menunjuk dirinya sendiri.

Ayah Arum mendekat lalu menepuk bahu Ravin pelan dengan penuh rasa terima kasih.

“Terima kasih sudah menjaga Arum selama ini.”

Ravin melirik Arum panik kecil. Namun Arum sama bingungnya. Mereka sama sekali tidak tahu harus menjawab apa.

Akhirnya Ravin hanya mengangguk canggung.

“I-iya…”

Nama itu kembali terdengar.

Aruna.

Ravin mulai merasakan jantungnya berdetak semakin keras.

Ayah Arum lalu tertawa lega sambil mempersilakan mereka masuk ke rumah.

“Raja pasti akan sangat gembira mengetahui putranya sudah kembali.”

Langkah Ravin langsung berhenti.

Arum menoleh cepat dengan mata membesar.

“Pu-putra raja…?” gumam Ravin pelan.

Ayah Arum terlihat heran melihat reaksi Ravin.

“Kenapa kau terlihat bingung begitu, Aruna?” tanyanya pelan. “Meski sering pergi meninggalkan istana, bagaimanapun juga raja tetap sangat menyayangimu.”

Suasana mendadak terasa dingin.

Ravin dan Arum saling menatap dengan wajah pucat.

Kini semuanya semakin tidak masuk akal.

Ravin… ternyata hidup sebagai seseorang bernama Aruna.

Dan orang itu adalah putra seorang raja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!