NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Pada ulang tahun pernikahannya yang pertama, Hazel Frost menemukan suaminya, Mason Roux mencium wanita lain dengan kedua matanya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, bahwa wanita itu adalah adik tiri suaminya, Jennifer.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi rahasia yang menyakitkan. Meski tahu hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki, Hazel tetap bertahan. Ia mencoba membuat Mason melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar wanita yang terpaksa harus dinikahi.
Namun semakin lama, Hazel mulai menyadari satu hal, bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan sendirian. Lalu ketika ia akhirnya memilih berhenti dan pergi, Mason justru mulai menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat? Apakah Hazel masih bersedia kembali pada pria yang pernah menghancurkan hatinya? Atau justru Mason Roux yang akan menyesal seumur hidup karena kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20

Aku terbangun perlahan ketika merasakan sesuatu bergerak di dekatku. Leherku terasa pegal karena posisi tidur yang tidak nyaman, sementara lenganku sedikit mati rasa akibat terlalu lama menjadi bantalan kepalaku sendiri. Cahaya pagi sudah masuk melalui jendela besar ruang makan ketika aku membuka mata dengan berat.

Dan begitu pandanganku mulai fokus, aku melihat Mason berdiri di samping meja. Aku langsung tersadar sepenuhnya. Ia masih mengenakan pakaian kerja yang sama seperti kemarin. Jas gelapnya sedikit kusut, dasinya sudah longgar, dan ada kelelahan samar di wajahnya meskipun ekspresinya tetap tenang seperti biasa. Yang artinya, ia baru saja pulang.

Mason menatap meja makan beberapa detik. Tatapannya jatuh pada pasta yang masih tersusun rapi di sana meskipun sudah benar-benar dingin sekarang. Lalu ia memandangku.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya datar.

Suaranya yang rendah membuat rasa kantukku benar-benar hilang. Aku buru-buru duduk tegak sambil merapikan rambutku yang pasti berantakan sekarang.

“Aku…” Aku berhenti sejenak, merasa sedikit malu. “Aku tidak sengaja tertidur.”

Tatapan Mason belum berpindah dariku.

“Aku semalam menunggumu pulang,” lanjutku pelan. “Aku ingin mengajakmu makan malam.”

Aku menunjuk pasta di atas meja dengan senyum kecil yang kupaksakan tetap hidup. “Aku membuatnya sendiri.”

Hening turun beberapa detik. Dan entah kenapa, di dalam hati kecilku, aku masih berharap ia akan mengatakan sesuatu yang hangat. Sesuatu seperti terima kasih. Atau setidaknya, kau tidak perlu menungguku selama itu.

Namun Mason justru berkata pelan, “Kau tidak perlu melakukan hal seperti ini lagi.”

Senyum kecil di wajahku perlahan memudar. “Apa?”

“Kau tidak perlu menyiapkanku makanan seperti ini.” Nada suaranya tetap tenang, tidak dingin, dan tidak kasar. Justru itu yang membuatnya terasa lebih menyakitkan. “Di rumah ini sudah ada pelayan.”

Aku terdiam. Tatapanku perlahan jatuh ke meja makan di depan kami. Pada pasta yang tadi malam kubuat dengan penuh semangat. Pada lilin kecil yang sempat kunyalakan sebelum akhirnya meleleh habis sendiri. Dan tiba-tiba semuanya terasa begitu memalukan.

“Aku hanya…” Suaraku mengecil tanpa sadar. “Aku hanya ingin belajar menjadi istri yang baik untukmu.”

Mason tidak langsung menjawab. Ia hanya memandangku beberapa detik sebelum akhirnya mengalihkan tatapannya. Dan diamnya itu justru terasa jauh lebih menyakitkan daripada penolakan.

Aku menggenggam jemariku sendiri di bawah meja. Lalu setelah beberapa saat, aku kembali bertanya pelan, “Apa kau baru pulang?”

“Ya.”

“Semalam kau menginap di kantor?”

Kali ini Mason menjawab tanpa jeda. “Tidak.”

Aku mengangkat wajahku perlahan.

“Aku menemani Jennifer.”

Dadaku langsung terasa kosong. Mason berjalan beberapa langkah mendekati meja sambil melepaskan jam tangannya. “Ia sedang mengalami masa yang sulit beberapa hari ini,” katanya tenang. “Dan ia membutuhkan seseorang di sana.”

Aku menatapnya tanpa bisa langsung bereaksi. Sementara di kepalaku, kata-katanya terus berulang pelan.

'Aku menemani Jennifer.'

'Ia membutuhkan seseorang.'

Dan entah kenapa, mendengar itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada semua penolakan Mason sebelumnya. Karena semalam aku menunggunya pulang sampai tertidur di meja makan. Sementara ia memilih bermalam di tempat perempuan lain. Meski perempuan itu adalah adik tirinya.

