NovelToon NovelToon
The Professor’S Karma

The Professor’S Karma

Status: tamat
Genre:Dosen / Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:26.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."

​Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.

​4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Kebenaran yang Terungkap

Hari sidang skripsi yang menentukan itu akhirnya tiba. Di depan pintu ruang sidang, Aruna berdiri dengan blazer hitam yang tampak sedikit longgar di tubuhnya yang semakin kurus. Michelle dan kawan-kawannya sengaja berdiri di koridor, menghalangi jalan.

​"Jangan berharap banyak, Aruna. Pak Baskara pasti sudah menyiapkan 'kuburan' untukmu di dalam," bisik Michelle dengan senyum penuh kebencian. "Paling-paling kamu cuma lulus karena kasihan."

​Aruna hanya menatap lurus ke depan, meraba saku blazernya untuk memastikan botol obat jantungnya ada di sana. Ia masuk ke ruangan dengan kepala tegak. Di dalam, sudah ada tiga dosen penguji, termasuk Baskara yang duduk di tengah dengan tatapan yang masih sedingin es.

​Sidang berlangsung sengit. Dua dosen penguji lainnya tampak sangat terkesan dengan kedalaman riset Aruna. Namun, saat giliran Baskara, pria itu memberikan pertanyaan yang sangat teknis mengenai regulasi perdagangan internasional terbaru yang bahkan belum pernah dibahas di kelas.

​Aruna terdiam sejenak. Napasnya mulai terasa pendek, dan ia bisa merasakan denyut halus yang menyakitkan di dadanya. Namun, dengan suara pelan namun sangat jernih, ia menjawab setiap detail pertanyaan itu dengan tenang. Ia tidak ingin berdebat lagi, ia hanya ingin menyelesaikan ini.

​Setelah diskusi tertutup, para dosen memberikan nilai. Dua dosen memberikan nilai A mutlak, namun Baskara, dengan wajah tanpa ekspresi, hanya memberikan nilai B.

​"Analisis Anda masih terlalu emosional," dalih Baskara pelan saat memberikan lembar penilaian. Padahal, semua orang di ruangan itu tahu bahwa draf Aruna adalah yang terbaik tahun ini.

​Aruna tetap membungkuk hormat. "Terima kasih, Pak."

​Begitu keluar dari ruangan, Devan dan Theo yang sudah menunggu langsung bersorak. Mereka melihat hasil akhir yang menyatakan Aruna lulus dengan predikat memuaskan secara keseluruhan.

​"Kita lulus, Aruna! Kita benar-benar lulus!" Devan langsung memeluk Aruna dengan sangat erat, diikuti oleh Theo. Ketiganya berpelukan sebagai sahabat yang telah melewati masa-masa sulit bersama. Aruna tertawa kecil, meski dadanya sedikit sesak, rasa lega itu mengalahkan segalanya.

Suasana berubah drastis saat giliran Michelle, Paula, dan Gea masuk. Mereka keluar satu jam kemudian dengan wajah yang merah padam dan mata yang bengkak karena menangis.

​Michelle melempar tas desainer nya ke lantai koridor dengan frustrasi. Mereka dinyatakan tidak lulus karena draf skripsi mereka dianggap tidak orisinal dan tidak mampu menjawab pertanyaan dasar dari para penguji. Mereka harus mengulang tahun depan.

​"Ini tidak mungkin! Ini pasti gara-gara sistem yang salah!" teriak Michelle histeris di tengah koridor, menjadi tontonan mahasiswa lain. Rasa malu yang ia tanam untuk Amarah selama empat tahun kini berbalik menghantam dirinya sendiri di depan publik.

​Aruna yang sedang berjalan menuju pintu keluar bersama Devan dan Theo, sempat berpapasan dengan Michelle. Kali ini, Aruna tidak tersenyum. Ia hanya menatap Michelle dengan tatapan datar, seolah keberadaan gadis itu sudah tidak lagi relevan di hidupnya.

​"Ayo pergi, Aruna. Kita punya banyak hal besar yang menunggu di luar sana," ajak Theo sambil merangkul bahu Aruna.

​Tanpa mereka sadari, Baskara berdiri di balkon lantai atas, memperhatikan mereka bertiga yang berjalan menjauh. Ia menatap punggung Aruna, ada rasa kehilangan yang aneh yang tiba-tiba muncul. Pria itu masih memegang lembar nilai B milik Aruna, tidak menyadari bahwa itu adalah kali terakhir ia bisa merendahkan gadis itu.

​Sebulan kemudian saat hari kelulusan yang dinanti-nanti tiba, hari di mana Aruna Prawijaya akan menanggalkan jaket parka lusuhnya dan kembali menjadi seseorang yang akan membuat seluruh London terkejut.

Gedung auditorium megah itu dipenuhi aroma bunga lili dan parfum mahal. Langit-langit tinggi berhias lampu gantung kristal memantulkan cahaya keemasan ke arah ribuan wisudawan yang duduk dengan jubah kebesaran mereka. Di barisan depan jajaran dosen, Baskara Dirgantara duduk dengan sikap sempurna. Setelan jasnya yang dipesan khusus dari Savile Row membuatnya tampak lebih maskulin dan tajam, sebuah pemandangan yang selalu membuat mahasiswi menahan napas. Namun, mata elangnya sejak tadi hanya tertuju pada satu titik di sudut belakang, Aruna Prawijaya.

​Rektor universitas naik ke atas podium, memulai pidato panjang tentang dedikasi dan masa depan. Aruna mendengarkan dalam diam, tangannya sesekali meraba dadanya yang terasa berdenyut aneh. Di sampingnya, Devan dan Theo terus berbisik memberikan semangat, tidak menyadari bahwa di balik jubah wisudanya, Aruna sedang berjuang menahan sesak.

