Cinta pertama seharusnya indah.
Tapi milik Lay Amelty Ranza berubah jadi neraka.
Ahber Mazchar, ketua OSIS paling dingin, bilang dia cinta Lay.
Andkay, si badboy posesif, berteriak "LO HANYA MILIK GUE!"
Eskay, sahabat terbaik Ahber, tiba-tiba mendekati Lay diam-diam.
Tapi di balik senyum mereka... ada darah.
15 tahun lalu, keluarga Ahber membantai satu keluarga di Gudang B-09.
Sekarang balas dendam itu datang. Melalui cincin perak bergambar burung.
Cincin pertama: Milik Burung, si pembunuh.
Cincin kedua: Milik Nayla, adik yang pura-pura mati.
Cincin ketiga: Sekarang ada di tangan Ahber.
Di dalamnya tersimpan 3 Triliun dan rahasia yang bisa menghancurkan 2 keluarga besar.
Keluarga Mahesa dan Keluarga Dirga mengincar mereka.
Dan ada "A"... dalang yang mempermainkan semuanya dari awal.
Lay diculik. Dikhianati. Dipaksa memilih.
Sampai pesan terakhir itu masuk ke HP Ahber:
"Maaf gue salah."
Salah mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Pukul 08.40 malam.
Langit malam dihiasi ribuan bintang yang berkelap-kelip. Jalanan kota mulai lengang, hanya beberapa kendaraan yang masih berlalu-lalang di bawah cahaya lampu jalan.
Di sebuah kafe kecil yang berada tidak jauh dari pusat kota, Ahber duduk di salah satu meja dekat jendela. Tatapannya sesekali tertuju ke arah pintu masuk.
Beberapa menit kemudian, seseorang datang.
"Maaf, nunggu lama?"
Suara lembut itu membuat Ahber mengangkat kepalanya.
"Enggak kok."
Eskay menarik kursi di hadapan Ahber, lalu duduk dengan tenang.
Beberapa detik berlalu.
Tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.
Suasana terasa canggung.
Eskay memainkan gelas berisi air putih yang baru saja diantarkan pelayan.
"Hm..."
Ahber menghela napas pelan.
"Katanya ada sesuatu yang mau lo omongin."
Eskay mengangguk kecil.
"Iya."
"Tapi..."
Ia tampak ragu untuk memulai.
"Ahber."
"Hm?"
"Gue cuma mau mastiin sesuatu."
"Apa?"
"Lo bahagia sama Lay?"
Pertanyaan itu membuat Ahber tersenyum tanpa sadar.
"Iya."
"Gue bahagia."
"Sangat bahagia."
Eskay ikut tersenyum tipis.
"Itu bagus."
"Lalu?"
tanya Ahber.
Eskay terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berbicara lagi.
"Gue cuma pengen bilang..."
"Makasih."
Ahber terlihat bingung.
"Makasih?"
"Iya."
"Karena dulu..."
"Lo pernah ngajarin gue kalau hidup gak boleh terus bergantung sama masa lalu."
"Kalimat itu yang bikin gue bisa bangkit."
Ahber terdiam.
Ia tidak menyangka Eskay masih mengingat perkataan itu.
"Gue juga minta maaf."
lanjut Eskay.
"Kalau dulu pernah nyusahin lo."
Ahber menggeleng pelan.
"Udah."
"Semuanya udah selesai."
Eskay tersenyum.
"Iya."
"Semoga lo sama Lay langgeng."
"Makasih."
Ahber membalas senyumnya.
Mereka kembali berbincang beberapa menit.
Tidak ada pembicaraan yang berlebihan.
Tidak ada hal romantis.
Hanya dua orang teman lama yang akhirnya berdamai dengan masa lalu mereka.
Di sisi lain.
Tak jauh dari kafe itu.
Lay dan Andkay sedang berjalan santai di trotoar.
"Huh..."
"Makasih ya udah ngajak jalan."
"Malam ini lumayan bikin kepala gue lebih tenang."
kata Lay.
Andkay tersenyum kecil.
"Kan gue bilang."
"Lo jangan terus mikirin pelajaran."
"Sama..."
Ia berhenti berbicara.
Tatapannya tiba-tiba mengarah ke seberang jalan.
Lay ikut menoleh.
"Ada apa, Kay?"
Wajah Andkay berubah datar.
"Ck."
Lay mengikuti arah pandangannya.
Beberapa meter dari mereka...
Di balik jendela sebuah kafe...
Ahber dan Eskay sedang duduk berhadapan.
Mereka tampak sedang berbicara.
Sesekali tersenyum.
Mata Lay langsung membulat.
Tangannya perlahan mengepal.
"Ck..."
gumamnya lirih.
Dadanya kembali terasa sesak.
Padahal pagi tadi Ahber mengatakan bahwa Eskay hanya teman.
Lalu...
Kenapa malam ini mereka kembali bertemu?
"Lay."
panggil Andkay hati-hati.
"Kita pergi dari sini..."
"Atau..."
"Lo mau tetap lihat mereka?"
Lay mengalihkan pandangannya.
Wajahnya kembali datar.
"Pergi."
Jawabannya singkat.
Andkay mengangguk.
Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka berdua berjalan meninggalkan tempat itu.
Sedangkan Lay...
Tidak sekali pun menoleh ke belakang.
Pukul 10.04 malam.
Kamar Lay.
Kamarnya tampak rapi dengan lampu tidur yang menyala redup.
Lay duduk di atas kasur sambil memeluk lututnya.
Tatapannya kosong mengarah ke langit-langit kamar.
Ponselnya yang berada di samping bantal tiba-tiba bergetar.
Ting!
Notifikasi WhatsApp.
"Hm?"
Lay mengambil ponselnya.
Nomor yang menghubunginya belum tersimpan.
Nomor Tidak Dikenal
Fenny: Lay, ini gue. Fenny, teman sekelas lo.
Lay: Oh, iya. Ada apa?
Beberapa detik kemudian balasan masuk.
Fenny: Gue cuma mau nanya. Lo sama Ahber masih pacaran, kan?
Lay mengernyit.
Lay: Iya.
Fenny: Gini... tadi waktu lo dibawa Andkay, Ahber dibawa ke UKS sama Eskay.
Lay membaca pesan itu dengan tenang.
Lay: Eskay? Siapa?
Fenny: Gue juga kurang kenal. Tapi katanya mereka udah saling kenal dari dulu.
Lay: Poinnya aja.
Beberapa detik kemudian pesan baru kembali muncul.
Fenny: Tadi gue juga lihat mereka berdua di luar sekolah.
Fenny: Waktu pulang juga mereka bareng.
Lay menggigit bibir bawahnya.
Tangannya perlahan mengepal.
Lay: Oh.
Lay: Makasih infonya.
Fenny: Maaf ya kalau gue salah.
Lay: Gak apa-apa.
Lay langsung mengunci layar ponselnya.
Ia mengembuskan napas panjang.
"Ck..."
"Ngajak gue pulang bareng..."
"Tapi malah pergi sama cewek lain."
Ia memejamkan matanya.
"Hubungan kita baru satu hari..."
"Tapi lo udah begini."
Suara Lay terdengar sangat pelan.
Penuh kekecewaan.
Malam itu...
Tanpa Ahber sadari...
Kepercayaan Lay kepadanya mulai runtuh sedikit demi sedikit.
like + bunga biar semangat deh/Smile/