Aku menunduk perlahan, mencoba menjaga suaraku tetap stabil. “Setidaknya… kau bisa mengabariku.”

Mason terdiam sebentar. Lalu ia menatapku dengan ekspresi yang kembali terasa jauh.

“Aku sudah mengatakan sejak awal,” ucapnya pelan. “Kau tidak perlu mengurusi urusan pribadiku.”

Kalimat itu jatuh begitu saja. Tenang dan datar. Namun cukup untuk membuat sesuatu di dalam dadaku terasa runtuh perlahan. Aku bahkan tidak bisa langsung menjawab. Karena untuk beberapa detik, aku hanya sibuk menahan sesak yang tiba-tiba memenuhi tenggorokanku sendiri.

Mason melirik jam di tangannya sebelum akhirnya berkata singkat, “Aku akan mandi dan bersiap ke kantor.” , lalu ia pergi meninggalkanku di ruang makan begitu saja.

Aku tetap duduk diam di sana cukup lama setelah langkahnya menghilang. Kini rumah besar itu kembali sunyi. Dan di atas meja makan, pasta buatanku masih belum disentuh sama sekali.

Aku menunduk pelan sambil menarik napas panjang. Lalu setelah berhasil menenangkan diriku sendiri sedikit, aku memanggil salah satu pelayan yang berdiri tak jauh dari sana.

“Tolong bereskan semuanya,” kataku pelan.

“Nyonya…”

“Buang saja kalau sudah basi.”

Pelayan itu tampak ragu sejenak, mungkin karena melihat wajahku yang tidak sepenuhnya baik-baik saja. Namun pada akhirnya ia tetap mengangguk hormat.

Aku pun berdiri perlahan lalu berjalan kembali menuju kamar. Langkahku terasa jauh lebih berat dibanding kemarin. Begitu pintu kamar tertutup, aku langsung bersandar di sana sambil memejamkan mata beberapa detik.

Aku tidak menangis. Entah karena terlalu lelah, atau karena aku mulai terbiasa menelan rasa sakit seorang diri.

Lalu ponselku bergetar tepat ketika aku berjalan menuju ranjang. Nama Sarah muncul di layar. Aku buru-buru mengangkatnya, berusaha membuat suaraku terdengar normal. “Halo, Sarah.”

“Hazel, Sayang.” Suara wanita itu langsung terdengar hangat dari seberang sana. “Apa aku membangunkanmu?”

Aku tersenyum kecil meski ia tidak bisa melihatnya. “Tidak.”

“Bagus.” Sarah terdengar ceria pagi itu. “Kalau begitu bersiaplah. Aku akan menjemputmu siang ini.”

Aku sedikit terkejut. “Menjemputku?”

“Aku ingin mengajakmu ke salon. Dan mungkin berbelanja sedikit.” Ia tertawa kecil. “Aku belum benar-benar menghabiskan waktu dengan menantuku sendiri setelah pernikahan.”

Aku sempat terdiam beberapa detik. Lalu tanpa sadar, untuk pertama kalinya pagi itu, dadaku terasa sedikit lebih ringan.

“Baik,” jawabku pelan. “Aku akan bersiap.”

Setelah sambungan telepon berakhir, aku langsung mandi dan bersiap. Air hangat membantu menenangkan kepalaku yang sejak tadi terasa penuh. Aku memilih pakaian sederhana namun rapi, lalu mencoba tersenyum pada pantulan diriku sendiri di cermin. Setidaknya hari ini, aku tidak ingin terlihat menyedihkan.

Saat keluar dari kamar, Mason sudah kembali tampil rapi dengan pakaian kerjanya. Ia sedang mengenakan jas sambil berdiri di depan cermin lorong.

Aku menghampirinya perlahan. “Mason.”

Ia menoleh sedikit. “Hm?”

“Ibumu akan datang beberapa jam lagi.” Aku merapikan ujung bajuku gugup. “Ia ingin mengajakku keluar.”

Mason hanya mengangguk kecil. “Tidak masalah.”

“Apa kau akan di rumah?”

“Aku kembali ke kantor setelah ini.”

Jawaban yang sudah bisa kutebak. Aku tersenyum kecil meski rasanya agak hambar. “Oh.”

Beberapa menit kemudian, Mason benar-benar pergi lagi. Dan rumah besar itu kembali terasa terlalu sunyi. Untungnya, Sarah datang tidak lama setelahnya. Wanita itu masuk ke rumah dengan energi hangat yang langsung mengubah suasana. Ia memelukku begitu melihatku berdiri di ruang depan.

“Kau terlihat cantik,” katanya sambil tersenyum puas.

Aku tertawa kecil. “Kita hanya pergi ke salon.”

“Itu bukan alasan untuk tampil biasa saja.”