​Satu per satu nama dipanggil berdasarkan prestasi akademik. Saat suasana mencapai puncaknya, sang Rektor berdeham pelan. "Dan lulusan terbaik tahun ini, dengan nilai kumulatif tertinggi meskipun mendapat satu nilai B yang cukup misterius di mata kuliah Hukum Internasional, jatuh kepada... Aruna Prawijaya."

​Gedung itu meledak dalam tepuk tangan. Aruna berdiri dengan kaki gemetar. Ia melangkah maju, melewati barisan dosen. Saat ia menerima ijazah dari Rektor, mata Aruna sempat beradu dengan Baskara. Pria itu menatapnya dengan rahang mengeras, seolah masih tidak rela mengakui keunggulan gadis yang selama empat tahun ini ia injak-injak.

​"Silakan, Aruna, berikan pidato singkat," pinta Rektor.

​Aruna baru saja hendak membuka mulut saat pintu besar di ujung aula terbuka. Suasana mendadak hening. Rektor tersenyum lebar. "Ah, tepat waktu. Hari ini kita kedatangan tamu kehormatan, donatur terbesar yayasan kita sekaligus rekan bisnis internasional yang sangat dihormati. Mari sambut, keluarga Dirgantara dan keluarga Prawijaya."

​Baskara tersentak. Ia tahu ayahnya akan datang, tetapi ia tidak tahu ayahnya datang bersama keluarga Prawijaya raja bisnis dari Indonesia yang selama ini jejaknya ia cari-cari. Namun, kejutan sebenarnya baru saja dimulai.

​Seorang wanita anggun dengan kebaya sutra dan pria berwibawa melangkah cepat melewati karpet merah. Amrita, sang ibu, tidak bisa lagi menahan tangisnya. Ia berlari naik ke podium dan langsung memeluk Aruna dengan sangat erat di depan ribuan pasang mata. Deon Prawijaya berdiri di samping mereka, matanya berkaca-kaca penuh kebanggaan.

​"Anakku... maafkan Papa," suara Deon bergema melalui mikrofon yang masih menyala. "Papa bersalah karena membiarkanmu menderita sendirian di sini. Papa bangga, sangat bangga. Hari ini, di depan semua orang, Saya umumkan bahwa Aruna Prawijaya putri kandung saya adalah pewaris tunggal dari seluruh aset Prawijaya Group."

​Seluruh auditorium senyap seketika, lalu riuh rendah bisikan mulai memenuhi ruangan. Michelle yang tak ikut wisuda namun duduk di barisan belakang tampak pucat pasi, tubuhnya gemetar hebat. Sementara itu, Baskara merasa dunia di bawah kakinya runtuh. Gadis yang ia suruh membuang sampah, gadis yang ia sebut kerikil, gadis yang ia senggol hingga berdarah... adalah putri dari pria yang sangat dihormati ayahnya. Baskara mematung, teringat semua kekejaman yang ia lakukan. Ia menatap Aruna, namun Aruna hanya menunduk, tidak membalas tatapannya. Aruna sudah lama berdamai dengan rasa sakitnya, namun pengakuan ini tetap saja membuatnya sesak.

1
Ra H Fadillah
🥰🥰🥰🥰🥰
𝐘𝐖💋🅢🅐🅛🅢🅐🅑🅘🅛🅐👻ᴸᴷ
Mkch, Ade, utk Karya ny, Sukses Slalu 🙏👍🥳
Ra H Fadillah: Terima kasih 💞 semoga kakak suka dengan cerita lainnya 😉
total 1 replies
Tamirah
Mungkin rasa terhina yg luar biasa ketika berada di London membuat ia kembali Bersikap acuh tak acuh.
Desi Santiani
semogaa aruna ttp bisa bersama baskara n membesarkan anak mereka
brawijaya Viloid
aruna jgn mudah luluh plis 😒
brawijaya Viloid
benci bgt 😡
brawijaya Viloid
cih, sok iya bgt lu baskara
brawijaya Viloid
kekny ada yg slaah thor, kok suaminy?
brawijaya Viloid
ortu nya juga ni keterlaluann, mw sok baik klian? 🙄😡
brawijaya Viloid
gara" lu baskara setann
brawijaya Viloid
cihhh, nyesal kann loo 😡
brawijaya Viloid
jujur, author pintar bgt buat alur yg tdinya emosi jdi mnddk melow dan bahagia, senang bgt bacanya! peremluannya juga ga menye" lgsg to the point 🥰🥰
Ra H Fadillah: Terima kasih 💞 😉
total 1 replies
brawijaya Viloid
sialann lo baskaraaaa 😡
brawijaya Viloid
kasian bgt aruna
brawijaya Viloid
sok bgt lu baskaraaa, liat aja nnti
brawijaya Viloid
cerita baru thorrr 😻
Siska Amelia
lama banget Gk update
Ra H Fadillah: authornya lagi flu 😉 kakak 💞
total 1 replies
Trias Aliza Prasetyaningrum
aku inget pernah baca bagian Bagaskara sengaja panggil Aruna sayang di bab awal. ini, tapi mana ya
brawijaya Viloid: udh direvisi mngkin
total 1 replies
Siska Amelia
lanjutkan dong
Ra H Fadillah: Terima kasih, semoga kamu suka dgn ceritanya 😉
total 1 replies
𝐘𝐖💋🅢🅐🅛🅢🅐🅑🅘🅛🅐👻ᴸᴷ
Hi hi gemes bgt, Ade tp unik jdx, 1 lari, 1 mengejar 🤭👍🥳
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!