Dan hari itu, untuk pertama kalinya sejak menikah, aku benar-benar keluar rumah dengan perasaan yang sedikit lebih ringan.

Salon yang Sarah pilih berada di pusat kota. Tempatnya besar dan mewah, dengan aroma bunga dan produk perawatan mahal yang memenuhi ruangan. Sarah tampak begitu menikmati semuanya, mulai dari memilih warna kuku sampai membicarakan perawatan rambut. Sementara aku lebih banyak mendengarkan sambil sesekali tertawa kecil.

“Kau tahu,” ujar Sarah tiba-tiba ketika kami sedang duduk berdampingan, “aku masih sulit percaya Mason benar-benar menikah.”

Aku tersenyum samar. “Aku juga.”

Sarah menoleh padaku dengan mata lembut. “Tapi aku senang karena itu denganmu.”

Dadaku menghangat mendengarnya. Wanita itu benar-benar tulus menyukaiku. Dan itu justru membuatku semakin merasa bersalah karena harus menyembunyikan banyak hal darinya.

“Bagaimana kehidupan pernikahan kalian?” tanyanya santai.

Aku sedikit menegang. Namun aku tetap tersenyum kecil. “Baik.”

“Benarkah?” Sarah tampak penasaran. “Mason tidak membuatmu kesal?”

Aku tertawa pelan. “Tidak.”

“Lalu kenapa kalian belum pergi bulan madu?” tanyanya lagi. “Aku bahkan sudah menyiapkan beberapa tempat untuk kalian.”

Aku sempat kehilangan jawaban selama beberapa detik. Karena kenyataannya, Mason bahkan belum pernah membicarakan soal itu denganku.

“Oh… kami masih sibuk menyesuaikan jadwal,” jawabku akhirnya. “Mason juga sedang banyak pekerjaan.”

Sarah langsung mendesah panjang sambil menggeleng pelan. “Anak itu memang terlalu gila kerja.”

Aku tersenyum kecil sambil menunduk. Dan untungnya, Sarah tampak percaya begitu saja pada jawabanku.

Hari itu berlalu dengan cukup menyenangkan. Kami makan siang bersama, berbelanja beberapa pakaian baru, bahkan sempat tertawa karena Sarah memaksaku mencoba gaun yang terlalu mencolok untukku.

Untuk beberapa jam, aku hampir lupa bahwa kehidupan pernikahanku sebenarnya tidak berjalan sebaik yang terlihat. Namun semuanya kembali terasa nyata ketika mobil Sarah berhenti di depan rumah sore harinya.

Rumah besar itu kembali menyambutku dengan kesunyian yang sama. Dan seperti yang sudah kuduga, Mason belum pulang. Sarah menghela napas panjang ketika menyadarinya.

“Lihat? Bahkan setelah menikah dia masih terus bekerja terlalu keras seperti ini.”

Aku tersenyum kecil, berusaha terlihat santai. “Mungkin Mason memang sedang banyak pekerjaan.”

“Tidak.” Sarah langsung menggeleng tegas. “Aku akan datang lagi besok dan memastikan anak itu mulai lebih fokus pada istrinya sendiri.”

Aku langsung menahan napas kecil. Namun sebelum aku sempat mengatakan apa pun, Sarah sudah menggenggam tanganku lembut.

“Kau terlalu manis untuk diabaikan seperti ini, Hazel.”

Kalimat itu membuat dadaku terasa hangat sekaligus nyeri di saat yang sama. Karena yang tidak Sarah tahu adalah bukan hanya pekerjaannya yang membuat Mason menjauhiku, melainkan aku sendiri.

Aku tersenyum kecil sambil mengangguk pelan. “Terima kasih untuk hari ini, Sarah.”

Dan malam itu, ketika Sarah akhirnya pulang dan rumah kembali sunyi, aku berdiri sendirian di ruang tamu besar milik Mason sambil memandang pintu depan cukup lMenunggu suara langkah kaki yang entah kapan akan benar-benar datang untukku.

1
Dew666
😍😍
Hatnah Batulicin
aku kalau bca novel yg menyebutkan dirinya "aku" maaf tidak lanjut lgi 🙏🙏🙏
partini
aku menebak Endingnya bersatu lagi secara tergila gila Banggt sama suaminya,,aku baru baca Ampe Ina inu suaminya sama mantannya ending bersatu lagi 🤣
Yellow Sunshine: Tebakan yang menarik. Stay tuned ya! Kita lihat, apakah kisah Mason-Hazel akan happy atau sad ending 🤗
total 1 replies
partini
Thor ini flashback ke -01 kah
Yellow Sunshine: Cerita flashback dimulai dari Chapter 3 ya 🤗
total 1 replies
partini
hemmm wanita di mana" itu cinta buta di sakiti darah" pun ga terasa masih bertahan demi cinta weleh
Yellow Sunshine: Sakit sih 💔💔💔
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!